
Keesokan harinya, di saat Nadine baru saja membuka mata, ia terkejut karena melihat sosok pria yang sedang menatap ke arahnya, siapa lagi kalau bukan Keenan. Akan tetapi sepertinya Keenan belum juga menyadari jika di saat ini Nadine telah bangun dari tidurnya.
"Kak Keenan," ucap Nadine sehingga menyadarkan lamunan Keenan
Keenan pun menjadi salah tingkah karena ketahuan oleh Nadine saat sedang menatapnya, seperti maling ayam yang tertangkap basah oleh sang pemilik.
"Nadine, ka-kamu sudah bangun?" Tanya Keenan yang terlihat gugup.
"Iya lah Kak aku sudah bangun, kalau belum bangun nggak mungkin sekarang aku berbicara dengan kamu. Kakak kenapa ngeliatin aku seperti itu?" Tanya Nadine.
"Siapa juga yang ngeliatin kamu, kepedean banget sih. Aku hanya ingin membangunkan kamu saja kok, ini kan sudah siang," ucap Keenan.
"Ah masa, bilang saja kalau Kakak memang lagi ngeliatin aku kan? Jujur saja deh Kak, nggak usah malu-malu seperti itu," kata Nadine yang terus saja menggoda Keenan, hingga kini wajah kakaknya itu terlihat memerah seperti kepiting rebus.
"Nadine, apaan sih kamu. Aku sudah bilang enggak ya enggak lah. Aku hanya ingin membangunkan kamu saja," ucap Keenan mengulanginya.
"Selamat pagi anak Mama dan Papi. Sudah bangun saja nih semuanya," ucap Dinda yang saat itu baru saja tiba bersama Nathan, hingga Keenan pun merasa lega karena Nadine tak lagi menggodanya.
"Pagi Ma, pagi Pi," ucap Nadine dan disusul oleh Keenan.
"Pagi, bagaimana keadaan kamu Sayang?" Tanya Nathan.
"Aku sudah sehat dong Pi dan sudah siap untuk pulang," jawab Nadine.
"Syukurlah, sepertinya kamu sudah tidak sabar sekali ya mau pulang, sabar dulu dong Sayang. Ini kan masih pagi, Dokternya juga belum datang," ucap Dinda.
"Tapi Ma, kan kemarin Dokter bilang aku sudah boleh pulang hari ini. Jadi mau menunggu apa lagi?" Tanya Nadine.
"Iya Papi tahu, tapi kamu harus tetap sabar ya Sayang. Kan Papi harus urus administrasinya dulu, harus bicara dulu dengan Dokter. Sabar ya, kemungkinan sebentar lagi Dokter juga sudah datang," ucap Nathan.
"Iya, iya, aku sabar kok Pi," ucap Nadine.
"Tahu nih Nadine, nggak sabar banget kamu. Sabar dong, yang penting kan sudah boleh pulang," sahut Keenan.
"Nggak usah ikut-ikutan deh Kak," gerutu Nadine.
"Ya suka-suka aku lah," ucap Keenan.
Nadine memutar bola matanya malas, enggan terus menerus meladeni kakaknya itu.
Drt … drt … drt …
Di saat itu ponsel Nadine berdering, ada panggilan telepon dari Farel dan segera saja si pemilik ponsel menjawab telepon tersebut.
__ADS_1
"Halo Nadine," ucap Farel dari seberang telepon.
"Halo Rel, ada apa?" Tanya Nadine.
"Kamu gimana keadaannya? Apa sudah lebih baik?" Tanya Farel.
"Iya Rel aku sudah lebih baik kok, alhamdulillah," jawab Nadine.
"Syukurlah, hari ini jadi pulang?" Tanya Farel.
"Iya, jadi. Ini Mama dan Papi juga sudah berada di rumah sakit, tapi masih harus menunggu Dokter dulu kata Papi," jawab Nadine.
"Oh gitu. Oh ya Sayang aku minta maaf ya karena aku nggak bisa antar kamu pulang, karena ada pekerjaan mendadak dan meeting penting pagi ini. Tapi aku janji nanti kalau kamu sudah berada di rumah, aku akan datang ke rumah kamu langsung dari kantor," ucap Farel.
"Ya ampun Rel nggak apa-apa kok. Kamu pentingkan saja dulu ya pekerjaan kamu, nggak perlu harus terburu-buru untuk datang ke rumah aku. Lagipula aku kan nggak sendirian, ada Mama, Papi, ada Kak keenan juga," ucap Nadine.
"Memangnya Keenan nggak pergi ke kantor?" Tanya Farel.
"Nggak tahu juga tuh, mungkin enggak atau nanti siang," jawab Nadine.
"Oh … ya sudah kalau begitu. Aku ke kantor dulu ya Sayang. Kamu nanti hati-hati ya, kabari aku kalau sudah sampai di rumah," ucap Farel.
"Iya, nanti aku akan kabari kamu kok kalau aku sudah pulang. Kamu juga hati-hati ya pergi ke kantornya," ucap Nadine.
"Iya nanti aku sampaikan, bye …," balas Nadine dan mengakhiri telepon tersebut.
"Farel ya Sayang, ada apa?" Tanya Dinda.
"Itu Ma, Kata Farel dia nggak bisa antar aku pulang ke rumah karena ada pekerjaan mendadak dan ada meeting penting pagi ini," jawab Nadine.
"Oh … ya nggak apa-apa dong. Kan ada Mama, Papi dan Keenan juga," kata Dinda.
"Iya Ma, tadi aku juga bilang seperti itu ke Farel," ucap Nadine.
"Baguslah kalau dia nggak jadi datang ke sini. Lagipula untuk apa juga sih ikut-ikutan, kan ada keluarga Nadine di sini," hardik Keenan.
"Keenan, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Bagaimanapun juga Farel itu pacar adik kamu, calon adik ipar kamu," kata Nathan.
"Tahu nih Kak Keenan. Terus memangnya Kakak hari ini nggak ke kantor?" Tanya Nadine.
"Iya Keenan, kamu tidak ke kantor ya?" Tanya Nathan pula.
"Enggak, nanti siang saja aku ke kantornya setelah antar Nadine pulang," jawab Keenan.
__ADS_1
"Tapi urusan kerjasama proyek dengan perusahaan B sudah selesai kan?" Tanya Nathan.
"Sudah kok Pi, tenang saja. Itu sudah pasti beres, kalau belum nggak mungkin aku akan meninggalkan pekerjaan itu," jawab Keenan.
"Ya, ya. Papi percaya kok dengan kamu," ucap Nathan sembari menepuk pelan pundak anak laki-lakinya itu.
****
Sejak pertemuannya dengan Bianca di restoran pada hari itu, membuat James merasakan jika cintanya yang lama terpendam telah kembali lagi. Ia juga berniat akan mendapatkan hati Bianca, apalagi setelah ia tahu Bianca baru saja putus dengan kasihnya, sudah pasti ia akan menggunakan kesempatan ini dengan baik.
"Bianca Aku tidak menyangka bahwa sekarang ini kita dapat bertemu lagi, setelah lama kita berpisah dan hampir saja aku menyerah untuk mencari keberadaanmu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini Bi, aku pasti akan mendapatkan hati kamu," batin James dengan senyuman yang terpancar disudut bibirnya.
"Permisi Dokter James, Dokter …," ucap salah satu suster ya saat itu sedang berada di hadapannya, suster cukup bingung melihat dokter James yang senyum-senyum sendiri.
"Oh iya, maaf Sus. Ada apa?" Tanya James yang tersadar dari lamunannya.
"Maaf ya Dok saya mengganggu. Ini Dok laporan kesehatan pasien di ruang dahlia," ucap suster.
"Terima kasih ya Sus," ucap James dan menerima berkas laporan tersebut.
Lalu suster pun segera saja berpamitan dan pergi dari hadapan James.
Gara-gara sibuk memikirkan Bianca sedari tadi, James sampai tidak menyadari jika ada suster yang masuk ke dalam ruangannya itu. Padahal suster sudah mengetuk pintunya hingga masuk ke dalam.
"Bianca, Bianca, kamu benar-benar sudah membuatku gila," batin James.
****
Keenan terlihat baru saja tiba di rumah, setelah tadi ia pergi ke perusahaan sebentar setelah mengantar Nadine pulang ke rumah. Di saat hendak turun dari mobilnya, tiba-tiba Keenan teringat akan sebuah bingkisan yang diberikan oleh Bianca di malam hari berakhirnya hubungan mereka. Lalu ia pun mengambil bingkisan yang diletakkannya di kursi belakang mobil.
"Gara-gara beberapa masalah yang terjadi, aku jadi melupakan bingkisan ini. Kira-kira dari siapa ya?" gumam Keenan yang mendadak menjadi penasaran.
Lalu ia pun segera saja membawa bingkisan tersebut masuk ke dalam rumahnya, hingga saat ini Keenan sudah berada di dalam kamarnya.
Karena rasa penasarannya itu, segera saja Keenan membuka bingkisan itu. Ia cukup terkejut setelah melihat di dalam bingkisan tersebut terdapat sebuah kotak yang didalamnya berisi jam tangan bermerk dari luar negeri. Keenan tahu bahwa jam itu adalah jam bermerk yang sangat mahal, harganya bisa mencapai puluhan juta. Keenan yakin bahwa hadiah ini bukanlah dari orang biasa.
"Ini dari siapa ya kira-kira? Jika memang ini dari Bianca ya wajar saja, karena Bianca juga orang yang berada. Tapi nggak mungkin Bianca memberikan hadiah dengan cara misterius seperti ini, apalagi dia langsung yang memberikannya. Jika ini dari fans, siapa fans yang mau memberikan hadiah yang begitu mahal untukku. Lagipula memangnya aku siapa harus memiliki fans? Kalau Bianca yang memiliki fans itu wajar karena dia seorang model. Atau jangan-jangan sekarang ini aku sudah menjadi presdir idola. Ada-ada saja," gumam Keenan yang mendadak geli sendiri dengan pikirannya itu.
Selain jam tangan tersebut, Keenan juga menemukan sebuah note yang bertuliskan …
"Keenan, jika kamu sudah menerima bingkisan ini, tolong kamu hubungi nomor 08xxxxx untuk mengkonfirmasinya."
Keenan mengernyitkan dahinya, ia benar-benar merasa kebingungan siapakah yang telah mengirim hadiah misterius itu sampai-sampai memintanya untuk menghubungi nomornya itu.
__ADS_1
Bersambung …