Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Kembali Tersenyum


__ADS_3

Hingga 1 jam lamanya, Bianca menunggu kehadiran Keenan yang sudah berjanji akan menjemputnya. Akan tetapi sepertinya lagi-lagi Keenan melupakan janjinya itu, buktinya sampai sekarang ia belum menampakkan batang hidungnya di Perusahaan Iklan C&K.


"Keenan kamu itu kemana sih. Padahal aku ingin memberikan bingkisan dari Nyonya Clara ini sekalian. Tetapi kamu malah sama sekali belum datang, aku yakin pasti kamu lupa. Dan seandainya memang benar kamu lupa, lihat saja, kali ini aku akan buat perhitungan dengan kamu Keenan," batin Bianca yang merasa sangat kesal.


"Nona Bianca, kenapa Anda belum pulang?" Tanya Amanda yang menegurnya karena masih berada di depan perusahaan.


"Oh iya, Amanda. Aku masih menunggu kekasihku datang menjemput," jawab Bianca.


"Masih lama? Kalau masih lama sebaiknya Nona menunggunya di dalam saja," ucap Amanda.


"Tidak apa-apa aku tunggu di sini saja, aku takut nanti jika kekasihku sudah sampai dan aku malah tidak berada di luar. Terimakasih tawarannya ya Amanda," ucap Bianca.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu saya masuk lagi ya Nona," ucap Amanda dan segera saja masuk ke dalam perusahaan.


"Bagaimana, apa yang Bianca katakan? Apa Keenan sudah akan datang?" Tanya Clara saat Amanda menghampirinya.


"Nona Bianca mengatakan jika ia akan tetap menunggu Tuan Keenan di luar. Tetapi sepertinya Nona Bianca belum tahu jam berapa Tuan Keenan akan datang menjemputnya," jawab Amanda.


"Oh, ya sudah. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu," kata Clara.


"Baik Nyonya," ucap Amanda.


Membicarakan soal Keenan, tiba-tiba Amanda teringat pada saat ia menelponnya kemarin tiba-tiba saja ponselnya non aktif karena kehabisan daya. Dan sejak saat itu Amanda belum sempat lagi untuk menghubungi Keenan karena ia mulai disibukkan dengan pekerjaan barunya. Bahkan kali ini Amanda pun tidak tahu apa yang sedang terjadi saat bos-nya mengatakan sedang memanfaatkan Bianca untuk mendekatkan dirinya lagi dengan Keenan. Sebenarnya itu bukan masalah untuk Amanda, tetapi yang ia permasalahkan adalah ia tidak rela jika Clara akan mencelakai Dinda.


****


Hingga 2 jam pun telah berlalu dimana Bianca masih setia menunggu kehadiran Keenan di depan perusahaan milik Clara. Bianca sudah mencoba untuk menghubungi Keenan, akan tetapi ternyata pada saat itu ponsel Keenan tidak aktif dan membuat Bianca pun semakin murka. Tak mau menunggu lama lagi yang belum pasti, Bianca pun segera saja menghubungi Siska dan meminta untuk menjemputnya.


Sedangkan di saat itu Keenan baru saja selesai dengan pekerjaannya. Ia pun meraih ponselnya yang sejak tadi disimpan di dalam laci agar ia bisa lebih fokus dan dapat dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya itu. Karena Keenan teringat jika hari ini ia ada janji untuk menjemput kekasihnya.

__ADS_1


Akan tetapi Keenan sangat terkejut karena pesan yang sudah ia ketik untuk mengabari Bianca bahwa hari ini akan terlambat menjemputnya, ternyata belum sempat ia kirim. Bahkan di saat ini Keenan merasa heran dan tidak sadar bagaimana bisa ponselnya berada dalam mode pesawat, sehingga membuatnya tidak bisa dihubungi. Setelah ia mengaktifkan kembali ponselnya, langsung saja masuk notifikasi panggilan dari Bianca.


"Aduh … gawat, pasti Bianca akan ngomel-ngomel lagi. Nggak bisa, aku harus ke sana sekarang juga," ucap Keenan.


Saat itu juga Keenan bergegas keluar dari perusahaan dan melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Bianca bekerja. Di saat itu juga, Siska pun sedang dalam perjalanan untuk menjemput bos-nya setelah mendapatkan perintah.


Kini Siska baru saja tiba di Perusahaan Iklan C&K. Tepat di saat itu juga Keenan pun baru saja tiba dan langsung keluar dari mobil untuk menghampiri Bianca yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Bi maaf aku terlambat," ucap Keenan.


"Nona, itu ada Tuan Keenan," ucap Siska yang melihat Keenan mendekati mereka.


"Aku tahu dan aku juga dengar kok dia memanggil namaku," ucap Bianca.


"Apa tidak sebaiknya Nona temui saja dulu Tuan Keenan," ujar Siska.


"Bianca tunggu aku Bi, aku bisa jelaskan," ucap Keenan sembari mengetuk kaca jendela mobil. Akan tetapi Bianca seakan menulikan telinganya dan segera saja berlalu dari pandangan Keenan.


****


Karena hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan, Nadine pun memutuskan untuk pulang ke rumah lebih cepat karena sudah lama ia selalu disibukkan dengan pekerjaan yang membuatnya menjadi tidak banyak memiliki waktu untuk berkumpul bersama keluarga, termasuk sang ibu. Nadine merasa sangat merindukan Dinda, dimana saat dulu ia selalu menghabiskan waktu bersama ibunya itu. Terlebih lagi di saat ini Nadine tahu jika ibunya itu sedang ada masalah sehingga Nadine ingin menemani Dinda.


"Nadine, tumben kamu sudah pulang jam segini?" Tanya Dinda saat melihat anaknya itu sedang bersantai di ruang keluarga menonton televisi, padahal di kamarnya saja ada televisi yang jarang sekali ia tonton.


"Eh Mama, iya Ma karena lagi nggak banyak pekerjaan di butik, jadi aku sengaja pulang cepat. Mama duduk sini dong, sudah lama nih aku nggak ngobrol-ngobrol sama Mama," ucap Nadine sembari memberikan ruang untuk sang ibu.


Lalu Dinda pun segera saja duduk di samping anaknya itu.


"Ma, Mama apa kabar? Mama sehat kan?" Tanya Nadine sembari menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu bertanya seperti itu? Seperti yang kamu lihat setiap hari, Mama baik-baik saja kan, Mama tidak kenapa-napa. Aneh, nggak Papi, Keenan, Kamu, Kenzie dan Kenzo menganggap Mama seperti sedang sakit atau mempunyai masalah, padahal Mama baik-baik saja," jawab Dinda sembari mengusap lembut rambut sang anak.


Meskipun sebenarnya ia memang sedang ada masalah, tetapi karena sang peneror itu tiba-tiba saja menghilang membuat Dinda pun perlahan sudah mulai melupakan teroran itu. Ia merasa lebih tenang karena selalu dijaga 24 jam oleh sang suami dan akhirnya ia pun juga melupakan keinginannya untuk bertemu dengan Clara, menanyakan tentang semua ini. Meskipun terkadang rasa kekhawatirannya jika Clara ingin merebut Keenan kembali masih menghantui perasaannya. Saat ini Dinda menganggap biarlah itu semua adalah kerjaan orang iseng, sehingga ia pun tak mau memikirkan tentang peneror itu lagi.


"Ya nggak apa-apa dong Ma, itu artinya kita semua perduli sama Mama, sayang sama Mama. Ma, aku kangen sama Mama," ucap Nadine yang kini bergelayut manja di lengan ibunya.


"Sayang, kamu ini kenapa sih. Kamu kangen sama Mama? Kita kan setiap hari bertemu, kenapa bisa kamu kangen seperti itu," ucap Dinda.


"Aku juga nggak tahu Ma, yang jelas perasaan ini muncul aja dari dalam hati. Salah satu alasan aku ingin cepat-cepat sampai di rumah ya untuk bertemu dengan Mama, ya untuk berkumpul dengan keluarga juga sih. Tapi sewaktu sampai di rumah dan mencari Mama, ternyata Mama sedang beristirahat dengan Papi di kamar, nggak mungkin dong aku menggangu kalian, jadi aku tunda dulu deh untuk bertemu Mama. Terus sekarang Papi mana Ma?" Tanya Nadine.


"Oh … jadi seperti itu. Tapi Mama juga kangen sih dengan Nadine. Papi kamu lagi mandi, pasti Papi belum tahu kalau kamu sudah pulang. Kamu sudah mandi kan? Sudah makan?" Tanya Dinda.


"Mandi sudah, kalau makan tadi siang sudah. Makan malamnya kan nanti bareng keluarga," jawab Nadine.


"Iya juga ya. Kamu mau makan malam apa?" Tanya Dinda.


"Terserah apa aja Ma. Kalau Mama yang masak pasti enak," jawab Nadine.


"Kebetulan kamu sudah pulang, bagaimana kalau kamu membantu Mama masak makan malam kita," ucap Dinda.


"Boleh Ma," jawab Nadine begitu antusias.


Lalu Dinda dan Nadine pun segera saja menuju ke dapur untuk memasak menu makan malam mereka.


Ibu dan anak terlihat begitu kompak memasak, tentunya Dinda yang memasaknya sedangkan Nadine hanya membantunya saja untuk menyiapkan makanan tersebut. Dinda terlihat begitu bahagia dan selalu tersenyum di saat sedang bersama anak perempuannya itu, senyumannya seakan kembali setelah beberapa minggu ini wajahnya tampak murung karena terus memikirkan masalah yang terjadi pada dirinya.


Di saat itu Nathan yang sedang mencari keberadaan sang istri tidak sengaja melihat istri dan anaknya itu sedang berada di dapur memasak dengan wajahnya yang tersenyum dan terlihat ceria. Nathan sangat senang karena dapat melihat senyuman istrinya kembali setelah beberapa minggu terlihat menyimpan masalah. Meskipun Nathan sangat tahu, tetapi ia tidak pernah mau memaksa Dinda untuk mengatakan apa yang sedang terjadi, tetapi diam-diam Nathan juga sudah mencari tahu akan hal itu. Hanya saja ia sama sekali belum menemui sumber masalahnya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2