
Keenan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, menelusuri jalanan yang di saat ini tidak terlalu ramai. Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh sang nenek tadi, membuat perasaannya menjadi tidak tenang. Ia terus saja kepikiran tentang ucapan itu, bahkan di saat ini ia sama sekali tidak memikirkan tentang hubungannya dengan Nadine yang sebenarnya bisa dilanjutkan.
Saat ini yang paling terpenting adalah Keenan akan mencari ibu kandungnya dan akan menanyakan tentang kebenarannya secara langsung. Mengingat di saat tadi Cynthia mengatakan bahwa hanya Clara lah yang mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya. Tentu saja Keenan tidak akan tinggal diam setelah mengetahui fakta mengejutkan yang membuatnya merasa sangat terpukul, kecewa, sedih, marah, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Hingga tidak lama kemudian, Keenan pun telah tiba di Perusahaan C&K Group dimana perusahaan tersebut adalah milik ibu kandungnya, Clara.
Segera saja Keenan berjalan dengan langkah kaki panjang hendak menuju ke ruangan Clara. Karena ini bukanlah pertama kalinya ia datang, jadi Keenan sudah tahu dimana letak ruangan direktur.
"Maaf Tuan Keenan, Tuan mau kemana?" Tanya resepsionis yang melihat Keenan sangat tergesa-gesa.
"Bukan urusan kamu," ucap Keenan ketus.
"Tapi Tuan, jika Anda mencari Nyonya Clara saat ini sedang tidak ada di perusahaan," ucap resepsionis.
"Lalu dimana dia?" Tanya Keenan yang menghentikan langkahnya.
"Beliau sedang ada meeting di luar Tuan," jawab resepsionis.
"Kalau begitu cepat hubungi dia sekarang, katakan jika aku mencarinya," ucap Keenan.
"Baik Tuan. Silahkan Tuan menunggu saja terlebih dulu," ucap resepsionis. Ia yang melihat wajah Keenan begitu tampak murka membuatnya pun bergidik dan segera saja menghubungi Clara dan memberitahu jika saat ini ada Keenan yang sudah menunggunya.
****
__ADS_1
Sementara itu, saat ini Nadine tampak mondar-mandir memikirkan Keenan yang tak tahu entah kemana. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu dengan kakaknya setelah mengetahui apa yang terjadi di dalam hidupnya.
"Kak Keenan dimana ya? Kenapa sampai sekarang belum ada kabar juga. Aku telepon juga nggak di jawab. Kak Keenan, jangan membuat aku khawatir dong," batin Nadine.
Di saat itu pun, Dinda langsung saja masuk ke dalam kamar anaknya itu karena melihat Nadine yang sedari tadi mondar-mandir dan tampak kebingungan.
"Nadine… ."
Suara sang ibu mengejutkan Nadine yang langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Mama?"
"Sayang, maaf ya Mama main masuk saja, habisnya Mama Ketuk pintu kamu nggak jawab. Kamu kenapa melamun dan mondar mandir seperti itu?" Tanya Dinda.
"Jujur Mama juga sangat khawatir terhadap Keenan, Mama takut terjadi sesuatu dengan Keenan. Tetapi kamu jangan terlalu khawatir ya, kamu itu sedang mengandung, kamu tidak boleh stress Sayang. Sekarang Papi juga sedang pergi mencari Kakak kamu itu, jadi kamu tenang ya," kata Dinda.
"Mau cari dimana Ma?" Tanya Nadine.
"Papi kamu bilang mau cari Keenan di perusahaan maminya. Mungkin saja Keenan memang langsung ke sana karena ingin mengetahui siapa ayah kandungnya dan ingin memastikan apa benar yang dikatakan oleh Oma," jawab Dinda.
Karena sedari tadi hanya mengobrol sambil berdiri, kini Dinda dan Nadine pun duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
"Ma, sebenarnya aku juga tidak bisa mempercayai ini semua, apalagi Kak Keenan, dia pasti stress Ma, pasti syok. Masa sih Ma Kak Keenan itu bukan anak Papi, bukan Kakak kandung aku. Lantas Kak Keenan itu anak siapa? Apa iya sewaktu masih menjadi istri Papi, Tante Clara itu mempunyai selingkuhan yang membuatnya hamil, sehingga ia mengakui jika kehamilan itu adalah anak Papi. Tapi kenapa waktu itu Tante Clara tidak mau hamil anak Papi, sampai-sampai Papi membeli rahim Mama? Pada kenyataannya dia hamil juga," ucap Nadine yang membayangkan ngeri jika ternyata Clara itu telah mengkhianati Papinya sewaktu dulu.
__ADS_1
Dinda tampak berpikir, apa yang diucapkan anaknya itu sama halnya dengan yang ia pikirkan saat ini. Mungkin saja jika kehamilan Clara waktu itu memang karena ketidaksengajaan, sehingga ia pun berubah pikiran dan langsung meminta Nathan untuk berhubungan dengannya agar dapat mengakui jika kehamilannya tersebut adalah anak Nathan, tetapi pada kenyataannya anak itu adalah anak selingkuhannya.
"Sebenarnya apa yang Mama rasakan dan Mama pikirkan sama dengan kamu Sayang, Mama tidak percaya dan bingung situasi apa yang sedang terjadi ini. Kok bisa tiba-tiba Keenan itu bukan anak Papi tapi Papi tidak tahu sama sekali dan malah Oma yang mengetahuinya. Oma malah membiarkan saja Papi beranggapan jika Keenan itu anak kandungnya. Tapi ya sudahlah Sayang, Papi kamu memang sudah sangat menyayangi Keenan dan menganggap Keenan anaknya sendiri begitu juga dengan Mama, Mama juga sangat menyayangi Keenan. Pasti itu juga yang dirasakan oleh Oma kamu, untuk itulah dia tidak mau mengatakan jika keenan bukan darah daging Papi, karena Oma takut jika nantinya Keenan malah pergi atau dibawa oleh Maminya. Dan itu jugalah sebabnya kenapa Oma membiarkan kamu untuk menjadi saudara Keenan," ucap Dinda yang menurut Nadine masuk akal.
"Tapi sekarang aku bingung Ma, harus senang aku sedih. Ternyata cinta aku dan Kak Keenan selama ini tidak pernah salah, ternyata cinta kita berdua bukan cinta terlarang Ma. Tapi sekarang setelah mengetahui semuanya, apa Kak Keenan masih mau bertanggung jawab atas kehamilan aku ini? Apa Mama dan Papi setuju jika aku menikah dengan Kak Keenan?" Tanya Nadine dengan tatapan mendamba.
"Sayang, Mama sangat mengerti perasaan kamu saat ini. Tapi untuk masalah itu kita bahas nanti ya setelah Papi berhasil membawa Keenan pulang, untuk sekarang Mama minta kamu bersabar dulu. Mama pasti akan meminta pertanggungjawaban Keenan dan pastinya Mama setuju setelah mengetahui kalian bukan sedarah. Mungkin memang inilah hikmah dibalik semuanya, kenapa pernikahan kamu dan Farel gagal, pasti Tuhan memang sedang merencanakan hal yang indah untuk kamu Sayang," ucap Dinda.
"Iya Ma," jawab Nadine lalu menghamburkan pelukan pada tubuh sang ibu yang selalu membuatnya nyaman.
"Lalu, sekarang Oma bagaimana keadaannya Ma?" Tanya Nadine.
"Tadi sewaktu Papi kamu keluar, Mama langsung menemui Oma di kamarnya. Kasihan Oma, sepertinya Oma juga sangat syok dan menyesal telah menyembunyikan rahasia sebesar itu dari keluarganya. Apalagi terhadap Papi, Oma bilang Oma merasa bersalah terhadap Papi kamu. Mama sudah coba berbicara dengan Oma untuk bersabar menghadapi Papi saat ini, meskipun Oma tahu sifat Papi kamu sedari dulu jika sedang marah dengan Oma pasti bisa sampai berhari-hari tidak pulang ke rumah. Tetapi sekarang kan keadaannya berbeda, karena Papi juga mempunyai keluarga sendiri yaitu kita. Nanti jika Papi kamu sudah pulang, Mama akan bicarakan soal ini," ucap Dinda.
"Iya Ma, aku juga kasihan sama Oma. Mudah-mudahan Oma baik-baik saja ya Ma, Papi dan Kak Keenan juga mau memaafkan Oma. Saat ini Opa masih koma, sehingga tidak bisa menemani Oma dan sekarang malah Papi bersikap seperti itu terhadap Oma, pasti Oma merasa sangat sedih. Lebih baik sekarang kita ke kamar Oma aja Ma, kita temani Oma," kata Nadine.
"Iya Sayang, tapi Mama juga nggak bisa menyalahkan Papi kamu 100%. Karena ini memang kesalahan Oma apapun itu alasannya. Iya boleh kita temani oma ya," ucap Dinda.
Prang …
Tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca dari lantai bawah, sehingga membuat Dinda dan Nadine sangat terkejut dan melerai pelukan mereka lalu segera menuju ke lantai bawah untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Bersambung …
__ADS_1