
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, sore ini pak Rahman benar-benar berkunjung ke rumah calon besannya. Dia kesana bermaksud untuk membahas bagaimana rencana perjodohan anak-anak mereka kedepannya.
Sekitar jam empat sore pak Rahman sudah sampai di kediaman pak Ilham. Disana ia langsung disambut oleh pak Ilham dan istrinya. Mereka tau karena sebelumnya pak Rahman sudah mengatakan jika hari ini dia akan berkunjung.
Sebelumnya pak Ilham sudah menjelaskan pada istrinya perihal maksud kedatangan sahabatnya. Bu Maira sendiri juga sudah mengetahui masalah perjanjian yang terjadi antara suami dan sahabatnya ini. Namun dia meminta pada suaminya, jika sebelum pernikahan dilangsungkan ia ingin melihat sekali saja pria yang nantinya akan mendampingi putri kesayangannya terlebih dahulu. Bukan bermaksud apa-apa, ia hanya ingin memastikan seperti apa pria tersebut. Setidaknya saat nanti dia harus menyerahkan putrinya, dia sendiri sudah merasa lega.
"Sendiri saja man, istrinya kok gak diajak sekalian?" pak Ilham bertanya karena dia hanya melihat sahabatnya ini datang sendiri.
"Ia kang, istri saya sudah terlanjur janji akan menjenguk temannya yang sedang sakit" jelas pak Rahman "Ya sudah, ayo masuk." ajak pak Ilham kemudian. pak Ilham pun mempersilahkan sabahabatnya duduk dan menawarinya untuk minum apa.
Sambil menunggu minuman datang mereka nampak berbincang-bincang santai. Hingga tak lama kemudian, seorang gadis keluar dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh sesuai permintaan ayahnya, lengkap dengan makanan ringan sebagai pendampingnya. Gadis itu tak lain adalah Lifi yang sengaja disuruh bundanya. Lifi tidak tau saja jika tamu yang akan disuguhinya minum adalah calon mertuanya. Andai saja dia tau, mungkin dia akan menolak untuk melakukannya.
"Mari silahkan diminum Om" dengan sopan Lifi mempersilahknnya. Saat melihat siapa yang menyuguhkan minum, membuat pak Rahman seketika mengalihkan pandangannya. Ia pun tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.
"Ini putri ku Man, namanya Lifi" ucap pak Ilham tiba-tiba. "Lif....kenalkan ini teman ayah, namanya pak Rahman" pak Ilham pun kemudian mengenalkan putrinya. Lifipun kemudian menyalami teman ayahnya ini dan menyapanya dengan sangat sopan.
__ADS_1
Pak Rahman tersenyum. Ia tidak menyangka jika putri sahabatnya ini begitu cantik. Bahkan lebih cantik dari pada di foto yang pernah dilihatnya. Ditambah lagi anaknya terlihat begitu santun. Menambah nilai plus tersendiri dimata pak Rahman.
"Kang, putrimu sangat cantik sekali
aku yakin pasti Byan dan istriku akan langsung menyukai begitu melihat putri kang Ilham" pak Rahman berkata demikian setelah sesaat Lifi meninggalkan ruang tamu.
Saat ini mereka mulai membicarakan apa yang menjadi tujuan mereka bertemu. Pak Rahman sendiri ingin mempercepat rencana pernikahan putra putri mereka. Bahkan kalau memungkinkan dalam bulan-bulan ini.
"Aku sih setuju-setuju saja. Tapi ya itu Man, sebelum pernikahan dilangsungkan istriku ingin sekali saja melihat putramu. Maaf bukan bermaksud apa-apa, cuman rasanya gimana gitu. Mau menikahkan anaknya tapi tidak tau wajah calon menantunya seperti apa. Kalau untuk Lifi sendiri nanti biar aku yang menjelaskannya."tutur pak Ilham pada sahabatnya.
"Oh itu tidak masalah, kalau begitu sekalian saja berkunjung ke rumah. Ajak istri kang Ilham juga. aku sudah dua kali kesini sekarang giliran kang Ilham yang berkunjung ke rumah." ucap pak Rahman memberi usul. "Baiklah Man, minggu siang besok aku dan istriku kerumahmu" jawab pak Ilham setelah sejenak berfikir.
Setibanya pak Rahman dirumah, ia langsung disambut oleh istrinya. dia yang sedari tadi sudah menunggu kepulangan suaminya tentu sudah tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya untuk melihat wajah calon menantunya itu. Sebenarnya dia ingin sekali ikut ke rumah pak Ilham. Hanya saja dia tidak bisa karena sudah terlanjur berjanji untuk menjenguk temannya yang sedang sakit.
"Apa papa sudah dapat foto anaknya pak Ilham?" tanya bu Kinan yang sudah nampak tidak sabar sekali untuk melihatnya. "Wah, sepertinya mama sudah sangat tidak sabar sekali untuk melihat foto calon mantunya" ledek pak Rahman pada istrinya. "Dia sangat cantik mah, begitu mama melihat fotonya, papa yakin mama akan langsung menyukainya " ucap pak Rahman mantap.
__ADS_1
Pak Rahman pun kemudian memberikan ponselnya pada istrinya untuk memperlihatkan foto calon menantunya. Namun alangkah terkejutnya begitu bu Kinan menatap gambar yang ada di ponsel suaminya. Ia tidak menyangka jika yang akan menjadi menantunya adalah teman sekelas putranya. Bahkan calon menantunya itu adalah gadis yang disukai oleh Byan putranya.
Melihat ekspresi istrinya yang nampak begitu terkejut, membuat pak Rahman sedikit keheranan. Ia tidak bisa menebak sebenarnya istrinya menyukainya atau malah sebaliknya.
"Mah, kenapa dengan foto itu? Apa mama mengenalnya, atau sebelumnya mama pernah bertemu?" dua pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut pak Rahman. Namun belum mendapat jawaban dari pertanyaannya, tiba-tiba ekspresi bu Kinan berubah tersenyum penuh arti. Tentu saja hal ini membuat suaminya semakin dibuat heran dengan tingkahnya.
"Pah, mama gak tau harus dari mana menjelaskan ini semua." bu Kinan bicara dengan sedikit nada menggebu. "Gadis ini, yang di foto ini, dia adalah teman satu kelas Byan dikampus. Papa ingat gak waktu Byan minta izin pada mama kalau temen-temennya mau ke rumah buat ngerjakam tugas kelompok?" Bu Kinan mencoba mengingatkan dan suaminya menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nah, salah satu teman Byan itu adalah gadis ini. Kalau tidak salah namanya Li-Lifi, ya benar namanya Lifi, tidak salah lagi" Ucap bu Kinan sedikit terbata karena masih mengingat nama gadis itu. "dan papa tau, Lifi ini adalah gadis yang disukai Byan" bu Kinan mengatakan itu dengan senyum yang yang terus mengembang dari bibirnya.
"Benar begitu mah?" Pak Rahman masih nampak belum sepenuhnya yakin dengan penjelasan istrinya. "Ia pah, malah waktu mama dikenalkan sama satu persatu teman Byan, malah Byan bilang gini " Mah, kalau ini Lifi calon mantunya mama, gitu pa Byan ngomongnya" Bu kinan berkata dengan menirukan gaya bicara Byan waktu itu.
Mendengar penjelasan ini tentu saja membuat hati pak Rahman begitu bahagia sekali. Ia tidak menyangka kalau gadis yang akan dijodohkan dengan putranya ternyata sudah saling mengenal. pak Rahman semakin yakin, jika tuhan sudah berkehendak, hal yang mustahilpun bisa terjadi.
"Mah, sekarang yang mau papa tanyakan apa mama juga menyukai gadis itu?" tanya pak Ilham. Tentu saja pak Rahman juga ingin tau apakah istrinya ini menyukai Lifi atau sebaliknya. "Ia pah, entah mengapa pertama ketemu dengan Lifi mama langsung menyukainya. Anaknya sangat santun, ramah, ibadahnya rajin, mana cantik lagi. Pokoknya ini calon mantu idaman mama deh. Cuman sama Byan saja Lifi bersikap cuek . Tapi kalau menurut mama dia begitu karena Byannya saja yang selalu bikin sebel Lifi. Karena mama lihat Byan itu tak henti-hentinya menggoda Lifi waktu dirumah.kasian dia sampek harus menahan malu dan kesal" ucap bu Kinan panjang lebar.
"Kalau begitu papa lega, karena ternyata tak hanya papa yang menyukai Lifi. Tapi mama dan terlebih lagi Byan juga menyukainya." pak Ilham berkata sambil menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "oh iya Mah, minggu besok kang Ilham dan istrinya akan berkunjung kesini, papa yang memintanya tadi. Kebetulan mereka juga kepengen ketemu sama Byan. Papa minta tolong agar mama bisa memastikan hari itu Byan tidak kemana-mana, sama sekalian juga persipkan jamuan untuk bakal besan kita". Pak Ilham berkata sambil tersenyum.
__ADS_1
Sementara ditempat lain, sepasang suami istri nampak tengah berbincang serius didalam kamarnya. Setelah kepulangan sahabatnya tadi, pak Ilham mengajak istrinya untuk membahas masalah ini hanya berdua. Karena mereka akan menjelaskannya pada putrinya setelah dia berkunjung ke rumah sahabatnya. Ia ingin memastikan terlebih dahulu seperti apa calon yang akan dijodohkan dengan putrinya.
Untuk masalah Faris, nanti pak Ilham akan mengatakannya lewat telfon saja. Mengingat sebenarnya Faris sudah mengetahui perjanjian ini sejak dulu. Makanya Faris sendiri dulu berinisiatif menikah secepatnya setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan. Ia khawatir keduluan ayahnya bertemu dengan sahabatnya ini. Bisa jadi jika sahabat ayahnya ini memiliki anak perempuan, malah dia sendiri yang akan dijodohkan. Karena menurut Faris sangat kurang logis jika dia sebagai laki-laki harus menjadi korban perjodohan orang tuanya.