Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Sebuah Fakta


__ADS_3

Setelah cukup lama menjadi teman online, kini akhirnya Bisma dan Amanda pun memutuskan untuk bertemu karena keduanya sama-sama memiliki waktu luang, tentunya pada malam hari.


Selain ingin bertemu dengan wanita yang akhir-akhir ini telah mengisi hari-harinya meskipun hanya melalui ponsel, Bisma juga ingin mencari tahu tentang apa yang telah Keenan perintahkan padanya. Bagaimanapun juga ia bisa dekat dengan Amanda juga karena Keenan lah yang memintanya.


Saat ini Bisma sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah cafe yang telah ditentukan oleh Amanda. Sedangkan di sebuah apartemen, terlihat Amanda yang masih bersiap-siap setelah tadi ia mendapatkan tugas mendadak dari Clara. Meskipun saat ini ia sudah tidak memiliki pekerjaan apapun lagi, tetapi sebenarnya ia belum meminta izin kepada Clara bahwa malam ini akan pergi keluar. Meskipun demikian, Amanda sudah nekat karena ia sudah berjanji dengan Bisma, bagaimana mungkin jika ia membatalkannya setelah beberapa kali mereka gagal untuk bertemu.


Hingga setelah rapi dengan menggunakan dress selutut dan juga riasan tipis di wajahnya, kini Amanda pun keluar dari kamarnya dan langsung saja mencari dimana keberadaan Clara yang ternyata saat itu Clara sedang berada di ruang kerjanya.


Tok … tok … tok …


Amanda mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk!" Teriak Clara.


Segera saja Amanda pun masuk ke ruangan itu dan saat ini sudah berada di hadapan Clara.


"Ada apa?" Tanya Clara yang melihat Amanda sudah tampak rapi, akan tetapi ia memilih untuk tidak bertanya, biar saja asistennya itu yang memberitahunya secara langsung.


"Nyonya, bukankah Saya sudah tidak mempunyai pekerjaan lagi hari ini, apa boleh jika saya meminta izin untuk keluar sebentar dan membawa mobil?" Tanya Amanda


Clara tampak memandangi Amanda dengan tatapan serius, yang membuat wanita di depannya itu pun bergidik. Amanda sangat takut jika Clara tidak mengizinkannya dan malah marah terhadapnya. Akan tetapi pada hakikatnya Clara juga merasa kasihan melihat Amanda yang memang tidak pernah keluar untuk sekedar mencari hiburan selama bekerja dengannya.


"Memang kamu mau kemana?" Tanya Clara.


"Saya ada janji dengan teman saya, Nyonya. Teman baru sih, karena saya kan sudah lama tinggal di luar negeri dan baru balik ke Indonesia. Lagipula saya juga bekerja Nyonya, jadi baru kali ini mempunyai teman yang cukup dekat meskipun hanya lewat online," terang Amanda yang mencoba untuk jujur.


"Ya sudah kamu pergi saja," ucap Clara yang memberikan izin.


Amanda pun tersenyum, ia begitu senang karena diberi izin oleh tuannya itu. "Terimakasih banyak Nyonya, kalau begitu saya pergi dulu," ucapnya dan hanya ditanggapi anggukan kepala oleh Clara.


"Mau kemana dia? Apakah temannya itu laki-laki? Tidak biasanya Amanda berdandan seperti itu," batin Clara.


Akan tetapi Clara pun memilih untuk tidak terlalu memikirkannya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya itu.


****


Setengah jam dari apartemen, kini Amanda pun telah tiba di cafe tempat dimana ia berjanji bertemu dengan Bisma. Entah kenapa perasaannya begitu gugup tak karuan, padahal sebelumnya ia sudah pernah melihat wajah Bisma lewat ponsel, tetapi karena ini adalah pertemuan pertamanya secara langsung ada sesuatu perasaan yang tak bisa untuk dijelaskan.


Segera saja Amanda melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam cafe dan menuju tempat duduk sesuai dengan pesan WhatsApp yang dikirim oleh Bisma saat memberitahu dimana ia berada menunggu kedatangan Amanda. Hingga disaat itu langkah Amanda pun terhenti, ia dapat melihat dengan jelas wajah Bisma yang saat itu tengah menunggunya di sana.


"Jadi itu Bisma, ternyata yang asli lebih tampan," batin Amanda.


Di saat itu pula Bisma yang merasa diperhatikan pun menangkap mata Amanda dan kini malah ikut menatap wanita tersebut dari kejauhan, ia sangat yakin jika wanita itu adalah Amanda.


"Aku yakin itu Amanda, ternyata lebih cantik dari di foto," batin Bisma.


Keduanya pun saling tersenyum, hingga Amanda kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah Bisma dan saat ini sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Bisma langsung saja berdiri untuk menyambut kedatangan wanita yang sedari tadi telah ditunggunya.


"Hai! Kamu Amanda kan, kenalkan aku Bisma," ucap Bisma sembari menjulurkan tangannya.


"Oh iya, aku Amanda," jawab Amanda dan menyambut tangan Bisma itu.


"Silahkan duduk Amanda," titah Bisma, lalu keduanya pun kini duduk di kursi tersebut.


"Bisma, aku minta maaf ya karena aku sedikit terlambat, tadi ada sedikit pekerjaan mendadak di apartemen yang harus aku kerjakan terlebih dulu. Pasti kamu sudah lama kan menungguku di sini," ucap Amanda.


"Sama sekali tidak masalah Manda. Lagipula kamu belum terlambat kok, aku juga belum lama sampai di sini, kira-kira baru 20 menit yang lalu," ucap Bisma.


"Ya ampun, itu sudah lumayan lama loh Bisma. Aku benar-benar jadi tidak enak sama kamu, baru pertama bertemu tapi aku tidak bisa datang tepat waktu. Sekali lagi aku minta maaf ya," ucap Amanda lagi.


"Amanda, kamu tidak perlu minta maaf lah. Aku kan sudah bilang tidak apa-apa Manda, aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu kok. Yang penting itu, sekarang kita sudah bisa bertemu kan setelah sekian lama kita mencoba untuk bertemu tapi selalu saja gagal," ucap Bisma tersenyum yang membuat hati Amanda pun menghangat melihat senyuman itu.


"Iya Bisma," jawab Amanda seraya membalas senyuman tersebut.


"Ya sudah kalau begitu kita langsung pesan makanan dan minuman saja ya," ucap Bisma, lalu ia pun memanggil pelayan restoran dan langsung saja memesan menu yang mereka inginkan.


Hingga makan malam pun telah berakhir. Karena waktu masih menunjukkan pukul 21.00, Bisma pun mengajak Amanda untuk berjalan-jalan sebentar ke tempat lain, seperti rencana mereka di awal jika masih ada waktu. Bahkan Bisma sendiri tadi sudah datang menggunakan taksi agar memudahkan untuk mereka berdua jalan bersama dan saat ini mereka pun menggunakan mobil yang dibawa oleh Amanda tadi.


Amanda yang biasanya selalu merasa bosan dengan menjalani hari-harinya di perusahaan dan juga di apartemen itu pun menyetujuinya saja. Malah ia merasa sangat senang karena setelah sekian lama, akhirnya ia mempunyai teman dekat apalagi seorang pria. Karena waktu yang telah ia habiskan untuk mengabdi kepada Clara, membuatnya sama sekali tidak pernah ada waktu untuk mengenal pria apalagi berpacaran.


"Amanda, kamu mau duduk dimana?" Tanya Bisma saat mereka sedang di dalam perjalanan.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu aku ajak kamu ke suatu tempat yang pastinya kamu akan suka. Karena di sana nanti kita bisa melihat pemandangan yang indah pada malam hari," ucap Bisma.


"Iya Bisma," jawab Amanda tersenyum.


****


"Ma, Mama ada lihat nggak ya tongkat baseball aku yang aku taruh di kamar?" Tanya Kenzo kepada sang ibu yang saat itu sedang berada di dapur.


"Oh, tongkat baseball kamu yang sudah lama itu ya?" Tanya Dinda balik.


"Iya Ma yang itu, Mama ada lihat nggak?" Tanya Kenzo lagi.


"Ada, Mama taruh di gudang Sayang, coba saja kamu lihat. Karena kemarin kan kamu bilang kamu sudah tidak menggunakannya lagi, jadi Mama simpan saja di sana," terang Dinda.


"Oh gitu Ma, ya udah terimakasih ya Ma. Aku mau ambil dulu karena besok harus aku bawa ke sekolah," ucap Kenzo.


"Iya Sayang, jawab Dinda.


Segera saja Kenzo melangkahkan kakinya menuju ke gudang, sedangkan Dinda di saat itu masih asik mencuci piring dan membersihkan dapur sisa makan malam mereka tadi. Karena pada malam hari di rumah mereka itu tidak ada pembantu, pembantu hanya bekerja di siang hari saja dan kembali ke rumahnya pada sore hari.


"Ma, Mama lihat Kenzo nggak?" Tanya Kenzie yang kini menghampiri ibunya pula.

__ADS_1


"Kenzo tadi baru saja tanya ke Mama soal tongkat baseball-nya. Karena Mama bilang tongkat itu ada di gudang, jadi Kenzo langsung saja ke gudang," jawab Dinda.


"Oh … ya udah Ma, terimakasih ya. Aku mau susul Kenzo dulu," ucap Kenzie dan langsung pergi.


Sementara itu, di saat ini Kenzo tampak sedang mencari tongkat baseball yang belum terlihat olehnya. Dan di saat ia sudah melihat dimana tongkat baseball-nya itu berada, tiba-tiba matanya pun tertuju pada sebuah kotak yang berada tidak jauh dari tongkat baseball tersebut. Kenzo Yang penasaran dengan kotak itu pun segera saja mendekati kotak tersebut lalu membukanya.


Kenzie yang baru saja tiba di gudang merasa penasaran di saat ia melihat wajah Kenzie yang tampak ketakutan karena sedang melihat sesuatu di dalam sana, segera saja ia menghampiri saudara kembarnya itu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Kenzo, ada apa?" Tanya Kenzie yang membuat Kenzo sontak terkejut.


"Kenzie, kamu lihat ini," ucap Kenzo sembari memperlihatkan sesuatu yang berada di dalam kotak.


Kenzie pun segera saja melihatnya, sama halnya dengan Kenzo, ia juga terlihat panik dan merasa syok serta ketakutan.


"Kenzie, kita harus beritahu soal ini ke Papa," ucap Kenzo.


"Jangan dulu Kenzo, lebih baik kita beritahu ini ke Kak Keenan dan Kak Nadine saja dulu," ucap Kenzo.


"Oh ya kamu Benar juga. Lebih baik sekarang kita bawanya hati-hati, jangan sampai Mama, Papi ataupun Oma mengetahuinya," ucap Kenzie.


"Ya sudah, sekarang kita ke atas," ucap Kenzo.


Lalu segera saja Kenzo pun menutup kotak itu kembali dan membawanya menuju ke lantai atas bersama saudara kembarnya itu.


Saat mereka tiba di lantai atas, kebetulan di saat itu Keenan dan Nadine tampak sedang duduk bersama di balkon, sehingga Kenzo dan Kenzie pun segera saja menghampiri mereka.


"Kenzo, Kenzie ada apa?" Tanya Keenan yang melihat wajah tegang dari kedua adik kembarnya itu.


"Kak, tadi aku baru saja menemukan sesuatu di gudang," ucap Kenzo tergesa-gesa.


"Apa yang kamu lihat? Kenapa wajah kalian terlihat seperti sedang ketakutan?" Tanya Nadine.


"Kak Nadine, Kak Keenan, lebih baik kalian lihat saja isi dalam kotak ini," ucap Kenzie seraya menyerahkan kotak tersebut kepada Kakaknya.


Keenan dan Nadine yang merasa bingung dan penasaran itu pun segera saja mengikuti apa kata adiknya dengan membuka kotak tersebut.


"Akh … !" Teriak Nadine.


Tentu saja hal tersebut membuat Nadine syok, melihat sebuah boneka dengan noda merah seperti darah dan juga terdapat surat di dalam sana.


Keenan segera saja membaca surat tersebut, ia merasa sangat terkejut dan juga murka melihat isi surat teror yang ditujukan untuk ibu mereka.


"Berarti ini penyebabnya yang buat membuat Mama waktu itu tampak diam. Ternyata Mama di teror dan berusaha menyembunyikannya dari kita," ucap Keenan.


Keempat adik beradik itu pun saling bertatapan dan mengiyakan apa yang baru saja Keenan ucapkan. Mereka merasa sangat terkejut karena mengetahui sebuah fakta yang sudah lama terjadi, bahkan saat ini Dinda pun sudah terlihat melupakan hal tersebut.


Bersambung …

__ADS_1



__ADS_2