
Seminggu kemudian …
Meskipun Keenan dan Nadine bisa menjalani hari-hari seperti biasa, tetapi tak bisa dipungkiri jika keduanya masih memikirkan kejadian yang telah terjadi pada diri mereka satu minggu yang lalu. Mereka masih tak bisa percaya dengan apa yang telah mereka lakukan sebagai saudara, seandainya mereka bukan adik beradik, kemungkinan Keenan tidak akan stress seperti ini memikirkannya. Ia tinggal menikahi Nadine saja, toh ia juga sangat mencintai Nadine. Tetapi pada kenyataannya, hubungan mereka adalah hubungan yang terlarang. Bagaimana mungkin kedua orang tua mereka akan setuju dengan hubungan mereka. Meskipun mereka berbeda ibu, tetapi terlahir dari ayah yang sama, yang itu artinya mereka sedarah dan sampai kapanpun tidak akan bisa pernah mempunyai hubungan lebih selain saudara. Itulah yang ada di dalam pikiran Keenan maupun Nadine.
"Tuan Keenan, yang aku lihat sepertinya Anda tidak terlalu fokus dalam satu minggu ini? Apakah ada yang mengganggu pikiran Anda Tuan? Kalau Tuan tidak keberatan, Anda boleh menceritakannya kepadaku, siapa tahu aku bisa membantunya," ucap Bisma.
Keenan tampak berpikir, memang selama ini ia tidak mempunyai teman dekat untuk bercerita selain Nadine. Apapun masalah yang ia hadapi, selalu ia ceritakan kepada Nadine. Tetapi kali ini masalahnya juga masalah Nadine, jadi menurut Keenan mungkin lebih baik ia ceritakan saja kepada Bisma. Karena selain Nadine dan keluarganya, asistennya itulah yang selalu dekat dengannya dan mengetahui bagaimana kondisinya sehari-hari, bahkan saat sedang ada masalah pun Bisma bisa mengetahui hal itu.
"Ya Bisma aku memang sedang ada masalah serius," ucap Keenan.
"Masalah apa Tuan?" Tanya Bisma. "Maaf Tuan aku tak bermaksud ikut campur," ucapnya saat melihat Keenan hanya diam saja.
"Yang jelas masalah aku ini cukup berat. Aku yakin kamu sendiri juga tidak akan tahu apa solusinya Bisma," ucap Keenan.
"Ya sudah Tuan jika memang seperti itu. Tapi aku hanya ingin mengatakan, bahwa setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya," ucap Bisma.
"Tapi ini tidak akan ada jalan keluarnya sama sekali, bahkan aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa kamu mau tahu Bisma, aku telah membuat kesalahan dengan menodai seorang wanita," ucap Keenan, ia tak dapat lagi memendam hal ini sendirian, hingga ia pun menceritakannya kepada Bisma.
Bisma sendiri merasa terkejut dengan pengakuan Keenan. Ia tak menyangka jika tuannya itu, yang sangat ia kenal dengan baik telah menodai seorang wanita yang seperti diucapkannya tadi.
"Tuan, aku yakin pasti ini karena ketidaksengajaan kan? Aku percaya Tuan Keenan adalah pria yang baik," ucap Bisma.
"Ya, itu semua karena jebakan hingga aku membuat kesalahan itu Bisma," ucap Keenan dengan tatapan sendu.
Selama Keenan mempunyai masalah seberat apapun, Bisma tak pernah melihat tuannya itu terpuruk seperti saat ini. Bisma yakin jika masalah yang sedang dihadapi oleh Keenan saat ini benar-benar sangat berat.
"Tuan, maaf. Lalu Bagaimana dengan wanita itu, apa dia tidak meminta pertanggungjawaban Anda? lalu siapa yang sudah tega menjebak kalian hingga melakukan hal seperti itu," tanya Bisma yang dibuat penasaran.
__ADS_1
"Wanita itu sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Seandainya saja aku bisa bertanggung jawab, pasti aku akan mempertanggungjawabkan ini semua Bisma. Dan orang yang telah menjebak kami berdua, aku pastikan hidup mereka akan menderita. Tetapi untuk saat ini aku belum bisa melakukan apapun, karena aku masih bingung dengan masalahku sendiri," terang Keenan.
"Tapi kenapa Anda tidak bisa bertanggung jawab? Apa karena Anda tidak mencintai wanita itu?" Tanya Bisma.
"Justru aku sangat mencintainya Bisma, hanya dialah satu-satunya wanita yang selama ini aku cintai, dari dulu, sejak lama," jawab Keenan.
Bisma mengerutkan dahinya, tentu saja hal tersebut membuatnya semakin bingung dan tak mengerti. Jika memang Keenan mencintai wanita itu, kenapa dia harus bingung, kenapa dia tidak langsung menikahi wanita itu saja? Tetapi Bisma tak berani banyak bertanya, ia takut nantinya Keenan malah marah kepadanya.
****
Saat baru saja tiba di rumah setelah beraktivitas, Keenan dan Nadine yang saat itu pulang bersamaan pun sangat terkejut melihat kehadiran sosok yang berada di rumah mereka. Karena sebelumnya tidak ada yang mengabari jika tamu tersebut akan datang.
"Oma?" Ucap Keenan dan Nadine.
Meskipun dulu sewaktu kecil Nadine memanggilnya dengan sebutan nenek, tetapi setelah ia tahu bahwa Cynthia adalah nenek kandungnya, ia pun mengganti panggilan itu dengan sebutan Oma. Karena panggilan nenek itu pun sudah ia berikan kepada Santi ibu dari ibunya itu.
"Aduh … cucu-cucu Oma yang sangat Oma rindukan, kenapa kalian lama sekali sih pulangnya?" Ucap Cynthia.
"I miss yoo too Oma. Nadine tadi tungguin Kak Keenan tuh Oma yang lama, kan tadi pagi Nadine perginya bareng Kak Keenan, jadi pulangnya juga menunggu Kak Keenan," terang Nadine.
"Maaf Oma, tadi Keenan ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan, maka itu pulangnya terlambat," ucap Keenan.
"Oma, kenapa Oma pulang ke Indonesia tidak memberitahu kita dulu?" Tanya Nadine.
"Iya Oma, padahal kalau Oma memberi tahu kita, pasti kita akan menjemput Oma," sambung Keenan.
"Tidak perlu, Oma tahu kalian berdua itu kan super sibuk. Lagipula Mama dan Papi kalian tadi yang jemput Oma dan Oma tidak memberitahu kalian dulu supaya menjadi surprise saja untuk kalian," ucap Cynthia.
__ADS_1
"Iya Oma, aku senang banget karena Oma pulang ke Indonesia," ucap Nadine memeluk erat sang nenek.
Begitu juga dengan Keenan, ia merasa begitu bahagia karena setelah beberapa tahun tidak bertemu dengan neneknya itu, kini mereka bisa bertemu kembali.
Akan tetapi di saat itu Keenan pun teringat akan kakeknya yang sedang sakit dan juga berada di luar negeri.
"Oma, dimana Opa? Oma tidak datang ke sini dengan meninggalkan Opa kan? Apa Opa sudah sembuh, karena kemarin Opa sempat sadar kan Oma," tanya Keenan.
"Iya Oma, aku jadi sampai melupakan Opa. Apakah Opa sekarang sudah baik-baik saja Oma?" Tanya Nadine pula.
"Keenan, Nadine, justru Oma pulang ke Indonesia karena keinginan Opa kalian. Opa kalian yang meminta untuk kembali ke Indonesia, Opa meminta untuk tetap bersama keluarganya sampai di akhir hayatnya nanti, Opa merasa hidupnya sudah tidak lama lagi dan meminta untuk tidak memberikan tindakan apapun lagi untuknya. Itu yang Opa kalian ucapkan sewaktu dia sadar," ucap Cynthia yang tampak sedih.
"Oma jangan berbicara seperti itu, hidup dan mati seseorang itu adalah takdir yang sudah Tuhan tentukan. Lalu apakah maksud Oma, Opa juga ada di Indonesia? Opa dimana Oma?" Tanya Nadine.
"Iya Nadine, Keenan, Opa kalian juga ada di sini. Sekarang ada di dalam kamar. Papi kalian juga sudah memberikan Dokter khusus untuk merawat Opa selama di sini. Mami, Papi dan juga kedua Adik kembar kalian sudah berada di dalam, hanya Oma saja yang ada di sini karena sedang menunggu kepulangan kalian," ucap Oma.
"Ya udah Oma, sekarang kita lihat Opa yuk," ajak Keenan.
"Iya, ayo Oma. Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat Opa," ucap Nadine.
"Baiklah," jawab Cynthia.
Lalu Keenan dan Nadine pun menggandeng tangan sang nenek yang mereka cintai itu menuju ke kamar Opa mereka.
Bersambung …
__ADS_1