
Saat di kantor pun Keenan terlihat tidak fokus karena terus saja memikirkan sosok misterius itu. Pikirannya menjadi tidak tenang. Ia takut benar-benar akan terjadi sesuatu kepada ibunya. Lalu Keenan pun segera saja menghubungi sang ayah yang saat ini berada di rumah untuk menanyakan kondisi sang ibu.
"Halo Keenan, ada apa?" Tanya Nathan dari seberang telepon.
"Bagaimana keadaan Mama Pi? Apa Mama baik-baik saja?" Tanya Keenan.
"Kamu tenang saja Kee, Mama baik-baik saja. Papi pastikan jika Papi akan menjaga Mama kalian dengan sangat baik. Sebaiknya kamu fokus saja bekerja dan jangan lupa untuk mencari tahu siapa orang itu. Kita harus tahu jelas apa maksud dan tujuannya itu," ucap Nathan.
"Baik Pi, aku akan mencari tahu soal ini," ucap Keenan lalu mengakhiri telepon tersebut.
"Lebih baik aku coba kembali untuk menghubungi orang itu, siapa tahu kali ini dia mau menjawabnya," ucap Keenan, lalu ia pun segera saja menghubungi sosok misterius tersebut.
Akan tetapi lagi-lagi orang itu sama sekali tidak mau menjawabnya, sehingga Keenan pun meletakkan ponselnya di atas meja lalu keluar menuju ke ruang meeting, karena ada rapat perusahaan hari ini.
****
Di satu sisi Bianca saat ini sedang merasa kesal terhadap Keenan. Karena setelah kemarin sore Keenan membatalkan janjinya secara sepihak, hingga malam hari pun kekasihnya itu sama sekali tidak ada menghubunginya dan bahkan hari ini Bianca mencoba untuk mengalah dan menghubunginya terlebih dahulu tetapi sama sekali tidak ada jawabannya dan tidak membalas chat-nya itu.
"Ada apa dengan Kenan. Kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti ini? Jangan-jangan Keenan selingkuh? Enggak itu nggak mungkin atau jangan-jangan sedang terjadi sesuatu dengannya? Aku nggak bisa diam seperti ini, aku harus ke perusahaannya sekarang. Bisa saja kan memang terjadi sesuatu dengan Keenan," ucap Bianca dan hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruang pemotretan.
Akan tetapi di saat itu, Siska managernya itu pun menegurnya.
"Nona Bianca? Anda mau kemana Nona?" Tanya Siska.
"Saya ada urusan. Lagipula jam pemotretan saya juga sedang kosong kan," kata Bianca.
"Sekarang memang lagi kosong Nona. Tapi 1 jam lagi akan ada pemotretan di Hotel Laguna," jawab Siska.
"Masih 1 jam lagi kan? Kalau begitu aku pergi sebentar saja. Setelah urusanku selesai, aku pasti akan langsung ke sana. Kamu tenang saja, aku tidak akan terlambat Siska," ucap Bianca.
"Tapi Nona, bagaimana kalau Tuan Reno nanti menanyakan Nona?" Tanya Siska.
"Ya katakan saja kalau aku ini sedang ada urusan. Kenapa susah sekali sih?" Kata Bianca yang terlihat kesal, ia tidak punya banyak waktu tetapi managernya itu malah membuang-buang waktunya.
"Ya sudah kalau begitu aku antar ya Nona," kata Siska.
"Tidak perlu. Kamu tunggu saja aku di Hotel Laguna, jadi nanti Tuan Reno menanyakan dimana aku, kamu bisa menjawabnya," kata bianca.
__ADS_1
"Baik Nona, hati-hati," jawab Siska. Tampak kekhawatiran di wajahnya, karena ia takut jika Reno menanyakan dimana keberadaan Bianca.
Karena sebenarnya Bianca tidak boleh kemana-mana dulu selain langsung menuju ke Hotel Laguna tempat jadwal pemotretannya siang ini.
Di saat Bianca baru saja keluar dari Perusahaan Modeling, di saat itu bertepatan dengan Clara dan Amanda yang baru saja tiba di perusahaan tersebut dan melihat Bianca yang saat itu sedang terburu-buru masuk ke dalam mobilnya.
"Ikuti wanita itu!" Perintah Clara kepada Amanda.
"Wanita yang baru saja masuk ke dalam mobil itu Nyonya?" Tanya Amanda ingin memastikan.
"Memang ada yang lain lagi?" Tanya Clara ketus.
"Baik Nyonya," jawab Amanda.
Tadinya Clara meminta Amanda untuk mengantarkannya ke Perusahaan Modeling itu lagi meskipun ia sudah memutuskan tidak mau bekerja sama dengan perusahaan itu. Tetapi di saat mendengar waktu itu Bianca menyebut nama Keenan, Clara pun menjadi penasaran siapa Keenan yang dimaksud oleh Bianca itu. Sehingga ia pun ingin menyelidikinya. Kebetulan di saat ini Bianca akan pergi, Clara sengaja mengikuti wanita itu, berharap jika Bianca akan pergi menemui Keenan dan di saat itu Clara akan tahu siapa Keenan yang dimaksud oleh Bianca.
****
Segera saja Amanda melajukan mobilnya mengikuti mobil Clara, sehingga kini Bianca pun memberhentikan mobilnya tepat di depan Perusahaan Collin Group.
"Tidak salah lagi, Keenan yang dimaksud oleh Bianca adalah Keenan anakku," batin Clara sembari tersenyum smirk.
"Iya aku tahu, aku tidak buta dan bisa melihatnya," jawab clara ketus.
"Maaf Nyonya. Lalu apakah kita akan turun untuk mengikuti wanita itu ke dalam?" Tanya Amanda.
"Tidak perlu, aku sudah punya rencana lain. Lebih baik sekarang kita pergi saja dari sini," jawab Clara.
"Baik Nyonya," ucap Amanda, lalu ia pun menyalakan kembali mesin mobilnya dan segera melaju ke arah tujuan Clara berikutnya.
Sedangkan Bianca saat itu langsung saja masuk dan mencari keberadaan Keenan. Tetapi di saat itu resepsionis mengatakan jika Keenan sedang ada rapat sehingga Bianca pun menunggunya di ruang tunggu. Padahal ia sedang tidak mempunyai waktu yang banyak, tetapi karena sudah berada di perusahaan, maka ia akan menunggu Keenan hingga setengah jam lamanya kekasihnya itu baru selesai rapat.
Bianca langsung saja menghampiri Keenan yang saat itu kebetulan lewat di depannya.
"Keenan!" Panggil Bianca.
Keenan menoleh ke arah sumber suara dan melihat Bianca yang saat itu sedang berjalan mendekatinya dengan raut wajah bete.
__ADS_1
"Bianca, kamu ada apa ke sini?" Tanya Keenan.
"Ya mau bertemu kamu lah Keenan. Aku ingin bicara," jawab Bianca.
"Ya sudah lebih baik sekarang kita ke ruanganku saja," kata Keenan.
Lalu keduanya pun melangkahkan kaki menuju ke ruangan presdir.
Sementara itu, di saat Clara sedang menemui kliennya dan Amanda disuruh untuk menunggu di dalam mobil, menurut Amanda ini adalah kesempatannya untuk menghubungi Keenan kembali. Meskipun sebenarnya Amanda merasa bingung dengan posisinya saat ini, asisten atau supir? Karena setiap hendak bertemu dengan orang penting, pasti Amanda diminta untuk menunggu di mobil. Bukankah sebagai seorang asisten seharusnya Amanda itu harus selalu berada di dekatnya? Tapi ya sudahlah, Amanda sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Malah menurutnya itu hal yang bagus, membuatnya merasa ada waktu luang karena terbebas dari bos galaknya itu. Mungkin di saat nanti Perusahaan Iklan C&K milik Clara sudah resmi beroperasi, barulah Amanda akan memiliki banyak pekerjaan di kantor.
Kembali lagi ke Keenan dan Bianca yang saat itu sudah berada di ruang presdir.
"Kamu mau bicara apa?" Tanya Keenan.
"Kemarin kamu batalin janji bertemu denganku begitu saja tanpa alasan yang jelas. Lalu tadi malam kamu sama sekali nggak ada menghubungi aku sampai tadi siang. Dan tadi aku sudah mengalah untuk menghubungi kamu, kamu malah sama sekali tidak menjawabnya. Kamu itu kenapa Keenan?" Tanya Bianca dengan raut wajah kesal.
"Oh itu, aku minta maaf Bi. Kemarin itu aku benar-benar ada sesuatu yang benar-benar urgent sehingga aku harus membatalkan pertemuan kita. Tadi malam aku sudah sangat lelah, jadi pulang langsung istirahat. Dan tadi aku banyak pekerjaan, kamu juga tahu kan kalau aku baru saja selesai meeting. Baru ini aku ada waktu dan saat ini aku ada di depan kamu," jawab Keenan dengan santai tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Tapi-" ucapan Bianca terhenti karena saat itu ponsel Keenan berdering, sehingga Keenan segera saja menyambar ponsel di atas meja.
Keenan terkejut melihat panggilan masuk dari sosok misterius yang sejak tadi dihubunginya tetapi sama sekali tidak menjawab. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, Keenan pun segera saja menjawab telepon tersebut.
"Halo," ucap Keenan.
"Halo Keenan," ucap seseorang dari seberang telepon.
"Akhirnya kamu menghubungi saya juga. Sekarang jelaskan apa maksud dari chat kamu waktu itu," pinta Keenan.
Akan tetapi bukan jawaban yang Keenan dapatkan, karena tiba-tiba saja …
Tut … tut … tut …
Panggilan telepon terputus.
"Halo, halo … ." Keenan sangat kesal dan mencoba menghubungi nomor itu kembali.
Tetapi saat ini nomor tersebut malah tidak aktif. Keenan benar-benar dibuat marah karena merasa sosok misterius itu benar-benar telah mempermainkannya.
__ADS_1
Bersambung …