Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Aku dan Kamu Jadi Kita


__ADS_3

Pagi hari di rumah Byan,semua nampak berkumpul di meja makan.


"Hari ini kamu ada kuliah?" papanya membuka membuka obrolan "Ada pa,cuman satu mata kuliah saja."Jawab Byan "Oh iya mah, nanti temen-temen Byan mau belajar di rumah. kebetulan ada tugas kelompok. Boleh gak mah? "Byan meminta izin pada mamanya.


"Boleh dong sayang, nanti mama nyuruh bik Darsi supaya masak buat temen-temen kamu"


Setelah menyelesaikan sarapannya, Byan sebenarnya ingin langsung kekamarnya. Namun dicegah oleh papanya yang tiba-tiba ingin mengajak Byan bicara serius.


"Byan, kamu masih ingat kan rencana papa perihal perjodohan kamu dengan anak teman papa? papanya bertanya sembari manatap intens pada wajah Byan.


" Emang papa udah ketemu sama temen papa?" tanya Byan pada papanya. "Sudah, nanti sore papa rencananya akan ke sana, dan menurut informasi dari Danu, temen papa ternyata punya anak perempuan dan belum menikah, dia baru masuk bangku kuliah, sama seperti kamu." terang papanya.


"Tapi pah, bisa saja dia sudah punya calon sendiri, atau mungkin......." belum sempat selesai Byan bicara, papanya sudah memotongnya.


"Kita lihat saja nanti, ingat Byan dalam hal ini papa tidak mau dibantah. Papa mohon sama kamu, untuk urusan ini tolong menurutlah." tegas papanya.


Mendengar itu, Byan hanya tertunduk pasrah. selama ini orang tuanya tidak pernah menuntut apapun darinya, namun sekali meminta, itu adalah hal yang teramat berat bagi Byan.


Ia kemudian memilih untuk beranjak.


"Mah, pah, Byan berangkat dulu" pamit Byan pada kedua orang tuanya.


"Lo....kamu kuliahnya kan masih jam 9, kenapa sudah mau brangkat." bu Kinan, mamanya nampak keheranan. Pasalnya ini masih jam 07.00 tapi putranya sudah mau berangkat saja.


"Ia mah, Byan sekalian mampir ke caffe. Udah tiga hari Byan gak kesana".


Byan sebenarnya memiliki usaha sendiri. Ia membuka usaha Caffe yang saat ini mulai ramai. Usaha itu dia buka saat lulus SMA. Dengan modal tabungan yang miliki, sedang gedung tempat caffenya ia dapat dari kakeknya sewaktu masih hidup sebagai hadiah kelulusannya. Kakeknya sangat menyayanginya, karena Byan merupakan cucu laki-laki satu-satunya. Dan karena usaha caffe Itulah Byan harus menunda kuliahnya. Alasannya tentu karena ia ingin fokus dulu mengembangkan Caffenya. Baru setahun berikutnya ia melanjutkan pendidikannya.


Melihat putranya pergi dengan wajah murung, bu Kinan menghembuskan nafas kasar. Ia tidak tega melihat putranya bersedih. Namun untuk menolak keinginan suaminya ia tidak bisa. Suaminya selalu beralasan ini adalah sebuah janji, dan itu harus di tepati. Apalagi yang memiliki inisiatif tentang perjanjian itu adalah suaminya sendiri. Tentu itu yang membuat suaminya bersikeras mewujudkan perjanjian itu.


Byan benar-benar mengunjungi Caffe. disana dia mengalihkan kegundahannya dengan mengecek kondisi caffenya. Mulai dari melihat stok ketersediaan bahan hingga laporan keungannya.


Setelah satu jam di sana Byan kemudian bergegas menuju kampus. Disana dia langsung bergabung bersama kelima temannya. Setelah jam perkuliahannya selesai mereka kemudian bergegas menuju parkiran.


Sesuai rencana mereka hari ini akan melakukan kerja kelompok di rumah Byan.sebenarnya Lifi enggan untuk ikut, tapi bagaimana lagi, keempat temannya sudah setuju dengan usulan Byan yang menawarkan untuk kerja kelompok dirumahnya.


Setelah menempuh 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Byan. Rumah lantai dua yang cukup megah dengan didominasi cat berwarna putih dan abu-abu tua. Nampak juga halaman rumahnya yang begitu luas dengan dipenuhi beberapa tanaman yang menjadikan rumah itu nampak asri.


"Wah....ternyata lo sultan juga bro" ucap Alan sambil menatap takjub pada rumah Byan.


"Yang sultan bapak gue, gue cuman numpang disini." ucap Byan sekenanya. "bisa aja lo" Alan memukul pundak Byan karena gemas dengan ucapan Byan.

__ADS_1


mereka semua akhirnya masuk setelah dipersilahkan oleh si empunya. Namun nampak Lifi terlihat ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya. Hingga Byanpun menghamipirinya


" Ayo masuk, gak usah malu-malu. Entar ni rumah juga bakal jadi rumah lo."Byan berbicara sambil memegang dan sedikit menarik pergelangan tangan Lifi agar segera masuk.


Lifi yang kaget karena tangannya tiba-tiba dipegang, langsung reflek melepaskan pegangan tangan Byan.


"Lo apaan sih pegang-pegang segala" kesal Lifi karena Byan kembali menarik tangannya.


"habisnya lo dari tadi kayak berat gitu mau masuk kedalam" ucap Byan tak mau kalah.


Disinilah mereka sekarang, berada di ruang tengah rumah Byan. Tak lama kemudian datanglah bik Darsi dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil untuk disuguhkan pada mereka. "Silahkan diminum dan dinikmati cemilannya" Bik Darsih mempersilahkan dengan tersenyum ramah.


Merekapun mulai mengerjakan tugasnya. Nampak Byan yang terlihat selalu mencuri pandang ke arah Lifi. Memperhatikan Lifi yang sedang menjelaskan isi dari tugas merek dengan begitu detailnya.


"Makin kesini gue makin suka sama lo Lif" Byan berbicara lirih namun ucapannya masih bisa didengar oleh Alan dan Airin yang kebetulan duduk disebelahnya. Merekapun saling memandang dengan eskpresi Alan menautkan kedua alisnya dan Airin membalas dengan mengedikkan bahunya.


"Woi.....fokus sama tugas. Dari tadi kok malah fokus liatin Lifi mulu. Awas, bisa katarak tu mata" ucap Alan sambil menepuk bahu Byan hingga membuat si empunya reflek menggaruk tengkuknya sambil tersenyum garing. Dan tak lama kemudian terdengarlah suara wanita dari ruang tamu.


"Assalamualaikum....." itu adalah suara Bu Kinan, mamanya Byan yang daru datang. "Waalaikum Salam" jawab mereka serempak. "Wah ternyata kalian sudah datang". Dengan ramah bu Kinan menyapa dan Byanpun memperkenalkan mereka satu persatu. "Mah kenalin, ini Chaca, Putri, yang Ini Alan, ini Airin dan yang ini......."Byan sengaja menggantung ucapannya saat menunjuk ke arah Lifi.


"Namanya Lifi, calon mantunya Mama" Byan berbicara dengan berbisik ke telinga mamanya. Namun tentu saja ucapan Byan itu didengar oleh kelima orang disana lantaran meskipun berbisik namun Byan mengatakannya dengan sedikit keras. Dan seketika


Blush.......wajah Lifi langsung memerah. Udah persis seperti buah tomat yang sedang matang. Perasaan kesal dan malu bercampur aduk jadi satu. Pasalnya bisa-bisanya Byan berkata seperti itu pada mamanya.


"aduh...duh...sakit mah" ucap Byan sambil memegangi telingnya


" makanya gak usah jahil, kebiasaan banget nih anak. Gak ada Naila malah temennya yang dijahili" kesal mamanya.


Mereka semua tertawa melihat drama antara Byan dan mamanya. Hanya Lifi yang terlihat masih kesal pada Byan.


Tanpa terasa tugas yang mereka kerjakan akhirnya rampung juga. Mama Byan mengajak mereka semua untuk ke ruang makan. Disana mereka sudah dihadapkan dengan banyaknya hidangan yang cukup menggugah selera.


"Wah....ini jadinya kita malah ngerepotin tante" tutur Airin kemudian di ikuti oleh yang lainnya.


"Gak repot sama sekali kok. Malah tante senang kalian semua mau main ke sini."


Ucap mama Byan dengan ramahnya.


Merekapun kemudian makan dengan diselingi candaan dan setelahnya mereka kembali ke ruang dimana mereka belajar kelompok tadi.


Lifi menatap pada jam yang ada dipergelangan tangannya. Disitu menunjukkan pukul 13.00, sudah masuk waktu sholat duhur. Dengan sedikit ragu Lifi beranjak untuk menghampiri mamanya Byan, karena mau bicara pada Byan, dia nya sedang ke kamarnya mengambil charger laptopnya. Hingga dengan terpaksa ia menghampiri mamanya Byan dengan maksud meminta izin untuk menumpang sholat.

__ADS_1


"permisi tante, apa boleh saya menumpang sholat duhur disini?" tanya Lifi ragu-ragu.


"tentu boleh dong sayang, ayo tante antar ke belakang" ucap bu kinan seraya menuntun Lifi untuk diantar ke belakang.


"Ini kamar mandinya. Kamu bisa wudhu' disini. Habis itu kamu sholat di ruang sebelahnya"


Saat Lifi dikamar mandi, Byan tiba-tiba muncul dari arah belakang mamanya bersamaan dengan mamanya yang hendak berbalik arah. "Astaghfirulloh Byan, kamu ngagetin mama saja" ucap bu Kinan sambil mengusap dadanya.


" Mah...menurut mama dia cantik gak?"


Tanya Byan sambil tangannya menunjuk ke arah kamar mandi.


" dia siapa, mama gak ngerti" bu kinan pura-pura tidak faham dengan maksud pertanyaan Byan.


" Ck....itu mah Lifi maksud Byan, gimana cantik gak?tanya Byan lagi


"Cantik kok, pakek banget malah."jawab bu kinan mantap


"itu dia yang Byan maksud kalo Byan sudah ada calon sendiri" Ucap.Byan percaya diri.


"Emang dia mau sama kamu, mama perhatiin dari tadi sepertinya dia cuek sama anak mama ini. Malah kamunya yang cari perhatian terus sama Lifi" bu Kinan meledek putranya


" namanya juga usaha mah, makanya doain Byan dong." Byan tak mau kalah.


"Gak usah macem-macem, kamu udah dijodohin emang kamu mau dimarahi papamu" bu Kinan mengingatkan


"itu kan maunya papa, bukan maunya Byan. Lagian mana aja perjodohan yang calon mempelai wanitnya gak jelas" ucap Byan sambil beranjak dari dapur meninggalkan mamanya.


Iapun kemudian menghampiri Lifi yang nampak sudah merampungkan sholatnya.dia sengaja menghalangi langkah Lifi yang hendak keluar .


"Ni anak apa apaan sih, minggir gak" ucap Lifi kesal. "kamu udah ya sholatnya?" tanya Byan


"udah, awas ah minggir" Lifi mencoba menerobos Byan yang masih berdiri tepat di hadapannya.


"Yah telat dong, padahal mau nitip sesuatu" ekspresinya dibuat semelas mungkin oleh Byan.


"Gue gak lagi ke pasar. Lagian mana ada orang sholat di titipin segala" kesal Lifi.


"Ada lah Lif, gue itu mau nitip doa sama lo, lo doain semoga Aku dan Kamu bisa jadi Kita" Byan mengatakan itu sambil sedikit berbisik ke telinga Lifi.


Lifipun kembali harus menahan kesal dan malu karena ulah Byan barusan. pasalnya saat ini mamanya Byan sedang ada didapur memperhatikan tingkah mereka berdua. Ia khawatir bu Kinan berfikir yang macam-macam.

__ADS_1


Kini mereka memohon pamit undur diri, setelah mereka tadi bergantian sholat. Bu kinan pun ikut mengantar kepulangan mereka sampai halaman depan.


__ADS_2