Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Pacar Baru


__ADS_3

Karena penasaran, segera saja Keenan menghampiri adiknya itu.


"Nadine, kamu di sini juga? Kamu sama siapa?" Tanya Keenan.


"Loh Kak Keenan, aku malahan nggak tahu loh kalau Kakak ada di sini juga. Perkenalkan ini temen aku, Farel. Dia temen dekat aku," ucap Nadine.


Farel sedikit gerogi karena mendengar Nadine mengakuinya sebagai teman dekat, padahal mereka baru saja kenal.


"Oh iya, aku Farel," ucap Farel yang menjulurkan tangannya, tetapi Keenan enggan membalas juluran tangan tersebut dan malah terlihat menatap Farel dengan tatapan tidak suka.


"Sudah Farel, kamu tidak perlu berkenalan langsung. Biar aku yang kenalkan. Jadi Farel, ini-" ucapan Nadine terhenti.


"Aku Kakaknya Nadine. Kalau kau mau dekat dengan Nadine, aku harus tahu dulu siapa kau dan asal-usul kau dari mana. Karena aku tidak mau ada pria yang berani menyakiti adikku," kata Keenan mencelah ucapan Nadine begitu saja.


"Oh tentu saja Kak, kalau Kakak mau mengujiku juga tidak apa-apa. lagipula saat ini aku dan Nadine masih berteman saja, ya tidak tahu gimana suatu saat nanti," ucap Farel.


"Kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan Kakak, aku bukan kakakmu dan aku rasa kau lebih tua dariku," kata Keenan yang merasa dirinya lebih muda.


"Oh … maaf," ucap Farel.


"Apaan sih Kak Keenan, nggak usah terlalu ikut campur deh. Kakak sendiri juga lagi sama cewek kan? Sudah jadian malah. Terus kenapa juga kamu harus marah-marah aku lagi jalan sama Farel," gerutu Nadine.


Di saat itu Keenan teringat jika saat ini ia memang sedang bersama Bianca, lagi-lagi karena lebih mementingkan sang adik ia pergi meninggalkan kekasihnya begitu saja. Bianca yang melihat Keenan tampak sedang marah-marah pun segera saja menghampirinya.


"Sayang, ada apa sih? Kok kamu marah-marah gitu," Tanya Bianca sembari memegang pundak sang kekasih dengan lembut lalu beralih menatap Nadine. "Oh iya ini Nadine adik kamu ya yang pernah diceritakan Om Nathan ke Dady aku." Memang sejak tadi ia mendengar Keenan menyebut nama Nadine.


"Oh iya, aku Nadine," ucap Nadine sembari menjulurkan tangannya dan langsung mendapatkan balasan dari Bianca.


"Hai Nadine, ku Bianca. Aku pacar barunya Keenan dan nantinya pasti aku akan menjadi kakak ipar kamu," kata Bianca.


"Oh ya selamat ya dan semoga saja. Karena yang aku tahu Kak Keenan selama ini hatinya sudah tertutup untuk wanita, ya heran saja tiba-tiba dia langsung punya pacar baru kalau tidak ada niat terselubung," ucap Nadine sembari melirik sang Kakak.


Tentu saja Bianca sangat geram mendengar ucapan Nadine, tetapi ia berusaha untuk tetap sabar demi Keenan.

__ADS_1


"Ehm Sayang, lebih baik sekarang kita duduk aja ya lagi. Lagipula kan kita juga sedang berkencan, jadi untuk apa kamu harus marah apalagi melarang adik kamu berkencan," kata Bianca mengajak Keenan.


"Tuh dengar apa kata pacar baru Kakak. Mendingan sekarang kalian kembali di ke meja kalian saja deh, mengganggu saja. Aku sama Farel juga mau makan di sini, jadi sebaiknya sekarang kalian pergi," kata Nadine.


Dengan perasaan yang begitu kesal karena sikap adiknya itu ditambah lagi dengan hatinya yang tak dapat ia kontrol, Keenan pun segera menggandeng tangan Bianca dan membawanya kembali ke tempat duduk mereka.


Keenan hanya heran dengan dirinya sendiri, padahal ia sudah bertekad akan melupakan perasaan cintanya yang berlebihan untuk Nadine, tetapi kenapa di saat melihat Nadine dengan pria lain, hatinya masih terasa panas. Seharusnya ia membiarkan Nadine untuk dekat dengan pria itu, agar ia benar-benar bisa melupakannya.


****


Hari-hari pun telah berlalu, kini Keenan dan Bianca sudah menjalin hubungan selama satu bulan lamanya. Tetapi Keenan masih belum bisa merasakan apa-apa terhadap Bianca dan malah merasakan rasa cintanya terhadap Nadine semakin besar. Seringkali ia uringan-uringan sendiri melihat Nadine yang jalan bersama dengan Farel, Keenan mencoba untuk bersikap cuek dan biasa aja, tetapi tetap saja dia merasakan seperti terbakar api cemburu. Termasuk saat ia mendengar Nadine dan Farel yang sedang berbicara mesra lewat telepon seperti saat ini.


"Halo Nadine, kamu lagi apa?" Tanya Farel dari seberang telepon.


"Halo Farel, aku lagi ada kerjaan dikit aja nih yang lagi aku kerjain di rumah," jawab Nadine.


"Oh gitu, maaf ya aku jadi ganggu kamu," ucap Farel.


"Enggak, kamu nggak ganggu kok. Ada apa kamu nelpon aku?" Tanya Nadine.


"Heh kamu bisa aja Rel," ucap Nadine.


"Iya bisa lah Dien, aku serius loh, nggak masalah kan kalau aku kangen sama kamu?" Tanya Farel.


"Ya nggak apa-apa sih, itu kan hak kamu buat kangen sama aku atau nggak," jawab Nadine.


"Iya juga ya. Terus kalau kamu sendiri gimana? Kangen nggak sama aku?" Tanya Farel pula.


"Heh aku ya, hm … dikit sih," jawab Nadine nyengir.


Meskipun Farel tahu jika Nadine hanya bercanda ingin membuatnya senang, tetapi entah kenapa Farel benar-benar bahagia mendengar akan hal itu.


"Oh ya Nadine, kamu sudah makan belum?" Tanya Farel.

__ADS_1


"Sudah, tadi sebelum mengerjakan pekerjaan ini, aku udah makan dulu," jawab Nadine.


"Bagus dong, mau pekerjaan sebanyak apa pun jangan lupa untuk makan ya Dien, jaga kesehatan kamu, jangan sampai kamu sakit," ucap Farel yang begitu perhatian terhadap Nadine. "Ya sudah, kalau begitu kamu lanjutkan aja dulu Dine pekerjaannya, jangan tidur terlalu malam ya. Bye …. ," ucap Farel.


"Iya Rel, makasih ya atas perhatiannya. Kamu juga ya jangan tidur malam-malam, Bye …. ," balas Nadine mengakhiri telepon tersebut.


Meskipun Nadine sudah mencoba mendekatkan dirinya dengan Farel, ia juga sudah mengenal Farel sebagai pria yang baik, perhatian kepadanya, tetapi Nadine juga sama sekali belum bisa merasakan hal yang lebih kecuali hanya sebatas teman. Padahal Nadine ingin sekali bisa jatuh cinta kepada pria tersebut yang Nadine pikir pria itu juga sudah mulai menyukainya.


Tok … tok … tok …


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya.


"Masuk!" Teriak Nadine, karena ia tidak mengunci kamarnya itu.


Seseorang membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Kak Keenan, Kakak mau ngapain ke kamar aku?" Tanya Nadine Ketus.


"Jutek banget. Memangnya sekarang aku nggak boleh lagi masuk ke kamar kamu?" Tanya Keenan.


"Ya bukannya nggak boleh tapi tumben aja masih ingat sama adiknya. Kan akhir-akhir ini Kakak terlalu sibuk tuh sama pacar baru Kakak, jadi Kakak nggak pernah sempat lagi ke kamar aku walau hanya untuk sebatas melihat aku doang," kata Nadine.


"Jadi ceritanya kamu sekarang lagi ngambek karena Kakak udah nggak pernah perhatiin kamu lagi, gara-gara pacar aku gitu?" ujar Keenan.


"Idih siapa juga yang ngambek Kak. Baguslah kalau Kakak udah punya pacar dan sibuk dengan pacar Kakak, jadi kamu nggak perlu tuh ngurusin aku, ngurusin hubungan aku," kata Nadine.


"Nah itu dia yang mau aku tanyain ke kamu, kamu sudah jadian ya sama si Farel itu?" Tanya Keenan.


"Kalau iya memangnya kenapa?" Tanya Nadine.


"Ya nggak apa-apa sih. Aku hanya mau memastikan aja kalau dia itu benar-benar pria yang baik, bukan pria brengsek. Kamu juga harus mengenalinya lebih dalam lagi Nadine. Memang kamu mau kalau kejadian seperti Jefri akan terulang kembali," kata Keenan.


"Kok Kakak ngomongnya seperti itu sih. Iyalah Kak aku juga tahu kali. Lagipula dulu Jefri juga baik kok, kan sudah lama juga kita pacaran baru dia selingkuh. Jadi ya hati seseorang itu bisa berubah kapan aja Kak, kita nggak ada yang tahu," kata Nadine yang membuat Keenan terdiam.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2