Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Kekuatan Doa


__ADS_3

Setelah keluar dari Perusahaan C&K Group, Bianca memutuskan untuk langsung menemui Farel karena mereka memang sudah berjanji akan bertemu untuk membahas soal pernikahan mereka sekaligus ingin menyampaikan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Clara.


Beberapa saat kemudian, Bianca pun telah tiba di sebuah restoran dimana ia berjanji bertemu dengan Farel di sana. Di saat itu ia melihat Farel yang sudah menunggunya sembari menyeruput minuman yang sudah dipesannya terlebih dulu.


"Farel, kamu sudah lama menungguku?" Tanya Bianca yang saat ini sudah berdiri di hadapan Farel.


Farel pun mendongakkan wajahnya itu dan melihat ke arah Bianca, "Bianca, kamu dari mana saja sih. Kenapa lama sekali? Aku sudah sampai menghabiskan 1 gelas minuman, kamu baru tiba di sini," protesnya.


"Iya, iya, maaf. Tadi aku bertemu dulu dengan Bu Clara. Dia mengajak aku bertemu, aku kira akan membahas kerjasama, tapi … eh malah perlakuan buruk yang aku dapatkan," ucap Clara.


"Maksud kamu perlakuan buruk bagaimana?" Tanya Farel kebingungan.


Langsung saja Bianca menceritakan apa yang tadi terjadi di Perusahaan C&K Group, tentang masalah yang membuat Clara begitu murka kepadanya.


"Wah … berani sekali dia menampar kamu seperti itu. Mentang-mentang dia Bos kamu, jadi dia bisa berlaku seenaknya gitu," ucap Farel.


"Ya seperti itulah Bos yang sok berkuasa, mentang-mentang dia pemilik perusahaan malah seenaknya berlaku seperti itu padaku. Tapi sekarang bukan itu yang terpenting, karena aku mendapatkan info yang lebih penting lagi daripada ini," ucap Bianca.


"Oh ya, apa?" Tanya Farel yang penasaran.


"Jadi ternyata Keenan itu anaknya Bu Clara. Itulah penyebabnya kenapa dia marah karena aku dan kamu sudah menjebak anaknya, dia mengatakan aku sudah menghancurkan masa depan anaknya. Bu Clara juga tidak menyukai Nadine karena katanya Nadine itu anak dari wanita yang sudah merebut suaminya dulu," jelas Bianca


"Kamu serius Bi? Kamu nggak salah dengar kan?" Tanya Farel seakan tak mempercayainya.


"Iya lah aku serius. Aku dengar langsung Farel, Bu Clara langsung yang mengatakan hal itu ke aku," jawab Bianca dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Oh … jadi seperti itu ceritanya," ucap Farel.


"Iya, dan kamu kenapa nggak kasih tahu ke aku kalau Nadine dan Keenan terjebak berdua malam itu dan mereka melakukan hubungan seperti apa yang kita lakukan? Kita ini sudah mau menikah loh Farel, tapi kamu malah menyimpan rahasia sebesar itu dari aku. Pantas saja Keenan begitu murka dengan kita," protes Bianca memasang wajah ngambek.


"Iya maaf, aku kan lupa. Tapi kamu pasti belum tahu kan kenapa waktu itu aku mau menikahi Nadine secara mendadak dan keluarganya pula yang meminta," ucap Farel.


"Ya waktu itu aku mikirnya hanya karena kamu mencintai Nadine, tapi ternyata karena Nadine sudah tidur dengan Keenan dan Keenan tidak bisa bertanggungjawab 'kan?" Ujar Bianca.


"Ya itu benar juga dan kamu telah menggagalkan semuanya. Tapi ada hal yang lebih penting lagi, itu karena keluarganya yang meminta aku untuk bertanggungjawab atas kehamilan Nadine," ucap Farel.


"Hah? Nadine hamil?" Tanya Bianca yang sangat terkejut mendengar akan hal itu.


"Iya, Nadine hamil. Seperti apa kata kamu, Keenan tidak bisa bertanggungjawab, mereka berdua tidak akan bisa menikah. Untuk itulah orang tua Nadine meminta aku yang bertanggung jawab karena mereka tahu aku yang tulus mencintai Nadine. Ditambah lagi aku yang sudah menjebak mereka berdua," ucap Farel.


"Kamu nih ya, benar-benar jahat banget ya Bi. Sudah membuat Nadine seperti itu dan sekarang kamu malah senang melihat Nadine menderita," ucap Farel.


"Memangnya kenapa? Kamu berubah pikiran, kamu mau menikahkan dia lagi, tidak mau mempertanggungjawabkan bayi dalam kandungan aku ini, iya? Ingat ya ini anak kamu, kamu harusnya bertanggung jawab atas anak ini. Orang tua kamu juga sudah setuju 'kan, hanya tinggal melangsungkan pernikahan saja," ucap Bianca.


Farel memutar bola mata malas, lalu kembali menyeruput minumannya yang tinggal tetesan terakhir.


****


Setelah dua hari berada di rumah sakit, keadaan Nadine pun kini telah membaik. Berbeda halnya dengan Keenan, ia masih tampak koma di dalam ruang ICU. Saat ini Nadine sedang berada di dalam ruangan tersebut untuk menemui Keenan.


"Kak Keenan, kamu kapan bangunnya Kak. Kamu harus bangun dong, kamu nggak kasihan sama aku dan anak kita? Setelah mengetahui bahwa kita berdua bukan saudara, seharusnya kita berdua bisa menikah, kita berdua bisa bahagia. Tapi kenapa kamu malah mendiami aku seperti ini? Aku kangen Kak, aku kangen sama sikap jahil kamu, aku kangen sama perhatian kamu, aku kangen sama semuanya Kak. Hidup aku hampa tanpa kamu, aku tidak bisa menjalani hidup sendiri dengan bayi dalam kandungan aku. Aku mohon Kakak bangun, aku butuh Kakak. Aku yakin Kakak pasti kuat," Gumam Nadine dengan air matanya yang terus mengalir hingga jatuh membasahi tangan Keenan yang saat itu sedang ia genggam.

__ADS_1


Di saat itu pun tanpa Nadine sadari, Keenan juga menjatuhkan air matanya, ia seakan dapat mendengar dan merasakan apa yang saat ini sedang Nadine rasakan.


Tak mau larut dalam kesedihan, Nadine pun beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud akan keluar karena tidak boleh juga terlalu lama berada di ruang ICU.


Akan tetapi di saat Nadine hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ia merasakan ada yang memegang tangannya, seakan tak ingin ia pergi dari tempat tersebut. Tentu saja hal tersebut membuat Nadine sangat terkejut dan langsung melihat ke arah Keenan. Ternyata memang tangan Keenan lah yang di saat itu menggenggamnya.


Nadine begitu syok seakan tak mempercayainya tetapi juga merasa sangat senang dan langsung saja mendekati Keenan kembali.


"Kak Keenan, ini benar Kakak yang pegang tanganmu aku 'kan? Kakak sudah sadar?" Tanya Nadine yang begitu antusias dan tak mempercayainya.


Di saat itu pula, Nadine melihat Keenan yang membuka matanya secara perlahan, sehingga membuat Nadine benar-benar merasakan sangat senang dan segera saja memanggil Dokter.


Tidak berapa lama kemudian, dokter dan suster pun segera saja masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa keadaan Keenan. Sedangkan Nadine diminta untuk keluar dari ruangan tersebut dan saat ini sedang bersama dengan kedua orang tuanya melihat Keenan dari balik kaca ruangan ICU.


"Ma, Pi, aku senang karena akhirnya Kak Keenan sudah sadar," ucap Nadine yang terharu bahagia.


"Iya Sayang, Mama juga senang. Pasti ini juga karena kekuatan doa dari keluarganya, dari kamu dan juga anak kalian di dalam perut," ucap Dinda tersenyum.


"Iya, apa yang dikatakan Mama itu benar. Pasti Keenan bisa merasakan saat kamu tadi sedang berada di sampingnya, berdoa untuk kesembuhannya," ucap Nathan pula.


"Iya Ma, Pi," ucap Nadine, lalu mereka bertiga pun berpelukan karena rasa senang yang saat ini mereka rasakan.


"Tega sekali ya kalian tidak mengabarkan hal sepenting ini kepadaku," ucap seseorang yang tiba-tiba saja datang dan membuat mereka bertiga pun melerai pelukan dan terkejut menatap ke arah orang tersebut.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2