
Lifi mendorong tubuh Byan saat dia hendak menindihnya lagi.
"Mas cukup, sumpah badan aku rasanya remuk sekali. Heran deh, dari kemarin gak ada capek-capeknya" kesal Lifi pada suaminya.
Pasalnya pagi ini Byan sudah melakukannya dua kali, tapi dirinya sama sekali tidak terlihat capek sedikitpun.
Sementara Lifi, jangan tanya lagi. tubuhnya terasa remuk semua. Bahkan untuk berjalan ke kamar mandi saja rasanya sudah tidak sanggup.
Byan hanya tersenyum menanggapi omelan istrinya tanpa menjawab sepatah katapun.
"Mas, kok malah senyum-senyum aja sih. Aku marah ini" Lagi Lifi nampak kesal pada suaminya
Byanpum semakin tersenyum, karena baru kali dia menemukan orang mengatakan kalau dirinya sedang marah.
"Udah gak usah ngomel-ngomel lagi, katanya capek. Sini rebahan aja sambil mas pijitin" Byan mengatakan itu sambil tangannya menarik Lifi yang sedang duduk bersandar pada headboard ranjang.
"Gak mau, yang ada entar bukannya dipijitin malah akunya digrepe-***** sama kamu"
"Gak bakalan, percaya deh sama mas" Byan kembali berusaha manarik lengan istrinya.
"Mana bisa percaya gitu aja, secara kamu kan tukang modus" Lifi mengatakan itu sambil mencoba melepaskan tangan suaminya yang terlihat sedang berusaha menarik lengannya.
Saat tengah asik berdebat, tiba-tiba terdengar ada yang sedang mengetuk pintu kamar mereka sambil memanggil-manggil keduanya.
"Mas, kayak itu suara mama deh, gimana ini" Lifi terlihat panik.
Bagaimana tidak, saat ini baik dirinya maupun Byan masih sama-sama belum mengenakan pakaian sama sekali. Bahkan parahnya lagi, pakaian mereka terlihat berserakan dimana-mana. Hal itu karena Byan yang tadi main asal lempar saja baju-bajunya.
Byanpun langsung bergegas mengambil celananya tanpa menghiraukan istrinya yang nampak ngomel-ngomel karena melihat dirinya beranjak dengan posisi polos tanpa sehelai benangpun.
"Mas kamu mau kemana?" Tanya Lifi saat melihat suaminya nampak sudah memakai celananya dan seperti hendak melangkah kearah pintu.
"Mau bukain mama pintu" Jawab Byan dengan entengnya
"Mas, tapi aku bel...."
Pintu kamarpun terbuka saat Lifi belum sempat menyelesaikan bicaranya. Iapun secepat kilat langsung merebahkan tubuhnya dan berpura-pura seolah sedang tertidur pulas.
"Mah, ada apa" tanya Byan yang saat itu hanya mengenakan celan pendek saja.
Dan siapapun yang melihat itu pasti akan langsung menyangka kalau mereka habis olah raga ranjang.
"Astaga Byan, mama pikir kamu sama Lifi sudah berangkat kuliah. Gak taunya lagi sibuk bikinin mama cucu." ucap bu Kinan sambil menatap heran pada putranya.
Dan setelah itu tatapan mamanya beralih pada kondisi tempat tidur yang terlihat berantakan. Ditambah lagi dengan penampakan baju yang berserakan dimana-mana.
"Mah, jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Lifi lagi ketiduran kayaknya" Byan sengaja mengatakan itu karena dia tau kalau istrinya sedang pura-pura tidur.
__ADS_1
Byan faham betul pasti istrinya ini malu jika harus berhadapan dengan mertuanya dalam keadaan yang seperti ini.
"Gimana gak tidur, itu anak tadi pagi aja keliatan banget kalau semalam habis kamu gempur. Lah sekarang udah kamu garap lagi. Bener-bener kamu ya. Awas aja mantu mama sampek sakit, mama pastiin akan ngukum kamu" bu Kinan terdengar sedang memarahi anaknya sendiri. Bahkan sampai memberikan ancaman pada Byan.
"Mah...namanya juga penganten baru. Masih anget-angetnya" Byan nampak membela diri.
"Terserah, tapi awas aja kalau sampai mantu mama sakit" Bu Kinan nampak tak mau dibantah
"Mama ini gimana sih, katanya pengen cepet dapat cucu. Ini Byan lagi usahain malah kena semprot." Lagi Byan berusaha membela diri.
"Astaga....mama hampir lupa, mama ke sini buat nganterin ponselnya Lifi. Tadi ketinggalan dimeja makan. Dari tadi bunyi terus soalnya"
Setelah memberikan itu bu Kinan langsung beranjak dari kamar anak dan mantunya. Terlihat bu Kinan tersenyum bahagia. Ia merasa lega karena akhirnya hubungan Byan dan Lifi bisa sampai ke tahap ini.
Bu Kinan awalnya sempat berfikir jika akan sulit bagi Byan untuk meluluhkan hati istrinya. Namun ternyata dugaannya salah, karena ternyata tak sampai sebulan mereka sudah melewati tahapan menjadi suami istri yang seutuhnya.
Saat ini dirinya hanya berharap agar segera diberikan momongan untuk lebih memperkuat hubungan keduanya.
Setelah bu Kinan benar-benar beranjak dari kamarnya, Byan menghampiri Lifi. Ia tadi tau betul jika istrinya sempat berpura-pura sedang tidur.
"Sayang....mandi bareng yuk. Mama udah balik tuh" ucap Byan pada istrinya.
Namun beberapa kali mengatakan itu tak sekalipun lifi meresponnya. Byanpun mencoba membuka selimut Lifi dan ternyata istrinya ini benar-benar ketiduran.
"Capek banget ya, sampek ketiduran gini" Byan membelai sayang kening istrinya yang terlihat masih berkeringat.
Bersamaan dengan itu ponsel Lifi berdering. Ada panggilan vidio call dari Airin.
Tanpa menunggu lama, Byan menerima panggilan itu. Namun tak lupa sebelumnya Byan menutup tubuhnya dengan selimut dan hanya menyisahkan kepalanya saja.
[Ya Ampun....kalian habis ngapain jam segini masih stay diranjang]
Terdengar suara Airin sedikit berteriak dari seberang sana
[Lifi mana, jangan bilang kalian habis ngadon pagi-pagi]
Terdengar Lifi sedang mencoba menerka apa yang sudah dilakukan oleh keduanya
[Menurut lho]
Ucap Byan sambil kemudian mengarahkan kameranya pada wajah Lifi yang terlihat sedang tertidur pulas.
[Kalian gak kuliah apa, ini jam pertama udah lewat malah situ enak-enakan ngadon. Mana gak ngasih kabar lagi]
Kesal Airin pada mereka. Pasalnya Airin dari tadi sempat khawatir, takut-takut kalau terjadi apa-apa karena keduanya sama-sama tidak memberi kabar kalau hari ini tidak bisa masuk.
[Sorry.....habis keenakan sih, sampek lupa mau ngasih kabarnya]
__ADS_1
Dengan entengnya Byan mengatakan itu pada Airin karena memang sengaja agar dia makin kesal saja
[Ya udah gue matiin aja telfonnya, omongan lho tambah rusuh aja. Gue tunggu dikampus. Gak lupa kan kalau entar jam satu ada mata kuliah kedua]
Setelah mengatakan itu Airin langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu lagi jawaban dari Byan.
Setelah menerima telfon, Byan sendiri langsung bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dan membiarkan istrinya ini beristirahat.
Namun hingga dia menyelesaikan ritual mandinya, Lifi masih belum memperihatkan tanda-tanda kalau dirinya akan bangun.
Dengan terpaksa Byanpun membangunkan istrinya itu karena mereka harus ke kampus.
Byan tidak ingin istrinya marah kalau sampai tidak masuk kuliah. Apalagi jam pertama mereka sudah melewatkannya tanpa istrinya sadar sampai saat ini.
"Sayang....bangun yuk, kita kan hari ini mesti ke kampus" dengan lembut Byan membangunkan istrinya sambil mengusap-usap keningnya.
Lifi sendiri langsung mengerjapkan matanya begitu ia merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya.
"Mas...ini jam berapa memangnya" Ucap Lifi yang masih belum sepenuhnya sadar.
"Jam sebelas"
"Apa mas....jam sebelas" Lifi sontak merasa kaget begitu ia mendengar kalau ini sudah jam sebelas.
"Mas kita kan harusnya ada kelas jam sembilan tadi. Terus gimana ini" Lifi terlihat begitu panik.
Iapun hendak beranjak dari tempat tidurnya untuk kekamar mandi. Namun baru saja hendak turun dari ranjang, dia baru ingat kalau dirinya masih dalam keadaan polos.
"Ya ampun, gini amat rasanya punya suami" terdengar Lifi nampak menggerutu sendiri
"Sayang, kamu mandi dulu gih. Mas udah siapin airnya sama baju gantinya" ucap Byan sambil memberikan satu stel baju pada istrinya untuk dia pakai.
Tanpa bicara lagi Lifipun bergegas kekamar mandi. Ia tidak ingin sampai terlambat ke kampusnya. Bisa-bisa sehari ini dia akan melewatkan kedua mata kuliahnya dengan sia-sia.
Kini baik Byan maupun Lifi sudah sama-sama terlihat rapi. Mereka sudah berada mobil dan hendak berangkat ke kampus.
"Sayang...kenapa mukanya ditekuk gitu sih, gak enak banget dilihatinnya" Byan mengatakan itu karena sejak tadi dia mendapati raut wajah istrinya ini nampak cemberut.
"Tau ah sebel aku sama kamu" Ucap Lifi ketus
"Lho Kok sebel sama mas, emang salah mas apa hem?" Byan nampak mengernyitkan keningnya karena tidak faham dengan maksud perkataan isrrinya.
"Masih aja nanya" Lagi-lagi Lifi berbicara dengan nada ketus
"Yasudah mas minta maaf kalau memang mas salah" Tak ingin membuat istrinya bertambah kesal, Byan memilih jalan aman saja.
"Udah ayo berangkat, entar takutnya telat lagi. Heran deh punya suami bukannya ngasih contoh yang baik malah di ajarin bolos mulu" Lifi masih saja nampak ngoceh-ngoceh sendiri.
__ADS_1
Dan lagi-lagi Byan memilih diam. Karena jika dia menjawab khawatir istrinya ini makin ngoceh-ngoceh terus. Apalagi ini memang murni kesalahannya karena tidak bisa mengontrol diri.