Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Pulang


__ADS_3

Tanpa terasa hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan ujian semester. Itu berarti liburan panjang sudah didepan mata.


Sepulangnya dari kampus tadi, Lifi langsung menuju kamar untuk mengemasi pakaian apa saja yang akan dibawanya selama menginap dirumah bundanya.


Kali ini Lifi sudah meminta izin pada mertuanya untuk menginap selama satu minggu disana.


Awalnya bu Kinan merasa berat. Karena bagi bu Kinan rumahnya akan terasa sepi jika tidak ada Lifi.


Meskipun disana masih ada Naila, namun sejauh ini Lifilah yang lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya.


Biasanya mereka selalu masak bersama, merawat taman bersama, bahkan tak jarang bu Kinan mengajak Lifi meskipun hanya sekedar ngobrol bersama.


Namun dirinya juga harus memahami, bahwa menantunya juga pasti menyimpan kerinduan tersendiri pada rumah dan orang tuanya. Dan bu Kinan juga faham betul jika disana ada orang tua yang juga sama merindukan kedatangan putrinya. Bahkan jika dipikir sebenarnya Bu Mairalah yang paling kesepian.


Selama dua puluh tahun membesarkan putrinya, merawatnya dengan penuh kasih sayang. Namun saat sudah dewasa malah dibawa pergi kerumah mertuanya.


"Mas, ini baju mana saja yang mau dibawa" Tanya Lifi pada suaminya begitu masuk kedalam kamar, dan saat ini Lifi sedang terlihat sibuk memilah-milah baju yang hendak dibawa pulang.


"Yang mana aja deh, lagian mas kan nanti juga masih bolak-balik kesini juga"


Byan mengatakan itu karena memang dirinya akan sedikit lebih sibuk dicafenya. Dia akan memanfaatkan waktu libur kuliahnya untuk fokus mengurus cafenya.


"Tapi nanti tidurnya dirumah bunda kan" Lifi menanyakan itu karena semenjak dirinya hamil, tidurnya tidak bisa nyenyak jika tidak dipeluk suaminya ini.


"Cie....yang takut banget tidur sendirian" Byanpun sengaja menggoda istrinya


"Bukan aku yang takut sendirian, nih anak kamu bawaannya nempel mulu sama papanya"


"Anaknya apa mamanya, jujur saja. Malah mas makin seneng kalau misalkan yang pengen nempel terus itu mamanya." Byan masih terus menggoda istrinya.


"Mana ada yang kayak begitu. Malah aku itu resah setiap dekat sama kamu. Bukannya tidur nyenyak, yang ada malah diajakin begadang mulu"


"Dan anehnya yang diajak begadang juga mau-mau aja. Bahkan sampek bilang terus mas terus" Byan sekarang malah sengaja meledek istrinya.


"Apaan sih, gak usah fitnah aku segala deh" Lifi terlihat menyangkal atas apa yang dikatakan oleh suaminya ini.


"Kok fitnah sih, buktinya udah kongkrit gini masih aja bilang fitnah"


"Bukti, emangnya bukti apa. Aku gak ngerti deh" Lifi terlihat bingung sendiri karena tidak faham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.

__ADS_1


"Tuh..." Byan menunjuk kearah perut Lifi. Lifipun menaggapinya dengan mengernyitkan dahinya, pertanda jika dirinya masih belum faham juga dengan maksud suaminya ini.


"Bukannya calon dedek bayi diperut kamu itu bukti hasil begadang kita yang rutin tiap malam" Ucap Byan sambil tersenyum.


Tanpa menghiraukan ucapan suaminya yang terdengar semakin ngelantur, Lifipun memilih pergi ke kamar mandi. Tujuannya adalah satu, dirinya ingin berendam guna merilex kan pikiran yang tadi sempat pening karena memikirkan jawaban soal ujian.


Byan sendiri memilih menunggu istrinya dengan memainkan ponselnya sambil rebahan.


"Udah hampir sejam, kenapa gak selesai-selesai mandinya" terdengar Byan berguman sendiri. Pasalnya istrinya ini tak kunjung keluar dari kamar mandi. Padahal sudah hampir sejam dirinya menunggu untuk mandi juga.


"Sayang, kamu ngapain didalam" Byan terlihat sedang mengetuk pintu kamar mandi.


Setelah beberapa kali mencobanya, namun istrinya ini tak kunjung membukakan pintunya.


Byanpun berinisiatif mendobraknnya. Ia merasa khawatir sekaligus takut terjadi apa-apa pada istrinya didalam.


Saat Byan berusaha mendorongnya, ternyata pintu langsung terbuka dengan begitu mudahnya. Nampaknya istrinya ini lupa menguncinya.


Byan yang masukpun langsung mendapati istrinya ternyata sedang berendam di bathup sambil memejamkan matanya.


"Yaelah ni bumil malah kenakan berendam"


Seketika Byan langsung memeluk tubuh istrinya dari arah belakang


Lifi yang tiba-tiba merasa ada orang yang memeluknya dari belakang, langsung dibuat kaget seketika.


"Astaga mas....kamu ngapain sih disini. Ngagetin aja deh" Lifipun reflek menyiram wajah suaminya ini dengan air.


"Mas dari tadi nungguin, eh yang ditungguin malah keenakan berendam sampai lupa waktu" Byan mengatakan itu sambil tangannya mulai mengeksplor bagian tubuh istrinya.


"Mas bisa gak sih ini tangan dikondisikan"


"Yang....mas mau nengokin si dedek. Boleh ya, mas kangen banget dan kali aja dedeknya juga kangen sama papanya"


Byanpun kemudian memeluk istrinya dari belakang lagi, sambil kepalanya ia sandarkan pada leher bagian samping istrinya.


Alhasil sore itu menjadi momen bagi Byan bisa menengok calon dedek bayinya. Bahkan Butuh waktu satu jam lebih keduanya baru selesai merampungkan aktifitasnya.


Wajah Lifi saat ini terlihat seperti sedang ditekuk. Sungguh dirinya merasa tubuhnya sedikit kedinginan karena terlalu lama berendam.

__ADS_1


"Sini mas bantu ngeringin rambutnya" Byan mencoba mengambil handuk yang sedang dipegang istrinya, namun dengan cepat Lifi menariknya.


"Aku bisa sendiri mas, lagian aku was was kalau kamu bantuin. Habisnya tangan kamu suka gak terkondisikan. Lifi terlihat seperti sedang berjaga-jaga dari ulah nakal suaminya.


"Mas janji deh, bener-bener cuman bantuin aja. Lagian kan mas gak mau kamu kecapek'an" Byanpun mengatakan itu sambil tangannya mulai mengusap rambut istrinya dengan handuk yang saat ini sudah depegangnya.


"Gak mau kamu kecapek'an, tapi nyatanya tiap hari aku dibikin capek. Awas aja bulan depan pas periksa kandungan, aku aduin mas sama tante Lisa" Lifi terlihat sedang mencoba mengancam istrinya


"Udah gak usah ngoceh-ngoceh. Katanya mau nginep dirumah bunda, sana ganti baju dulu. Habis itu kita berangkat. Atau mau sekalian mas bantuin buat ganti baju" Byanpun masih sempat-sempatnya menggoda istrinya ini.


"Mas Byan...." Lifi terlihat mulai geram sendiri.


"Apa sayang" jawab Byan dengan nada seperti sedang dibuat-buat.


"Ish....punya suami nyebelin banget" Lifi nampak menggerutu.


Byanpun menanggapi ocehan istrinya dengan tersenyum sendiri. Bagi Byan istrinya ini selalu terlihat lucu saat sedang kesal.


Apalagi jika sedang memanyunkan bi-birnya, ada kegemaan tersendiri. Hingga kadang membuat Byan ingin menggi-gitnya.


Setelah keduanya sama-sama sudah siap, merekapun keluar kamar dengan Byan membawa koper yang berisi pakaian dirinya dan juga istrinya.


"Udah gak ada yang ketinggalan kan Yang" tanya Byan memastikan barang bawaannya sudah tidak ada yang tertinggal.


"Gak ada mas. Semuanya udah beres" Jawab Lifi yakin. Pasalnya tadi sebelum semua masuk ke dalam koper, Lifi sudah mengeceknya terlebih dulu.


Merekapun kemudian berpamitan pada mama dan papanya, tak lupa juga pada dicantik Naila.


"Sayang, sering-sering telfon mama ya. Biar mama bisa tau kabar kamu sama calon cucu mama disana" Bu Kinan mengatakan itu saat Lifi sedang mencium tangannya. Diapun kemudian mengusap-usap perut menantunya.


"Dek...kakak pulang dulu. Baik-baik dirumah ya." Lifi mengatakan itu pada sicantik Naila


"Kakak juga baik-baik disana ya" Jawab Naila. Kemudian diapun langsung berhambur memeluk kakak iparnya.


"Pah, Lifi pamit dulu" Kini giliran Pak Rahman yang dipamiti oleh manantunya.


"Baik-baik disana ya. Salam dari papa buat ayah kamu"


Selesai Lifi berpamitan, kini giliran suaminya. Bu Kinan terlihat mewanti-wanti Byan agar benar-benar menjaga kesehatan istrinya. Bu Kinan tidak mau terjadi apa-apa pada menantu dan juga calon cucunya.

__ADS_1


Setelah selesai berpamitan, Kini keduanyapun nampak sudah berada didalam mobil. Byanpun mulai memacu kendaraannya menuju ke rumah mertuanya.


__ADS_2