Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Memperbaiki Hubungan


__ADS_3

Jika bukan karena pendapat dari Nadine untuk berbaikan, mungkin saat ini Keenan sudah pergi meninggalkan Bianca begitu saja. Akhirnya ia pun mencoba untuk sabar menghadapi seorang wanita. Bukan hanya Bianca, bahkan terkadang Nadine pun suka bersikap seperti itu juga saat sedang mempunyai masalah dengannya.


"Bi, aku benar-benar minta maaf ya sama kamu. Aku janji akan merubah sikap cuek aku itu, kita perbaiki hubungan kita, itupun kalau kamu mau. Tapi kalau kamu nggak mau dan mau mengakhiri hubungan ini, nggak apa-apa kok, aku terima. Kita akhiri saja hubungan ini," ucap Keenan yang membuat Bianca merasa sangat terkejut.


Tentu saja Bianca tidak mau jika hubungannya dengan Keenan berakhir begitu saja. Bagaimanapun sikap Keenan terhadapnya, ia sudah terlanjur mencintai Keenan. Terlebih lagi Keenan adalah anak dari partner bisnis orang tuanya, Keenan juga merupakan presdir perusahaan. Itu artinya Bianca sudah memiliki pasangan yang sangat sempurna dan tidak akan rela untuk melepaskannya. Akhirnya Bianca pun mencoba untuk menghilangkan rasa kesalnya itu terhadap sang kekasih.


"Kamu benar-benar janji akan merubah sifat kamu itu?" Tanya Bianca.


"Iya aku janji Bi," kata Keenan.


"Tapi kenapa gampang banget kamu mengatakan kita akhiri saja hubungan ini. Memangnya kamu nggak menyayangi aku, nggak mencintai aku," kata Bianca.


"Bukan, bukan itu maksud aku. Aku sayang kok sama kamu dan rasa cinta itu juga ada, tapi aku juga nggak mau buat kamu sedih terus menerus, membuat kamu kecewa karena sifat cuek aku. Ya aku memang seperti ini. Jadi kalau kamu memang masih mau berhubungan denganku, aku akan berusaha untuk menjadi yang lebih baik buat kamu, kita perbaiki hubungan ini. Aku akan bersikap baik padamu, akan merubah sikap cuek aku itu. Tapi seandainya kamu tidak kuat lagi, kamu boleh kok mengakhirinya," ucap Keenan sembari memegang kedua tangan sang Kekasih.


Bianca tersenyum, ia merasa ucapan Keenan itu sangat menyentuh ke dalam relung hatinya dan membuat Bianca pun memberi Keenan kesempatan lagi.


"Ya Sudah aku maafkan kamu. Tapi benar ya kalau kamu nggak akan bersikap seperti itu lagi," kata Bianca.


"Iya, aku akan berusaha Sayang," jawab Keenan, lalu mereka berdua berpelukan.


"Oh ya, kamu masih ada pemotretan nggak?" Tanya Keenan.


"Ada sih, tapi hanya sebentar aja kok. Kira-kira setengah jam lah. Kenapa?" Jawab Bianca dan bertanya.


"Oh … ya sudah kalau begitu aku tunggu kamu ya. Kita belanja dan makan siang bersama," kata Keenan.


"Loh memangnya kamu nggak ada pekerjaan di kantor?" Tanya Bianca.


"Pekerjaan ada aja sih, tapi semuanya sudah diurus dengan asisten aku. Hanya saja jam 02.00 nanti aku harus ada di perusahaan. Lagipula kan aku sudah bilang kalau aku akan merubah sikap, akan memperbaiki hubungan kita, jadi untuk hari ini aku sengaja menyempatkan waktu untuk kamu. Bagaimana, kamu senang nggak?" Ucap Keenan.


"Ehm … terimakasih ya Sayang. Jelas dong aku senang," jawab Bianca.


"Sama-sama Sayang. Ya sudah kalau begitu aku tunggu kamu ya," ucap Keenan.


"Iya Sayang. Aku kerja dulu ya, kamu boleh kok ikut ke dalam," ucap Bianca.

__ADS_1


"Iya, aku ikut kamu," ucap Keenan.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Nadine, hanya dipujuk sedikit saja, diajak makan atau belanja membuat Bianca merasa senang seakan melayang terbang ke langit. Bianca sangat senang Keenan datang untuk memperbaiki hubungan mereka, bahkan berjanji akan berubah, meskipun Keenan juga sempat mengucap kata pisah.


"Enak saja kamu mengucapkan kata pisah seperti itu. Nggak bisa semudah itu Keenan. Aku akan buat kamu cinta mati sama aku dan nggak bisa kehilangan aku. Dan setelah itu walaupun nantinya kita harus berpisah, harus aku yang meninggalkan kamu, aku yang mengucapkan kata pisah, bukan kamu," batin Bianca, lalu ia pun segera saja menuju ke ruang pemotretan diikuti oleh keenan yang ingin melihat pemotretan kekasihnya itu.


****


Selama Nathan berada di sisi istrinya, peneror seakan hilang ditelan bumi. seperti mengetahui jika saat ini Dinda selalu dijaga sehingga peneror itu pun tidak berani untuk mengganggunya. Tetapi tetap saja Dinda tidak pernah bisa melupakan teror yang dikirim untuknya dan saat ini ia benar-benar ingin pergi menemui Clara, untuk menanyakan masalah ini semua.


"Papi, Mama boleh keluar tidak?" Tanya Dinda.


"Mau keluar kemana Ma?" Biar Papi yang antar ya," kata Nathan.


"Tidak usah Pi, Mama pergi sendiri saja ya. Mama pesan taksi online. Ada keperluan," jawab Dinda.


"Keperluan apa? Biasanya jika ada keperluan apapun, selama ini Mama tidak pernah menolak diantar Papi. Kenapa kali ini Mama menolak?" Tanya Nathan.


"Bukan seperti ia Pi. Soalnya Mama mau ketemu dengan teman Mama di toko kue, cabang Jakarta Selatan. Boleh ya Pi," kata Dinda.


"Iya, tapi nggak masalah kan kalau Papi yang antar kamu. Pokoknya kalau mau pergi, Papi yang akan antar. Atau Mama jangan pergi, oke," ucap Nathan.


****


Sementara itu, Clara yang sudah resmi kerjasama dengan Perusahaan Modelling hari ini datang ke perusahaan tersebut ingin bertemu dengan Bianca, bermaksud ngin menanyakan tentang Keenan, anaknya. Karena dari kemarin memang belum ada waktu untuk Clara berbicara berdua dengan Bianca.


Akan tetapi baru saja Clara hendak masuk ke dalam ruang pemotretan, di saat itu ia melihat Keenan juga berada di dalam ruangan tersebut. Sehingga Clara pun menghentikan langkahnya, tidak jadi untuk menghampiri Bianca.


"Nyonya, kenapa Nyonya tidak jadi masuk?" Tanya Amanda yang kali ini pun ikut masuk ke dalam perusahaan tersebut atas perintah dari Clara.


Amanda juga sudah mengetahui jika Perusahaan Iklan C&K milik bos-nya itu sudah bekerjasama dengan Perusahaan Modelling dan mengontrak Bianca saat tadi pagi mereka membicarakan perihal kerja sama.


"Oh ya, kamu belum tahu ya Amanda. Kamu lihat pria tampan yang ada di ujung sana," ucap Clara sembari menunjuk seorang pria yang saat itu sedang fokus menatap ke arah Bianca.


"Loh bukannya itu Keenan? Ya tidak salah lagi memang Keenan, pria yang kemarin aku lihat di Perusahaan Collin Group," batin Amanda. "Memang dia siapa Nyonya?" Tanya Amanda yang pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Dia adalah Keenan Edward Collin, anak saya. Dan kamu tahu, kalau sekarang saya ada di sana sudah pasti saya akan bertemu lagi dengannya," kata Clara.


Mengingat bagaimana pertemuan terakhirnya dengan Keenan saat di Perusahaan Collin Group kemarin, membuat Clara pun memilih untuk tidak menemui Keenan terlebih dahulu dan secara perlahan ia akan mendekati anaknya itu lagi melalui Bianca.


"Loh Nyonya, bukannya bagus ya kalau Nyonya bertemu dengan anak Nyonya," kata Amanda yang pura-pura bodoh.


"Amanda, sekarang ini saya sedang tidak ada waktu untuk menceritakannya kepada kamu. Lebih baik sekarang kita ke mobil dan tinggalkan perusahaan ini. Lain waktu baru saya akan kembali ke sini untuk menemui Bianca," kata Clara.


"Baik Nyonya," jawab Amanda tanpa banyak membantah.


Kini Mereka pun sedang di dalam perjalanan setelah meninggalkan Perusahaan Modelling.


"Waktu itu, pertemuan terakhir saya dengan Keenan di Perusahaan Collin Group sangat tidak baik, sehingga saya pun memutuskan untuk mendekatinya lagi lewat Bianca. Karena yang saya tahu Bianca adalah pacar Keenan, anak saya," ucap Clara yang akhirnya berbicara terbuka kepada Amanda.


"Oh … jadi ternyata Bianca model itu adalah pacar Keenan. Pantas saja Nyonya Clara tiba-tiba berubah pikiran," batin Amanda. "Iya Nyonya, saya paham kok. Nyonya yang sabar ya, saya yakin nantinya Tuan Keenan pasti akan bersikap baik terhadap Nyonya dan akan kembali kepada Nyonya."


"Ya, itu juga yang saya harapkan," ucap Clara.


"so, tujuan kita sekarang mau kemana Nyonya?" Tanya Amanda.


"Kita pulang saja ke apartemen," jawab Clara.


Chit …


Tiba-tiba saja Amanda mengerem mobilnya secara mendadak karena tidak melihat jika saat ini mereka sedang berada di lampu merah. Sehingga Clara pun menjadi terkejut.


"Amanda kamu apa-apaan sih," ucap Clara..


"Maaf Nyonya, saya tidak melihat ada lampu merah dan bagaimana ini Nyonya. Saya menabrak mobil yang ada di depan," ucap Amanda memang ia tadi tidak fokus menyetir karena sedang berbicara dan menghadap ke arah belakang melihat ke arah bos-nya yang duduk di kursi penumpang.


"Kamu ini ada-ada saja. Sekarang Cepat kamu turun," kata Clara.


Sedangkan pengemudi di dalam mobil yang ditabrak oleh Amanda itu juga keluar dan berjalan menghampiri Amanda. Clara juga ikut keluar dari mobil untuk memastikan semuanya baik-baik saja.


"Mbak, maafkan saya. Saya tidak sengaja, saya benar-benar tidak melihat jika ada lampu merah sehingga tidak sengaja menabrak mobil Mbak," ucap Amanda.

__ADS_1


Akan tetapi bukannya fokus terhadap omongan Amanda, Nadine malah menatap wanita di samping Amanda, yaitu Clara karena merasa mengenalinya.


Bersambung …


__ADS_2