
"Kamu bilang apa? Pacar?" Tanya Keenan untuk memastikan apa yang didengarnya tidak salah.
"Iya benar pacar aku, memang kenapa? Ada yang salah?" Jawab Nadine dan menanyakan hal itu. Ia dapat melihat jika Keenan sepertinya merasa tidak terima saat mendengar ia memilki pacar.
"Kamu nggak salah jadian dengan pria itu? Memangnya kamu sudah kenal siapa dia? Sudah tahu bagaimana sifatnya, dia ada pacar atau nggak? Bagaimana kalau kamu hanya dijadikan selingkuhannya saja? Hanya dijadikan pelampiasannya saja?" Kata Keenan yang seolah menuduh pacar baru adiknya itu.
"Loh kok Kakak malah mengatakan hal seperti itu sih, seolah kamu menuduh Farel pria yang tidak baik. Memangnya Kakak sendiri sudah mengenal lama dengan Bianca? Bahkan yang aku tahu Kakak belum mengenal dia sama sekali, tapi kamu langsung mengajak Bianca untuk menjalin hubungan kan? Sedangkan aku sudah satu bulan Kak mengenal Farel baru kita jadian, ya jelas lah aku sudah kenal siapa dia, dia sudah menceritakan semua tentang dirinya ke aku. Farel itu pria yang baik Kak. Aku yakin nggak akan mungkin kalau dia hanya menjadikan aku pelampiasan apalagi selingkuhannya. Farel juga mandiri, bertanggung jawab, orang tuanya berada di luar negeri dan dia disini tinggal di apartemennya sendirian. Dia nggak pernah tuh berbuat macam-macam terhadapku, malah dia selalu memperhatikan aku. Aku yang menjalaninya Kak, kamu tidak tahu apa-apa. Lagipula akan lebih baik kalau aku mencintainya daripada aku terus mencintai orang yang jelas-jelas salah dan tidak seharusnya aku cintai," kata Nadine yang tidak menyadari ucapannya itu sehingga membuat Keenan menjadi penasaran.
"Apa maksud kamu? Orang yang seharusnya tidak kamu cintai itu siapa?" Tanya Keenan.
"Duh gawat, bisa-bisanya sih aku keceplosan, Kak Keenan jadi curiga kan," batin Nadine.
"Tidak, aku hanya mengatakan daripada aku mencintai orang yang salah, jadi tidak ada salahnya kan kalau aku mencintai Farel. Karena memang dialah orang yang tepat," jawab Nadine beralasan berharap kakaknya itu akan percaya, ia tidak mungkin mengatakan jika orang itu adalah Keenan.
Apa benar yang Nadine ucapkan, atau jangan-jangan dia sama denganku merasakan cinta ini? Tapi itu nggak mungkin lah, pasti hanya perasaan aku saja," gumam Keenan dalam hati.
"Sudah ya Kak, kamu nggak usah ikut campur urusan percintaan aku. Kamu juga sudah punya pacar kan? Kamu boleh kok menegur aku, memberi aku nasehat, tapi ini sudah terlewat batas Kak. Aku tidak berbuat hal apapun atau hal yang aneh-aneh, jadi lebih baik Kakak nggak usah terlalu overprotektif seperti itu. Dan sekarang ini sudah malam, aku mau istirahat Kak, aku capek. Sebaiknya Kakak juga masuk kamar dan istirahat ya, good night," ucap Nadine lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
Sedangkan Keenan hanya terdiam menatap punggung kepergian adiknya itu yang semakin menjauh. Ia duduk di sofa ruang tamu dan tampak galau setelah mendengar adiknya itu sudah mempunyai kekasih.
****
__ADS_1
Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang Perusahaan Jaya Group?" Tanya Keenan kepada Bisma.
"Sudah Tuan, perusahaan yang dipimpin oleh anak tunggal dari Bapak Adi Jaya itu memang benar bernama Farel Aditya Wijaya," jawab Bisma.
"Bagus, kalau begitu kau harus bisa membuat perusahaan kita untuk bekerjasama dengan perusahaan itu supaya aku bisa bertemu dengan Farel," ucap Keenan.
"Maaf Tuan, tetapi kenapa ya tiba-tiba kita harus bekerja sama dengan mereka kalau hanya untuk bertemu dengan Tuan Farel?" Tanya Bisma, karena memang saat ini tidak ada penyebab yang mengharuskan mereka bekerja sama dengan perusahaan tersebut.
"Kau masih mau bekerja denganku atau tidak? Kalau masih mau, lebih baik kau ikuti saja perintahku itu!" Ucap Keenan yang membuat Bisma bungkam.
Sesuai perintah tuannya, Bisma pun segera menghubungi Perusahaan Jaya Group untuk menyampaikan maksudnya, setelah memastikan semuanya dan mengajukan proposal untuk bekerja sama, akhirnya dari pihak Perusahaan Jaya Group menyetujui dan meminta perwakilan dari Perusahaan Collin Group untuk datang ke perusahaannya pada pukul 03.00 sore. Bisma pun segera saja memberitahu kepada Keenan tentang informasi yang ia dapat dari Perusahaan Jaya Group itu.
Meskipun ini semua terlihat aneh bagi Bisma, tetapi ia sama sekali tidak mau mempermasalahkan atau bertanya lagi, karena ia takut jika tuannya yang saat ini sedang sensitif itu akan murka.
"Baik Tuan," jawab Bisma dan berlalu meninggalkan ruangan presdir.
"Ada apa dengan Tuan Keenan? Sepertinya tujuan utamanya bukan bekerja sama tetapi ingin bertemu dengan tuan Farel saja. Tetapi kalau memang seperti itu, kenapa juga harus melalui kerjasama? Kan bisa saja Tuan Keenan bertemu langsung dengan Tuan Farel. Benar-benar sikap Tuan Keenan ini susah ditebak," batin Bisma saat ia sudah berada di meja kerjanya.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 sore, saat ini Keenan pun sedang di dalam perjalanan menuju ke Perusahaan Jaya group.
__ADS_1
Setelah tiba di perusahaan tersebut, ia segera menuju ke lobi untuk menanyakan dimana ruangan Farel berada, lalu ia diantar oleh asisten Farel yang saat itu bertemu dengannya di loby menuju ke ruangan CEO.
"Silahkan duduk Kak Keenan," ucap Farel saat Keenan sudah berada di dalam ruangannya. Lalu Keenan segera saja duduk di seberangnya.
"Sudah aku katakan jangan memanggilku dengan sebutan Kakak, Tuan Farel," ucap Keenan.
"Oh, baiklah Tuan Keenan. Lalu ada gerangan yang membuat Anda tiba-tiba ingin bekerjasama dengan Perusahaan Jaya Group? Sejujurnya aku sangat terkejut dan merupakan suatu kehormatan bagiku," ucap Farel.
"Tidak usah terlalu berlebihan, aku hanya ingin tahu saja bagaimana perusahaanmu. Apakah bisa perusahaan kita bekerja sama, apalagi bukankah kau itu sekarang adalah pacar Nadine, adikku," kata Keenan yang sepertinya ingin mengorek informasi tentang hubungan adiknya itu.
"Ya kau benar, memang aku sudah menjadi pacar Nadine dan tentu saja perusahaan kita bisa bekerja sama. Bukankah itu lebih bagus? Apalagi nantinya kita akan menjadi keluarga dan sudah pasti perusahaan kita akan bersatu nantinya. Jadi tidak ada salahnya jika kita memulainya dari sekarang, bukankah seperti itu Tuan Keenan," kata Farel.
Ia ingin bersikap santai dan terbuka terhadap Keenan. Meskipun ia tahu mendekatkan diri dengan Keenan itu adalah hal yang sulit, tetapi bagaimanapun juga Keenan adalah kakak dari kekasihnya.
"Keluarga? Apa maksudmu berbicara seperti itu?" Tanya Keenan.
"Tuan Keenan, apakah menurutmu aku ini berpacaran dengan Nadine hanya untuk bermain-main? Tentu saja tidak, aku tahu kau merasa khawatir takut aku mempermainkan adikmu itu seperti apa yang dulu Jefri lakukan. Tetapi kau tenang saja, aku jamin kalau aku tidak akan melakukan hal itu terhadap Nadine, aku mencintainya tulus dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Aku juga berniat tidak akan berpacaran dengan adikmu itu terlalu lama, tapi aku akan melamarnya dan mengajaknya untuk menikah dengan beberapa bulan kita berpacaran," ucap Farel dengan sangat yakin.
Bagai disambar petir di sore hari, Keenan merasakan tubuhnya bergetar dan sangat terkejut mendengar pengakuan dari Farel yang terlihat tidak main-main.
Bersambung...
__ADS_1