
Pagi ini suasana ruang rawat Lifi terlihat begitu ramai. Bagaimana tidak ramai jika para sahabat mereka saat ini sudah berada dirumah sakit untuk menjenguk sekaligus ikut menjemput Lifi dan bayinya pulang ke rumah.
"Lif.....anak lho ganteng banget, jadi gemmes pengen cubit-cubit pipinya" Chaca terlihat paling heboh saat pertama kali melihat baby Rayyan.
"Siapa dulu bapaknya" Ucap Byan merasa bangga. Bahkan diapun terlihat menarik kerah bajunya
"Iya deh iya percaya, lho kan emang yang bagian ngadon" dengan entengnya Chaca mengatakan hal itu.
"Kebiasaan ini mulut gak pakek saringan" Kali ini Airin langsung menyentil mulut Chaca
"Aw....sakit tau. Lagian itu si Byan jadi orang narsis bener deh" Chaca terlihat memegangi bibirnya yang terkena sentilan Airin.
"Habis itu mulut enteng bener bicaranya" Airin terlihat sedikit kesal.
"Oek....oek....oek...." Terdengar baby Rayyan menangis.
"Tuh anak gue malah nangis. Kalian sih pada ribut aja dari tadi" Kali ini Lifi yang jadi kesal karena bayinya tiba-tiba menangis saat digendong Chaca.
"Uluh...uluh...anak mama kenapa hm, pasti pusing ya dengerin para aunty lagi pada ribut" Lifi terlihat menimang putranya setelah mengambilnya dari gendongan Chaca.
"Ngomong-ngomong dedek bayi namanya siapa" Tanya Airin sambil mengelus pipi lembut dedek bayi.
"Evan Rayyan Pratama, dipanggil Rayyan" Bukan Lifi yang menjawab, melainkan ayah dari sang bayilah yang menjawabnya.
"Wih mantap bener. Kayaknya yang bikin nama ini anak bapaknya deh. Kalau diliat-liat wajah dedek bayinya aja bener-bener foto copyan lho banget brow. Gue yakin, ini pasti lho yang paling semangat empat lima pas lagi ngadon" Alan yang dari tadi diam tiba-tiba sekali bicara langsung mengatakan hal yang terdengar begitu vulgar.
"Ini anak klop banget kalau jadi jodohnya Chaca, sama-sama gak ada filter kalau ngomong" lagi-lagi Airin yang terlihat kesal begitu mendengar omongan yang dianggap terlalu vulgar.
"Emangnya kalau yang jadi jodoh gue itu lho aja kenapa, kan kita masih sama-sama belum dapat jodoh. Aliyas sama-sama single" Alan justru membalikkan omongan Airin.
"Gue jodoh lho, ogah" Jawab Airin dengan cepat
"Sekarang lho bisa bilang ogah, awas aja entar jadi terpesona" Putri yang sejak tadi fokus menimang baby Rayyan, kini malah ikut-ikutan menimpali perdebatan yang terjadi antara Airin dan Alan.
__ADS_1
"Kalian datang kesini niat mau jenguk gue apa mau berantem sih" Lifipun terlihat kesal karena dari tadi teman-temannya ini tak ada henti-hentinya berdebat.
"Maaf-maaf, habisnya cowok resek satu ini bikin mood gue anjlok deh" Lagi-lagi Airin masih terlihat kesal pada Alan.
"Mood anjlok-mood anjlok, entar ujung-ujungnya malah jadi mood booster" habis ngomel-ngomel sekarang Lifi malah ikutan meledek Airin.
"Ck....bukannya itu lho sama Byan. Dulu lho kan suka bilang Ogah-ogah. Tapi ujung-ujungnya nikah, eh sekarang malah udah berhasil bikin ini bocah" Airin sengaja membalikkan ucapan Lifi pada dirinya. Dan tentu saja hal itu membuat Lifi spontan langsung menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.
Byan tersenyum saat melihat ekspresi istrinya seperti sedang menahan malu. Dirinya kembali mengingat momen-momen pertama kali dirinya bertemu istrinya dan bagaimana dulu sikap Lifi yang begitu cuek bahkan terkesan tidak menyukainya.
"Mas....kamu ngetawain aku" Lifi yang melihat suaminya tersenyum langsung merasa kesal. Dirinya yakin kalau suaminya itu sedang menertawakannya.
"Sayang....mana ada mas ngetawain kamu" Byanpun menghampiri Lifi dan duduk disebelahnya.
"Tapi itu kenapa mas senyum-senyum sendiri" Lifi masih tidak percaya dengan apa yang dijelaskan Byan barusan.
"Entar kalau mas cemberut malah dikira kayak badut" Byan yang gemas dengan istrinya spontan mencubit hidung istrinya.
"Kayaknya haus deh ini" Putripun dengan sangat hati-hati memberikan baby Rayyan pada Lifi.
"Ayo-ayo pada keluar dulu, anak gua mau ne-nen" Byan tampak menyuruh teman-temannya untuk keluar.
"Yang ne-nen kan bayinya, kenapa kita mesti keluar" Chaca terlihat kesal.
"Terus lho mau liatin istri gue pas lagi ngasih ASI gitu" Byan menjelaskan alasannya.
"Yaudah Alan aja yang keluar. Kita kan cewek, ngapain juga kita harus keluar. Ya kecuali jika lho mau ikutan ne-nen juga" Chaca masih terlihat berdebat dan tidak mau kalah.
"Nah itu lo faham" Byan mengatakan itu sambil kemudian dirinya tertawa.
Dan tentu saja ucapan Byan langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya. Karena bisa-bisanya suaminya mengatakan hal itu didepan teman-temannya.
"Ck....dasar mesum" Kali ini Airin yang terdengar mengumpat pada Byan.
__ADS_1
Sebenarnya Byan mengatakan itu hanya berniat untuk menggoda teman-temannya saja. Buktinya setelah itu Byan langsung menarik Alan keluar dari ruang rawat istrinya dan membiarkan ketiga temannya tetap berada didalam.
Byanpun langsung membawa Alan menuju kantin rumah sakit. Tujuannya satu, karena Byan ingin ngopi. Berharap dengan ini bisa sedikit menghilangkan rasa kantuknya akibat semalaman dirinya tidak bisa tidur nyenyak karena posisinya yang kurang nyaman.
Sementara saat ini, diruangan Lifi terlihat semakin ramai. Itu karena orang tua dan juga mertua Lifi sudah berada disana.
"Uluh-uluh.....cucu nenek aus ya" Bu Kinan menghampiri cucunya yang sedang menyu-su pada mamanya. Diapun membelai sayang kepala cucunya.
"ASI nya lancar sayang" tanya bu Kinan pada menantunya.
"Ia mah, ini aja sampek keluar sendiri kalau pas kelamaan gak dibuat menyu-sui"
"Syukurlah kalau begitu. Soalnya kalau bayi laki-laki itu nyu-sunya lebih kuat dibanding bayi perempuan. Dulu Byan aja waktu bayi hampir gak mau lepas, maunya nempel terus sama sumber ASInya. Beda sama bayinya Naira" Jelas bu Kinan pada menantunya.
"Benar bu, dulu saya juga gitu. Untuk urusan minum ASI, lebih kuat Faris ketimbang Lifi. Saya kadang sampek kewalahan" Bu Maira terdengar ikut menimpali.
Sementara Byan yang mendengar pembicaraan mama dan ibu mertuanya sedikit kaget. Karena dirinya merasa tempat faforitnya kali ini akan benar-benar beralih kekuasaan. Jika dulu hanya dirinya yang mendominasi, kini dirinya harus menerima kenyataan jika tempat itu sekarang sudah dikuasai oleh pangeran kecilnya.
Lifi yang melihat ekspresi kaget suaminya sontak tidak bisa menahan tawanya. Hingga bu Kinan dan bu Maira yang melihat Lifi tiba-tiba tertawa seketika langsung mengernyitkan keningnya sambil keduanya saling memandang dan setelah itu kembali menatap kearah Lifi lagi.
Merasa dirinya menjadi pusat perhatian, Lifipun reflek langsung menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya.
"Kamu kenapa" Tanya bu Maira yang merasa penasaran dengan tingkah putrinya yang tiba-tiba tertawa.
"Eh itu bun, em gak kenapa-napa" Ucap Lifi gugup.
Sementara bu Kinan yang seketika itu menatap pada Byan dan melihat ekspresi wajah putranya terlihat sedikit aneh langsung faham jika maksud kenapa tadi menantunya tiba-tiba tertawa itu pasti karena sedang melihat ekspresi putranya.
Bu Kinan yakin betul putranya bersikap seperti itu karena mungkin mendengar obrolannya dengan besannya seputar ASI.
Setelah memahami itu bu Kinan sampai geleng-geleng kepala sendiri. Namun dalam hati, dirinya ingin sekali tertawa karena putranya terlihat seperti berat untuk mengalah dengan bayinya untuk urusan satu ini.
Menurut bu Kinan jika sudah demikian putranya ini terlihat sangat lucu sekali. Andai saja disitu tidak ada besannya, sudah barang tentu bu Kinan akan menertawakan putranya sambil mencubit gemas hidung putranya itu. Namun hal itu urung bu Kinan lakukan karena tidak ingin membuat putranya malu, juga dirinya sendiri karena kedapatan mempunyai anak yang super mesum. Tapi beruntungnya mesumnya Byan ini hanya pada Lifi, bukan pada wanita lain.
__ADS_1