Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Sosok Misterius


__ADS_3

"Ini nomornya Dine," kata Keenan seraya menunjukkan nomor tersebut.


"Terus kenapa kamu kasih ke aku Kak, sekarang cepat kamu hubungi nomor itu. Ajak dia bertemu," kata Nadine yang terlihat begitu antusias.


"Oke, oke aku akan menghubunginya," kata Keenan lalu segera saja ia menekan nomor sosok misterius itu dan menelponnya.


Amanda yang saat ini sedang menyetir hendak pulang ke apartemen bersama Clara, merasa terkejut karena tiba-tiba di ponselnya ada panggilan masuk dari Keenan.


"Ternyata Keenan sudah membuka blokirannya. Apa jangan-jangan dia sudah percaya dengan ucapanku waktu itu dan sekarang dia menghubungiku karena ingin menanyakan lebih jelasnya lagi. Tapi bagaimana ini, bagaimana aku bisa menjawab telepon Keenan, sementara aku sedang bersama Nyonya Clara. Kenapa sih Keenan selalu menelpon dalam keadaan yang tidak tepat. Kenapa tidak di saat tadi Nyona Clara ada di dalam Perusahaan Modeling Keenan menghubungi aku," batin Amanda.


"Amanda, siapa yang menelpon kamu itu? Kenapa kamu tidak menjawab teleponnya. Berisik sekali," ucap Clara ketus.


"Maaf Nyonya, ini dari nomor tidak dikenal Nyonya, salah sambung," jawab Amanda yang terlihat sangat gugup.


"Ya kalau sepeti itu sebaiknya kamu matikan saja ponsel kamu itu agar tidak mengganggu ketenangan," ucap Clara yang begitu angkuh.


"Baik nyonya," jawab Amanda yang segera saja mengubah setelan ponselnya menjadi mode silent. Lalu kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas.


Sementara itu, beberapa kali Keenan mencoba menghubungi Amanda tetapi hasilnya sama saja, tidak ada jawabannya. Sehingga membuatnya dan Nadine terlihat putus asa.


"Ya sudahlah Kak, mungkin orang itu benar-benar tidak bisa menjawab telepon dan memberitahu kita apa penyebabnya untuk sekarang ini. Tetapi apa salahnya jika kita harus berjaga-jaga dan menurut aku lebih baik kita katakan hal ini kepada Papi tanpa sepengetahuan Mama," kata Nadine.


"Iya kamu benar, nanti saat di rumah aku harus cari waktu yang tepat untuk bicara soal ini ke Papi dan kamu harus menemani Mama supaya Mama tidak curiga. Bagaimana?" ujar Keenan.


"Boleh juga Kak, dan sekarang lebih baik kita pulang. Kebetulan aku juga sudah tidak ada pekerjaan lagi. Kakak juga nggak balik ke kantor lagi kan?" Tanya Nadine.


"Enggak, ya sudah kita pulang saja sekarang," kata Keenan.


Lalu Keenan dan Nadine pun sama-sama pulang ke rumah dengan menggunakan kendaraan mereka masing-masing.

__ADS_1


****


Selesai makan malam, seperti biasa yang terjadi akhir-akhir ini. Dinda akan langsung masuk ke dalam kamarnya dengan alasan ingin beristirahat karena kurang enak badan. Akan tetapi saat sang suami atau anak-anaknya memintanya untuk ke rumah sakit, Dinda selalu menolaknya sehingga hal itu membuat keluarganya pun merasa penasaran, ada apa dengan Ratu di rumah mereka itu.


Sebisa mungkin Dinda menyembunyikan rasa takut dan kekhawatiran dalam dirinya, tetapi tetap saja keluarganya itu merasa curiga.


Sehingga di saat Kenzo dan Kenzie sudah masuk ke dalam kamar, Nadine pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar orang tuanya untuk mengajak sang ibu berbicara. Sedangkan Keenan dan Nathan masih berada di ruang makan. Saat Nathan hendak beranjak dari tempat duduknya, Kenan pun menegur ayahnya itu.


"Ehm Pi, Keenan mau bicara sesuatu ke Papi," Kata Keenan.


"Kamu mau bicara Kee?" Tanya Nathan.


"Lebih baik kita bicara di taman belakang saja ya Pi," ajak Keenan.


"Ya sudah, ayo," kata Nathan, lalu keduanya berjalan menuju ke taman belakang.


"Ma, Nadine boleh masuk nggak?" Tanya Nadine dengan membuka sedikit pintu kamar orang tuanya itu dan membuat Dinda pun merasa sedikit terkejut.


"Nadine, ada apa Sayang? Masuk saja," kata Dinda.


Nadine masuk mendekati Dinda dan duduk di sampingnya.


"Ma, sebaiknya Mama jujur sama aku. Ada apa Ma? Kenapa akhir-akhir ini Mama terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu, Mama terlihat takut, gugup. Oke, kalau Mama mungkin nggak mau cerita ke aku ataupun Keenan, tapi apa Mama sudah cerita masalah Mama ke Papi?" Tanya Nadine yang langsung saja ke intinya.


"Maksud kamu apa Sayang? Mama sedang tidak menyembunyikan masalah apapun, Mama juga tidak merasa takut, jadi tidak ada yang perlu Mama ceritakan ke Papi ataupun kalian. Mama hanya kurang enak badan saja akhir-akhir ini," kata Dinda yang sebisa mungkin menyembunyikan masalahnya itu dari anaknya.


"Ma, aku ini anak Mama. Dari kecil aku sudah hidup bersama Mama, aku tahu bagaimana sifat Mama, aku mengerti Ma dengan kondisi Mama saat ini. Ada yang sedang terjadi kan Ma? Tapi Mama sama sekali nggak mau memberitahu aku. Sebenarnya ada apa Ma?" Tanya Nadine lagi.


"Sayang, kamu Jangan berpikiran yang tidak-tidak ya. Mama baik-baik saja, Mama baik-baik saja. Kamu dengar itu," ucap Dinda yang mengulangi ucapannya, ia tetap saja kekeh dengan jawabannya itu.

__ADS_1


Lalu Nadine pun segera saja memeluk ibunya itu dengan erat.


"Ma, aku sayang banget sama Mama. Kalau ada apa-apa, Mama harus beritahu aku ya. Mama harus cerita ke aku, Keenan apalagi Papi. Kita ini adalah keluarga Ma, kalau ada masalah tapi disimpan sendiri, lalu untuk apa ada keluarga," ucap Nadine.


Dinda merasa sangat terharu atas perlakuan anaknya, tetapi ia benar-benar belum bisa mengatakan tentang sosok misterius yang telah menerornya. Dinda lebih memilih untuk tetap menyembunyikan rahasia ini rapat-rapat dari keluarganya, karena tidak ingin mereka merasa khawatir.


****


"Keenan, kamu sedang tidak bercanda kan?" Tanya Nathan di saat Keenan baru saja menceritakan tentang sosok misterius yang telah mengirim pesan untuk menjaga ibunya.


"Untuk apa juga aku bercanda mengenai masalah ini Pi, nggak lucu sama sekali. Kalau Papi tidak percaya, sebaiknya sekarang kita hubungi saja nomornya. Tapi aku nggak yakin sih Pi kalau orang itu akan menjawab. Karena waktu itu aku menelpon, bahkan tadi aku dan Nadine juga sudah beberapa kali mencoba menghubunginya, orang itu sama sekali tidak mau menjawab. Tidak tahu apa alasannya, yang jelas waktu itu sosok misterius itu pernah mengatakan jangan banyak bertanya tapi percaya saja dengan ucapannya bahwa kita harus berhati-hati dan harus menjaga Mama dengan baik, karena Mama dalam bahaya," ucap Keenan.


"Apa sih maksudnya ini? Siapa sosok misterius itu? Jika memang benar Mama dalam kondisi yang berbahaya, berarti orang itu peduli dengan Mama orang itu kenal dengan Mama. Tapi siapa?" Ucap Nathan yang bertanya-tanya.


"Aku juga nggak tahu Pi dan itu yang harus kita cari tahu," kata Keenan.


"Kamu benar, tolong kamu kirim nomor sosok misterius ke WhatsApp Papi. Papi akan mencoba menyelidiki orang tersebut. Mungkin memang benar orang ini adalah orang yang baik dan ingin melindungi Mama, tidak ingin melihat Mama celaka. Bagaimana kalau dia merasa terancam disaat kita semua menghubunginya?" Ucap Nathan.


"Kalau begitu menurut aku lebih baik biar aku saja yang menghubunginya. Karena dia juga hanya menghubungiku dan aku juga tidak tahu dari mana dia mengetahui nomor aku Pi. Kalau banyak nomor yang menghubunginya, nanti dia malah merasa semakin terancam dan tidak mau memberitahu siapa dirinya," kata Keenan.


"Kamu benar juga Kee. Ya sudah kalau begitu kamu hubungi saja sosok misterius itu lagi. Kalau memang dia tidak menjawab telepon kamu, lebih baik kamu kirim pesan saja," ucap Nathan.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, baru saja Keenan hendak mengirimkan pesan, di saat itu sudah masuk terlebih dahulu pesan dari orang yang dianggap misterius oleh Keenan.


"Maaf saya tidak bisa menjawab telepon kamu, tapi kalau kamu memang mau bertemu dengan saya, saya tunggu pukul 23.00 di depan apartemen jalan xx."


Keenan pun segera saja memberitahu ayahnya tentang pesan tersebut. Menurut Nathan dan Keenan ini adalah kesempatan yang bagus, sehingga Keenan pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari tahu siapa sosok misterius itu.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2