
Beruntung Byan bisa menemukan rumah makan yang menjual menu makanan yang diinginkan istrinya. Jadi dirinya sekarang sudah tidak perlu pusing karena khawatir tidak bisa mengabulkan permintaan istrinya.
Selama Lifi hamil, Byan sebisa mungkin selalu menuruti permintaan istrinya. Karena menurut Byan ini adalah kesempatannya bisa melihat istrinya meminta sesuatu kepadanya meskipun yang dimintanya hanya sekedar makanan saja.
Selama menikah Lifi memang belum pernah meminta apapun darinya. Meski Byan sudah berulang kali bertanya apa keinginannya, namun selalu dijawab dengan gelengan kepala. Bahkan herannya Byan, uang bulanan yang dia tranfer ke rekening istrinya jarang sekali digunakan.
"Sayang...ketupat sayurnya udah mas pesenin. Kita langsung pulang aja ya, khawatir nanti kurirnya udah nyampek lebih dulu dirumah." Ucap Byan tiba-tiba pada Lifi.
"Loh...emangnya mas udah pesen" Heran Lifi
"Mas udah pesenin lewat aplikasi, bentar lagi dikirim kerumah. Jadi sekarang kita balik dulu yuk. Lagi pula kamu butuh istirahat kan"
Lifipun akhirnya mau tidak mau mengikuti ajakan suaminya untuk pulang lebih dulu.
"Gue balik dulu, kasian ini istri gue butuh istirahat" Byan terlihat pamit pada teman-temannya untuk pulang lebih dulu .
Kini keduanya sudah berada didalam mobil. Lifi sendiri sepertinya mulai mengantuk. Maklum bawaan ibu hamil biasanya pengen tidur terus.
"Mas, entar bangunin ya kalau udah mau nyampek rumah." Lifi berucap sambil memejamkan matanya.
Byanpun menaggapinya dengan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Hingga tanpa terasa mobil yang dikendarainya sudah sampai dihalaman rumahnya. Byan sejak tadi sengaja tidak membangunkan Lifi karena merasa tidak tega saat melihat istrinya tertidur begitu pulas. Byan menggendong Lifi dengan sangat hati-hati karena takut istrinya ini akan terbangun.
"Byan istri kamu kenapa" Bu Kinan terlihat sedikit berlari saat dirinya tiba-tiba mendapati Byan masuk rumah dengan menggendong Lifi.
"Gak ada apa-apa mah, dia cuman ketiduran dimobil. Mungkin karena kecapek'an"
Bu Kinanpun terus mengikuti langkah putranya yang terlihat sedang menuju kamarnya untuk menidurkan istrinya.
"Byan...." Bu Kinan terdengar memanggil putranya
"Iya mah"
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya istrimu itu cuti saja kuliahnya. Mama khawatir sekali, takut terjadi terjadi apa-apa." Bu Kinan mencoba memberi saran pada putranya.
"Byan juga pengennya gitu mah. Tapi mau gimana lagi, orang Lifinya gak mau. Alasannya entar saja kalo udah lahiran. Dan lagi kata Lifi HPLnya kan udah seminggu lagi, jadi tanggung kalau mau ambil cuti dulu." Terang Byan pada mamanya.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi kamu musti jagain terus istri kamu."
"Siap mah" Jawab Byan mantap.
Sedang asik berbincang, tiba-tiba terdengar bik Darsih memanggil Byan.
Rupanya pesanan Byan sudah datang. Bertepatan dengan itu, Lifi terlihat sudah bangun.
"Biar mama aja yang ngambil. Nanti mama nyuruh bik Darsih nganterin kesini." Setelah mengatakan itu bu Kinan langsung beranjak dari kamar putranya.
"Sayang......kamu udah bangun. Ayo mas antar kami cuci muka dulu. Habis itu makan, sepertiny ketupat sayurnya udah datang" Byan terlihat duduk disamping istrinya sambil mengusap sayang rambutnya.
"Mas, kok aku udah dikamar aja. Mas tadi gendong aku ya" Tanya Lifi heran, karena tadi dirinya merasa tertidur saat dimobil. Tapi tiba-tiba sekarang dirinya sudah berada di dalam kamar.
"Tadi kamu tidurnya nyenyak banget. Mas jadi gak tega buat ngebangunin. Yasudah ayo mas antar kamu cuci muka dulu" Byan mengulurkan tangannya pada istrinya. Tapi terlihat Lifi menolaknya.
Lifipun kemudian masuk kekamar mandi, dan setelahnya dia langsung kembali rebahan ketempat semula.
"Sayang....kok malah tiduran lagi, ayo ketupat sayurnya dimakan. Katanya tadi kamu pengen ini." Byan mengatakan itu sambil menyodorkan semangkuk ketupat sayur.
Sewaktu Lifi dikamar mandi, bik Darsih datang kekamarnya untuk mengantarkan ketupat sayur pesanannya.
"Ketupat sayurnya buat mas aja. Aku udah gak pengen lagi" dengan entengnya Lifi mengatakan tidak menginginkan makanan itu. Beruntung Byan tadi pas mencarinya tidak terlalu sulit.
"Terus kamu mau makan apa, ini kan udah lewat dari waktu makan siang sayang"
"Aku mau rebahan aja mas, entar kalau lapar biar aku ambil sendiri aja"
"Hem....." Terdengar Byan mendesah berat. Ingin rasanya dia memaksa istrinya ini agar mau makan. Namun disisi lain Byan tidak ingin membuatnya kesal hanya karena memaksanya untuk makan.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu kamu istirahat aja." Byanpun kemudian ikut merebahkan diri disamping istrinya.
"Mas, kok malah rebahan sih. Bukannya sekarang harusnya mas ke cafe" Lifi mengingatkan suaminya. Karena setiap akhir bulan Byan akan pergi kecafenya untuk melihat laporan bulanan.
"Mas nemenin kamu aja. Mas khawatir kalau ninggalin kamu sendirian. Biar laporan bulanan nanti dikirim lewat email saja sama Alvian."
"Mas dirumah kan ada mama, ada bik Darsih juga. Entar kalau aku butuh apa-napa kan bisa panggil mama."
"Yasudah kalau begitu mas tinggal ke cafe sebentar boleh" Byan meminta persetujuan istrinya untuk pergi mengunjungi cafenya. Padahal sudah jelas istrinyalah yang memintanya untuk pergi ke cafe.
Dengan perasaan berat, Byanpun terpaksa pergi mengunjungi cafenya. Sebelum berangkat tak lupa dia menitipkan istrinya pada mamanya terlebih dulu. Meskipun sebenarnya tanpa dititipkan, mamanya pasti akan menjaga istrinya dengan baik. Hanya saja Byan merasa kurang lega jika tidak mengatakannya langsung.
Dua puluh menit kemudian Byanpun sudah sampai dicafenya. Tanpa basa-basi dia langsung meminta laporan bulanan pada Alvian untuk dia periksa. Tujuannya satu, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, dan bisa segera pulang kerumah. Karena saat ini isi pikirannya hanyalah istrinya.
Bagaimana tidak, usia kandungan istrinya saat ini sudah sangat mendekati HPL. Itu sebabnya Byan tidak ingin jauh-jauh dari istrinya. Dia sudah bertekad sebisa mungkin akan menemani istrinya selama persalinan nanti. Lebih tepatnya dia ingin menjadi suami yang benar-benar siaga.
Dan benar saja, setelah satu jam akhirnya dia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah semua berkasnya sudah tertandatangani, Byan langsung memanggil Alvian untuk datang keruangannya.
"Ini laporannya sudah aku tandatangani, laporan cafe yang cabang juga sudah." Byan terlihat menyerahkan dua map berisi laporan bulanan itu pada sahabat yang sekaligus merangkap sebagai asisten pribadiya.
Byanpun kemudian langsung bergegas menuju mobilnya untuk segera pulang. Tak lupa sebelumnya seperti biasa dia menghubungi istrinya, menanyakan keadaannya dan menanyakan barang kali ada sesuatu yang diinginkannya.
"Mas nanti aku minta tolong dibeliin manisan mangga ya" Terdengar suara istrinya dari seberang sana meminta dibelikan sesuatu.
"Siap sayang, nanti mas beliin. Tapi kamunya mesti makan dulu ya"
"Iya iya habis ini aku bakalan makan" Suara Lifi terdengar seperti orang sedang kesal. Byan tau, pasti istrinya seperti ini gara-gara dirinya memintanya untuk makan.
Byan sendiri merasa sangat aneh, karena akhir-akhir ini istrinya mudah sekali tersinggung, mudah ngambek, bahkan mudah sekali merasa kesal. Padahal usia kandungannya sudah sangat besar dan sebentar lagi akan melahirkan.
Namum kendati demikian, Byan sudah menyiapkan stok kesabaran sebanyak mungkin. Setiap kali mood Lifi sedang tidak baik, Byan sebisa mungkin menganggap ini hanyalah hormon selama kehamilan saja.
__ADS_1
Tidak ingin semakin membuat istrinya lebih kesal, Byan memilih untuk menutup panggilannya dengan dalih agar segera sampai ketempat penjual manisan. Karena jika terlalu sore, khawatir manisannya sudah habis.