
Sebisa mungkin Keenan mencoba untuk menetralisir perasaannya, ia tak tahu kenapa lagi-lagi rasa cemburu yang berlebihan ini muncul dalam benaknya saat melihat Nadine bersama dengan kekasihnya. Atau mungkin penyebabnya karena hubungannya dan Bianca telah berakhir? Karena sewaktu masih menjalin hubungan dengan Bianca, rasanya ia sudah mulai ikhlas dan menerima hubungan Nadine dan Farel, tapi kenapa tiba-tiba saja saat ini ia merasa sangat kesal. Rasanya saat ini juga ingin menghampiri mereka, jika saja tidak dapat mengontrol emosinya. Hingga di saat itu, ada seseorang yang menegur Keenan hingga ia pun tersentak.
"Maaf Tuan, apa Tuan mau menjenguk Nona Nadine?" Tanya seorang suster.
"Oh iya Sus, benar saya datang ke sini mau menjenguk Nadine. Nadine itu adik saya," jawab Keenan.
"Kalau begitu silahkan masuk Tuan! Kenapa Tuan hanya berdiri di sini? Kebetulan saya juga mau masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan Nona Nadine," ucap Suster.
"Oh … ya sudah, Suster masuk saja dulu. Saya lupa tadi ada membawakan oleh-oleh untuk adik saya, tetapi masih berada di dalam mobil," ucap keenan.
"Baik Tuan, saya permisi," ucap suster.
"Saya juga permisi Suster," ucap Keenan pula, lalu segera saja berlalu dari pandangan Suster.
Sedangkan suster di saat itu juga masuk ke dalam ruang inap pasien.
"Siang Nona Nadine," ucap suster.
"Siang Suster," balas Nadine.
"Bagaimana keadaannya hari ini, Nona Nadine?" Tanya suster.
"Saya merasa sudah lebih baik Sus. Apa saya sudah bisa pulang hari ini?" Tanya Nadine to the point, karena sejujurnya ia sangat enggan berada di rumah sakit.
"Maaf Nona kalau untuk urusan itu saya tidak tahu. Tunggu keputusan dari dokter saja ya Nona," ucap Suster.
"Sabar dong Sayang, kalau sudah membaik kamu juga sudah boleh pulang kok," ucap Farel.
"Iya, habisnya aku udah nggak betah ada di rumah sakit," ucap Nadine.
"Saya periksa dulu ya Nona," ucap suster dan segera saja memeriksa keadaan Nadine. "Maaf apa Tuan ini kekasihnya Nona Nadine?"
"Iya Suster, saya kekasihnya Nadine." Farel yang menjawabnya.
"Oh iya. Saya pikir pria yang di luar tadi kekasih Nona Nadine, pantas saja sewaktu saya bertanya dia mengatakan jika dia Kakak Nona Nadine," ucap Suster.
"Kakak saya?" Tanya Nadine. Farel pun ikut merasa kebingungan.
"Iya, tadi ada pria yang berdiri di depan tetapi tidak masuk ke dalam, hanya melihat ke arah kalian berdua. Di saat saya tegur dan mengajaknya untuk masuk ke dalam, katanya ada sesuatu yang tertinggal di mobil untuk adiknya. Berarti pria itu kakak Nona kan?" Tanya Suster yang begitu ingin tahu.
__ADS_1
"Oh iya Sus, saya memang punya kakak. Mungkin yang Suster katakan itu memang Kakak saya," ucap Nadine.
"Iya Nona. Saya sudah selesai memeriksa, sekarang saya permisi dulu ya Nona, Tuan," ucap suster.
"Baik Sus, terimakasih banyak," ucap Nadine.
"Terimakasih Suster," ucap Farel pula.
Suster menanggapinya dengan anggukan kepala, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan ruang rawat inap Nadine.
"Aneh, kenapa Kak Keenan hanya berdiri di sana. Kenapa dia nggak masuk? Atau mungkin memang ada yang ketinggalan di dalam mobil. Tapi kenapa sampai sekarang belum balik lagi," batin Nadine.
"Sayang, ternyata Kakak kamu ke sini juga. Itu artinya sebentar lagi dia akan masuk, kan tadi kata Suster, Keenan mengatakan ada yang ketinggalan di dalam mobil," ucap Farel.
"Iya mungkin saja," jawab Nadine.
****
"Bianca, bagaimana apakah bingkisan itu sudah kamu berikan kepada Keenan?" Tanya Clara yang membuat Bianca pun merasa gugup.
"Nyonya," ucap Bianca.
"Maaf Nyonya karena saya lupa memberi kabar kepada Nyonya bahwa bingkisan itu sudah saya berikan kepada Keenan," ucap Bianca.
"Bagus lah jika memang seperti itu. Lalu apakah Keenan senang menerimanya?" Tanya Clara lagi.
Bianca pun mengingat bagaimana saat ia memberi bingkisan tersebut kepada Keenan dengan sangat kasar, karena di malam itu juga hubungan mereka telah berakhir. Bianca sendiri tidak tahu apakah Keenan senang menerimanya atau tidak, sudah membukanya atau belum. Tetapi tidak mungkin jika Bianca mengatakan hal yang sebenarnya kepada bos-nya itu.
"Iya Nyonya, Keenan menerimanya dengan senang. Ya meskipun tadinya Keenan bertanya bingkisan itu dari siapa, saya hanya menjawabnya tidak tahu dan kemungkinan saja dari fansnya. Dan saya mengatakan jika di bingkisan itu hanya tertera untuknya sehingga saya tidak tahu itu dari siapa. Keenan menerimanya dan membawa bingkisan tersebut pulang," jawab Bianca.
"Apa mungkin Keenan sudah membukanya? Tapi kenapa dia tidak menghubungi nomor yang aku berikan di dalam bingkisan itu? Padahal aku sudah memiliki kontaknya, sehingga jika Keenan menghubungiku, pastinya aku akan tahu," batin Clara.
"Tapi apa kamu bisa memastikan jika Keenan benar-benar menerima bingkisan itu?" Tanya Clara untuk memastikannya.
"Iya Nyonya, saya yakin Keenan menerimanya," jawab Bianca.
"Oke, terima kasih ya Bianca. Ya sudah sekarang kamu istirahat saja, saya juga mau keluar," ucap Clara.
"Baik Nyonya," jawab Bianca.
__ADS_1
"Duh … kenapa juga sih pekerjaan aku ini harus berhubungan dengan Keenan. Kenapa juga di dalam otak aku ini masih terus memikirkan Keenan. Ingat Bianca, kamu yang memutuskan hubungan ini, kamu tidak boleh menarik kata-kata itu kembali. Sekarang fokus dengan pekerjaan kamu," ucap Bianca dalam hati.
"Nona Bi apa mau makan di luar?" Tanya Siska yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"Siska, kamu ini mengagetkanku saja. Ya sudah yuk kita makan di luar saja. Lagipula jadwal pemotretanku juga 2 jam lagi," jawab Bianca.
Lalu Bianca dan asistennya itu pun segera saja pergi ke salah satu restoran yang terkenal dengan menu-menu lezatnya.
****
Setibanya di restoran tersebut dan mengambil meja untuk memesan makanan, di saat itu juga Bianca tidak sengaja melihat teman lamanya yang waktu itu pernah bertemu dengannya di sebuah mall, yaitu Dokter James. Pria tampan itu tampak sedang duduk sendirian di restoran tersebut.
"Siska, lebih baik kita pindah ke sana saja," ajak Bianca sembari menunjuk.
"Kenapa kita harus pindah ke sana Nona, memang itu siapa?" Tanya Siska.
"Ikut saja," ucap Bianca yang segera saja melangkahkan kakinya dan diikuti oleh asistennya.
"James, hai!" sapa Bianca tersenyum manis.
James mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat sosok wanita yang ada di depan matanya saat ini. "Hai Bi! Wah … tidak menyangka ya kita bertemu lagi di sini."
"Iya James. Apa aku boleh duduk di sini?" Tanya Bianca.
"Tentu saja boleh, silakan duduk!" Ucap James.
Saat itu juga Bianca segera saja mendudukkan dirinya di kursi sebrang James.
"Kamu tidak duduk?" Tanya James menunjuk Siska yang saat itu terlihat bengong menatap kagum ke arahnya.
"Siska, kamu mengerti tidak, Dokter James meminta kamu untuk duduk," ucap Bianca sehingga menyadarkan lamunan Siska.
"Oh iya Nona. Dokter James, hai! Perkenalkan saya Siska, asistennya Nona Bianca," ucap Siska.
"Hai! Saya James teman lama Bianca," ucap James pula.
Lalu Siska pun segera saja duduk sembari terus menatap ketampanan dokter yang ada di depannya itu.
Bersambung …
__ADS_1