Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Bright Lokalan


__ADS_3

Sesuai jadwal, minggu ini adalah waktunya seluruh mahasiswa mengikuti ujian semester. Tak terkecuali Lifi dan teman-temannya.


"Sayang jangan lupa vitaminnya diminum" Byan mengingatkan istrinya sebelum berangkat ke kampus.


"Sudah mas"


"Kamu kuat kan buat ujian hari ini" Byan masih terlihat mengkhawatirkan istrinya. Pasalnya istrinya ini hampir setiap pagi sering mual dan pusing


"Kuat kok mas. Kayaknya dedek bayi ngerti deh kalau mamanya mau ujian"


"Adek baik-baik dalam perut mama ya, jangan rewel. Kasian mamanya mau ujian dulu" Byan mengatakan itu sambil mengusap-usap perut istrinya.


"Ayo mas berangkat. Entar malah kesiangan bisa-bisa kita telat nyampek kampus"


Mereka berduapun kemudian keluar kamar dan hendak berangkat menuju kampus. Namun sebelum itu tak lupa keduanya berpamitan pada orangtuanya.


"Mah, pah kita berangkat dulu. Doain kita ya, hari ini kita ujian" Lifi terlihat lebih dulu menyalami kedua mertuanya itu.


"Sayang, ini mama bawain kamu cemilan. Kali aja habis ujian tiba-tiba kamu lapar atau sekedar kepengen ngemil. Biasanya bumil bawaannya lapar mulu" Bu Kinan terlihat memberikan misting yang berisi cemilan untuk diberikan pada menantunya.


"Mamah gak perlu repot kayak gini" Lifi merasa sungkan sendiri dengan perhatian yang diberikan oleh mertuanya.


"Gak pa pa sayang. Buat anak dan calon cucu mama, gak ada yang repot sama sekali. Malah mama seneng kok" Bu Kinan mengatakan itu sambil membelai sayang kepala menantunya.


"Yasudah mah, pah kita berangkat dulu. Takut telat soalnya" Kini giliran Byan yang menyalami kedua orangtuanya. Dan setelah itu Byan dan Lifi benar-benar pergi.


Mereka berdua tiba dikampus lima belas menit sebelum ujian dimulai. Kini keduanya sudah bergabung bersama yang lain.


"Lif....lho yakin kuat buat ujian?" Airin terlihat mengkhawatirkannya.


Lifipun menjawab dengan menganggukan kepalanya.


"Lho bawa minum aja kekelas, atau lo makan permen asem-asem gitu. Jadi biar lho gak ngerasa enek." Lagi terlihat Airin memberi masukan pada sahabatnya ini.


"Mas Byan udah nyiapin semuanya kok" Lifi mengatakan hal yang demikian karena memang suaminya ini betul-betul menyiapkan segala keperluannya. Termasuk mertuanya juga yang ikut andil sampai harus membawakannya bekal untuk cemilan saat dikampus.


Sungguh jika melihat barang bawaannya ke kampus hari ini, Lifi berasa dirinya seperti hendak pergi camping bukan terlihat seperti hendak pergi kuliah saja.


Namun sejauh ini Lifi merasa senang dan bersyukur, itu artinya suami dan mertuanya ini betul-betul menyayanginya dan calon buah hatinya.

__ADS_1


Dan tepat lima belas kemudian, dosen pengawas ujian tiba dikelas. Beruntung selama ujian berjalan sidebay tidak rewel sama sekali. Sehingga Lifi bisa fokus mengerjakan semua soal ujiannya.


"Gimana tadi selama ujian hem" Begitu selesai ujian Byan langsung menghampiri istrinya.


"Aman mas, dedek bayinya anteng banget"


"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, amu gak lapar" tanya Byan kemudian


"Sedikit"


"Yasudah, ini bekal dari mama tadi dimakan dulu. Atau masih ingin yang lain biar mas yang beliin ke kantin?" Byan bertanya karena ingin memastikan apa sebenarnya istrinya ini masih menginginkan sesuatu atau tidak.


"Ini aja cukup mas" jawab Lifi sambil membuka misting yang dibawakan mertuanya tadi.


Hingga ujian mata kuliah yang kedua berlangsung, semuanya tetap berjalan lancar tanpa kendala.


Byan yang dari tadi memperhatikan istrinya nampak baik-baik sajapun merasa lega. Setidaknya istrinya ini bisa fokus dalam mengerjakan soal ujiannya.


"Mau langsung pulang atau masih mau disini dulu sama anak-anak" Tanya Byan begitu mereka menyelesaikan ujian mata kuliah yg kedua.


"Kalau misalkan pulang gak pa pa kan mas. Pengen tiduran soalnya" karena jujur saat ini punggung Lifi teras sedikit kram karena mungkin terlalu lama duduk.


Dan setelah pamit pada teman-temannya, kedua orang itu benar-benar pergi meninggalkan kampus.


"Mas....habis ujian kita nginep dirumah ayah boleh." Lifi menanyakan hal itu pada suaminya saat mereka sudah berada didalam mobil.


"Boleh sayang, sekalian kita kasih tahu ayah sama bunda perihal kehamilan kamu"


Sejau ini memang Lifi belum memberi tau perihal kehamilannya pada kedua orang tuanya.


Setiap kali Byan menyuruhnya, Lifi selalu mengatakan jangan dulu. Byanpun sampai merasa heran kenapa istrinya ini belum mau memberitahu kabar bahagia ini pada kedua orang tuanya. Namun saat menanyakan alasannya kenapa, Byan sampai dibuat tertawa sendiri.


Lifi beralasan malu untuk mengatakan kalau dirinya saat ini tengah hamil. apalagi kalau kakaknya juga mendengarnya.


Lifi yakin pasti dirinya akan diejek habis-habisan. Pasalnya dulu dirinya yang menolak keras pernikahan ini sampai nangis-nangis, tapi nyatanya baru dapat beberapa bulan dirinya sudah hamil.


Byanpun sebenarnya ingin mengatakan sendiri tanpa menunggu istrinya yang berbicara pada mertuanya. Namun hal itu urung Byan lakukan karena khawatir membuat istrinya ini tersinggung dan jadi kesal pada dirinya.


"Mas....tapi aku malu" Jawab Lifi sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sayang....ngapain masti malu. Yang ada ayah sama bunda pasti seneng banget saat tau mereka sebentar lagi bakal dapat cucu lagi. Percaya deh sama mas" Byan mencoba menasehati istrinya.


"Tapi kalau misalkan nanti kak Faris juga tau, terus akunya diledekin gimana"


"Salah siapa dulu pas disuruh nikah malah nangis-nangis segala. Mana pakek acara gak mau deket-deket sama mas segala lagi. Kalau udah kayak gini gimana" Byan sengaja mengatakan itu karena ingin menggoda istrinya.


Benar saja, mendengar ucapan suaminya ini wajah Lifi seketika langsung cemberut.


"Mas kok malah ngeledekin aku sih" benar saja, Lifi langsung kesal sendiri pada suaminya ini.


"Bukan ngledekin, habisnya mas gemes kalau ingat tingkah kamu dulu. Setiap ada mas kamu bawaannya kesel mulu. Pas baru nikah kayak ngejaga jarak banget. Tidur dikasih pembatas segala, kalau pengen nyentuh kamu mas mesti nyuri-nyuri stard. Bahkan tak jarang mas harus modusin kamu dulu biar bisa lebih deket sama kamu. La sekarang, tidur aja kamu gak bisa nyenyak kalau gak mas peluk sambil mas elus-elus perutnya"


Byan sepertinya masih senang menggoda istrinya ini.


"Kok malah jadi ngingetin yang kemarin-kemarin sih. lagian kalau aku gak hamil mana ada aku minta peluk mas dulu kalau tidur. Ini kan maunya anak kamu, ngidam kok gak elit banget. Pengen tidur dipeluk sama mas bright kek, ini malah mintanya dipeluk mas Bright lokalan" Lifi yang merasa kesal sekaligus malu karena Byan sengaja mengungkit-ungkit bagaimana sikapnya dulu jadi membawa-bawa calon bayinya.


"Sayang....ngomong kayak gitu sekali lagi, saat ini juga habis kamu sama mas" Ancam Byan pada istrinya.


"Ish serem....aku kan jadi takut" Lifi mengatakan itu sambil wajahnya tersenyum meledek suaminya.


"Mas gak bercanda lho ya"


Benar saja, saat ini Byan betul-betul menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah hotel.


"Mas....kita ngapain berhenti disini" Lifi mulai terlihat panik


"Mau ngabisin kamu" Byan mengatakan itu dengan membisikkannya ditelinga istrinya.


Lifipun sampai harus bergidik ngeri mendengarnya.


"Mas gak usah aneh-aneh deh. Mending pulang aja yuk" Lifi terlihat semakin panik.


"Suruh siapa tadi nantangin. Anggap aja ini hukuman karena kamu udah berani mikirin cowok lain selain mas"


Byanpun langsung mengapit pinggang Lifi dan merangkulnya dengan sedikit posesif. Ia tidak ingin istrinya ini kabur sebelum apa yang diinginkannya saat ini terwujud.


Hingga didepan meja resepsionis hotel, Byan masih nampak belum mau melepaskan rangkulannya dipinggang istrinya.


Dan begitu selesai memesan kamar hotel, Byanpun tanpa aba-aba langsung menggendong istrinya ini. Hingga membuat siempunya kaget.

__ADS_1


Bahkan Byan sama sekali tidak menghiruakan tatapan orang-orang yang tersenyum melihat ulahnya saat ini.


__ADS_2