
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Suasana pun tampak hening karena di saat itu semua orang telah beristirahat. Begitu juga dengan jalanan yang sudah tampak sepi, tidak ada orang yang berlalu lalang dengan kendaraannya.
Akan tetapi, Keenan masih saja berada di kamar Nadine yang tidak ada habisnya curhat dan menurut Nadine melebihi wanita. Keenan yang tadinya menceritakan masalah hubungannya dengan Bianca dan meminta pendapat kepada sang adik ingin mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya itu atau harus bertahan. Nadine sudah memberikan pendapatnya tetapi hal itu malah membuat Keenan pun menjadi bingung dan mengulangi pertanyaan yang sama, sehingga membuat Nadine bosan dan juga merasa ngantuk hingga memejamkan matanya.
"Nadine, kamu dengar nggak sih aku bicara apa? Kenapa kamu malah tidur seperti itu," kata Keenan.
"Kak, ini sudah jam 12.00 malam. Aku sudah ngantuk, lagipula itu-itu aja yang kamu tanya dari tadi Kak. Memangnya nggak ada pembahasan lain lagi apa," kata Nadine.
"Iya nggak ada lagi sih. Tapi kamu belum memberikan jawaban yang tepat, Nadine. Aku harus mempertahankan dan memperbaiki hubunganku dengan Bianca atau lebih baik aku putus saja dengannya?" Tanya Keenan untuk yang kesekian kalinya.
"Kak aku kan sudah bilang sama kamu, kalau hati kamu memang benar-benar mengatakan ingin pisah, kalau menurut kamu itu adalah pilihan kamu yang terbaik, ya sudah kamu putus saja, akhiri hubungan kalian. Tapi kalau di dalam hati kecil kamu, kamu merasa ada rasa cinta untuk Bianca, kamu kasihan terhadapnya dan tidak rela untuk berpisah, ya sudah perbaiki Kak. Kamu tinggal datangi Bianca, minta maaf, gampang kan," kata Nadine.
"Nah itu dia Dine, kamu memberikan dua jawaban itu yang membuat aku bingung. Pilih salah satu dong," kata Keenan.
"Kenapa jadi seperti aku yang punya masalah sih, kenapa aku yang repot harus memilih," kata Nadine yang sudah terlihat begitu kesal. Ia sudah sangat mengantuk dan ingin tidur, tetapi kakaknya itu terus saja mengganggunya.
"Aku ingin mendengar pendapat kamu, Nadine. Kalau tidak untuk apa juga aku ada di sini," kata Keenan.
"Ya sudah lebih baik perbaiki saja hubungan kalian. Besok Kakak hubungi Bianca, ajak bertemu dan minta maaf. Katakan saja Kakak mau perbaiki hubungan kalian, perbaiki sikap Kakak itu. Cewek kalau sudah dijanjikan saja, dirayu sedikit, paling enggak kamu ajak dia makan siang, kamu kasih dia hadiah, aku yakin Bianca langsung klepek-klepek," kata Nadine asal. Karena tidak semua wanita seperti itu termasuk dirinya, jadi ia juga tidak tahu Bianca ada di golongan wanita yang mana.
"Nah itu baru jawaban. Ya sudah kalau begitu besok aku akan ajak Bianca untuk bertemu. Terimakasih ya Dine, kamu itu memang adik terbaik aku. Sekarang kamu sudah boleh tidur karena aku juga mau tidur," ucap Keenan.
"Dari tadi kek Kak. Aku ini sudah ngantuk banget. Kamu malah ganggu waktu tidur aku aja," gerutu Nadine
"Ya nggak boleh menggerutu seperti itu dong. Nanti kalau kamu butuh teman curhat atau minta pendapat, seperti biasa aku juga siap kok mendengarkan kamu dan memberikan kamu pendapat. Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti akan selalu-" ucapan Keenan terputus.
__ADS_1
"Hust … sudah-sudah, stop! Aku ngantuk Kak dan aku mau tidur. Sekarang silahkan Kakak keluar dari kamar aku, oke!" Pinta Nadine.
"Iya, iya. Begitu banget sih," hardik Keenan, lalu ia pun segera saja melangkahkan kakinya keluar dari kamar Nadine.
"Aneh, padahal aku yang meminta Keenan untuk memperbaiki hubungannya dengan Bianca, tetapi kenapa rasanya tidak rela ya. Dalam hati kecil ini ada rasa jahat yang senang jika melihat mereka berpisah, tapi itu bukan sifat seorang adik. Memang sudah seharusnya sih aku memberikan pendapat kalau Keenan harus memperbaiki hubungannya bersama Bianca. Ya sudahlah kenapa juga harus pusing memikirkan hubungan mereka. Sedangkan hubungan aku dengan Farel aja masih membingungkan, nggak tahu mau dibawa kemana hubungan ini," gumam Nadine, lalu ia pun memejamkan matanya hingga terlelap.
****
Pagi menyingsing dengan sangat cepat, sinar mentari pagi yang cerah diiringi suara kicauan burung menambah indahnya suasana di pagi hari ini.
Nadine mengerjap-ngerjapkan matanya karena mendengar alarm yang sudah berbunyi di atas nakas. Segera saja ia mematikan alarm tersebut dan berniat akan kembali tidur. Akan tetapi di saat itu ia teringat jika pagi ini ada meeting penting bersama klien yang mengajaknya untuk bekerjasama, sehingga segera saja ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Keenan yang saat itu telah selesai dan sangat rapi dengan setelan kantornya segera keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada kedua orang tuanya yang sudah menunggu bersama Kenzie dan Kenzo, adik kembarnya.
"Loh Keenan, adik kamu mana?" Tanya Nathan.
"Iya nih Papi gimana sih, kita berdua kan adiknya Kak Keenan," ucap Kenzo.
"Iya Papi juga tahu. Tapi yang Papi maksud adik perempuan kamu, Nadine," kata Nathan.
"Oh … Nadine, biasalah Pi wanita, pasti masih berdandan," ucap Keenan.
"Ya sudah kalian sarapan saja dulu, biar nanti Nadine menyusul," kata Dinda.
Masih seperti biasa, wajah Dinda tampak tidak seceria biasanya. Keenan pun bertanya dengan memberi kode kepada sang ayah sembari menunjuk ibunya itu, sedangkan Nathan menjawab dengan memberikan kode kepada Keenan bahwa istrinya itu baik-baik saja.
__ADS_1
"Pi, Papi tidak ke kantor lagi? Bukannya Papi mengatakan seminggu sekali mau ke kantor untuk melihat perkembangannya sampai dimana?" Tanya Dinda.
"Tidak perlu Ma. Mama kan tahu sendiri akhir-akhir ini kondisi perusahaan baik-baik saja di tangan Keenan, jadi papi tidak perlu ke kantor," jawab Nathan.
"Oh ya? Memangnya seperti itu ya Kee?" Tanya Dinda.
"Iya Ma, benar kata Papi. Papi nggak perlu datang ke perusahaan karena semuanya sudah aman di tangan aku," jawab Keenan.
"Oh … seperti itu. Ya syukurlah," ucap Dinda.
Entah kenapa Nathan merasa jika istrinya itu sangat ingin ia pergi ke perusahaan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin Dinda lakukan atau keluar dari rumah.
Dinda sendiri terlihat bingung karena akhir-akhir ini suaminya itu selalu mengawasinya selama 24 jam, ia merasa jangan-jangan Nathan sudah merasa curiga karena melihat sikapnya akhir-akhir ini. Padahal Dinda sebisa mungkin berusaha untuk menyembunyikannya.
****
"Kamu mau apa datang ke sini?" Tanya Bianca saat melihat Keenan berada di perusahaan tempatnya bekerja.
"Kok kamu bicara seperti itu sih. Maaf kalau kemarin aku sudah membuat kamu kecewa. Kemarin itu aku benar-benar sibuk banget dan aku ada urusan sampai kesannya aku cuek terhadap kamu, tapi sebenarnya tidak seperti itu maksud aku Bi," ucap Keenan.
"Oh ya? Lalu apa maksud kamu dan untuk apa kamu sekarang datang ke sini?" Tanya Bianca.
"Aku mau bicara sama kamu, kemarin jiga kita belum selesai kan bicaranya. Waktu itu aku juga menelpon kamu dan Siska yang menjawab teleponnya, aku sudah meminta Siska untuk memberitahu kamu untuk menghubungiku, tapi kenapa kamu tidak menghubungiku?" Tanya Keenan.
"Memangnya hanya kamu saja yang sibuk, yang punya pekerjaan? Aku juga punya, jadi wajar kan kalau aku juga tidak sempat untuk menghubungi kamu. Malam hari aku juga sangat lelah dan langsung beristirahat," jawab Bianca yang tidak ada manis-manisnya di depan Keenan, tidak seperti biasa ia yang selalu bersikap baik di depan kekasihnya itu.
__ADS_1
Bersambung …