
Kecelakaan pun tak terelakkan. Sebuah mobil yang sedang melaju kencang menabrak Clara hingga tubuhnya itu pun terpental jauh dan mengeluarkan darah di sekujur tubuhnya.
Dinda yang membangunkan anak-anaknya itu pun kini semua sudah berada di luar untuk melihat siapa korban kecelakaan tersebut. Sedangkan Cynthia sudah Kenzo pindahkan ke atas tempat tidur masih dalam keadaan pingsan dan saat ini memilih untuk menemani oma dan opanya itu. Begitu pula dengan satpam yang belum juga sadar karena efek obat bius yang diletakkan di dalam minuman tadi.
Suasana seketika menjadi runyam. Supir yang menabrak Clara itu pun tampak panik dan menyatakan bahwa ia tak dapat lagi menghindar ketika melihat ada seseorang yang memakai pakaian serba hitam ada di depannya.
Nathan dan keluarganya itu pun segera mendekati korban kecelakaan tersebut, lalu membuka topeng seseorang yang tadi hendak mencelakai ayahnya dan diyakini dia jugalah yang menyebabkan ibu dan satpam di rumahnya itu pingsan. Saat topeng itu terlepas, mereka semua sangat syok melihat korban kecelakaan yang baru saja membuat ulah di rumah mereka.
"Clara?" Ucap Keenan dan Dinda hampir bersamaan.
"Tante Clara?" Ucap Nadine
"Mami … !" Teriak Keenan menangis histeris dan sangat khawatir.
Ia mengguncangkan pelan tubuh Clara berharap agar segera bangun. Meskipun selama ini ia marah atas sikap ibunya itu, tetapi jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tetap masih mengakui Clara adalah ibunya dan ia juga masih sangat menyayangi ibu kandungnya itu.
"Keenan, kamu yang tenang ya Nak. Sekarang juga kita bawa ibu kamu ke rumah sakit," ucap Nathan. "Kenzie, kamu ambil mobil sekarang!" Teriaknya.
"Baik Pi," jawab Kenzie dan segera saja mengambil mobil di bagasi.
Setelah itu pun mereka segera saja membawa Clara ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan. Hanya Keenan dan Nathan yang pergi ke rumah sakit, sedangkan keluarganya diminta untuk tetap berada di rumah. Di saat itu pula pun satpam telah sadar, begitu juga dengan Cynthia. Mereka sama-sama bingung dengan apa yang baru saja terjadi hingga mendengar cerita dari Dinda dan anak-anaknya.
****
"Mami, Mami bertahan ya. Aku mohon, Mami jangan tinggalkan aku," ucap Keenan dengan isak tangisnya sembari memegangi tangan ibunya itu.
__ADS_1
Sedangkan Nathan tampak fokus menyetir dan melaju dengan kecepatan tinggi agar mereka segera tiba di rumah sakit. Karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 23.30, jalanan pun tampak sepi sehingga membuat Nathan dapat dengan mudah melewati jalanan tersebut.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka telah tiba di rumah sakit. Segera saja Nathan turun dari mobil dan meminta pertolongan. Setelah itu 2 orang perawat datang menghampiri dan membawa brankar untuk membawa korban kecelakaan menuju ke ruang IGD.
Saat ini Clara sedang ditangani oleh dokter, sedangkan Keenan dan Nathan diminta untuk menunggu di luar ruangan tersebut.
"Keenan kamu yang sabar ya Nak, Papi yakin Mami kamu akan baik-baik saja," ucap Nathan yang mencoba menenangkan anaknya itu.
"Iya Pi, aku harap juga seperti itu. Kenapa Mami tega sekali mau mencelakai Opa, kenapa Mami harus berbuat nekat sampai hal ini terjadi Pi. Tapi aku benar-benar sedih Pi, meskipun Mami salah, bagaimanapun sikap Mami tetapi dia tetap ibu kandung aku. Aku tidak mau melihatnya seperti ini Pi," ucap Keenan.
Lalu Nathan pun merangkul tubuh anaknya itu agar Keenan merasa lebih tenang.
Krek …
Pintu ruangan IGD terbuka dan terlihat dokter yang keluar dari ruangan tersebut, sehingga Keenan pun langsung saja mendekatinya.
"Apa kalian yang bernama Nathan dan Keenan?" Tanya Dokter.
"Iya Dok, saya Keenan dan ini Papi saya, Nathan," jawab Keenan.
"Kalian berdua silahkan masuk. Karena di saat ini kondisi pasien sangat kritis tetapi dalam keadaan sadar dan ingin bertemu dengan kalian berdua," ucap dokter.
Keenan tak banyak bertanya lagi, ia segera saja berlari masuk ke dalam ruangan tersebut lalu diikuti oleh Nathan juga menyusul anaknya.
"Mami, ini Keenan, Mami," ucap Keenan sembari memegang tangan ibunya itu serta menciumnya.
__ADS_1
"Keenan," ucap Clara lirih dan menatap ke arah anaknya itu.
"Iya Mi, ini aku Keenan. Mami yang kuat ya, Mami harus bertahan, aku yakin mami pasti akan baik-baik saja," ucap Keenan.
Clara menggelengkan kepalanya, lalu ia melihat ke arah pria yang di saat ini ada di samping anaknya.
"Nathan, Keenan, aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Aku sadar jika selama ini aku sudah jahat apalagi dengan apa yang baru saja aku lakukan. Tolong maafkan aku, sampaikan juga maaf aku kepada Dinda dan Nadine. Keenan, Mami sangat menyayangi kamu, maafkan Mami jika Mami telah banyak menyakiti hati kamu dari kamu kecil sampai kamu dewasa seperti ini Nak. Mami merestui hubungan kamu dengan Nadine, semoga kamu dan wanita yang kamu cintai akan bahagia selamanya. Dan satu lagi, jika kamu sangat ingin tahu siapa Ayah kandung kamu, namanya adalah Bryan. Tetapi saat ini Ayah kamu sudah tiada karena kecelakaan pesawat sewaktu ia mau menyusul Mami ke luar negeri. Maafkan Mami Keenan, tolong maafkan supaya Mami bisa pergi dengan tenang," ucap Clara lirih dan terbata-bata.
"Mami nggak boleh berbicara seperti itu Mami. Mami akan baik-baik saja, Mami nggak akan pergi," ucap Keenan dengan air matanya yang bercucuran.
"Keenan, kamu yang sabar Keenan," ucap Nathan sembari menepuk pelan pundak anaknya.
Hingga di saat itu, Keenan dan Nathan melihat dengan jelas Clara yang perlahan menutup matanya sampai matanya itu tertutup untuk selamanya.
"Mami, Mami, Mami …!" Teriak Keenan yang tak mempercayainya. Hatinya begitu hancur dan terasa perih karena melihat kematian ibu kandungnya secara langsung.
Nathan pun ikut menangis merasakan kesedihan yang dirasakan oleh anaknya saat ini.
"Maafkan kami Tuan Keenan dan Tuan Nathan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi memang keadaan Nyonya Clara memang sudah sangat memprihatinkan sehingga sudah tidak dapat di pertolongan lagi. Kami turut berduka cita dan mohon untuk diikhlaskan kepergiannya," ucap dokter.
"Nggak Dokter, Mami saya masih hidup!" Bantah Keenan yang tak bisa terima.
"Terimakasih banyak Dokter," ucap Nathan, lalu ia merangkul tubuh anak laki-lakinya itu dan juga mengucapkan kata-kata agar Keenan menerima kenyataan bahwa saat ini ibu kandungnya itu telah pergi untuk selama-lamanya.
Setengah jam kemudian, Keenan terlihat lebih tenang dan mulai menerima kenyataan apa yang sudah terjadi. Atas permintaan Keenan dan juga persetujuan dari keluarga Collin, Clara dibawa ke kediaman mereka untuk diurus pemakamannya keesokan hari. Karena memang Clara tidak mempunyai keluarga sama sekali di sini.
__ADS_1
Bersambung …