Terjerat Cinta Saudara

Terjerat Cinta Saudara
Bekerja Sama


__ADS_3

Setelah membahas beberapa materi meeting, kini Perusahaan Collin Group dan Perusahaan Jaya Group telah resmi bekerja sama dalam proyek yang besar. Dalam kerjasama ini Keenan mencari kesempatan untuk dekat dengan Farel dan mencari tahu informasi tentang dirinya, meskipun ada rasa tidak rela karena ia telah berpacaran dengan adiknya, Nadine, tetapi bagaimanapun juga ia tidak boleh bersikap egois karena ia sendiri mempunyai seorang kekasih yaitu Bianca. Jadi untuk memastikan semuanya aman dan baik-baik saja, Keenan pun melakukan ini semua, tujuannya semata-mata demi melindungi adik perempuan satu-satunya itu.


"Terimakasih untuk kerjasamanya Tuan Keenan, semoga kita bisa bekerja sama dalam jangka waktu yang panjang, hingga nantinya kita akan menjadi saudara ipar," ucap Farel.


Rasanya sangat enggan untuk meneladani Farel saat ini, tetapi ia pun terpaksa untuk tersenyum dan berjabat tangan dengan Farel tanpa mengucap sepatah katapun.


"Aku permisi!" Hanya itu yang keluar dari mulut Keenan, dan segera pergi meninggalkan Perusahaan Jaya Group.


****


"Keenan, Papi dengar kamu bekerja sama dengan Perusahaan Jaya Group ya?" Tanya Nathan di saat mereka sedang makan malam keluarga.


Uhuk … uhuk …


Tiba-tiba saja Nadine yang saat itu sedang minum menjadi tersedak mendengar akan hal itu.


"Nadine, kamu kenapa Sayang?" Tanya Dinda yang terlihat begitu khawatir, begitu juga dengan Keenan, Nathan dan kedua adik kembarnya yang ikut menatap ke arah Nadine.


"Aku nggak apa-apa Ma," jawab Nadine. "Itu yang Papi bilang tadi memangnya benar, Kak Keenan bekerja sama dengan Perusahaan Jaya Group? Bukannya itu perusahaannya Farel?"


"Oh ya? Jadi itu perusahaannya Farel, Farel anaknya Pak Adi Jaya ya berarti. Papi saja tidak tahu loh, memangnya itu benar Keenan?" Tanya Nathan.


"Iya Pi, itu memang benar perusahaannya Farel, anak Bapak Adi Jaya pemilik Perusahaan Jaya Group. Dan aku memang sengaja mengajak Perusahaan Jaya Group untuk bekerjasama dengan perusahaan kita. Tidak ada salahnya kan Pi? Karena perusahaan itu juga merupakan perusahaan terbesar di kota ini, satu tingkat di bawah perusahaan kita. Tentunya itu tidak salah kan jika aku mau mencoba hal yang baru," kata Keenan.


"Kenapa ya aku kok nggak percaya kalau itu alasan Kak Keenan yang sebenarnya, apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Kak Keenan?" Batin Nadine sembari menatap tajam mata Keenan.


"Kenapa Nadine menatap aku seperti itu ya? Apa jangan-jangan dia curiga?" Batin Keenan yang membalas tatapan Nadine dengan tak kalah tajamnya.

__ADS_1


"Ya kamu benar, memang tidak ada salahnya dan Papi setuju. Tentunya Papi juga sangat senang kalau kamu bisa berpikiran seperti itu. Semoga saja kerjasama kamu dengan Farel akan berjalan dengan lancar. Karena nantinya jika Farel sudah menikah dengan Nadine, pastinya kita juga akan bekerja sama juga kan dengan perusahaan mereka," kata Nathan.


"Menikah ….?" Ucap Nadine, Dinda dan Keenan hampir bersamaan.


"Kalian ini kenapa? Kompak banget ya kagetnya. Memangnya salah ya kalau Papi mengucapkan kata menikah? Bukannya tujuan berpacaran itu nantinya akan menuju ke jenjang pernikahan? Kamu Nadine, memangnya kamu tidak mau menikah, hanya mau berpacaran saja dengan Farel?" Tanya Nathan.


Memang saat ini orang tuanya itu sudah tahu jika Nadine berpacaran dengan Farel. Nadine sendiri lah yang mengatakan hal itu kepada ibunya dan ibunya pula yang mengatakan hal itu kepada sang ayah.


"Tapi Pi, aku baru aja pacaran dengan Farel. Jadi belum ada kepikiran untuk menikah," kata Nadine.


"Aku setuju. Apa-apaan sih masa baru pacaran langsung menikah. Aku dan Bianca yang sudah berpacaran terlebih dulu saja belum ada tuh membahas soal pernikahan, lagipula aku tidak setuju dan tidak sudi kalau Nadine menikah duluan melangkahi aku," ucap Keenan ketus.


"Oh iya Keenan, memangnya sekarang hubungan kamu dengan Bianca itu seperti apa? Maksud Mama sudah dalam tahap yang bagaimana? Kenapa kamu tidak pernah membawa Bianca datang ke rumah lagi?" Tanya Dinda.


"Hubungan aku dan Bianca baik-baik aja kok Ma. Ya belum sempat aja, karena aku dan Bianca masih sama-sama sibuk. Apalagi Mama kan tahu kalau Bianca itu seorang model, jadi dia sangat sibuk dengan jadwal pemotretannya," kata Keenan.


"Oh … seperti itu. Ya sudah kalau memang seperti itu, yang penting kalau nanti ada waktu kamu jangan lupa ya bawa Bianca main ke sini lagi. Selama kalian berpacaran, kamu baru sekali membawa Bianca ke sini. Mama masih mau mengenal dekat dengan calon menantu Mama," kata Dinda.


"Papi, Mama, Kak Keenan, Kak Nadine, kalian tuh lagi bahas apa sih? Lihat dong makanan Kenzo dan Kenzie sudah habis seperti ini, tetapi kalian malah membahas persoalan yang sepertinya sangat penting sampai makanan kalian belum habis," kata Kenzo.


"Karena Mama, Papi dan Kakak lagi bahas soal pernikahan, aku mau bilang sekalian nih kalau Kenzie lagi dekat tuh sama cewek di sekolah," kata Kenzo mengadu.


"Kenzo, kamu apa-apaan sih. Aku nggak ada ya dekat dengan cewek itu, kita hanya berteman saja Kenzo," bantah Kenzie yang kini malah berdebat dengan saudara kembarnya itu


"Kenzo, Kenzie, kalian kenapa kok malah berdebat. Ingat ya kalian berdua itu masih sekolah, masih SMA. Dekat dengan wanita sih boleh tetapi no pacaran-pacaran. Ingat ya sebentar lagi kalian itu ujian nasional, jadi kalian harus fokus untuk belajar," kata Dinda.


"Ya Papi setuju dengan Mama, kalian itu masih sekolah dan tidak boleh berpacaran," sambung Nathan.

__ADS_1


"Tau nih masih kecil juga," sahut Keenan yang ikut menghakimi adiknya itu.


"Apaan sih Kak. Iya Pi, Ma, aku nggak dekat kok apalagi pacaran sama cewek itu. kita hanya berteman saja," bantah Kenzie.


"Ya sudah bagus kalau memang seperti itu. Kalau kalian berdua memang sudah selesai makannya, lebih baik kalian sekarang masuk ke kamar, belajar, lalu tidur. Jangan sampai larut malam tidurnya!" Perintah Nathan.


"Siap Pi, Ma, Kak, kalau begitu kita berdua masuk duluan ya ke kamar, good night," ucap Kenzo.


"Papi, Mama, Kak Keenan, Kak Nadine, good night," ucap Kenzie.


"Good night too," balas kedua orang tua dan kedua kakak si kembar itu.


Setelah makan malam, Nadine dan Keenan serta kedua orang tuanya juga masuk ke dalam kamarnya masing-masing.


****


"Kenzo, Kamu kenapa sih bilang seperti itu tadi kepada Mama dan Papi," ucap Kenzie yang terlihat kesal.


"Memangnya kenapa? Aku kan hanya berbicara apa adanya Kenzie. Lagipula kenapa kamu harus malu, memang seperti itu kan kenyataannya, kamu lagi dekat dengan Ciara," kata Kenzo.


"Iya, tapi kamu kan tahu kalau Papi dan Mama itu tidak mengizinkan kita dekat dengan cewek untuk saat ini, apalagi sampai berpacaran," kata Kenzie.


"Ya ampun, kita ini sudah kelas 3 SMA, bukan anak kecil lagi. Kalau hanya berteman dekat itu tidak masalah kan seperti yang Mama katakan tadi," kata Kenzo.


"Ya sudahlah, sekarang aku mau tidur. Besok pagi kan kita ada ujian, bisa-bisa apa yang sudah aku pelajari tadi jadi blank lagi gara-gara dengerin ocehan kamu," kata Kenzie.


"Idih, apaan sih sampai segitunya. Seperti tidak biasa saja menghadapi ujian. Ya sudah sana gih tidur duluan," kata Kenzo.

__ADS_1


Kenzo dan Kenzie memang tidur di kamar yang sama, tetapi dengan ranjang yang berbeda di kamar mereka yang ukurannya cukup besar itu.


Bersambung …


__ADS_2