Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Rencana Jahat


__ADS_3

Amanda terlihat sedang sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan barunya yang cukup menguras otak. Karena jadwalnya yang akhir-akhir ini selalu sibuk di perusahaan, bahkan kadang ia tidak selalu bersama dengan Clara, membuat Amanda pun memutuskan untuk menghubungi Keenan kembali. Ia ingin menanyakan bagaimana kabar Dinda, karena sudah lama ia tidak bertemu atau mendengar kabar tentang wanita tersebut. Bahkan ia juga tidak pernah mendengar lagi bahwa Clara akan mencelakai Dinda. Akan tetapi Amanda tau betul siapa Clara, dia tidak mungkin tinggal diam jika belum mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Mungkin saat ini Clara hanya diam terlebih dulu karena sedang memikirkan cara yang lain.


Saat Amanda melihat di sekitar bahwa posisinya saat ini aman karena ia sedang berada di ruangannya, ia pun segera saja meraih ponselnya dan menghubungi Keenan saat itu juga.


"Halo, untuk apa kamu menghubungiku lagi. Kamu itu hanya orang yang tidak jelas dan sangat mengganggu keterangan orang lain. Lagipula apa yang kamu katakan semuanya itu bullshit, buktinya sampai sekarang ibuku baik-baik saja. Apa maksudmu berbicara seperti itu? Apa kamu memang sengaja ingin membuat keluargaku ketakutan, hah?"


Belum lagi sempat berbicara, ia sudah mendengar semprotan Keenan dari seberang telepon yang membuat nyali Amanda pun menciut. Sehingga belum sempat untuk mengucap kata apapun, segera saja Amanda memutuskan panggilan telepon tersebut.


Hal tersebut membuat Keenan menjadi murka. Ia merasa lagi-lagi Amanda telah mempermainkannya.


"Huft … nggak nyangka, ternyata Keenan keren-keren galak juga ya. Ya sudahlah, setidaknya aku sudah mendengar kabar jika Bu Dinda baik-baik saja. Aku jadi lega," gumam Amanda lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


****


Sedangkan Keenan saat itu masih terlihat sangat kesal. Karena tidak mau diganggu lagi oleh sosok yang menurutnya masih misterius, ia pun meminta asistennya Bisma untuk menyelidiki siapa orang tersebut. Keenan baru mengetahui jika orang itu adalah seorang wanita, saat Keenan mendengar suaranya dari telepon waktu itu.


"Tuan Keenan yakin ingin aku menyelidiki siapa orang ini?" Tanya Bisma.


"Ya aku yakin. Aku ingin kamu mencari tahu siapa dia, aku harus tahu apa maksudnya melakukan ini semua. Tapi kamu harus mendekatinya secara baik-baik, kamu harus dekati dia dan usahakan sampai dia membongkar sendiri tentang hal ini semua," ucap Keenan.


"Tetapi aku tidak yakin Tuan," ucap Bisma.


"Kamu harus yakin, anggap saja ini juga tugasmu sebagai asistenku. Dia adalah seorang wanita, gunakan pesonamu untuk mendekatinya," ucap Keenan.


Meskipun tugas ini terasa berat untuknya, tetapi mana mungkin Bisma menolak perintah dari tuannya itu. Hingga Bisma pun menyetujuinya saja.


"Baik Tuan, saya akan melakukannya," jawab Bisma dan segera saja keluar dari ruangan presdir.


****

__ADS_1


Di sebuah cafe, terlihat Bianca dan Farel yang saat ini sedang bersama karena akan membahas sesuatu yang sangat penting mengenai hubungan percintaan mereka yang telah kandas. Bianca yang saat itu sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, sedangkan pekerjaannya sangat berpengaruh dengan hubungannya dan Keenan, sehingga ia pun meminta untuk bertemu Farel dan mengajaknya bekerja sama. Farel yang pada dasarnya juga masih sangat mencintai Nadine itu pun menyetujui untuk bertemu Bianca.


"Memangnya kamu mau melakukan apa Bi?" Tanya Farel yang sudah dibuat penasaran sedari tadi, karena Bianca mengatakan jika ia mempunyai suatu ide.


"Aku punya ide supaya Nadine bisa menjadi milik kamu kembali, begitu juga dengan Keenan yang akan kembali menjadi milikku," kata Bianca.


"Rencana apa?" Tanya Farel.


Lalu Bianca pun membisikkan tentang rencananya itu kepada Farel dengan suara yang pelan tetapi sangat jelas terdengar di telinga Farel, ia tidak mau jika ada orang lain yang mendengarnya, mengingat tempat mereka yang begitu umum.


"Apa? Kamu jangan gila ya Bi. Yang masuk akal sedikit lah kalau kamu mau kasih ide," ucap Farel yang terlihat sangat syok.


"Memangnya kenapa Rel? Memangnya kamu punya ide lain. Kalau kamu mempunyai ide lain, ayo katakan jangan hanya diam saja dong. Apa? Nggak ada kan?" Tanya Bianca yang melihat Farel tampak bingung memikirkannya. "Sudahlah Rel, aku yakin kok kalau kamu pasti nggak punya cara lain kan? Sekarang, ini adalah satu-satunya cara supaya kita bisa mendapatkan mereka kembali. Aku tahu kamu masih sangat mencintai Nadine kan, begitu juga denganku yang masih sangat mencintai Keenan. Aku yakin kalau kamu mengikuti rencanaku ini, pasti akan berhasil dan berjalan dengan lancar."


Setelah memikirkan hal itu, akhirnya Farel pun menyetujuinya. Karena menurutnya ide Bianca juga termasuk ide yang cemerlang, meskipun terbilang rencana jahat dan akan menanggung resiko yang sangat besar. Tetapi tak mengapa bagi Farel, yang terpenting untuknya ia bisa mendapatkan Nadine kembali, ia tak terima karena Nadine telah memutuskannya begitu saja, apalagi alasannya karena Nadine mencintai orang lain. Padahal ia sudah cukup berkorban selama 1 tahun ini, malah tak membuat Nadine sama sekali mencintainya. Ternyata memang benar ya, orang jahat itu berawal dari orang baik yang tersakiti.


****


Meskipun sedikit terasa janggal, tetapi Nadine dan Keenan pun menyetujuinya. Karena menurut Nadine mungkin ini memang saatnya ia meminta maaf kepada Farel atas sikapnya yang telah memutuskan Farel secara sepihak. Begitu juga dengan Farel yang akan meminta maaf kepada Bianca, karena ia yang telah memulai hubungannya terlebih dahulu tetapi ia malah menyakiti Bianca dengan mengatakan telah mencintai orang lain sejak lama dan menjadikannya hanya sebagai pelampiasan saja. Menurut Nadine dan Keenan mungkin di pertemuan ini mereka bisa menjalin silaturahmi atau bersahabat dengan mantan kekasih mereka itu. Karena mempunyai tujuan yang sama, Nadine dan Keenan pun memutuskan untuk pergi bersama ke restoran tersebut dengan menggunakan satu mobil.


Setibanya di sana, mereka melihat Farel dan Bianca yang sudah duduk di dalam restoran VIP yang telah dipesan khusus untuk mereka berempat.


"Nadine, Keenan, akhirnya kalian datang juga. Kita sudah menunggu kalian dari tadi," ucap Bianca.


"Maaf ya Bi, Rel tadi ada sedikit masalah di jalan yang membuat kita terlambat sampai di sini," ucap Nadine.


"Nggak apa-apa kok Dine, nggak masalah. Aku senang karena akhirnya kamu datang. Maaf ya kalau kesannya kita berdua mendadak mengajak kalian datang ke sini. Tapi tujuan kita baik kok, hanya ingin mengajak kalian berdamai dengan hati. Nadine, Farel ayo silahkan duduk!" Ucap Farel.


Lalu segera saja mereka duduk di kursi yang telah disediakan memang untuk mereka berempat.

__ADS_1


"Silahkan diminum dulu Keenan, Nadine. Kita sengaja sudah memesan makanan dan minuman ini, jadi kita bisa langsung menikmatinya," ucap Farel.


"Iya Kee, Dine, silahkan diminum dulu. Karena kita berdua juga sudah minum," ucap Bianca pula.


"Terimakasih Bi, Rel," ucap Keenan.


"Terimakasih ya," ucap Nadine pula.


Tanpa menaruh rasa curiga apapun, kini Nadine dan Keenan pun sama-sama meneguk minuman tersebut. Hingga 1 menit kemudian, tiba-tiba saja keduanya sama-sama merasakan pusing dan merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam dada mereka. Sedangkan Farel dan Bianca saling menatap dan tersenyum melihat sesuatu yang sedang terjadi di depan mata mereka.


"Aku ke toilet sebentar ya," ucap Nadine, karena ia merasa tubuhnya saat ini terasa sangat panas.


"Kamu mau kemana Dine?" Tanya Farel dan langsung saja mengikuti Nadine dari belakang.


Berbeda halnya dengan Keenan, meskipun ia juga merasakan hal yang sama dengan Nadine, tetapi Keenan masih tampak sadar sehingga ia pun berusaha untuk bangun dan mengejar Nadine dan Farel. Keenan yakin jika pada minuman mereka tadi sudah dicampur obat perangs*** sehingga mereka menjadi seperti sekarang ini. Keenan tidak mau jika Farel sampai melakukan sesuatu terhadap adiknya.


Tak lupa pula Bianca mengikuti Keenan dari belakang dan melihat pria itu sudah jalan sempoyongan seperti sudah tidak kuat lagi menahan hasratnya.


"Kamu ikut aku saja Kee," ucap Bianca yang menyeret tangan Keenan.


Karena di saat itu Keenan merasa kepalanya begitu sakit, akhirnya ia pun tak bisa melawan saat Bianca menarik tangannya dan mengikuti saja saat wanita itu mengajaknya untuk masuk ke dalam salah satu kamar hotel.


Begitu juga dengan Nadine yang saat ini sudah tak lagi bisa mengontrol dirinya sendiri, sehingga ia mengikuti saja di saat Farel mengajaknya untuk masuk ke salah satu kamar hotel yang lainya.


Melihat sang pujaan hati yang saat ini sudah bersama dengannya, Bianca pun langsung saja memanfaatkan keadaan untuk memiliki Keenan kembali. Dengan agresif ia mendekati Keenan dan menyentuh dadanya itu. Meskipun rasanya saat ini Keenan sudah tidak tahan lagi, ia merasa tubuhnya begitu panas dan sesuatu di bawah sana telah mengeras, rasanya ingin sekali melahap Bianca, tetapi ia masih bisa tetap waras dan memikirkan nasib Nadine. Ia yakin jika Nadine merasakan hal yang sama. Bagaimana jika Nadine akan melakukan hal yang macam-macam bersama dengan Farel? Sehingga Keenan pun berusaha untuk mendorong tubuh Bianca hingga wanita itu terjatuh ke lantai, lalu segera saja ia keluar dari kamar tersebut dan mengunci Bianca di dalam sana.


Setelah itu segera saja Keenan mencari dimana keberadaan Nadine, hingga ia menemukan sebuah kamar yang tidak terkunci. Keenan sangat murka melihat Farel yang saat itu hendak berbuat tak senonoh terhadap adiknya yang terlihat sudah sangat pasrah. Langsung saja Keenam menarik tubuh Farel dan menghajarnya. Lalu ia pun menggendong tubuh Nadine meskipun saat ini tubuhnya juga sudah sangat bergetar hebat.


Karena ia rasa sudah tidak mungkin lagi untuk berlari dari kejaran Farel, Keenan pun membawa Nadine masuk ke salah satu kamar hotel yang entah milik siapa, yang jelas keadaannya di saat itu kosong dan pintunya juga tidak terkunci.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2