Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Calon Suami


__ADS_3

Saat Nathan masuk ke dalam ruang rawat inap, di saat itu ia melihat Cynthia yang sudah terbangun. Langsung saja Keenan melangkahkan kakinya mendekati ibunya itu.


"Mama, Mama sudah bangun," ucap Nathan.


"Bagaimana Mama tidak bangun mendengar keributan kalian di luar sana," jawab Cynthia.


"Mama mendengar perdebatan antara aku dan Keenan di depan tadi?" Tanya Nathan untuk memastikannya lagi.


"Ya Mama mendengarnya, tapi Mama tidak tahu apa yang kalian perdebatkan. Ada apa Nathan? Apa ada yang kalian sembunyikan dari Mama?" Tanya Cynthia.


"Sembunyikan soal apa maksud Mama?" Tanya Nathan tak mengerti.


"Soal kondisi Nadine. Kenapa dengan Nadine Sebenarnya? Mama yakin Nadine tidak hanya masuk angin atau kelelahan, kamu menyembunyikan kondisi cucu Mama dari mama, iya kan Nathan? Jangan kamu pikir Mama ini bodoh dan Mama tidak tahu ya. Katakan kepada Mama Nathan, jangan kamu sembunyikan seperti itu," ucap Cynthia yang melihat Nathan hanya diam saja.


Nathan tampak menghembuskan nafasnya secara perlahan, di saat ini ia benar-benar merasa dalam kondisi yang sangat sulit, tidak tahu harus bagaimana. Apakah harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada mamanya? Tapi bagaimana jika orang tuanya itu syok dan kondisinya malah semakin memburuk setelah mendengarnya. Hal itu benar-benar membuat Nathan merasa kebingungan.


"Ma, sebaiknya Mama tidak usah memikirkan hal yang lain dulu. Kondisi Mama itu masih lemah, Mama harus istirahat supaya kondisi Mama lekas membaik. Memangnya Mama tidak mau cepat sembuh, Mama tidak mau melihat kondisi Papa di rumah," ucap Nathan.


"Mama tidak akan mungkin bisa cepat sembuh jika pikiran Mama tidak tenang Nathan. Mama terus memikirkan keadaan cucu Mama. Kalau kamu tidak mau mengatakan kepada Mama tentang apa yang sebenarnya terjadi, Mama akan mencari tahu sendiri," ucap Cynthia dan mencoba untuk bangun. Tetapi tiba-tiba saja ia merasakan kepalanya begitu sakit dan memegangi kepalanya itu.


"Ma, jangan bangun dulu Ma, aku mohon. Mama baring saja dulu ya, istirahat," ucap Nathan yang terlihat begitu khawatir sembari membantu ibunya itu untuk berbaring kembali.


"Sudahlah Nathan, kalau kamu memang tidak mau berbicara kepada Mama tentang hal yang sebenarnya, lebih baik kamu keluar dari sini sekarang. Jangan mengganggu Mama, Mama mau sendiri," ucap Cynthia yang mengalihkan pandangnya ke arah lain, ia merasa sangat kecewa terhadap anaknya itu sehingga tidak mau melihatnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Ma, tapi saat ini memang tidak ada yang bisa aku bicarakan kepada Mama. Kalau Mama memang tidak mau aku ganggu, aku tidak akan mengganggu Mama. Aku akan duduk di sana untuk terus menjaga Mama," ucap Nathan dan segera saja duduk di sofa untuk menemani Cynthia dari kejauhan.


****


"Sayang kamu makan dulu ya, terus minum obatnya," ucap Dinda yang saat ini sedang berada di kamar Nadine.


Dengan sepenuh hati ia menjaga anaknya yang saat ini dalam kondisi sedang tidak baik-baik saja, bukan hanya fisiknya tetapi juga batinnya setelah menerima kenyataan tentang apa yang dialaminya saat ini.


"Iya Ma. Ma, bagaimana nasib aku sekarang ma. Aku hamil tanpa suami, semakin lama perut ini akan semakin membesar. Apa kata orang-orang nanti jika mengetahui aku hamil? Atau lebih baik aku menggugurkan kandungan ini saja," ucap Nadine dengan mata berkaca-kaca. Saat ini ia tak dapat lagi berpikir jernih.


"Sayang, kamu ini bicara apa sih. Anak ini tidak bersalah. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu," ucap Dinda yang tak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya itu.


"Jadi aku harus bagaimana Ma. Apa aku harus tetap membiarkan anak di dalam kandungan ini, sampai nantinya aku melahirkan seorang diri," ucap Nadine.


"Nadine, sebenarnya Mama dan Papi sudah memikirkan solusinya untuk kamu. Tapi Mama tidak tahu apakah kamu setuju atau tidak. Yang jelas ini hanya baru pemikiran Papi dan Mama saja," ucap Dinda yang sebenarnya tak tega untuk menyampaikan akan hal ini, tetapi bagaimanapun juga ia harus menyampaikan kepada anaknya. Setuju atau tidak setuju itu urusan nanti.


"Apa solusinya Ma?" Tanya Nadine.


"Mama dan Papi akan mencarikan calon suami untuk kamu, untuk menikahi kamu, Nadine," jawab Dinda.


Nadine membelalakkan matanya, "Apa? Mama serius? Mama dan Papi mau mencarikan aku calon suami, memangnya siapa yang mau menikahi aku dalam kondisi seperti ini Ma, memangnya ada? Terus ini ceritanya Mama dan Papi mau menjodohkan aku dengan pria yang sama sekali tidak aku kenal, yang sama sekali tidak aku cintai?"


"Dalam kondisi seperti ini kamu masih memikirkan pria yang kamu cintai? Sedangkan pria yang kamu cintai itu adalah Keenan, yang jelas-jelas tidak akan bisa bersatu dengan kamu. Atau kamu mau menikah dengan Farel saja, bagaimanapun juga kamu pernah menjalin hubungan dengannya kan, Farel juga sangat mencintai kamu," ucap Dinda yang pikirannya itu muncul tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa? Farel? Ma, aku sudah ceritakan ke Mama kalau Farel itu jahat, dia sudah mencoba untuk menjebak aku, dia melakukan hal kotor untuk mendapatkan aku. Kok bisa sih Mama malah berpikiran untuk menikahkan aku dengan Farel. Aku tidak mau Ma," bantah Nadine.


"Jadi Mama harus bagaimana sekarang Nadine?" Tanya Dinda, ia menangis dan begitu kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa memberikan solusi yang membuat anaknya itu tenang, malah membuat Nadine marah kepadanya.


Nadine yang melihat ibunya itu menangis, menjadi merasa bersalah atas ucapannya tadi.


"Ma, maafkan aku ya Ma. Aku hanya merasa bingung Ma dengan kondisi aku sekarang ini," ucap Nadine yang juga ikut menangis lalu memeluk ibunya itu.


"Kamu tidak salah Sayang, justru di sini Mama yang merasa bersalah. Mama sudah tidak bisa melindungi kamu dan sekarang Mama tidak bisa memberikan solusi yang baik untuk kamu. Mama malah membuat kamu marah. Mama benar-benar bingung Nadine, Mama sangat menyayangi kamu. Seandainya saja kamu dan Keenan itu bukan saudara, pasti Mama akan merestui hubungan kalian, Mama pasti akan menikahkan kalian," ucap Dinda.


****


Setelah memikirkan apa yang disampaikan oleh ibunya itu dan Keenan juga sudah mengetahuinya dari sang ayah, kini Nadine pun meminta ayah, ibu dan kakaknya untuk berkumpul di ruang keluarga. Tetapi tidak dengan Cynthia, karena sampai saat ini Cynthia belum mengetahui kondisi Nadine yang sebenarnya. Bahkan ia masih berada di rumah sakit dengan ditemani oleh perawat. Karena Nathan memang berniat pulang sebentar hanya untuk sekedar mandi dan berganti pakaian seperti biasanya. Tentunya Cynthia juga dijaga oleh perawat khusus yang sudah dibayar mahal oleh Nathan atas persetujuan dari rumah sakit juga.


"Nadine, sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan sampai kamu mengumpulkan kita semua di sini?" Tanya Nathan.


"Iya Nadine, kamu mau bicara apa? Papi buru-buru mau ke rumah sakit lagi, kasihan Oma jika tidak ada keluarga yang menemani di sana," ucap Nathan.


"Iya Pi, Ma, Kak, aku hanya mau bicara sebentar saja. Jadi aku sudah memikirkan tentang ucapan Mama waktu itu. Aku setuju jika memang Papi dan Mama mau mencarikan calon suami untuk aku," ucap Nadine yang membuat Nathan dan Dinda begitu terkejut sekaligus merasa senang mendengarnya.


Tetapi tidak dengan Keenan, ia merasa marah mendengar ucapan yang keluar dari mulut adiknya itu.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2