Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Hasil Pemekriksaan


__ADS_3

Saat lipatan kertas tersebut terbuka dan Dinda membaca coretan tinta di atasnya, ia tak kuasa menahan rasa sedih dan kecewanya melihat hasil pemeriksaan Nadine tersebut. Ia tak menyangka jika anak kesayangannya, yang sudah ia kandung selama 9 bulan dan juga ia lahirkan dengan susah payah tanpa seorang suami bisa mengalami hal buruk yang pernah menimpanya waktu dulu, ataukah mungkin ini memang karma atas dosa yang pernah ia lakukan dulu? Tapi kenapa harus Nadine yang terkena imbasnya.


Sebagai seorang ibu tentunya Dinda sangat sedih dan merasa gagal menjaga anaknya. Dinda pun menutup kedua mulutnya dengan telapak tangan serta menangis tersedu-sedu tak bisa terima dan mempercayainya, membuat Nadine yakin jika telah terjadi sesuatu kepada dirinya yang membuat ibunya menangis histeris seperti itu.


"Ma, ada apa Ma?" Tanya Nadine, ia juga berusaha untuk bangun agar bisa mendekati sang ibu, akan tetapi tubuhnya masih terlalu lemah.


Dinda tak menjawab, air matanya terus mengalir tanpa henti hingga di saat itu pun Nathan datang menghampirinya.


"Mama, ada apa? Kamu kenapa sayang?" Tanya Nathan yang sangat khawatir melihat keadaan istrinya.


Sama halnya saat Nadine bertanya, Dinda tak bisa menjawab apapun. Tetapi ia menyerahkan hasil pemeriksaan Nadine kepada sang suami.


"Apa ini Ma?" Tanya Nathan.


"Kamu baca saja Pi," ucap Dinda.


Lalu Nathan pun meraih kertas tersebut dari tangan sang istri dan langsung saja membacanya.


Tertera jelas tulisan di atas kertas tersebut adalah hasil pemeriksaan Nona Nadine Karina Collin. Sama halnya dengan Dinda, Nathan begitu syok dan terkejut melihat hasil tersebut. Ia benar-benar bingung dan juga merasa gagal menjadi seorang ayah. Kini Nathan pun meraih tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya, ia mengerti bagaimana perasaan istrinya saat ini sama halnya dengan apa yang ia rasakan.


Nadine semakin tak mengerti dan penasaran, kenapa dengan kedua orang tuanya itu? Kenapa mereka menangis dan terlihat begitu kecewa setelah melihat selembar kertas yang baru saja diberikan oleh dokter tadi?


Dengan sekuat tenaganya, Nadine pun berusaha untuk bangun. Akan tetapi tiba-tiba saja ia terjatuh dari brankar karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya itu.


Bugh …


"Akh, rintih Nadine kesakitan.


Membuat Dinda dan Nathan terkejut dan reflek melerai pelukan mereka.

__ADS_1


"Nadine …!" Teriak Dinda yang sangat syok dan langsung saja menghampiri anaknya bersama dengan Nathan.


"Nadine, kamu baik-baik saja Sayang. Sudah Mama katakan kamu itu jangan bangun, kamu baring saja dulu di sini," ucap Dinda.


"Nadine, keadaan kamu itu belum pulih Sayang, kenapa kamu bangun," ucap Nathan pula.


"Aku penasaran, kenapa Mama dan Papi sedih seperti itu. Memangnya itu kertas apa? Apakah itu surat hasil pemeriksaan aku, aku kenapa?" Tanya Nadine.


Dinda terdiam, rasanya ia tak sanggup untuk mengatakan hasil pemeriksaan itu kepada anaknya sendiri.


"Ma, lebih baik kita beritahu Nadine saja," ujar Nathan dan ditanggapi anggukkan kepala oleh Dinda pertanda ia menyetujuinya.


Tepat di saat itu, Nathan baru saja datang menghampiri mereka. Ia juga terkejut melihat Nadine yang saat itu sedang dibantu oleh Nathan untuk kembali terbaring di brankarnya.


"Ada apa dengan Nadine Pi, Ma?" Tanya Keenan.


"Nadine, kamu kenapa bangun. Kamu itu masih belum pulih, kamu harus istirahat," ucap Nathan yang sama khawatirnya dengan kedua orang tuanya itu.


Nathan dan Dinda dapat melihat jika Keenan begitu khawatir terhadap Nadine. Mungkin selama ini mereka menganggapnya itu adalah hal yang wajar sebagai seorang kakak Keenan begitu menyayangi adiknya. Tetapi saat ini mereka berdua pun dapat melihat bagaimana perhatian Keenan terhadap Nadine itu melebihi segalanya. Akan tetapi mereka berdua tetap bersaudara, apakah mungkin mereka bisa bersama? Membuat Nathan dan Dinda sebagai orang tua merasa bingung harus bagaimana sekarang, solusi apa yang terbaik untuk mereka berdua.


"Kak, aku hanya penasaran dengan kertas yang Mama dan Papi lihat. Setelah membacanya, aku bisa melihat mereka sedih dan kecewa. Aku hanya ingin tahu Kak, apakah itu surat hasil pemeriksaan aku? Ada apa dengan aku sebenarnya," ucap Nadine.


Lalu Keenan pun melihat ke arah kedua orang tuanya, memang terlihat jelas dari wajah keduanya terpancar rasa sedih, kecewa, kebimbangan, keraguan yang bercampur aduk menjadi satu.


"Ma, Pi, apa benar itu hasil pemeriksaan Nadine?" Tanya Keenan menunjuk kertas yang masih dipegang oleh Nathan.


"Iya benar," jawab Nathan.


"Hasilnya apa Pi?" Tanya Keenan.

__ADS_1


"Keenan, Nadine, karena kalian berdua ada di sini, Papi akan memberitahu hasil pemeriksaan ini. Tapi apapun yang kalian lihat dan apapun yang terjadi, kalian berdua tidak akan mungkin bisa bersama. Kalian adalah sedarah, tidak ada hubungan saudara yang bisa menikah," ucap Nathan.


"Maksudnya apa Pi?" Tanya Keenan tak mengerti, begitu juga dengan Nadine.


"Kalian lihat saja sendiri," ucap Nathan lalu menyerahkan hasil pemeriksaan tersebut.


Segera saja Keenan menyambar kertas itu dari tangan sang ayah lalu ia pun membacanya bersama adiknya itu.


"Apa? Nggak, ini nggak mungkin. Mana mungkin aku hamil," ucap Nadine menggelengkan kepalanya.


Nadine tak percaya jika apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Ia menjauhkan kertas tersebut, tak bisa terima dengan apa yang baru saja diihatnya. Karena ketidaksengajaan yang mereka lakukan telah membuat masa depannya kini hancur. Terlebih lagi ia mengandung benih kakaknya sendiri yang tidak mungkin bisa bertanggung jawab atas dirinya. Nadine benar-benar rapuh, ia pun menangis histeris untuk menumpahkan rasa kekecewaan terhadap dirinya sendiri.


Dinda dan Nathan menghampiri anak perempuannya itu, lalu memeluknya dengan erat. Mereka sama hancurnya dengan apa yang Nadine rasakan.


Lalu bagaimana dengan Keenan? Tentunya ia juga merasa syok dan juga menangis. Meskipun ia sangat mencintai Nadine, tetapi mereka tetaplah saudara, mempunyai ikatan darah di antara mereka. Ia tak menyangka jika benar-benar telah menghancurkan masa depan adiknya sendiri. Seandainya saja Nadine bukan saudaranya, sudah pasti tidak akan sulit untuknya bertanggung jawab.


Kini Nathan pun beralih kepada anak laki-lakinya, mencoba untuk memberikan ketenangan. Bagaimanapun juga tetaplah Keenan dan Nadine yang yang merasakan betapa hancurnya hidup mereka.


****


"Kita harus mencari solusinya, kita tidak mungkin membiarkan Nadine mengandung tanpa suami. Apa nanti kata orang-orang, kasihan juga anak kita Ma," ucap Nathan saat mereka hanya berdua saja duduk di depan ruang rawat inap Cynthia.


Sementara mereka belum memberitahu kepada Cynthia tentang hasil pemeriksaan Nadine, karena saat ini kondisi Cynthia sendiri juga masih belum pulih karena mengetahui hubungan Nadine dan Keenan.


"Tapi apa solusinya Pi, seandainya saja Nadine bukan hamil anak kakaknya sendiri, sudah pasti Mama akan meminta pertanggungjawaban kepada pria yang telah menghamilinya. Tetapi kenyataannya itu adalah Keenan. Bagaimana ini Pi? Memang Keenan dan Nadine sangat mau untuk bersama karena mereka juga mengatakan bahwa mereka saling mencintai, tapi apakah itu mungkin Pi. Meskipun Keenan itu bukan anak kandungku, tapi dia anak kandung kamu, sama dengan Nadine," ucap Dinda yang merasa stress dengan masalah yang sedang dihadapi oleh keluarga mereka.


Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi ada seseorang yang mendengar percakapan mereka itu dan ikut merasakan terkejut dengan apa yang menimpa Nadine dan Keenan saat ini.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2