
Sesampainya dikamar setelah makan malam tadi, Lifi masih nampak cemberut dan menunjukkan wajah kesalnya pada Byan.
Bagaimana tidak, ini bukan kali pertama Byan melakukan hal yang menurut Lifi memalukan seperti tadi.
Lifi tidak habis pikir, ternyata suaminya ini mempunyai tingkat kemesuman yang lumayan parah.
" Ini wajah kenapa cemberut kayak gini sih,mana ini bibir pakek dimanyun-manyunin segala lagi" Byan mengatakan itu sambil mencubit bibir Lifi.
"Udah gak usah manyun kayak gitu. Bikin pengen gigit aja bawaannya"
Belum hilang rasa kesal Lifi, sifat mesum suaminya ini sudah mulai lagi.
Malas jika harus meladeni sikap suaminya, Lifipun memilih segera merebahkan diri dengan posisi membelakangi suaminya. Tak lupa dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Lho yang, kok udah mau tidur aja sih. Ini masih jam berapa?" Byan berucap sambil menarik selimut yang menutupi wajah istrinya.
"Emang mau ngapain kalau gak tidur, mau ngeronda malam" Lifi mengatakan itu dengan nada sedikit ketus.
"Emang kamu mau mas ajakin ngeronda" Byan berucap sambil menyeringai licik.
Lifi yang baru menyadari jika apa yang dikatakannya barusan justru bisa mengundang suaminya ini berfikir mesum.
"Mampus gue. ini mulut kenapa pakek ngeluarin kata ngeronda segala lagi" Lifi berguman dalam hati.
"Kok diam, mau gak mas ajakin ngeronda. kalau mas sih mau-mau aja. Sampek subuh juga mas betah"
Benar dugaan Lifi, suaminya ini langsung konekq kalau soal menghubungkan sesuatu pada gue unsur-unsur permesuman.
"Ngomong apaan sih, gak jelas banget" Lifi sengaja pura-pura tidak faham
"Bagian mana sih yang gak jelas sayang. Mas tau kamu sebenarnya faham, cuman kamunya malu-malu meong aja" Byan sengaja meledek istrinya
"Emang aku kucing pakek ngatain aku malu-malu meong"
"Emang iya, habisnya kamu lucu dan bikin gemes kayak kucing. Makanya mas pengen banget ngurung kamu seharian" Byan semakin gencar meledek istrinya.
"Terserah deh...." jawab Lifi cuek.
Dan parahnya, lagi-lagi jawabannya barusan mendapat respon yang tak menguntungkan bagi dirinya.
Bagaimana tidak, setelah ia mengatakan terserah Byan benar-benar langsung mengungkung tubuh Lifi. Bahkan Lifipun dibuat kesulitan saat bergerak meski sedikitpun.
"Mas, tolong jangan kayak gini. Gerah ini akunya" Lifi sedikit berbohong agar suaminya ini mau sedikit memberinya ruang gerak
__ADS_1
"Masak gerah sih yang, padahal AC nya udah mas nyalain lho" Ucap Byan seperti tak mau menerima alasan apapun dari Lifi.
"Bukan masalah gerah itu mas, tolonglah jangan seperti ini" Lifi nampak memohon agar Byan mau melepaskannya.
"Oke, tapi ada syaratnya" Otak cerdasnya sepertinya ia fungsikan dengan baik
"Ck....gak usah syarat-syarat. Ujung-ujungnya gak enak di aku ini pastinya" Lifi nampak berdecak kesal bahkan menggerutu.
"Yasudah mas bikin yang sama-sama enak gimana?" Byan nampak memberikan penawaran
"Gak mau, pokoknya awas ah....aku mau tidur" Sekuat mungkin Lifi mendorong tubuh Byan dari atas tubuhnya.
Karen posisi Byan yang tidak siap, sehingga membuat Lifi dengan mudahnya menjatuhkan tubuh Byan.
Byan sendiri karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya akhirnya jatuh ke lantai.
Sontak Lifipun kaget karena mendengar suara orang yang sepertinya sedang kesakitan.
"Aaaakkkhhhhh......."
"Ya ampun mas, kamu ngapain di bawah?" Lifi nampak belum sadar jika itu adalah hasil dari ulahnya.
"Ck....kamu kok tega sih dorong mas sampek jatuh gini" Byan sepertinya kesal pada istrinya ini
"Tau ah...." Byan nampak cuek.
Dan setelah itu Byan bangkit dan kembali naik ke atas ranjang. Namun posisi Byan kali ini langsung membelakangi tubuh istrinya.
Ingin rasanya Lifi tertawa dengan sikap suaminya saat ini yang terlihat seperti anak kecil. Namun sebisa mungkin ia menahannya karena merasa tak enak hati. Mengingat suaminya ini jatuh karena ulah dirinya.
"Mas...maaf, tadi aku gak sengaja dorong kamu sampek jatuh" Lifi berucap sambil mengguncang tubuh Byan dari belakang.
Berkali-kali Lifi meminta maaf, namun Byan masih nampak tak bergeming sedikitpun. Akhirnya Lifipun beranjak mengambil bantal dan hendak tidur di sofa.
Belum sempat Lifi turun dari ranjang, Byan sudah menariknya terlebih dahulu.
"Mau kemana hem....?" tanya Byan pada istrinya
"Awas ah, aku mau tidur disofa aja. Males tidur sama suami ngambekkan" kali ini justru Lifi yang terlihat kesal.
"Udah gak usah aneh-aneh. Ayo tidur, ini sudah malam"
Byanpun menarik Lifi agar tertidur, kemudian mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
" Suami ngambek bukannya di rayu, disayang-disayang, dikasih kiss-kiss gitu atau apalah, ini malah mau ditinggal tidur sendirian" Byan nampak mengomeli istrinya
"Suruh siapa ngambekkan. Aku tadi minta maaf sama sekali gak di gubris" Lifi tak mau kalah.
"Mas kan kepengen ngetes seberapa besar usaha kamu buat dapetin maaf dari mas" Byan mengucapkan alasan dibalik dirinya yang tak langsung memberi maaf pada Lifi.
"Tadi aja mas ngarep kamu bakalan inisiatif meluk mas dari belakang, menanyakan bagian tubuh mana yang sakit, bahkan mas ngarepnya kamu mau menarwarkan diri untuk memijat punggung mas. Eh....taunya malah ambyar semua" Byan yang awalnya berucap sampai bersungut-sungut, tapi diakhir ucapannya malah tersengar sesikit sendu. Lifi yang mendengarnyapun merasa tak enak hati.
"Yasudah maaf mas....sini Aku pijetin punggungnya sekarang" Lifi berucap sambil kemudian menghadapkan tubuhnya tepat di wajah Byan.
Byan yang melihat wajah istrinya hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, sejenak terpaku memandangnya. Sungguh istrinya ini memang terlihat sangat cantik sekali.
Merasa dirinya yang terus dipandangi oleh Byan, membuat Lifi hendak menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
Namun sayangnya secepat kilat Byan menahannya, hingga Lifi tak sampai melakukannya.
"Udah gini aja, mas jadi bisa lihat wajah kamu dari dekat"
Saking dekatnya, Lifipun sampai bisa merasakan hembusan nafas suaminya.
"Mas boleh gak nyicipi ini" Byan mengatakan itu sambil menunjuk bi-birnya
Lifi terlihat hanya diam saja tanpa menjawab sepatah katapun. Dan Byan menganggap diamnya Lifi ini sebagai bentuk persetujuan dari siempunya.
Byanpun langsung kembali mendekatkan wajahnya dan langsung meraup bi-bir istrinya dengan begitu lembut karena ia ingin istrinya ini merasa nyaman.
Setelah keduanya hampir kehabisan nafas, Byan baru menghentikan aksinya dan beralih pada leher jenjangnya dengan memberikan beberapa stempel kepemilikan.
Dirasa cukup Byanpun menghujani wajah lifi dengan ciuman yang bertubi-tubi.
"Terima kasih, karena sudah mengizinkan mas melakukan ini. Mas gak akan melewati batas meskipun sebenarnya mas menginginkan lebih untuk malam ini."
Byan mengatakan itu sambil membawa Lifi kedalam dekapannya.
Lagi-lagi perasaan bersalah itu hinggap dihati Lifi. Sungguh dirinya merasa sangat berdosa karena tak kunjung membiarkan suaminya mengambil haknya.
Dan yang paling membuat Lifi merasa bersalah adalah karena suaminya ini betul-betul tidak memaksakan kehendaknya meskipun ia tau kalau itu sudah menjadi haknya dan menjadi kewajiban bagi istri untuk memberikannya.
"Mas...maaf" hanya kata itu yang lagi-lagi bisa Lifi ucapkan.
"Udah mas gak pa pa kok, mas usahakan sabar buat nunggu. Tinggal seminggu lagi kan?" Ucap Byan sambil membelai sayang kepala istrinya. Lifipun menjawabnya hanya dengan senyuman.
"Yasudah kita istrirahat yuk, besok kita ada kuliah"
__ADS_1
Setalah mengatakan itu Byan kembali mendekap tubuh istrinya. Lifi sendiri tak menolaknya, karena entah kenapa malam ini ia merasa sangat nyaman berada didalam dekapan suaminya. hingga tanpa terasa dirinya sudah tertidur pulas dan disusul suaminya kemudian.