
Pukul 22.00, Keenan yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui siapa sosok misterius itu pun telah siap akan pergi ke sana.
Sementara di saat itu Nathan tampak berpikir merasa tidak asing dengan alamat apartemen yang dikirimkan oleh sosok misterius itu.
"Kenapa ya sepertinya aku sangat tidak asing sekali dengan alamat apartemen itu. Oh iya bukannya itu alamat apartemenku dulu, apartemen dimana aku masih tinggal bersama Keenan dan maminya. Ya benar memang itu alamatnya. Kenapa kebetulan sekali dengan kembalinya Clara, apa jangan-jangan ini memang ada kaitannya," gumam Nathan dalam hati.
"Ada apa Pi?" Tanya Keenan yang melihat ayahnya itu melamun.
"Tidak ada apa-apa Keenan. Lebih baik sekarang kamu pergi saja, jangan sampai orang itu menunggu kamu, karena alamat apartemennya itu lumayan jauh," ucap Nathan.
"Iya Pi, aku akan segera pergi," jawab Keenan.
Tidak membuang waktu lama, Keenan segera saja melajukan mobilnya. Kira-kira dalam waktu setengah jam di dalam perjalanan, Keenan pun telah tiba di lokasi.
Berbeda halnya dengan Amanda, meskipun ia yang mengajak Keenan untuk bertemu di bawah apartemen tempat tinggalnya, tetapi ia masih tampak mondar-mandir memikirkan cara agar bisa keluar dari apartemen. Karena sialnya di saat ia akan keluar, ternyata Clara saat itu belum tidur dan sedang menonton televisi di ruang depan. Entah apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu sampai-sampai ia belum tidur hingga sampai sekarang ini, padahal biasanya jam 22.00 saja ia sudah terlelap jika berada di apartemen.
"Nyonya belum tidur?" Tanya Amanda yang menghampiri Clara.
"Memangnya kenapa? apa urusannya denganmu?" Bukannya menjawab, Amanda malah kena semprot oleh bos-nya itu.
Amanda menelan salivanya dengan kasar. Meskipun omelan Clara sudah menjadi makanan sehari-hari, tetap saja ia merasa kesal jika mendengar Clara bersikap seperti itu padanya.
"Maaf Nyonya saya hanya bertanya saja. Karena ini kan sudah malam, apa tidak sebaiknya Nyonya istirahat saja. Lagipula ini juga tidak baik untuk kesehatan Nyonya," ucap Amanda.
"Memangnya kenapa dengan kesehatan saya? Apa kamu pikir mentang-mentang saya ini sudah tua, kesehatan saya tidak baik begitu. Kalau kamu mau tidur, kamu tidur saja. Kamu tidak perlu mengatur saya seperti itu, saya atau kamu bos-nya?" kata Clara.
Amanda pun terdiam dan tertunduk. "Iya aku tahu kamu bos-nya. Dasar orang tua tidak tahu diri. Aku ini sedang memperhatikan kamu, eh kamu malah marah-marah seperti itu. Malah pikirannya negatif terus, nggak pernah ada positifnya sama sekali," umpat Amanda dalam hatinya.
"Saya permisi Nyonya," ucap Amanda dan segera saja berlalu.
__ADS_1
Kini Amanda pun masih berada di dalam kamarnya dan kembali mondar-mandir merasa kebingungan. Ia mengintip dari balik jendela ada sebuah mobil di sana yang sudah menunggunya dan ia yakin itu adalah Keenan.
"Aduh bagaimana ini, bagaimana aku akan turun untuk bertemu dengan Keenan sementara Nyonya Clara masih ada di depan. Aku harus beralasan apa?" gumam Amanda.
Ting …
Sebuah pesan masuk dan Amanda pun langsung saja membuka pesan Whatsapp yang ternyata dari Keenan.
"Kamu dimana? Saya sudah berada di lokasi yang kamu tentukan?"
Segera saja Amanda membalas pesan tersebut. "Tunggu sebentar lagi ya, saya sedang berusaha bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini."
Ting …
Balasan pesan dari Keenan pun kembali masuk. "Jika dalam waktu setengah jam kamu tidak juga muncul, maka saya menganggap kamu sudah bermain-main dengan saya, kamu akan tahu apa akibatnya untuk orang yang sudah berani mempermainkan saya dan saya akan segera pergi dari sini."
"Maaf Keenan, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mempermainkanmu. Ayo pikirkan cara Amanda, kamu harus menemui Keenan," gumam Amanda.
Hingga setengah jam pun telah berlalu, di saat itu Amanda mengintip dari celah pintu kamarnya bahwa Clara sudah tidak ada di ruang depan. Amanda pun segera saja mengendap-endap sebisa mungkin tidak menimbulkan suara keluar dari apartemen. Lalu segera saja berlari ke bawah untuk menemui Keenan.
Tapi sayangnya disaat Amanda baru saja tiba di sana, bertepatan dengan Keenan yang baru saja pergi meninggalkan apartemen. Ya mereka gagal untuk bertemu, karena kesempatan belum memihak kepada mereka berdua.
"Aduh … ternyata Keenan sudah pergi. Gagal bertemu kan jadinya. Ini semua karena aku yang membuat Keenan terlalu lama menunggu. Maafkan aku Keenan, pasti kamu menganggapnya aku hanya bermain-main denganmu. Tapi aku benar-benar berada ada di posisi yang sangat sulit dan aku belum bisa untuk menjelaskannya," gumam Amanda.
Terpikir oleh Amanda ingin menghubungi Keenan untuk memintanya kembali lagi. Tapi ternyata ponselnya tertinggal di dalam kamar.
"Akh sial, kenapa sih harus seperti ini," gerutu Amanda.
Ia masih tampak mondar-mandir menunggu, siapa tahu Keenan berubah pikiran dan akan kembali lagi menemuinya.
__ADS_1
Sementara itu, saat ini Keenan sedang di dalam perjalanan menuju pulang merasa begitu sangat kesal. Ia merasa telah dipermainkan oleh seseorang.
"Siapa dia? berani sekali dia mempermainkan aku. Memangnya dia belum tahu siapa aku. Sial! Bisa-bisanya aku percaya dengannya, seharusnya dari awal aku tidak percaya dengan sosok misterius itu," umpat Keenan.
Akan tetapi tiba-tiba ia tampak memasang raut wajah yang khawatir dan mendadak mengurangi kecepatan mobilnya.
"Tapi bagaimana bisa dia mengatakan kalau Mama dalam bahaya? Apa maksudnya kalau dia tidak tahu sesuatu. Aku yakin dia pasti tahu sesuatu dan bagaimana kalau memang tadi itu dia benar-benar ada halangan sehingga belum bisa menemuiku dan bisa saja sekarang dia sudah ada di sana kan? Lebih baik aku kembali saja lagi ke sana," gumam Keenan, lalu ia pun memutar arah balik menuju ke apartemen tadi.
Di saat Keenan baru saja tiba, Amanda juga baru saja naik ke apartemennya. Lagi-lagi takdir belum mempertemukan mereka berdua. Hingga Keenan pun kembali melajukan mobilnya menuju pulang ke rumah.
****
"Kak Keenan lagi buru-buru nggak? Aku ikut ya, antar aku butik. Lagi males banget mau bawa mobil," ucap Nadine di saat Keenan baru saja akan pergi ke perusahaan.
"Oh nggak kok, aku nggak lagi buru-buru. Ya sudah kalau kamu mau ikut, ikut saja," kata Kenan.
Lalu setelah sarapan, Keenan dan Nadine pun berpamitan kepada kedua orang tuanya dan langsung saja pergi bersama.
"Kak gimana pembicaraan Kakak dengan Papi tadi malam? Sepertinya Kakak malam banget baru masuk ke kamar," tanya Nadine saat mereka di dalam perjalanan.
Keenan pun menceritakan bagaimana pembicaraannya dengan sang ayah, tentang pesan dari sosok misterius dan pertemuannya yang gagal dengan sosok misterius itu.
Nadine dampak mendengarkan dengan seksama dan ikut merasakan kesal karena merasa orang itu telah mempermainkan keluarganya.
"Aku benar-benar nggak habis pikir deh sama orang itu. Kenapa ya Kak dia harus mempermainkan kita. Sebenarnya ada apa? kalau dia memang benar-benar tahu Mama sedang dalam bahaya, seharusnya dia memberitahuku kita yang jelas siapa yang telah membuat Mama terancam. Ini enggak, dia seperti memainkan keluarga kita," kata Nadine.
"Ya jangan-jangan itu benar-benar orang asing yang hanya ingin membuat keluarga kita merasa khawatir dan menjadi tidak fokus untuk melakukan sesuatu. Bisa saja kan memang orang itu ingin menghancurkan keluarga kita secara tidak langsung," ucap Keenan dan Nadine pun membenarkan ucapan kakaknya itu.
Bersambung …
__ADS_1