
Merasa tak enak pada mertuanya, Lifi yang sejak tadi hanya jadi penonton didapur memilih untuk beranjak.
"Mah, Lifi kedepan dulu ya"
"Sayang, kamu mau dimasakin apa buat makan malam nanti, biar sekalian mama buatin" Sebelum membiarkan Lifi beranjak, bu Kinan nampak menawari Lifi makanan apa yang diinginkan untuk nanti malam.
"Apa aja deh mah" Sungguh diperlakukan seperti ini membuat Lifi semakin tidak enak hati.
"Sayang, kamu gak usah sungkan sama mama. Mama itu udah nganggap kamu kayak anak mama sendiri. Apalagi kamu sekarang lagi hamil muda biasanya ada saja yang diinginkan"
"Iya mah, nanti Lifi bilang deh kalau lagi pengen sesuatu" jawab Lifi sambil tersenyum canggung.
"Jangan ditahan lo sayang, entar cucu mama ileran" Bu Kinan sengaja mengajak menantunya ini bercanda
"Mah, memangnya siapa yang ileran" tiba-tiba Naila muncul dari arah ruang tamu.
"Kamu, kata mama kalau tidur hobi banget ileran. Sampek bantal kamu aja udah ngala-ngalain atlas"
Sama halnya dengan Naila, Byanpun tiba-tiba muncul dan langsung menggoda adiknya.
"Mana ada aku tidurnya sampek ileran. Yang ada aku itu kalau tidur udah mirip kayak princes" Terlihat Naila tidak terima dengan apa yang dikatakan kakaknya.
"Cih....princes dari hongkong"
"Byan-Byan....kamu itu udah mau jadi ayah, tapi masih saja suka godain adiknya" Bu Kinan terlihat kesal pada anak sulungnya yang setiap waktu selalu menggoda adiknya.
"Mah, kalau kak Byan mau jadi ayah berarti kak Lifi hamil dong?"
"Benar sayang, kamu bentar lagi jadi Aunty" Bu Kinan mengatakan itu sambil mencubit hidung putrinya.
Nailapun merasa sangat senang. Saking senangnya sampai dia lompat-lompat sendiri.
"Hay ponakan Aunty, baik-baik ya dalam perut mama. Nanti kalau udah keluar Aunty ajakin kamu jajan. Uangnya entar minta sama papa kamu, okey" Naila bertingkah seolah-olah sedang berbicara dengan calon keponakannya itu. Iapun sampai mengusap-usap perut kakak iparnya.
"Awas aja kalau sampai anak aku dijadiin umpan buat kamu bisa morotin kakak"
"Ye....suka-suka akulah, suruh siapa kemarin-kemarinnya kakak suka bikin aku kesel. Sekarang giliran Naila yang bikin kakak kesel dengan ulah sikecil yang masih diperut ini"
Setelah mengatakan itu, Nailapun langsung kabur kekamarnya. Namun dia juga masih sempat-sempatnya menjulurkan lidah pada sang kakak.
Alhasil kakaknya pun menjadi semakin kesal karena tingkah adik perempuannya ini.
"Ikan Nila, awas kamu ya. Gak bakalan kakak kasih uang jajan buat kamu"
"Mas udah ah, adik sendiri kok diladenin sih. Kayaknya kamu deh yang lebih cocok jadi adik, bukan Naila." Lifipun sampai dibuat kesal juga dengan tingkah suaminya.
Merasa dirinya mendapat banyak pendukung, Nailapun meledek kakaknya dengan kembali menjulurkan lidanya lagi.
Setelah aksi perdebatan itu Lifi memilih pergi ke teras depan. Disana dia memilih duduk digazebo sambil memperhatikan suasana sekitar mertuanya yang nampak asri dengan berbagai jenis tanaman dan bunga.
"Sayang, ngapain disini sendiri, kekamar aja yuk sekalian kamu bisa rebahan disana" Tanpa sepengetahuannya ternyata Byan mengikutinya dari belakang.
"Aku lagi pengen disini aja mas. Suasanya bikin adem"
Lifi sendiri saat ini terlihat sedang duduk berselonjor sambil menyandarkan punggungnya.
"Yasudah mas temenin"
__ADS_1
Byanpun kemudian merebahkan dirinya dengan menjadikan paha Lifi sebagai bantalan. Sedang wajahnya ia hadapankan pada perut istrinya.
"Assalamualaikum, anak papa lagi ngapain nih didalam" Byan meraba perut istrinya dengan maksud untuk menyapa calon buah hatinya. Kemudian Byanpun menciu-mi perut istrinya yang terlihat masih datar itu.
"Mas jangan kayak gini, akunya geli ini"
Byanpun kemudian mendongakkan wajahnya dan beralih menatap wajah istrinya lekat-lekat.
"Sayang, kamu pengennya nanti anak kita laki-laki atau perempuan?" Tanya Byan tiba-tiba pada istrinya.
"Kalau aku sih, mau laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting sehat, lahir sempurna dan kelak bisa jadi anak yang baik" Lifipun jadi reflek mengusap-usap perutnya sendiri.
"Kalau mas sendiri pengennya apa" sekarang giliran Lifi yang balik bertanya pada istrinya.
"Apapun itu asal kamu yang jadi ibunya, mas akan menyanginya dengan sepenuh hati"
Sungguh jawab suaminya ini menurut Lifi sedikit absurd, karena jelas-jelas memang dia istrinya jadi sudah barang tentu hanya dia yang akan menjadi ibu untuk anak-anaknya.
"Terus kalau bukan aku yang jadi ibunya siapa lagi mas, jangan bilang kamu punya istri lagi diluar sana" Lifi jadi merasa kesal karena ucapan suaminya barusan.
"Astaghfirulloh......sayang, kamu mikirnya kejauhan banget. Gak ada sedikitpun aku punya niatan buat duain kamu, apalagi sampek punya istri segala diluar sana. Kamu itu akan mas jadikan satu-satunya Nyonya Abyan Athar Rahman. "
Byanpun mengatakan itu sambil duduk dan menggenggam erat tangan istrinya.
"Ck....Gombal"
"Kok gombal sih, mas serius ini. Malah pakek banget"
Sedang asik-asiknya keduanya mengobrol, tiba-tiba Naila datang menghampiri kakak iparnya dengan menenteng dua kantong plastik. Didalamnya ada benerapa jenis jajanan dan minuman yang tadi sempat dibelinya disaat disekolah.
"Kak....ini Naila bawa benerapa jajanan. Ini ada telur gulung, cimol, bakso aci, sama kue cubit. Terus sama ada es capcin. Kakak mau yang mana tinggal pilih aja" Nailapun menyodorkan kresek berisi jajanan dan minuman itu pada kakaknya.
"Kak Lifi mau bakso acinya pedes apa enggak?"
"Pedes"
"Enggak"
Ucap Lifi dan Byan bersamaan.
"Mas, mana ada bakso aci gak pedes" Lifi terlihat cemberut.
"Tapi Yang, entar kamu malah sakit perut lho"
"Dikit doang kok cabenya, ya kan Dek" Lifi sengaja mengedipkan sebelah matanya pada Naila agar adiknya ini mau mengangguk. Padahal disitu jelas jika cabe bubuknya sangat banyak sekali, ditambah lagi varian baksonya adalah bakso aci mercon.
"Iy-iya kak" Naila sedikit terbata.
"Ayolah mas, aku pengen banget ini. Entar anaknya ileran lo ya" Lifi sengaja membawa calon bayinya sebagai senjata ampuh untuk meluluhkan Byan.
Byan sendiri kalau sudah menyangkut keinginan sibumil, sulit untuk bisa menolaknya.
"Huft.....iya deh, tapi jangan banyak-banyak. Secukupnya saja makannya" Sambil menghela nafas panjang Byanpun akhirnya mengizinkan istrinya untuk makan bakso aci tersebut.
"Yasudah kalau begitu Naila masakin bentar ya kak"
"Sini biar kakak masak sendiri saja"
__ADS_1
"Gak pa pa kak biar Naila aja. Lagian Naila udah biasa masak beginian"
Lifipun memilih menunggu bakso acinya matang sambil memakan telur gulung.
"Mas mau, ini enak lo mas"
Tanpa menunggu jawaban suaminya, Lifipun langsung menyuapkan telur gulung itu pada mulut Byan.
"Enak gak"
Byanpun hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Hingga beberapa menit kemudian Naira datang dengan membawa dua mangkuk berisi bakso aci.
"Ayo kak dimakan, entar kalau keburu dingin malah jadi gak enak rasanya"
Lifi terlihat sangat menikmati bakso aci itu. Bahkan keningnya sampai dipenuhi butiran-butiran keringat.
"Yang, itu pedes banget ya kok sampek kamu keringetan kayak gitu" Byan terlihat curiga pada istrinya itu. Tadi dia mengatakan kalau bakso acinya tidak terlalu pedes, tapi nyatanya istrinya ini sampai berkeringat saat memakannya.
"Sini mas mau nyobin dikit saja" Byan langsung mengambil sendok dan memasukkan satu suap kuah beserta potongan baksonya kedalam mulutnya.
Seketikan wajah Byan langsung memerah. Ia yang notabenenya tidak terlalu suka pedas langsung kaget saat pertama kali memasukkan bakso aci kedalam mulutnya. Byanpun sampai harus menghabiskan satu cup minuman Capcin milik adiknya untuk bisa menghilangkan rasa pedas dimulutnya.
"Ampun ini makanan apa neraka sih, pedes banget mana panas lagi"
Lifi dan Nailapun sampai dibuat tertawa melihat reaksi Byan saat kepedesan.
"Yang, gak usah ketawa ya. Awas aja nanti, kamu udah bohong sama mas"
Mendengar ancaman kakaknya, Naila langsung beranjak kedapur dengan beralasan mengambil minuman karena minumannya sendiri sudah dihabiskan oleh kakaknya.
"Tapi mas ini gak pe....." belum sempat Lifi menyelesesaikan ucapannya, Byan sudah membungkamnya terlebih dulu
"Emmmppp...." Terlihat Lifi meronta saat Byan melu-mat habis bi-birnya.
Seletal dirasa mulai kehabisan nafas barulah Byan mulai melepasnya.
"Mas, kebiasaan banget deh suka gak liat-liat tempat. Kalau ada Naila entar gimana" kesal Lifi pada suaminya
"Gak bakalan, adik mas itu pengertian banget. Buktinya dia memilih beranjak dulu agar kakaknya bisa berdua sambil romantis-romantisan"
"Ck....mana ada yang kayak gitu. Bukannya Naila itu pergi karena takut kena omelan kamu"
Setelah mengatakan itu Lifipun ikut bergegas meninggalkan suaminya sendiri. Diapun sampai melupakan soal bakso acinya yang masih belum habis.
"Yang....kamu mau kemana" Byan memanggil Lifi yang tiba-tiba saja pergi
"Tau ah sebel aku sama kamu"
"Yang...ini harusnya akulo yang kesal sama kamu"
Kendati Byan sudah memanggilnya beberapa kali, Lifi tetap saja tak menghiraukannya.
"Siap-siap aku bakalan ngukum kamu lebih dari yang barusan lo ya"
Meski ultimatum sudah dikeluarkan, namun lagi-lagi Lifi tidak takut sama sekali.
__ADS_1
"Siap-siap saja kamu habis sama aku"
Byanpun kemudian berlari mengejar istrinya itu kedalam.