
Kedua orang tua Nadine dan Keenan itu masih tampak kebingungan, tak tahu harus berbuat apa saat ini. Karena situasinya benar-benar sulit, bahkan siapapun yang mengalami hal ini, sudah pasti akan merasakan apa yang saat ini mereka rasakan.
"Ma, Papi benar-benar tidak mempunyai solusi apapun saat ini. Papi bingung harus melakukan apa, apa yang harus kita lakukan untuk anak-anak kita? Apa mungkin kita harus menikahkan mereka? Atau kita cari saja laki-laki yang mau menikahi anak kita?" Tanya Nathan di dalam keputusasaannya.
"Papi, kamu bicara apa sih. Memangnya kamu pikir semudah itu mencarikan suami untuk anak kita dalam kondisinya seperti sekarang ini. Apa menurut kamu ada pria yang tulus dan ikhlas mau menerima Nadine apa adanya dalam waktu cepat? Kalau untuk menikahkan Keenan dan Nadine itu tidak mungkin dan aku yakin Mama juga tidak akan setuju," ucap Dinda.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Ma?" Tanya Nathan.
"Itu juga yang membuat Mama bingung Pi. Bagaimana dengan masa depan anak-anak kita? Terutama Nadine, sebagai wanita pastinya dia sangat terpuruk. Kenapa Nadine harus mengalami apa yang dulu Mama alami Pi, Mama tidak mau Nadine merasakan penderitaan saat mengandung dan melahirkan tanpa suami. Itu rasanya sangat tidak enak Pi. Tapi Mama masih beruntung karena pada akhirnya kita bisa bertemu dan bersatu sampai sekarang. Sedangkan Nadine dan Keenan, mereka tidak akan bisa bersama selamanya, mereka adalah saudara dan tidak akan ada yang bisa merubah takdir itu," ucap Dinda dengan air matanya yang terus saja mengalir.
Nathan pun tak kuasa menahan kesedihan itu, lalu ia memeluk istrinya dengan erat untuk meluapkan rasa kesedihan mereka saat ini.
Setelah mendapatkan informasi yang menurutnya begitu penting, seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan Dinda dan Nathan itu pun segera saja pergi meninggalkan rumah sakit. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin menyampaikan kabar tersebut kepada seseorang yang pastinya akan sangat senang mendengar rahasia besar ini.
****
"Kamu serius, kamu bisa memastikan apa yang kamu dengar itu tidak salah?" Tanya Clara kepada orang suruhannya.
Ya Clara memang mengutus mata-mata untuk selalu mengawasi dan mengikuti kemanapun Dinda dan Nathan pergi saat keluar rumah. Dan di saat itu kebetulan mata-matanya itu melihat mereka yang saat itu pergi ke rumah sakit hingga tidak sengaja mendengar rahasia besar tentang Keenan dan Nadine.
__ADS_1
"Saya yakin Nyonya, saya tidak mungkin salah dengar. Saya benar-benar mendengar secara jelas bahwa saat ini Nadine telah mengandung anak Keenan. Sebenarnya saya tidak tahu siapa Nadine dan Keenan itu, tapi menurut saya ini adalah berita yang penting karena ternyata keluarga mereka itu sedang mempunyai masalah besar. Bukankah Nyonya sangat menginginkan keluarga itu mempunyai masalah dan menderita," ucap mata-mata Clara, sebut saja namanya Bejo.
"Seandainya saja Keenan itu bukan Anakku," sudah pasti aku akan merasa sangat senang. Kenyataannya Anakku juga yang terkena masalahnya. Tapi bukankah setahu mereka Keenan dan Nadine adalah saudara, jadi sudah pasti mereka tidak akan pernah menyatukan Keenan dan Nadine. Itu artinya Nadine tidak akan pernah menjadi menantuku, aku juga tidak akan pernah sudi," batin Clara.
"Nyonya, saya sudah memberikan berita yang begitu penting. Apakah saya boleh menerima uangnya, karena saya sangat membutuhkannya Nyonya," ucap Bejo.
"Dasar mata duitan, kalian semua itu sama saja. Kamu keluar sekarang dari ruangan saya, saya akan mentransfernya segera," ucap Clara.
"Baik Nyonya, terimakasih. Jika nanti Nyonya membutuhkan saya lagi, Nyonya bisa menghubungi saya," ucap Bejo.
Clara tak menjawab apapun, ia hanya menatapnya bengis. Lalu segera saja Bejo pergi meninggalkan ruangan Clara itu.
Sebagai orang tua, sebenarnya ia sangat ingin melihat anaknya bahagia. Tetapi tentu saja tidak bersama dengan Nadine, karena menurutnya Nadine adalah anak dari musuhnya yaitu Dinda dan mantan suaminya itu sehingga ia tidak akan pernah merestui hubungan mereka.
****
Keenan menghampiri ayahnya yang di saat itu sedang duduk termenung di depan ruang rawat inap Cynthia. Sedangkan Nadine dan Dinda sudah pulang ke rumah karena keadaan Nadine sudah cukup membaik dan diperbolehkan untuk pulang, sehingga Dinda pun memutuskan untuk menemani anak perempuannya itu sembari untuk melihat kondisi ayah mertuanya di rumah.
"Pi aku mau bicara dengan Papi," ucap Keenan.
__ADS_1
"Bicara saja," ucap Nathan.
"Pi, aku tidak setuju jika kalian mau mencarikan pria lain untuk menikah dengan Nadine. Aku tidak terima karena aku yang sudah melakukan hal itu, aku yang sudah membuat Nadine hamil, jadi harus aku yang bertanggung jawab," ucap Keenan.
"Kamu mau bertanggung jawab bagaimana Keenan? Kamu mau menikahi Adik kamu sendiri begitu? Kamu sudah gila, kamu tidak memikirkan apa dampaknya nanti," ucap Nathan yang tampak menahan emosinya, karena ia juga tidak mau membuat keributan di rumah sakit.
"Aku tidak peduli Pi, aku sangat mencintai Nadine. Apa menurut Papi aku akan terima jika melihat orang yang aku cintai akan menikah dengan orang lain?" Ucap Keenan.
"Tapi Nadine itu Adik kamu sendiri Keenan. Tolong kamu jangan egois, jangan hanya gara-gara kamu mencintai Nadine, kamu telah membuatnya hamil, lalu kamu mau menikah dengannya begitu saja tanpa memikirkan ikatan darah yang kalian punya. Kamu mau semakin menambah dosa? Kamu sudah melakukan kesalahan, sekarang kamu mau menambahnya lagi dengan melawan takdir untuk merobohkan dinding persaudaraan kalian? Apa kamu tidak pernah berpikir apa dampaknya nanti di kemudian hari," ucap Nathan.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang Pi, aku akan menerima apapun itu resikonya. Yang pasti aku ingin menikah dengan Nadine, bukan orang lain yang akan menikahinya," ucap Keenan menentang ayahnya itu.
"Tapi itu tidak mungkin Keenan, kenapa sih kamu tidak bisa mengerti. Kalau Papi bilang tidak bisa, ya tidak bisa," bantah Nathan mencoba untuk tetap menahan amarahnya meskipun emosinya saat ini rasanya sudah mencapai di ubun-ubun. Ia juga tahu jika kerasnya hati Keenan tidak mungkin bisa ia lawan juga dengan kekerasan.
"Aku tidak peduli Pi, aku akan tetap menikahi Nadine. Lihat saja, jika nanti Papi dan Mama benar-benar mencari orang lain untuk menikahkan Nadine. Aku pasti akan menggagalkan pernikahan itu, aku tidak akan pernah setuju," ucap Keenan, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan ayahnya dan tak tahu entah kemana.
Sedangkan Nathan di saat itu pun langsung saja terduduk lemah di kursi, ia memegangi kepalanya karena merasa stres dengan masalah yang saat ini sedang terjadi di dalam keluarganya. Sang ayah yang saat ini masih koma dan ibunya juga masih dalam kondisi yang begitu lemah, sekarang malah muncul masalah baru yang menimpa anak-anaknya itu.
Saat perasaannya sedikit lebih tenang, kini Nathan pun bangkit dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam ruang rawat inap Cynthia untuk melihat kondisi ibunya saat ini.
__ADS_1
Bersambung …