
"Nyonya, sekarang kita mau kemana?" Tanya Amanda karena sedari tadi ia melihat bos-nya itu hanya terdiam, tetapi tatapannya sangat mengerikan seperti harimau lapar yang ingin menerkam mangsanya.
"Kita ke Cafe Rainbow," jawab Clara. Memang Clara sudah berjanji mengajak seseorang bertemu di sana.
"Baik Nyonya," jawab Amanda.
Tanpa Clara ketahui, secara diam-diam Amanda tadi telah mengikutinya masuk ke dalam Perusahaan Collin Group karena merasa penasaran. Meskipun ia tidak terlalu jelas mendengar percakapan antara Clara dan Keenan, tetapi di situ Amanda tahu bahwa ternyata Clara telah menemui anaknya. Bahkan diam-diam Amanda merasa kagum melihat ketampanan Keenan anak dari Bos-nya itu. Ia tidak menyangka jika Clara memiliki seorang anak laki-laki yang begitu tampan dan membuatnya jatuh hati. Hal itu membuatnya pun mendadak tersenyum sendiri sembari menyetir mobil dan membuat Clara yang melihat dari kaca itu merasa kebingungan.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Kamu tidak lihat jika saat ini saya sedang kesal?" Tanya Clara ketus.
"Maaf Nyonya, tapi saya sedang tidak menertawakan kekesalan Nyonya. Saya hanya sedang merasa bahagia karena diri saya sendiri, saya benar-benar minta maaf jika saya salah," ucap Amanda yang langsung saja menghilangkan senyuman dari bibirnya itu.
Sedangkan Clara memutar bola matanya malas, lalu ia pun mengalihkan wajahnya memandang ke arah luar jendela.
"Dasar ibu-ibu tua menyebalkan. Tidak ingat umur apa ya, marah-marah saja kerjaannya. Tidak takut apa cepat mati," umpat Amanda di dalam hatinya.
****
Beberapa menit kemudian, Clara dan Amanda pun telah tiba di Cafe Rainbow. Kali ini Clara meminta Amanda untuk ikut turun bersamanya dan menemaninya menunggu seseorang yang tadi telah ia hubungi.
"Tidak lama kemudian, seorang pria berbadan besar pun datang menghampiri mereka.
"Selamat siang Nyonya," ucap pria itu.
"Silahkan duduk!" Ucap Clara yang paling tidak suka untuk berbasa-basi.
Lalu pria itu segera saja mendudukkan dirinya di kursi.
__ADS_1
"Saya punya tugas untuk kamu. Kamu cari wanita yang ada di foto ini dan terserah apa yang mau kamu lakukan terhadapnya. Tetapi jangan langsung membunuhnya, aku ingin kalian menyiksanya secara perlahan," ucap Clara sembari memberikan sebuah foto kepada pria itu.
Amanda tidak sengaja melihat foto tersebut dan merasa terkejut karena ternyata ia mengenali wanita yang ada di foto tersebut.
"Loh bukannya itu Bu Dinda? Ada apa ini? Kenapa Nyonya Clara ingin mencelakai Bu Dinda yang jelas-jelas adalah orang baik? Ya ampun kenapa aku bisa lupa kalau Nyonya Clara pernah mengatakan jika musuhnya di Indonesia, istri dari mantan suaminya itu bernama Dinda. Jadi yang Nyonya maksud itu Bu Dinda? Kenapa dunia ini sempit sekali. Tidak, aku tidak bisa membiarkan Nyonya Clara menyakiti Bu Dinda. Aku harus memikirkan cara bagaimana caranya agar Bu Dinda selamat, tapi bagaimana caranya?" batin Amanda yang terlihat cemas.
"Baik Nyonya akan segera saya lakukan. Tetapi jangan lupa untuk transfer DP-nya dulu," ucap pria.
"Heh dasar, belum bekerja saja sudah meminta bayaran. Ya tapi kamu tenang saja, saya sudah menyiapkannya," ucap Clara lalu ia pun menyerahkan sebuah amplop coklat tebal yang berisi uang.
Pria itu pun menerimanya dan merasa sangat senang setelah melihat isi dari amplop tersebut adalah uang dengan jumlah yang tidak sedikit.
"Nah jika begini kan enak Nyonya, saya pasti akan menjalankan tugas ini dengan baik," ucap pria tersebut.
"Baiklah, sekarang juga kamu lakukan!" Perintah Clara.
"Dinda … Dinda … , kamu tidak bisa bermacam-macam denganku. Kamu pikir kamu itu siapa? Kamu tidak akan pernah hidup tenang selama aku masih hidup. Ya selama ini aku sudah membiarkan kamu berbahagia bersama orang-orang yang aku cintai, tetapi saat ini aku pastikan kamu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan itu lagi," gumam Clara lalu tersenyum sinis.
"Maaf Nyonya kalau saya lancang. Tapi saya penasaran, apakah di foto tadi itu Dinda musuh Nyonya yang Nyonya katakan selama ini?" Tanya Amanda.
"Iya, kamu benar Amanda, dia adalah Dinda, istri dari mantan suami saya. Saya juga sudah menceritakan bahwa dulu suami saya berhubungan dengannya hanya ingin membeli rahim wanita itu, tetapi berakhir dengan mereka saling mencintai. Dan liciknya perempuan itu telah merebut Nathan, hingga Nathan pun menceraikan saya dan memilih untuk menikahi wanita ular itu. Kamu pikir setelah apa yang dia lakukan terhadap saya, saya akan diam saja. No, itu tidak mungkin Amanda. Tidak akan semudah itu saya membiarkan wanita itu tenang, saya pastikan saya akan membalas dendam dengan apa yang telah dia lakukan terhadap saya," jawab Clara.
"Ternyata benar memang Bu Dinda. Aduh … bagaimana ini? Aku harus segera cari cara untuk menyelamatkan Bu Dinda. Tapi untuk saat ini, aku hanya bisa berdoa semoga Bu Dinda tidak kenapa-napa," batin Amanda yang terlihat sangat khawatir.
****
Saat malam hari, seperti biasa Keenan selalu menghabiskan waktunya untuk duduk di balkon ataupun di taman belakang dekat kolam renang, dan saat ini ia pun sedang berada di taman belakang. Dinda yang melihat anak laki-lakinya itu pun segera saja datang menghampirinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah makan?" Tanya Dinda.
Memang tadi Dinda hanya makan malam bersama suami dan juga anak kembarnya saja. Nadine dan Keenan mengabari jika mereka akan pulang terlambat karena ada pekerjaan yang belum selesai dan meminta keluarganya itu untuk makan malam saja tanpa mereka.
"Mama, iya Ma aku sudah makan kok. Tadi pulang dari kantor aku langsung makan sama Bianca, sebelum aku antar Bianca pulang," jawab Keenan.
"Oh … begitu, syukurlah. Sesibuk apapun kalian dengan pekerjaan, kalian berdua harus menyempatkan diri untuk bertemu agar hubungan kalian itu tidak renggang. Terutama komunikasi, komunikasi itu sangat penting dalam sebuah hubungan," ucap Dinda.
"Iya Ma, maka dari itu tadi kebetulan Bianca sudah selesai pemotretan dan aku juga sudah selesai bekerja, jadi kita berdua janjian makan malam sebentar sebelum pulang ke rumah. Tapi karena kita berdua juga sama-sama sudah lelah, akhirnya setelah makan malam kita berdua pun langsung pulang untuk beristirahat Ma," ucap Keenan.
"Terus kamu sekarang sedang apa di sini? Kenapa tidak langsung beristirahat?" Tanya Dinda.
"Oh ini Ma, aku belum ngantuk aja dan lagi ingin duduk di sini sambil main game," jawab Keenan yang memang sedari tadi asyik mengotak-atik ponselnya itu.
"Sebaiknya aku tanyakan atau tidak ya sama Keenan. Kalau aku tidak bertanya, rasanya aku benar-benar tidak tenang," batin Dinda.
"Mama Kenapa diam? Ada yang mau Mama sampaikan ke aku ya? Sini Ma duduk," tanya Keenan yang melihat ibunya itu melamun.
"Keenan, ada yang mau Mama tanyakan sama kamu," ucap Dinda.
"Iya Ma ada apa?" Tanya Keenan.
Lalu Dinda pun duduk di kursi samping Keenan.
"Mama mau tanya, setelah pertemuan kamu dengan Mami kamu di restoran kemarin, apa Mami kamu pernah menemui kamu lagi?" Tanya Dinda.
Keenan tampak terkejut karena seingatnya ia sama sekali tidak pernah menceritakan soal itu kepada orang tuanya. Tetapi kenapa ibunya itu bisa tahu? Dan saat ini pun Keenan teringat bahwa saat itu ia pernah bercerita dengan Nadine. Keenan menganggap bahwa Nadine lah yang mengatakan hal itu kepada Dinda.
__ADS_1
Bersambung …