Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Tempat Ternyaman


__ADS_3

Malam pun semakin larut, waktu saat ini telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, akan tetapi Nadine belum bisa memejamkan matanya dengan terus saja mengguling-gulingkan tubuhnya itu di atas kasur. Tidak ada masalah yang sedang ia hadapi, tapi ia malah memikirkan keadaan Keenan saat pulang dari luar tadi. Nadine tahu jika saat ini Keenan mempunyai masalah, terbukti di saat Nathan menghampirinya ia meminta untuk tidak di ganggu. Apalagi Nadine, di saat Nadine mengetuk pintu kamarnya, Keenan juga sama sekali tidak mau menjawabnya. Hingga pada akhirnya semua pun mengalah memilih untuk membiarkan Keenan, tapi hal itu malah membuat Nadine terus memikirkannya sehingga ia tidak dapat terlelap.


Di saat itu tiba-tiba Nadine merasakan haus tak tertahankan, sehingga ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil minuman segar di dalam kulkas. Baru saja Nadine membuka pintu kamar dan hendak keluar, di saat itu ia melihat pintu balkon yang terbuka dan ia yakin pasti Keenan yang saat ini berada di luar sana.


Nadine pun melangkahkan kakinya menuju ke balkon, benar saja di sana Nadine melihat Keenan yang ketiduran di atas kursi tersebut. Perlahan ia mendekati kakaknya itu, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar Keenan tidak terbangun. Setelah tadi melihat Keenan tertidur, Nadine pun kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil selimut dan berniat ingin menyelimuti sang kakak. Setelah tiba di hadapan Keenan, Nadine pun segera saja menutupi tubuh Keenan dengan selimut. Di saat Nadine membalikkan tubuhnya hendak pergi, tiba-tiba saat itu juga Keenan menarik tangannya hingga Nadine pun membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah Keenan.


"Kamu pikir kamu itu siapa Bi yang bisa berbuat seenaknya seperti itu padaku. Padahal selama ini aku sudah belajar untuk mencintai kamu, tetapi kamu malah mencampakkanku seperti barang bekas yang sama sekali tidak ada artinya. Ini semua membuat aku sadar bahwa cintaku yang tulus, yang sebenarnya hanya untuk Nadine. Hanya Nadine lah wanita yang benar-benar baik dan sempurna yang pantas untuk aku cintai. Tidak ada hal yang tidak aku sukai dari Nadine, tetapi sayangnya dia adalah adikku."


Suara Keenan itu layaknya seseorang yang sedang curhat, tetapi sayangnya di saat itu ia masih memejamkan mata sehingga membuat Nadine pun kebingungan. Lalu Keenan pun melepaskan tangan Nadine begitu saja dan kembali tidur dengan nyenyak.


Tentu saja hal itu membuat Nadine merasa terkejut mendengarnya, bahkan dalam mimpi pun Keenan bisa mengungkapkan rasa cinta itu hanya untuknya.


"Kak Keenan … Kak … Kak Kee!" Panggil Nadine yang memutuskan untuk membangunkan kakaknya itu.


Perlahan Keenan membuka matanya hingga terbuka lebar, ia sangat senang karena melihat wanita yang ada di dalam mimpinya tiba-tiba muncul di hadapannya langsung.


"Nadine," ucap Keenan dan langsung saja ia memeluk tubuh wanita yang dicintainya itu.


"Kak Keenan kenapa? Ada apa Kak?" Tanya Nadine.

__ADS_1


"Nadine biarkan aku memeluk kamu ya, karena hanya berada di pelukanmu aku merasa tenang, karena kamu adalah tempat ternyaman di saat aku sedang mempunyai masalah seperti ini," ucap Keenan.


Nadine membiarkannya saja, bahkan ia membalas pelukan tersebut dengan erat. Lagipula sudah terbiasa juga ia berpelukan dengan Keenan seperti ini, entahlah sebagai seorang adik dan Kakak atau lebih. Yang jelas di saat pelukan dengan Keenan dan berada di dekatnya, perasaan Nadine yang aneh itu tiba-tiba saja muncul.


"Kakak ada masalah apa Kak?" Tanya Nadine.


"Nadine apa kamu yang sudah menyelimutiku?" Tanya Keenan sembari melerai pelukan mereka.


"Iya Kak, karena tadi aku melihat kamu ketiduran di sini," jawab Nadine.


"Lalu kenapa kamu membangunkanku?" Tanya Keenan.


"Iya kamu benar, lebih baik sekarang aku pindah ke kamar saja," ucap Keenan.


"Tunggu Kak, sebenarnya kamu ada masalah apa sih. Kenapa Kakak berada di sini sampai ketiduran seperti itu. Kakak ada masalah dengan Bianca ya?" Tanya Nadine.


Awalnya Keenan tidak mau mengakuinya, tetapi karena Nadine terus saja memaksa, akhirnya Keenan pun menceritakan hubungannya dengan Bianca yang telah berakhir.


"Ternyata Kakak benar-benar mencintai Bianca, buktinya disaat putus dengannya membuat Kakak menjadi seperti ini. Aku yakin Kak cinta yang Kakak ucapkan untukku itu hanya sebagai seorang adik," batin Nadine yang mendadak merasakan sedih.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kenapa aku harus memikirkan masalah hubunganku dengan Bianca yang sudah berakhir. Seharusnya aku senang karena bisa terbebas dari wanita itu, wanita yang selalu menuntutku untuk menjadi orang lain. Aku sadar bahwa sebenarnya aku itu tidak perlu memaksa merubah jati diriku sebagai Keenan hanya demi wanita. Kalau dia mencintaiku seharusnya dia bisa menerimaku apa adanya. Tapi yang benar-benar membuat aku bingung, kenapa aku seakan tak terima disaat Bianca mencampakkanku begitu saja. Dia sama sekali tak menghargai pengorbananku selama ini yang rela berubah demi dirinya," ucap Keenan.


"Ya itu karena kamu memang benar-benar sudah mencintai Bianca Kak," ucap Nadine.


"Nggak Nadine, aku yakin perasaan cinta aku untuk Bianca hanya sebatas rasa suka, hanya sebatas rasa kagum aku saja. Karena sampai sekarang rasa cinta ini hanya untuk kamu, kamu yang selalu ada di hati aku. Aku tahu ini kesalahan, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku untuk mencintaimu Nadine. Tolong kamu mengerti," ucap Keenan yang menatap Nadine dengan serius.


"Kamu bicara apa sih Kak. Aku rasa ucapan Kakak itu sudah ngelantur kemana-mana," ucap Nadine.


"Aku nggak ngelantur Nadine, aku mengucapkan kata ini dengan sadar," ucap Keenan.


"Berhenti mencintaiku Kak, karena kita tidak akan bisa bersama selain sebagai adik Kakak. Sudahlah Kak aku ngantuk, mau kembali ke kamar. Tadinya aku keluar hanya ingin mengambil air saja dan malah melihat kamu ada di sini," ucap Nadine dan ia segera saja beranjak pergi meninggalkan Keenan.


"Nadine tunggu! Dari perhatian yang kamu berikan terhadapku, aku yakin kalau kamu juga mencintaiku, bukan sebagai Kakak," ucap Keenan.


Meskipun mendengarnya, akan tetapi Nadine sama sekali tidak menggubrisnya.


Di dalam kamar, Nadine masih memikirkan kata-kata Keenan yang membuat perasaannya itu menjadi tak karuan.


"Kak Keenan, sebenarnya aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri bahwa aku juga merasakan cinta yang sama. Tapi lebih baik kamu tidak tahu tentang perasaan ini. Seandainya kamu tahu, apa kamu akan langsung mengajak aku berpacaran. Itu tidak mungkin Kak, kita ini adik beradik, kita satu ayah. Kenapa kita harus terjebak dalam perasaan ini," gumam Nadine.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2