Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Saling Memanasi


__ADS_3

"Oh iya, Ayah mana Bu?" Tanya Dinda.


"Ayah masih perkebunan teh, biasa Ayah kamu itu memang tidak bisa duduk diam di rumah. Padahal sudah ada beberapa karyawan yang bekerja di sana. Kebetulan sebentar lagi juga jam makan siang dan Ayah akan segera pulang. Ibu yakin Ayah kamu pasti sangat terkejut dan juga senang melihat kedatangan kalian, ditambah lagi dengan calon cucu menantunya yang ikut ke sini," ucap Santi begitu antusias.


Semenjak memutuskan untuk tinggal di Bandung, orang tua Dinda itu memang membeli beberapa hektar kebun teh sebagai tabungannya di masa tua dari hasil kerja keras mereka selama ini.


Untuk mengisi waktu liburan mereka di Bandung, Nadine, Bianca dan Farel memutuskan untuk jalan-jalan di kebun teh sambil menjemput kakek mereka. Sedangkan Dinda dan Nathan memilih untuk tetap berada di rumah karena tubuh mereka begitu lelah dan memilih beristirahat di rumah.


Mereka berjalan beriringan dengan pasangannya masing-masing. Farel dan Nadine yang tampak begitu mesra membuat Keenan saat itu merasa tidak suka sehingga mencoba juga untuk bermesraan dengan Bianca kekasihnya. Farel menggandeng tangan Bianca dan sengaja lewat di depan adiknya itu. Mereka seperti sedang saling memanasi dengan pasangannya masing-masing. Meskipun Bianca dan Farel merasa ada yang tidak beres diantara pasangannya, tetapi mereka cukup senang menikmatinya karena saat ini kekasih mereka itu cukup perhatian kepada mereka.


"Sayang, kamu mau foto berdua aku nggak? Supaya ada kenang-kenangan. Kapan lagi kan kita bisa datang ke sini," kata Farel.


"Oh ya tentu saja. Aku mau kok Sayang," jawab Nadine sembari melirik sang kakak. Terlihat jika saat ini wajah Keenan sudah memerah seperti kepiting rebus menahan panasnya hati di kota yang sejuk ini.


Nadine Dan Farel berfoto bersama dengan mesra. Bianca yang memperhatikan hal itu pun segera saja mengalihkan perhatian Keenan.


"Sayang, kita foto berdua juga yuk. Masa hanya mereka saja yang foto-foto, kita juga dong, ini buat kenang-kenangan kita juga," kata Bianca


"Iya Sayang, ya sudah yuk kita foto-foto," kata Keenan lalu mereka berdua pun berfoto selfi bersama seperti apa yang dilakukan oleh Nadine dan Farel.


"Kak Keenan, fotoin kita berdua dong. Sepertinya kalau foto-foto selfie terus, kurang seru aja gitu. Nanti gantian deh aku yang fotoin kalian berdua," kata Nadine.


Keenan yang sebenarnya sangat kesal pun menuruti apa yang menjadi permintaan adiknya. Ia mengambil ponsel dari tangan Nadine lalu mengarahkan kamera itu kepada mereka berdua yang sedang berpose dengan berganti gaya. Hanya asal jepret saja, tidak tahu bagus atau tidak, malah Keenan terlihat sangat kesal menatap wajah Farel yang saat itu merangkul sang adik.


"Kak sudah belum sih fotonya? Kak Keenan kenapa nggak kasih aba-aba gitu pas fotoin kita, pasti nggak bagus deh fotonya," kata Nadine.


"Sudah difotoin bukannya terimakasih. Lihat aja sendiri nih," kata Kinan menyodorkan ponsel tersebut.

__ADS_1


Nadine menerimanya, ia pun melihat foto tersebut bersama Farel. Nadine tersenyum karena melihat foto-foto tersebut ternyata hasilnya ada juga yang bagus.


"Bagus ya Sayang, nanti kirim ke aku ya," ucap Farel.


"Iya bagus Sayang, nanti aku kirim ya ke kamu. Kalau begitu sekarang gantian ya biar aku yang fotoin Kak Bianca sama Kak Keenan," kata Nadine.


Bianca begitu senang dan langsung menyerahkan ponselnya kepada Nadine, akan tetapi Keenan malah berjalan duluan meninggalkan mereka.


"Loh Kak Keenan mau kemana, nggak foto dulu?" Tanya Nadine.


"Nggak, aku mau cepat ketemu Kakek. Kalau kalian masih mau foto-foto ya terserah kalian saja," jawab Keenan sembari terus melangkahkan kakinya lebar-lebar.


"Sayang … tungguin aku dong," teriak Bianca mengejar sang kekasih lalu bergelayut manja di lengannya itu.


****


"Kakek lagi nonton apa? Kok sudah malam Kakek belum tidur?" Tanya Nadine.


"Oh iya, Kakek belum mengantuk dan masih ingin menonton TV saja. Kamu sendiri kenapa belum tidur? Nadine, Farel, sini duduk sama Kakek," kata Doni.


"Iya Kek, kebetulan aku belum bisa tidur dan saat aku keluar kamar, nggak sengaja ketemu Farel yang keluar kamar juga, katanya dia mau cari angin di luar. Jadi setelah tahu Kakek ada di sini, kita berdua samperin kakek deh," kata Nadine.


"Ya Kek, benar apa yang dikatakan oleh Nadine. Kita berdua sama-sama belum bisa tidur. Kalau begitu kita temani Kakek nonton TV ya," kata Farel.


"Iya, boleh-boleh," ucap Doni lalu Nadine dan Farel duduk diantara kakeknya. Doni terlihat begitu bahagia ditemani cucu dan calonnya itu.


"Karena kalian berdua ada di sini, Kakek mau bertanya bagaimana hubungan kalian saat ini? Apakah kalian sudah lama berpacaran?" Tanya Doni yang sedari tadi memendam pertanyaan itu, tentu saja ia sangat ingin tahu bagaimana hubungan cucu-cucunya. Ia juga ingin memastikan bagaimana sikap Farel terhadap cucu kesayangannya itu, ia tidak mau jika sampai Nadine salah pilih pasangan.

__ADS_1


"Ehm Nadine, biar aku aja ya yang jawab," kata Farel saat melihat Nadine hendak membuka suara, lalu Nadine pun mengangguk kepala menyetujuinya.


"Jadi begini Kek, sebenarnya kita berdua ini belum lama berpacaran, tapi kita sudah kenal sebelumnya kira-kira hampir 2 bulan Kek. Jadi karena aku sudah yakin dengan hati aku bahwa aku mencintai Nadine, aku langsung saja mengajak Nadine untuk menjalin hubungan dan alhamdulillah Nadine menerima cinta aku. Meskipun aku tahu bahwa Nadine belum terlalu mencintai aku, tapi aku berharap suatu saat nanti Nadine benar-benar bisa untuk mencintai aku seiring berjalannya waktu, aku akan sabar menunggu sampai hari itu tiba," kata Farel.


"Aku nggak nyangka, ternyata sedalam itu cinta Farel terhadap aku. Aku juga berharap Rel jika suatu saat nanti aku benar-benar bisa mencintai kamu seperti kamu mencintai aku," gumam Nadine dalam hati sembari menatap wajah sang kekasih.


"Oh … jadi seperti itu, lalu bagaimana apakah kamu ada niat untuk melanjutkan hubungan kamu dengan Nadine ke jenjang yang lebih serius?" Tanya Doni lagi.


"Tentu saja kek. Sebelumnya aku juga sudah mengatakan hal ini kepada Keenan, kalau Nadine menyetujuinya, aku tidak ingin berlama-lama berpacaran dengannya, hanya beberapa bulan saja aku akan melamar Nadine untuk menjadi istri aku," ucap Farel degan mantap.


Uhuk … uhuk …


Tiba-tiba saja Nadine terbatuk, ia tidak menyangka jika Farel akan mengatakan hal itu kepada kakeknya.


"Nadine, kamu kenapa Sayang?" Tanya Farel yang reflek berdiri dan menghampiri wanita yang dicintainya itu, lalu menepuk pelan pundaknya hingga Nadine merasa lebih tenang.


"Iya Nadine, kamu kenapa?" Tanya Doni terlihat khawatir juga.


"Makasih ya Rel. Kakek, Farel, aku nggak kenapa-napa kok. Hanya saja tadi tenggorokan akau tiba-tiba terasa agak gatal," ucap Nadine beralasan.


"Ya sudah, kalau begitu kamu minum air putih dulu di dapur," kata Doni.


Nadine mengangguk, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur untuk mengambil air putih.


"Farel, Kakek harap apa yang kamu ucapkan tadi itu benar. Kakek sangat berharap kalau kamu tidak akan pernah mempermainkan cucu Kakek, Kakek sangat ingin melihat cucu-cucu Kakek itu berbahagia. Apalagi Nadine, dari bayi dia sudah dekat dengan Kakek, Kakek begitu menyayanginya Farel," ucap Doni dengan tatapan mata mendamba.


Farel dapat merasakan jika kasih sayang Doni terhadap Nadine itu memang begitu besar, ia berjanji dalam hatinya sendiri tidak akan pernah mengecewakan Kakeknya Nadine, tentunya karena ia juga sangat mencintai Nadine dan tidak akan membuat Nadine kecewa.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2