
Nathan dan Dinda yang saat itu berada di luar rumah pun menghampiri mereka yang saat itu sedang mengemasi pakaian di ruang tengah.
"Ini ada apa? Nadine, Keenan, kenapa kalian selalu berdebat, selalu saja bertengkar. Ini ada apa?" Tanya Dinda.
"Iya Keenan, Nadine kenapa kalian berdua itu selalu saja berdebat? Apa kalian berdua tidak bisa sehari saja tenang, malu kalau didengar tetangga kalian ribut-ribut seperti itu," kata Nathan.
Sedangkan Santi dan Doni yang ikut menghampiri mereka hanya terlihat diam saja sembari memperhatikan.
"Keenan tuh Ma, Pi, tiba-tiba aja dia marah-marah karena tahu aku masih mau menginap di sini beberapa hari dengan Farel," ucap Nadine yang terlihat begitu kesal.
"Memangnya benar seperti itu Keenan? Kenapa kamu harus marah-marah dengan adik kamu setelah kamu mengetahui hal itu?" Tanya Nathan.
"Ya bagaimana aku nggak marah Pi, kenapa Nadine harus menginap beberapa malam lagi di sini bersama Farel. Farel itu kan bukan suami Nadine, baru menjadi pacar. Kalau hanya untuk sekedar teman pulang, aku bisa kok tetap berada di sini menemani Nadine pulang nantinya. Atau kalau Nadine sudah mau pulang bisa kabari ke aku, aku bisa jemput kok," kata Keenan.
"Memangnya kenapa? Farel kan kekasihnya Nadine. Lagipula mereka di sini tidak hanya berdua, ada Kakek dan Nenek kalian. Seharusnya kamu itu bisa berpikir positif terhadap adik kamu dan juga kekasihnya. Kamu dan Farel juga sudah saling mengenal dekat kan, kalian berdua juga partner dalam bekerja. Dan satu lagi kamu juga tidak bisa tetap berada di sini Keenan, kamu punya tanggung jawab di kantor. Kamu lupa kalau besok kamu ada meeting penting dengan klien kamu," ucap Nathan.
"Ya aku ingat Pi, tapi tetap aja aku tidak bisa terima," ucap Keenan.
"Jelaskan kepada Papi dan kita semua yang ada di sini. Kenapa kamu tidak bisa terima? kamu sendiri mempunyai kekasih, kekasih kamu besok juga ada pekerjaan, jadi kita harus pulang ke Jakarta hari ini juga. Biarkan saja Nadine tetap berada di sini bersama Farel. Nenek juga masih merindukan Nadine, kamu tahu kan bagaimana dulu dekatnya Nadine bersama Nenek dan Kakek," ucap Nathan lagi.
"Terserah kalian saja lah," kata Keenan. Lalu ia pun melanjutkan mengemasi barang-barang miliknya.
Setelah selesai, tanpa berpamitan ia menarik tangan Bianca dan segera keluar dari rumah Nenek dan Kakeknya itu. Ia pun segera masuk ke dalam mobil berniat akan pulang ke Jakarta terlebih dulu.
"Keenan kamu mau kemana? Bisa tidak kalau kamu itu sopan sedikit. Berpamitan dulu kepada Kakek dan Nenek kamu," teriak Nathan.
__ADS_1
"Sudahlah Pi, biarkan saja. Mama juga heran kenapa Keenan bisa bersikap seperti itu, tapi ya sudahlah, mungkin dia butuh ketenangan," kata Dinda.
"Iya Nathan, Ibu dan Ayah juga tidak mempermasalahkan hal ini, mungkin memang ada sesuatu yang membuat Keenan menjadi seperti itu. Lagipula Ibu juga kan sudah mengenal bagaimana sifat Keenan, dia itu anak yang baik. Ibu yakin saat ini Keenan memang benar-benar sedang lagi ada masalah, sehingga ia bersikap seperti itu," kata Santi.
"Iya Bu, tapi aku juga merasa jadi tidak enak terhadap Ibu dan Ayah karena anak aku bersikap seperti itu," kata Nathan.
"Keenan itu bukan hanya anak kamu Pi, anak Mama juga. Sudahlah, biarkan saja kita beri waktu untuk Keenan menenangkan dirinya. Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Keenan, ada Bianca kok yang menemaninya. Mama yakin kalau Keenan dan Bianca pasti pulang ke Jakarta. Keenan itu punya tanggung jawab, dia membawa Bianca dan harus mengantarnya pulang," ucap Dinda.
Sedangkan Nadine saat itu tampak terdiam, merasa keheranan akan sikap kakaknya yang mencurigakan.
"Kenapa ya dengan Kak Keenan? Kenapa dia marah banget saat tahu aku dan Farel tetap berada di kota Bandung? Aku jadi merasa nggak tenang, atau lebih baik sekarang aku pulang aja ya? Aku benar-benar merasa nggak enak melihat Kak Keenan bersikap seperti itu," batin Nadine.
"Pi, Kak Keenan dan Bianca kan sudah pulang duluan, kalau seandainya aku dan Farel pulang ikut mobil Papi masih muat nggak?" Tanya Nadine.
"Iya Kak Nadine, aku dan Kenzie bisa kok duduk di belakang. Kita nggak masalah," kata Kenzo.
"Kak Nadine sama Kak Farel mau ikutan pulang juga ya?" Tanya Kenzie.
"Iya Nadine, kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu mau ikut pulang?" Tanya Dinda pula.
"Iya Ma, tiba-tiba aku teringat kalau besok itu aku ada janji untuk bertemu dengan klien baru. Aku benar-benar lupa, untung saja Mama sama Papi belum pulang, jadi aku masih bisa ikut pulang kan," kata Nadine yang terpaksa berbohong.
"Oh seperti itu, ya sudah kalau begitu kamu dan Farel kemasi saja barang-barang kalian, lalu kita pulang sekarang," kata Nathan.
"Farel, nggak apa-apa kan kita pulang ke Jakarta sekarang, kita nggak jadi menginap beberapa hari lagi di sini," kata Nadine.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa lah Dien, aku ikut apa kata kamu aja. Aku di sini juga karena mau menemani kamu," kata Farel dan ditanggapi senyuman oleh Nadine.
"Nek, maaf ya Nadine nggak jadi menginap di sini untuk beberapa hari lagi. Tapi Nadine janji, nanti kalau Nadine ada waktu Nadine akan datang ke sini lagi dan menginap beberapa hari di rumah Nenek," ucap Nadine sembari merangkul tubuh neneknya itu.
"Iya, tidak apa-apa Sayang, Nenek mengerti. Lagipula ini juga karena pekerjaan kamu kan? Nenek sudah cukup senang karena kalian sudah datang beramai-ramai ke sini," ucap Santi.
"Kakek juga nggak kenapa-napa kan kalau Nadine nggak jadi nginap lagi di sini?" Tanya Nadine yang kini beralih kepada sang kakek.
"Tentu saja tidak, yang penting kalau ada waktu kamu jangan lupa datang ke sini lagi bersama Farel ya," kata Doni.
"Iya Kek, nanti aku akan datang ke sini lagi kok bersama Nadine," Farel yang menjawabnya.
"Ya sudah, sekarang kalian kemas barang kalian dulu, kita akan segera pulang ke Jakarta," kata Dinda.
Setelah semuanya dirasa selesai dan telah berpamitan kepada Santi dan Doni selaku tuan rumah, kini Nathan, Dinda bersama yang lainnya pun melakukan perjalanan untuk pulang ke Jakarta.
****
Beberapa jam kemudian, bersamaan dengan sang mentari yang terbenam, kini mereka pun telah tiba di kediaman keluarga Nathan. Farel langsung saja berpamitan pulang agar Nadine bisa langsung beristirahat.
Di saat itu, mereka tidak melihat keberadaan mobil Keenan di rumah, akan tetapi Nadine langsung saja buru-buru menuju ke kamarnya sembari ingin melihat apakah Keenan berada di kamarnya atau tidak? Mungkin saja kan jika mobilnya itu dibawa Bianca pulang, pikir Nadine. Tetapi kenyataannya Keenan sama sekali tidak berada di rumah.
"Kak Keenan kemana sih? Kan tadi dia sudah pulang duluan, seharusnya dia sudah sampai duluan dong ke rumah. Atau jangan-jangan Kak Keenan masih berada di rumahnya Bianca?" Gumam Nadine yang terlihat begitu khawatir.
Bersambung …
__ADS_1