
Menjelang waktu magrib, Lifi dan Byan akhirnya sampai dirumah pak Ilham. Kedatangan mereka berduapun langsung disambut oleh pasangan suami istri itu yang memang sudah sangat merindukan keduanya. Terutama Bu Maira yang begitu merindukan putrinya karena memang sudah lumayan lama tidak berkunjung.
"Bunda... Kangen banget" Lifi langsung berhambur memeluk bundanya dan dibalas dengan bu Maira yang terlihat semakin mengeratkan pelukannya sambil membelai sayang kepala putrinya.
"Bunda juga kangen. Habisnya kamu lama banget gak berkunjung kesini."
"Maaf bun, kemarin-kemarin dikampus banyak tugas. Belum lagi mas Byan juga kadang sibuk sama urusan cafe." tutur Lifi pada bundanya.
"Yasudah gak pa pa. Ayo masuk sayang, mari nak Byan langsung masuk saja" Bu Maira juga tidak lupa mempersilahkan menantunya.
"Gimana kabar ayah sama bunda" Byan nampak menanyakan kabar mertuanya.
"Alhamdulillah baik nak, kabar nak Byan dan keluarga dirumah bagaimana" Pak Ilham bertanya balik.
"Sama baik nya Yah, oh iya ada salam dari papa untuk ayah" Byan menyampaikan salam dari papanya untuk mertuanya.
"Waalaikum salam" Pak Ilham membalas salam dari besannya.
"Yasudah kalian kekamar saja dulu, bentar lagi sudah masuk waktu magrib. Nanti setelah sholat kalian langsung keluar, kita makan bareng-bareng. Bunda udah Nyiapin makanan kesukaan kamu"
Bu Kinan menyuruh anak dan menantunya agar sholat dulu sebelum makan bersama.
"Ayo mas" Ajak Lifi pada suaminya.
Mereka berduapun akhirnya masuk kekamar untuk melaksanakan ibadah sholat magrib.
Setelah merampungkan sholatnya, baik Byan maupun Lifi langsung menuju meja makan sesuai intruksi bundanya.
"Ayo nak Byan, bunda udah bikinin kamu Soto ayam. Kata Lifi nak Byan suka banget sama Soto, mudah-mudahan nak Byan bisa suka sama soto buatan bunda" Dengan ramah bu Kinan mempersilahkan pada menantunya.
"Terima kasih bun. Ini malah saya jadi ngrepotin bunda ceritanya" Byan merasa sungkan, karena secara tidak langsung kedatangannya menurut Byan malah membuat repot mertuanya.
"Gak ada yang direpotin kok, ayo-ayo dimakan" Kali ini terdengar pak Ilham ikut menimpali.
"Lif...itu kenapa cumi tepungnya gak dimakan, biasanya kamu doyan banget sama itu makanan" Bu Maira terlihat heran sendiri, karena dari tadi dia memperhatikan putrinya sama sekali tidak menyentuh cumi tepung buatannya. Padahal makanan ini adalah kesukaannya selama ini.
Selain itu dari tadi Lifi terlihat hanya mengaduk-ngaduk nasinya saja tanpa berniat memakannya.
Byan yang memang sudah faham kondisi istrinya langsung mendekatinya
"Kamu lagi pengen apa, bilang sama mas"
"Mas aku mau nasi soto punyaan mas" Lifi menunjuk pada piring punyaan suaminya.
__ADS_1
Bu Maira dan pak Ilham seketika langsung mengarahkan pandangannya pada Lifi.
Jelas-jelas disitu kuah soto yang belum dimakan masih banyak, tapi putrinya ini malah kepengan makan yang ada dipiring suaminya.
"Lif....itu kan masih ada. Kenapa mesti minta punya suami kamu" Ucap bu Kinan karena merasa heran dengan tingkah putrinya.
"Gak pa pa kok bun. Yang penting Lifi mau makan." Byan yang menjawab pertanyaan ibu mertunya.
"Ayo sayang mas suapi sekalian ya"
"Gak usah mas, aku makan sendiri aja. Mas makan juga ya."
Merekapun kemudian makan dengan tanpa berbicara lagi.
Sebenarnya dalam benak bu Maira dan pak Ilham, mereka berdua sangat penasaran kenapa putrinya bisa bertingkah seperti ini.
Ingin rasanya mereka bertanya, namun mereka sengaja menahannya karena tidak ingin mengganggu acara makan bersama ini.
Barulah setelah selesai makan, Bu Maira bertanya pada menantunya saat dia melihat Byan tengah duduk diruang tengah bersama suaminya.
Sementara Lifi, usai makan dia langsung pergi kekamarnya. Katanya punggungnya terasa sakit dan ingin segera merebahkan dirinya.
"Nak Byan, sebelumnya bunda minta maaf ya atas sikap Lifi tadi. Dan kalau boleh tau apakah Lifi sering bersikap seperti itu sama nak Byan." Bu Maira yang sejak tadi merasa sangat penasaran, begitu ada kesempatan langsung saja dia menanyakannya pada Byan.
"Jadi begini, ada yang mau Byan omongin sama bunda dan juga ayah. Sebelumnya saya minta maaf, karena mungkin saya memberi tahu kabar ini sedikit terlambat. Sebenarnya saat ini Lifi tengah hamil. Usia kandungannya sekitar dua mingguan."
Sungguh mereka tidak menyangka akan diberi rezeki secepat ini.
"Alhamdulillah, bunda sama ayah seneng sekali mendengar kabar ini" Pak Ilham terdengar sedang mengucap syukur.
"Pantesan tingkah Lifi tadi aneh banget. Bunda aja tadi lihatnya kayak gak percaya kalau itu Lifi anak bunda. Ternyata dia sedang hamil. Terima kasih ya nak Byan, sudah mau sabar ngadepin sikap Lifi pas lagi hamil kayak gini" Bu Maira terlihat sedang mengucapkan terima kasih kepada menantunya.
"Itu sudah kewajiban saya sebagai suami sekaligus ayah dari calon bayi yang sedang dikandung Lifi" Jawab Byan denyan sangat bijak.
Setelah memberitahu kabar kehamilan istrinya pada mertuanya, Byan langsung pamit untuk lebih dulu beranjak.
Ia sangat khawatir istrinya disana belum tidur. Karena selama hamil, Lifi hanya akan tidur jika dipeluk dirinya.
"Mas, kok lama sih. Aku udah ngantuk banget ini, tapi mau tidur gak bisa"
Benar saja, begitu dirinya tiba dikamar istrinya ini ternyata belum juga tidur.
"Maaf, tadi mas lagi ngobrol sama ayah dan bunda juga. Mas tadi juga memberitahu perihal kehamilan kamu. Gak pa pa kan." Byan mengatakan itu sambil membelai sayang rambut istrinya.
__ADS_1
"Berarti ayah sama bunda udah tau dong kalau aku lagi hamil"
"Iya sayang" Jawab Byan lembut.
"Mas aku malu" Lifi sampai reflek menutup wajahnya sendiri.
"Ngapain mesti malu. Kamu hamil ada suaminya kok. Mana suaminya ganteng, baik dan tentunya sayang banget sama kamu" Byan mengatakan itu sambil mencubit gemas kedua pipi istrinya yang mulai terlihat cubby.
"Cih....narsis banget deh jadi orang"
"Udah gak usah ngomel, emang benerkan kenyataanya begitu" Byan mengatakan itu dengan percaya dirinya, karena dia juga sengaja ingin menggoda istrinya
"Punya suami kok kepedean banget , perasaan aku liatnya biasa-biasa aja deh" Terlihat Lifi sedang mengomel sendiri karena merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Udah gak usah ngomel-ngomel. Mending sini mas peluk biar cepet tidur. Kasian dedek bayinya, mungkin kecapek'an. Seharian dibawa aktifitas terus.
"Sekarang aja bilang kasian, tadi sore aja pas aku lagi mandi malah diajakin main sampek sejam lebih" Lifi nampak kesal sendiri kala mengingat tadi suaminya ini tiba-tiba masuk ke kamar mandi dan mengajaknya bermain dengan alasan nengokin sidedek bayi.
"Tapi suka kan, buktinya tadi sampek bilang ter...." belum selesai Byan berbicara, istrinya sudah memotongnya terlebih dulu.
Lifi faham akan bicara apa suaminya ini. Maka dari itu dengan cepat dia memotong pembicaraan suaminya.
"Stop mas, kamu kebiasaan deh kalau aku lagi kesel suka mengalihkan pembicaraan"
"Loh.....mas itu bukannya mengalihkan pembicaraan sayang, tapi mas kan mengatakan kalau kamu tadi juga seneng pas mas ajakin main" Byan terlihat sedang mencoba membela diri.
"Tau ah sebel...." Lifi langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, hingga menyisahkan bagian kepalanya saja sambil memposisikan diri membelakangi suaminya.
"Tuh kan gak bisa jawab, berarti bener dong yang mas bilang barusan" Byan masih terlihat tak mau kalah.
Lifi sendiri semakin merapatkan selimutnya, hingga seluruh tubuhnya tertutupi oleh selimut.
"Sayang....kok mas dicuwekin sih" Byan nampak menepuk bahu istrinya yang sedang tertutup selimut.
Berkali-kali Byan melakukannya, namun sama sekali tidak mendapatkan respon dari siempunya.
"Yasudah kalau begitu mas keluar saja" Byan berpura-pura akan beranjak dari tempat tidur.
Mendengar suaminya seperti sedang beranjak dari tempatnya, dengan cepat Lifi langsung membuka selimutnya dan menarik tangan suaminya.
"Mas mau ke mana sih. Udah tau dedek gak bisa tidur kalau gak sama bapaknya" Terlihat Lifi memanyunkan bibirnya.
Dalam hati Byan hanya bisa tersenyum karena usahanya mengerjai istrinya berhasil.
__ADS_1
Tapi jika boleh jujur, Byan sendiri sebenarnya juga sulit untuk tidur jika tidak memeluk istrinya. Mungkin ini sudah menjadi kebiasaan barunya setelah menikah dengan Lifi.
Dirinya hanya bisa tertidur pulas jika sudah memeluk tubuh istrinya.