Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Wejangan Senior


__ADS_3

Sekembalinya Lifi dari kantin, ia sama sekali tak banyak bicara. Bahkan iapun mengambil posisi duduk sedikit jauh dari Byan.


Niatnya bukan karena ia tidak ingin meminta maaf atau karena masih kesal atas sikap suaminya tadi. Menurutnya biar masalahnya ini akan ia selesaikan nanti saat dirumah saja.


Bagi Lifi kampus adalah tempat belajar bukan tempat untuk menyelesaikan urusan rumah tangga. Apalagi di situ ada banyak teman-temannya, rasanya sangat tidak etis untuk membahas hal yang bersifat privasi.


Yang ada entar dirinya malah akan jadi tontonan layaknya difilm chanel ikan terbang. Melihatnya berdebat dengan suami, minta maaf dan kemudian ku menangis......


Lifi merasa geli hanya dengan membayangkannya saja.


Hingga tanpa terasa jam perkuliahan sudah selesai. Lifi langsung mendekat pada suaminya.


"Mas kita langsung pulang atau gimana?"


"Pulang" Byan menjawab singkat tanpa embel-embel apapun.


Lifipun tak ambil pusing dengan sikap Byan kali ini. Karena sekarang Lifi mulai faham, suaminya ini akan irit bicara jika sedang dalam mode cemburu.


Diapun memilih mengekori Byan yang berjalan agak cepat dari biasanya. Sehingga mau tidak mau Lifi juga harus mengimbanginya.


Karena berjalan terlalu cepat Lifi sampai tidak memperhatikan jika tepat di depan sana lantainya basah. Mungkin ada yang tidak sengaja menumpahkan air minuman atau apapun itu.


"Akh......."


Alhasil Lifipun hampir terpeleset. Namun untung saja ada tangan sigap yang menopangnya dari belakang.


Mendengar ada suara teriakan dari arah belakang, sontak membuat Byan menoleh ke sumber dimana suara itu berasal. Namun betapa terkejutnya karena ternyata suara itu adalah suara teriakan istrinya yang hampir terjatuh. Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah, ternyata orang yang menyelematkan istrinya itu adalah Raka.


Secepat mungkin Byan menarik Lifi yang saat itu nampak berdiri tepat disamping Raka.


"Terima kasih sudah menolong istri saya"


Dan setelah itu Byan langsung membawa Lifi pergi tanpa peduli pada Raka yang masih nampak bingung dengan apa yang dikatakan Byan barusan.


Sesampai di mobil Byan langsung menjalankan kendaraannya tanpa bicara sepatah katapun. Hingga Lifipun berinisiatif untuk membuka obrolan


"Mas.....maaf karena sudah bikin mas marah"


Byanpun sontak menoleh kearah Lifi dan sedikit tersenyum tanpa berkata sepatah katapun.


Hingga mobil sampai dirumah, Byan masih saja belum berbicara sepatah katapun.


"Mas....kamu masih marah sama aku?"

__ADS_1


Lifi berusaha membuka obrolan lagi saat mereka sudah berada di dalam kamar mereka.


"Kenapa tadi diam saja saat dia mengambil ponsel kamu hem?"


Pertanyaan itu lolos dari mulut Byan


"Aku bingung mas, kak Raka itu tetanggaku dulu. Haruskah aku menolaknya saat dia hanya meminta nomer ponselku? Lagi pula aku tidak ada hubungan apapun dengan dia selain hubungan tetangga saja" Lifi mencoba menjelaskan pada Byan.


"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu sudah menikah? Seengaknya dia tidak akan memaksa kamu untuk memberikan nomer ponselmu" tanya Byan lagi


"Kenapa gak mas aja tadi yang mengatakan kalau aku istri mas" Ucap Lifi kali ini yang sepertinya terdengar tak mau lagi disalahkan


"Kok pertanyaan mas dibalikin lagi sih" Byan yang merasa gemas langsung mencubit hidung istrinya.


"Habisnya mas cemburuan banget. Denger ya mas, aku tuh gak ada hubungan apapun sama kak Raka. Jujur dulu memang orang tua kak Raka sempet mau jodohin kita. Namun ayah menolak lantaran saat itu aku masih SMA. Dan mungkin juga karena ayah sudah terikat perjanjian sama papa buat ngejodohin kita." Panjang lebar Lifi menjelaskan pada suaminya.


"Kamu sendiri suka gak sama Raka?" tanya Byan penuh selidik


"Kok nanyanya gitu sih. Mas aku ini wanita yang sudah bersuami. Akan menjadi dosa besar jika sampai aku memiliki rasa suka pada laki-laki lain"


Setelah mengatakan itu wajah Lifi nampak langsung cemberut. Meskipun dulu memang dirinya sempat ada rasa pada Raka, namun sekuat mungkin Lifi membuang rasa itu. Apalagi saat ayahnya menolak usulan orang tua Raka untuk menjodohkan dirinya dan Raka.


"Kalau sama Mas, udah suka belum?"


"Kalu soal itu masih belajar ini akunya, makanya jangan nyebelin terus. Biar prosesnya lebih cepet" jawab Lifi yang juga ingin menggoda balik suaminya


"Kalau mau cepet itu gampang sekali caranya. Mau gak mas ajarin?" tawar Byan pada istrinya


"Kamu gak lagi modusin aku kan?" tanya Lifi ragu


"Ya enggaklah sayang, ini tuh mas dapat wejangan dari yang sudah senior-senior" Jawab Byan mantap


"emang caranya gimana?"


Byanpun kemudian beringsut untuk mendekat ke telinga Lifi dan setelah itu ia membisikkan sesuatu.


"Kita coba malam pertama sekarang, dijamin habis itu kamu langsung cinta mati sama mas"


Blush.....seketika wajah Lifi memerah karena malu mendengar apa yang dibisikkan suaminya barusan.


"Dasar Mesum"


Setelah mengatakan itu Lifi langsung sedikit menjauh dari suaminya.

__ADS_1


"Yang, mau kemana? Jangan marah dong. Ini mas kan cuman menyampaikan sesuai apa yang pernah mas denger"


Byan mencoba menahan tangan Lifi agar tak beranjak darinya.


"Siapa yang marah sih, lawong aku cuman mau mandi. Gerah ini badan habis pulang dari kampus" jawab Lifi ketus


"Gimana kalau kita mandi bareng. Soalnya mas juga gerah ini"


"Gak usah aneh-aneh deh. Kalau mandi bareng yang ada malah kita gak jadi mandi"


"Terus kalau gak jadi mandi, jadinya apa dong?" tanya Byan dengan seringai liciknya


Lifipun dibuat gelagapan dengan pertanyaan Byan barusan. Sungguh apa yang diucapkannya tadi jadi bumerang bagi dirinya sendiri.


"Kok Bingung, mas nanya ini. Kalau gak mandi jadinya kita ngapain sayang?" ucap Byan dengan suara yang dibuat mendayu-mendayu.


"Gak tau. Tadi cuman salah bicara aja" Lifi mencoba mengelak.


Namun bukan Byan namanya kalau langsung puas dengan jawaban istrinya ini.


"Kalau gak tau, sini mas yang kasih tau, atau langsung praktek aja gimana?" goda Byan pada istrinya


"Mas....gak usah aneh-aneh deh. Sesuai kesepakatan ini waktunya masih seminggu lagi loh" Jelas Lifi pada suaminya.


"Cie...cie...diem-diem ada yang ngitungin juga nih. Mas pikir cuman mas doang, ternyata istri mas gak kalah antusiasnya" ledek Byan


"Apaan sih gak jelas banget" Lifi nampak berkilah


"Berarti kalau nanti sudah tiba waktunya boleh dong mandi barengnya" lanjut Byan menggoda istrinya.


"Diem gak, perasaan makin ngelantur aja deh ngomongnya" ucap Lifi nampak kesal


"Loh kok malah kesel sama mas sih. Mas kan cuman ngikuti alur bicaranya kamu"


"Ya udah mas tinggal belokin aja alurnya. Gak usah diikutin" Lifi masih nampak menyalahkan suaminya


"Ya gak bisa dong. Kesannya kan gak nyambung jadinya" Byanpun nampak tak mau kalah.


"Udah ah minggir. Aku mau mandi"


Lifipun langsung menepis tangan Byan dan segera beranjak ke kamar mandi. Sebelumnya tak lupa Lifi mengunci pintunya dari dalam. Takut-takut kalau suami mesumnya ini akan berbuat yang aneh-aneh.


Mendengar suara pintu kamar mandi ditutup Byanpun langsung mendekat dan menggedornya.

__ADS_1


"Yang....ini gimana acara mandi barengnya?" Byan nampak menggoda Lifi dari balik pintu. Namun sayangnya Lifi memilih menikmati ritual mandinya tanpa menghiaraukan ucapan suaminya diluar sana.


__ADS_2