
Siska melajukan mobil menelusuri padatnya kota Jakarta. Di saat itu ia merasa kebingungan melihat Bianca yang ada di kursi penumpang tersenyum-senyum sendirian, entah apa yang sedang dipikirkan oleh bos-nya itu, tetapi Siska yakin pasti penyebabnya karena Bianca baru saja bertemu dengan sang kekasih.
"Maaf Nona, sepertinya Anda begitu bahagia setelah bertemu dengan Tuan Keenan," ucap Siska.
"Iya dong, kamu tahu aja. Kamu tahu sendiri kan Sis bagaimana sikap Keenan ke aku yang selalu saja cuek, bahkan kemarin dia sudah membuat aku benar-benar kesal. Tapi kamu tahu nggak, hari ini sifatnya itu benar-benar berubah 180 derajat, romantis, pengertian, pokoknya buat aku benar-benar bahagia. Dan apa kamu tahu kalau di dalam paper bag ini adalah tas keluaran terbaru yang baru ada satu-satunya di Indonesia dan sekarang aku yang memilikinya. Kamu tahu dong ini harganya berapa, puluhan juta Siska dan Keenan sama sekali tidak masalah membelikanku tas ini," kata Bianca.
"Bukannya Nona Bi sudah biasa ya memiliki tas-tas branded seperti itu. Bahkan harga tas Nona dari luar Negeri harganya ratusan juta juga ada kan, kenapa sepertinya kali ini Nona begitu terlihat sangat bahagia mendapatkan tas itu? Lagipula harganya hanya puluhan juta, bukankah itu uang yang kecil bagi Tuan Keenan, sebagai pewaris Perusahaan Collin Group, perusahaan terbesar di kota ini. Bahkan terkenal di negara lain," kata Siska.
Ya siapa yang tidak tahu Perusahaan Collin Group, perusahaan yang dirintis dari nol oleh Fransisco itu hingga pada akhirnya semakin pesat di tangan anaknya, Nathan. Dan kini juga semakin berkembang di tangan Keenan, jadi tidak salah jika perusahaan itu sangat populer di kalangan manapun serta tak heran juga jika banyak pesaing yang merasa kesal dengan perusahaannya tersebut. Karena mereka menganggap bagaimana bisa Keenan Seorang pria muda berusia 24 tahun itu bisa memimpin perusahaan dengan sangat baik.
"Ya kamu benar, tapi yang membuat aku merasa bahagia dan menganggap hadiah ini spesial karena tas ini adalah pemberian Keenan. Aku akan menyimpan dan merawat tas ini dengan baik, aku akan menggunakannya sesekali saja disaat aku jalan dengan Keenan," ucap Bianca.
"Syukurlah Nona, saya juga ikut senang karena Nona bahagia. Semoga hubungan Nona Bianca dan Tuan Keenan akan selalu langgeng ya dan tetap terjalin romantis seperti itu, aamiin," ucap Siska.
"Aamiin. Karena kamu sudah mengucapkan kata itu dan mendoakan hubunganku dengan Keenan, kebetulan juga hari ini aku sedang berbahagia, maka aku akan mengirimkan bonus untuk kamu," ucap Bianca yang langsung saja mengotak-atik ponselnya.
Ting …
Siska langsung saja melihat notifikasi yang terlihat pada layar ponselnya. Ia sangat terkejut karena Bianca telah mengirimkannya uang dengan nominal 10 juta rupiah.
"Nona, apa Nona tidak salah memberikan saya uang dengan jumlah sebanyak ini?" Tanya Siska yang tak mempercayainya. Meskipun menurut Bianca itu adalah nominal yang kecil, tetapi bagi Siska nominal ini sangatlah besar.
"Kenapa? Kurang?" Tanya Bianca.
"Justru ini sangat banyak Nona," ucap Siska.
__ADS_1
"Ya sudah kamu terima saja ya. Ini rezeki kamu dan ini belum apa-apa. Uang gaji dan bonus bulanan kamu nanti ya aku transfer awal bulan," ucap Bianca.
"Terimakasih banyak Nona. Saya benar-benar merasa bersyukur sekali mempunyai Bos seperti Nona bianca," ucap Siska.
"Iya sama-sama. Oh ya sebenarnya ada satu hal lagi yang membuat aku hari ini merasa begitu sangat bahagia," ucap Bianca.
"Ada lagi Nona? Apa saya boleh tahu?" Tanya Siska.
"Ada dong dan tentu saja kamu boleh tahu, aku juga kan sudah terbiasa bercerita dengan kamu. Jadi tadi sewaktu aku menunggu kamu di dalam, aku bertemu dengan teman lama di SMA dulu, ya nggak akrab sih tapi yang aku tahu dia dulu pernah mengagumiku gitu. Dan kamu mau tahu nggak sekarang dia sudah menjadi dokter hebat. Kemarin sih dia tugas di Jerman, tapi sekarang sudah balik lagi ke Indonesia, katanya karena merindukan tanah air. Namanya Dokter James, orangnya tampan, baik dan tadi dia kasih aku oleh-oleh ini," ucap Bianca sembari menunjukkan gelang dari James yang dibelinya saat di Jerman.
Memang James sudah terkenal sejak SMA suka mengkoleksi aksesoris, bahkan saat tadi bertemu dengan Bianca di mall pun James sedang berada di toko aksesoris.
"Wah … ternyata Nona Bi sudah mempunyai pengagum ya sejak SMA. Ya wajar sajalah kalau banyak yang naksir dengan Nona Bi dari dulu, kan Nona Bianca cantik, baik. Tapi sekarang sudah menjadi milik Tuan Keenan. Jadi menurut saya Dokter James sama sekali tidak ada harapan, lebih baik Dokter James-nya buat saya aja Nyonya," ucap Siska.
"Ya sudah pasti nggak mau lah Nona, saya dengan Nona Bianca ibarat langit dan bumi," ucap Siska.
"Bisa aja kamu, tapi kamu memang benar sih kalau aku sudah bersama Keenan. Jadi tidak akan bisa untuk bersama pria lain lagi. Ya sudahlah yang penting saya dan James itu kan hanya berteman saja karena saya sudah mempunyai kekasih," ucap Bianca tersenyum.
"Syukurlah, aku senang kalau melihat Nona Bianca bahagia seperti itu. Kan aku juga yang kebagian untungnya," batin Siska yang ikut tersenyum.
****
Brakh …
"Aduh … kepala aku sakit Kak," ucap Nadine saat Keenan tidak sengaja menabraknya hingga kepala mereka pun terantuk.
__ADS_1
Saat ini mereka berdua sama-sama sedang menaiki tangga menuju ke kamar mereka masing-masing.
"Ya maaf, aku kan nggak sengaja. Kamu sih lelet banget jalannya seperti siput. Aku kan buru-buru," ucap Keenan.
"Ya sabar dong Kak. Kenapa juga harus buru-buru seperti itu, ada apaan sih? Memangnya ada yang menunggu kamu di atas sana," hardik Nadine.
"Justru karena itu Nadine, aku tadi lupa mau memberitahu Bianca kalau aku sudah sampai di rumah. Kamu tahu kan kalau sekarang ini aku sedang memperbaiki hubunganku dengan Bianca, salah satu satu syaratnya yaitu dia mau aku harus selalu memberi kabar dimanapun aku berada, begitu juga dengannya. Kesannya memang ribet sih, tapi ya nggak apa-apa lah aku coba aja dulu. Kalau sampai aku nggak kasih kabar ke Bianca, pasti dia akan bawel banget. Jadi sekarang aku buru-buru mau ambil handphone karena Bianca sudah menunggu kabar dariku," terang Keenan.
"Ya ampun Kak, kamu itu sudah sampai di rumah dari tadi sore dan baru mau kasih kabar ke Bianca jam 08.00 malam? Kenapa juga sih Kak harus memaksa, kenapa nggak jadi diri Kakak sendiri aja," kata Nadine.
"Baru 3 jam yang lalu, belum terlambat. Lagipula Bianca juga pasti mengerti, namanya juga lupa. Namanya juga berusaha Dine, sudah ah kamu minggir, aku duluan," kata Keenan yang langsung saja melangkahkan kakinya lebar-lebar.
Akan tetapi, di saat Keenan hendak mendahului Nadine, di saat itu juga Nadine melangkahkan kakinya hingga tidak sengaja tersandung kaki kakaknya itu yang menyebabkan tubuhnya terhuyung dan hampir saja jatuh ke bawah tangga. Untung saja dengan cepat Keenan menangkap tubuh Nadine hingga Nadine pun terjatuh di dalam pelukannya.
Deg …
Jantung keduanya seakan berdetak lebih kencang.
"Ya ampun, kenapa rasanya seperti ini terus sih. Kenapa jantung aku selalu berdetak cepat setiap berdekatan dengan Keenan," batin Nadine.
"Nadine, kenapa sih kamu selalu saja membuat jantungku terasa mau copot. Padahal aku sudah bersusah payah untuk melupakan cinta ini, tapi kenapa setiap kita berdekatan, cinta ini selalu saja muncul lagi. Kapan aku bisa menghilangkan cinta terpendam ini Nadine? Aku benar-benar tidak sanggup jika seperti ini terus," batin Keenan.
Keduanya pun saling bertatapan, merasakan cinta di antara keduanya itu semakin lama semakin dalam. Meskipun keduanya sudah sama-sama berusaha untuk melupakan cinta terpendam itu, bahkan sudah belajar untuk mencintai pasangan masing-masing, tetapi tetap saja belum berhasil.
Bersambung …
__ADS_1