
Sepanjang berjalan menuju parkiran, nampak Lifi terlihat begitu khawatir. Ia takut suaminya ini akan mengira jika dirinya dan Raka sengaja bertemu atau memanfaatkan kesempatan.
Bahkan saat mereka sudah berada didalam mobil, kekhawatiran Lifi akan kemarahan Byan padanya semakin bertambah. Terlihat tangannya sampai meremas ujung hijabnya demi untuk mengurangi rasa takutnya.
"Kamu kenapa hem, sepertinya ada yang sedang kamu khawatirkan"
Byan sengaja menanyakan hal itu karena sejak tadi istrinya ini terlihat seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Mas...maaf, aku sama Kak Raka tadi hanya tidak sengaja bertemu. Aku takut kamu akan marah sama aku kayak kamarin" Dengan suara sedikit gemetar Lifi berusaha menjelaskan rasa kekhawatirannya pada suaminya itu.
Namun bukannya marah, Byan justru mengusap sayang kepala Lifi.
"Mas yang minta maaf, karena bikin kesayangan mas sampek harus nunggu lama."
Lifipun akhirnya merasa lega karena ternyata kekhawatirannya ini tidak benar-benar terjadi.
"Em....kalau boleh tau, sebenarnya ada masalah apa di cafe tadi. Kok sampai mas gak masuk kuliah dijam kedua" Tanya Lifi yang sejak tadi merasa sangat penasaran.
"Itu ada masalah di pengiriman stok bahan untuk kebutuhan cafe yang sepertinya tertukar dengan bahan milik salah satu restoran. Tapi semuanya sudah beres, karena kebetulan pemilik restoran itu adalah teman mas dulu waktu SMA. Dan yang bikin mas jadi tambah lama, tadi ban mobil mas kena paku, jadi masih nunggu Alvian dulu buat ganti ban mobilnya" jelas Byan pada istrinya.
"Syukurlah kalau begitu, Kirain ada masalah apa" Jawab Lifi merasa lega hingga reflek ia mengusap dadanya sendiri.
Melihat kekhawatiran Lifi atas dirinya membuat Byan merasa senang dan muncul ide untuk meledek istrinya.
"Cie....cie...sepertinya ada yang mulai khawatir sama keadaan suaminya ini"
"Apaan sih, gak jelas banget" Lifi nampak kesal karena suaminya ini malah meledeknya.
Tak ingin membuat istrinya bertambah kesal Byanpun akhirnya memilih menjalankan mobilnya untuk segera pulang.
"Sayang....kamu gak mau mampir dulu buat beli apa gitu?" Byan sengaja menanyakan itu saat sedang melewati pusat perbelanjaan.
Semenjak mereka menikah, istrinya ini tidak pernah meminta apapun darinya. Bahkan kartu ATM yang dia berikan padanya, sekalipun belum pernah digunakannya.
"Gak ada mas, emangnya mas mau beli sesuatu?" Lifi justru malah bertanya balik. Tentu hal ini membuat Byan jadi gemes sendiri.
"Kebisaan deh, kalau ditanya suka nanya balik" Ucap Byan sambil mencubit hidung mancung istrinya.
"Eh mas....itu ada banyak pedagang makanan, kita mampir yuk" Lifi mengatakan itu manakala mereka sedang melewati jalanan yang dipenuhi gerobak pedagang penjual makanan.
Byanpun menepikan mobilnya dan melajukannya dengan sangat pelan sekali. Iapun mengamati jenis makanan apa saja yang ada disana.
"Kamu yakin mau makan disini" tanya Byan memastikan. Dan Lifipun menjawabnya dengan mengangguk cepat.
__ADS_1
Setelah itu, istrinya ini langsung turun begitu saja dan langsung memilih-milih makanan yang akan dia beli.
Hingga akhirnya pilihannya jatuh pada penjual nasi ayam geprek.
"Mas sini...." Lifi memanggil Byan yang sejak tadi hanya berdiri di samping pintu mobilnya .
"Mas aku mau pesen ini. Apa mas juga mau?" Lifi menawarkan pada suaminya setelah suaminya ini berada tepat dihadapannya.
"Boleh, mas ikut kamu saja" Byan berucap sambil mengacak-acak hijab istrinya.
"Pak, nasi gepreknya dua porsi. Satunya jangan terlalu pedas, satunya lagi padas banget ya."
Merekapun kemudian duduk lesehan ditrotoar yang sudah diberi alas. Menunggu pesanan mereka datang sambil sesekali berbincang-bincang ringan.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang dan mereka mulai menyantapnya.
"Sayang....kamu kok sampek berkeringat kayak gitu sih makannya. Emang pedes banget ya"
Sejak tadi Byan tak terlalu menikmati makanannya, karena ia sendiri terlalu fokus memperhatikan istrinya yang terlihat begitu berkeringat. Mungkin karena menahan rasa pedas.
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, tangan Byan langsung mengambil sedikit nasi dan ayam yang ada dipiring istrinya.
Dan begitu sudah masuk ke dalam mulutnya, Byan langsung mengambil sebotol air mineral yang ada dihadapannya dan meminumnya hingga sampai separuh.
"Sayang, kamu taruh makanan kamu itu. Mending kamu makan punya mas aja. Ini pedes banget. Mas gak mau kamu sampek sakit perut" Byan mengatakan itu sambil mengambil alih piring yang ada dihadapan Lifi dan menggantinya dengan piring miliknya.
"Udah tanggung mas, lagian itu tinggal dikit doang. Kan mubadzir kalau gak dihabisin" Lifi nampak tak terima.
"Nurut sama mas, ini tuh pedes banget. Wajah kamu aja sampek merah kayak gitu. Yang ada kamu nanti bisa sakit perut" Ucap Byan sambil tangannya menahan piring yang berisi makanan milik istrinya.
Lifi yang merasa kesal hanya bisa memanyunkan bibirnya tanpa bisa melakukan apapun.
"Udah itu bibir gak usah manyun-manyun kayak gitu. Jadi pengen mas gigit aja ini."
"Dasar omes" kesal Lifi karena ucapan suaminya barusan
Byan hanya menanggapinya dengan tersenyum. Bagi Byan ada perasaan puas saat bisa menggoda istrinya ini.
Iapun kemudian berdiri dari tempatnya dan mengikuti istrinya dari belakang. Tak lupa sebelumnya dia membayar makanannya terlebih dahulu.
"Sayang ini langsung pulang atau masih mau mampir lagi" Byan menanyakan itu saat mereka sudah berada dimobil.
"Pulang aja mas"
__ADS_1
Dan setelah itu Byan mulai mengemudikan kendaraannya,
hingga tanpa terasa saat ini mereka sudah sampai dirumah.
"Kalian sudah pulang" terdengar suara bu Kinan menyapa keduanya.
Lifipun langsung menghampiri mertuanya dan menyalaminya dengan takdzim, lalu diikuti Byan dibelakangnya.
Setelah itu keduanya langsung bergegas menuju kekamar untuk bersih-bersih diri.
"Mas ini aku dulu atau kamu yang mau kekamar mandi?" tanya Lifi pada suaminya
"Kamu duluan aja"
Byan mengatakan itu tanpa menoleh pada dirinya. Memang sejak masuk kamar tadi Byan tiba-tiba terlihat langsung murung. Entah apa yang sedang dipikirkannya Lifi sendiri tidak memahaminya.
Setelah Lifi keluar dari kamar mandi, ia masih mendapati suaminya ini dalam posisi yang sama. Duduk mematung ditempatnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Karena saat ini tatapannya kosong ke depan.
"Mas, kamu mandi dulu gih. Aku udah selesai ini" Lifi mengatakan itu sambil memberikan handuk bersih pada suaminya.
Namun bukannya beranjak, Byan malah menarik dirinya ini agar duduk tepat disampingnya. Iapun kemudian menggenggam erar tangan istrinya.
"Mas boleh nanya gak?" Byan mulai mengeluarkan suara
"Boleh, emangnya mas mau nanya apa?" Jawab Lifi lembut
"Apa hari ini kamu sudah bisa mencintai mas?"
Lifi sedikit kaget, pasalnya tidak ada hujan tidak ada angin, suaminya ini tiba-tiba bertanya masalah perasaan.
"Mas kamu sebenarnya kenapa sih, sumpah aku gak ngerti maksud kamu tiba-tiba nanya kayak gitu setiap ke aku" Lifi nampak masih sangat penasaran
"Aku takut suatu hari nanti kamu bakalan ninggalin aku hanya karena kamu belum bisa cinta sama aku. Sedang diluar sana ada orang yang mungkin dulu sudah pernah mengisi hari-hari kamu jauh sebelum aku, dan siap menerima kamu kapanpun kamu datang padanya" Byan mengatakan segala isi hatinya itu sambil menundukkan kepalanya.
"Mas....."
Belum selesai Lifi bicara Byan sudah memotongnya terlebih dulu.
"Mas gak pa pa. Karena sekuat apapun rasa takut itu hinggap dalam diri mas, mas harus belajar untuk melawannya. Karena mas tau cinta itu tidak bisa dipaksakan. Sekalipun saat ini mas sudah mengikatmu dengan pernikahan, namun urusan hati, mas gak bisa memaksakannya. Maaf sudah membuat kamu terjebak dalam pernikahan ini. Meskipun ini murni karena perjodohan, tapi tetap saja mas merasa bersalah sama kamu karena secara tidak langsung sudah memaksamu untuk bertahan" Byan mengatakan itu panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar itu semua, jelas membuat Lifi langsung menangis seketika. Ia tidak menyangka jika dibalik sikap Byan yang terlihat baik-baik saja selama ini, ternyata didalamnya menyimpan sejuta kegelisahan yang bahkan dirinya saja tidak mampu memahaminya.
Lifipun langsung berhambur memeluk tubuh suaminya ini erat-erat. Ia merasa sangat menyesal karena sudah mengabaikan perasaan suaminya, meskipun pada kenyataannya dia sudah berusaha sekuat mungkin agar bisa jatuh cinta pada suaminya ini.
__ADS_1