
Melihat suaminya tampak sedih dan terus saja menangis, membuat Dinda pun tak berani banyak bertanya, ia membiarkan dulu Nathan sedikit tenang dalam dekapannya dengan terus memeluk erat suaminya itu sembari mengusap-usap pelan pundak Nathan hingga pria yang ada dihadapannya saat pun sedikit lebih tenang.
"Sayang, bagaimana keadaan Nadine sekarang?" Tanya Nathan dengan suara sesenggukan karena sedang menangis.
"Kata Dokter Nadine tadi hanya mengalami keram biasa Pi. Itu sudah biasa dirasakan oleh ibu-ibu hamil jika terlalu banyak pikiran atau stress. Tapi tidak kenapa-kenapa kok, sekarang Nadine sudah baik-baik saja. Kamu kenapa Sayang? Kenapa kamu menangis seperti itu?" Tanya Dinda sembari melerai pelukan mereka.
"Keenan Sayang," ucap Nathan lirih.
"Keenan? Keenan kenapa? Papi Sudah mendapat kabar tentang Keenan?" Tanya Dinda.
Nathan hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja secara pelan.
"Syukurlah Pi, dimana dia? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Dinda.
"Ada di ruang operasi Ma," jawab Nathan.
"Apa? Keenan kenapa Pi? Kenapa bisa sampai dioperasi?" Tanya Dinda yang sangat terkejut.
Mendengar keributan di luar membuat Nadine pun terpancing sehingga ia keluar untuk menemui kedua orang tuanya itu.
"Pi, Ma, ada apa?" Tanya Nadine.
"Nadine, kamu kenapa keluar Sayang. Kamu harus tetap berada di dalam sambil menunggu keputusan dari dokter," ucap Dinda.
"Aku hanya ke sini aja kok Ma. Ini ada ada apa? Apa ada kabar mengenai Kak Keenan?" Tanya Nadine lagi.
"Iya ada. Tadi Keenan mengalami kecelakaan, terdapat luka parah di kepalanya karena benturan keras, sehingga dia harus segera dioperasi. Jadi saat ini Keenan sedang berada di ruang operasi di rumah sakit ini juga," terang Nathan.
__ADS_1
"Apa?" Nadine begitu syok dan terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Dinda.
Akan tetapi Dinda masih dapat menahannya, berbeda dengan Nadine yang seketika itu juga tubuhnya terasa lemas dan terhuyung. Untung saja Nathan segera menangkapnya, hingga Nadine pun pingsan di dalam pelukan sang Ayah.
"Nadine, Sayang, bangun Sayang," ucap Nathan yang terlihat panik sembari mengguncang pelan tubuh anaknya itu.
"Sayang, bangun Nak," ucap Dinda pula dan tak kalah khawatirnya dengan suaminya itu.
Lalu Nathan pun segera membopong anaknya itu masuk kembali ke dalam ruang pemeriksaan, di sana masih ada dokter sehingga dokter pun memeriksa keadaan Nadine kembali.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" Tanya Nathan.
"Nona Nadine syok karena mendengar kabar buruk yang memancing emosinya. Sebaiknya untuk kedepannya nanti harus dihindari, karena kehamilan Nona Nadine ini sangat rentan. Selain karena usia kandungannya yang masih sangat muda, masih trisemester awal, kandungan Nona Nadine memang tergolong lemah dari beberapa ibu hamil yang biasanya lebih kuat. Sebaiknya Tuan dan Nyonya membantu untuk memperhatikannya. Tolong sampaikan juga hal ini kepada suaminya," ucap dokter yang menganggap Nadine telah memiliki suami, karena bagaimanapun wanita hamil pastinya sudah menikah.
"Baik Dok, terimakasih banyak," ucap Dinda.
"Iya Dok, lakukan saja apapun yang terbaik untuk anak saya," kata Nathan.
"Ya sudah kalau begitu nanti saya akan meminta Suster untuk segera memindahkan Nona Nadine ke ruang rawat inap," kata Dokter.
"Iya Dokter, sekali lagi terimakasih banyak," ucap Nadine.
Setelah Nadine dipindahkan ke ruang ruang rawat, saat ini Dinda pun tampak sedang menemani anak perempuannya itu di dalam sana. Sedangkan Nathan kembali duduk di depan ruang operasi untuk menunggu operasi anak laki-lakinya itu yang selama 4 jam ternyata belum juga selesai. Hingga tidak berapa lama kemudian bertepatan di saat Nadine telah sadar dari pingsannya, di saat itu juga lampu operasi di ruang operasi telah padam yang itu artinya operasi Keenan telah selesai.
Meskipun operasi Keenan berhasil dan berjalan dengan lancar, tetapi dokter menyatakan keadaan Keenan belum sepenuhnya membaik. Ia masih koma dan saat ini berada di ruang ICU untuk mendapatkan pertolongan dengan beberapa alat medis.
Hati orang tua mana yang tak hancur, Nathan dan Dinda begitu terpukul melihat kondisi anak mereka, anak yang mereka sayangi sedari kecil, sudah mereka rawat dengan sepenuh hati saat ini dalam kondisi lemah dan tak sadarkan diri. Begitu juga dengan Nadine, ia terus saja menangis melihat pria yang dicintainya itu, pria yang biasanya selalu jahil, suka membuatnya kesal tetapi selalu memberinya perhatian saat ini tidak dapat berbuat apapun.
__ADS_1
****
Plak …
Clara melayangkan tangannya begitu saja pada pipi Bianca saat ia memintanya untuk datang ke perusahaan.
"Nyonya, apa maksud Nyonya menampar saya? Bukankah Nyonya meminta saya datang ke sini untuk membahas kerja sama, tetapi kenapa malah tamparan yang saya dapatkan," ucap Bianca yang begitu terkejut sembari memegangi pipinya yang terasa pedas akibat tamparan yang cukup kuat.
"Kamu masih berani membahas kerja sama! Saya tidak menyangka ya Bianca, kamu sangat berani menjebak Keenan sampai dia melakukan hubungan terlarang dengan Nadine," ucap Clara.
Mendengar ucapan tersebut membuat Bianca membelalakkan matanya karena merasa sangat terkejut. Bagaimana bisa Clara mengetahui akan hal itu, bahkan ia saja tidak tahu jika Nadine dan Keenan sudah melakukannya.
"Dari mana Nyonya tahu tentang ini semua?" Tanya Bianca.
"Tentu saja saya tahu. Karena ulah bodoh kamu, Keenan dan Nathan mantan suami saya itu datang ke sini dan langsung melabrak saya. Mereka tidak terima, mereka menganggap semua itu berhubungan dengan saya karena kamu bekerja di perusahaan saya," ucap Clara, tetapi ia tidak menceritakan secara detail apa masalahnya dengan Nathan dan Keenan.
"Itu semua saya lakukan karena persyaratan dari Nyonya. 'Kan Nyonya meminta saya tetap berhubungan dengan Keenan agar pekerjaan saya tetap aman di perusahaan ini, jadi saya melakukan segala cara agar bisa memiliki Keenan. Soal Nadine dan Keenan yang terjebak dan melakukan hubungan terlarang, itu di luar nalar saya Nyonya, saya juga yang rugi karena tidak bisa bersama Keenan. Dan Nyonya juga sudah memutuskan kerjasama dengan saya, jadi untuk apalagi Nyonya marah-marah dengan Saya. Saya sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan perusahaan ini dan tidak ada urusan lagi dengan nyonya. Oh ya saya lupa seharusnya saya juga tidak memanggil Anda dengan sebutan Nyonya lagi, Ibu Clara," ucap Bianca yang menekankan ujung kalimatnya itu.
"Berani sekali kamu ya. Saya menyesal pernah bekerja sama dengan kamu yang sebenarnya tidak bermutu sama sekali, jauh sekali di bawah standar saya. Dan konyolnya ternyata kamu sudah merusak masa depan anak saya bersama wanita yang sama sekali tidak saya sukai," ucap Clara yang membuat Bianca lagi-lagi terkejut mendengarnya.
"Anak?" Tanya Bianca.
"Iya, anak. Keenan itu anak saya. Dari awal saya mau memperkerjakan kamu itu hanya karena saya tahu kamu adalah kekasih anak saya, saya ingin dekat lagi dengan anak saya karena setelah sekian lama kami berpisah. Tetapi ternyata kamu itu sama sekali tidak ada gunanya, kamu malah semakin memperburuk keadaan. Apa kamu tahu saya sama sekali tidak menyukai Nadine, karena Nadine adalah anak dari wanita yang paling saya benci. Wanita itu telah merebut suami saya sewaktu dulu dan sekarang, gara-gara kamu semua rencana saya hancur berantakan. Sekarang kamu pergi dari ruangan saya, saya sudah tidak mau lagi melihat wajah kamu!" Usir Clara dengan penuh emosi.
Meskipun di saat ini Bianca juga sangat marah karena hinaan yang dilontarkan dari mulut Clara, tetapi ia tidak menyangka karena mendapatkan kabar yang begitu besar dari mulut Clara sendiri.
Bersambung …
__ADS_1