
"sayang, kok diam aja sih. Masih ngambek hem" Byan nampak membuka obrolan karena sejak tadi istrinya ini hanya diam saja.
"sayang....." sekali lagi Byan memanggil Lifi karena tak kunjung ada jawaban dari istrinya ini.
"apaan sih, dari tadi manggil-manggil mulu" kesal Lifi
"makanya dijawab dong" ucap Byan seraya mencubit gemas pipi istrinya.
"kok dicubit sih" ucap Lifi seraya mengusap-usap pipinya.
"terus maunya diapain dong" goda Byan kemudian
Lifipun menatap malas kearah Byan, dan setelah itu ia mengalihkan pandangannya kearah jendela mobil.
Hingga tanpa terasa akhirnya mereka sudah sampai dikediaman orang tua Byan.
Kedatangan mereka nampaknya sudah sangat dinantikan oleh Bu Kinan.
Pasalnya begitu mereka turun dari mobil, bu Kinan nampak sudah berdiri diambang pintu.
Byanpun kemudian menuju bagasi untuk mengambil koper Lifi.
Jika biasanya Lifi lebih suka menjauh dari Byan, namun kali ini dia memilih berdiri dibelakang suaminya dan menunggu untuk masuk bersama.
meskipun sebelumnya Lifi pernah berkunjung kerumah ini dan bahkan pernah bertemu dengan bu Kinan, namun tetap saja Lifi merasa gugup. karena saat ini kondisinya sudah berbeda.
Dulu dia datang hanya sebagai teman Byan yang hendak melakukan kerja kelompok. Tapi kali ini dia datang sebagai istri dari Byan, yang berarti dia juga menantu dari sang pemilik rumah.
Byan yang melihat Lifi masih setia berdiri dibelakangnya, langsung menggandeng tangan Lifi begitu dia selesai mengeluarkan koper miliknya dan bergegas menuju mamanya yang nampak tersenyum dari kejauhan.
"akhirnya mantu mama datang juga" bu Kinan langsung bergegas menghampiri Lifi begitu sudah dekat, kemudian memeluknya dengan penuh rasa sayang.
Tanpa menghiraukan Byan, bu Kinan hendak membawa Lifi masuk.
"Ceritanya mantunya doang nih yang diajak masuk, anaknya enggak" ucap Byan pura-pura kesal pada mamanya
"gak usah lebay deh kak, udah punya istri masih aja manja" ucap Naila yang tiba-tiba muncul
"hai kak, selamat datang dirumah ini. Semoga kakak betah ya disini" kali ini Naila beralih menyapa kakak iparnya.
Lifipun hanya menanggapinya dengan senyuman saja. Bukan karena ia tidak respon, hanya saja ia masih gugup dan tidak tau harus bicara apa.
Merekapun kemudian masuk dan didalam nampak pak Rahman sedang duduk diruang tamu.
"Pah, menantu kita sudah datang" ucap Bu Kinan pada suaminya
Pak Rahman pun kemudian berdiri dan mendekat ke arah Lifi. kemudian Lifi meraih tangan ayah mertuanya dan menyalaminya.
"selamat datang rumah ini nak. Mulai sekarang ini adalah keluargamu. Semoga kamu betah tinggal disini" ucap pak Rahman sambil membelai sayang puncak kepala menantunya.
__ADS_1
Dalam hati Lifi merasa senang karena kedatangannya disambut hangat oleh keluarga suaminya. Dan dia juga merasa senang mendapati keluarga suaminya yang menerimanya dengan begitu baik, meskipun saat ini dia sendiri masih bingung untuk menjalani pernikahan ini kedepanannya.
Kini mereka nampak sedang berbincang bincang diruang keluarga. Dan sekali lagi disini Lifi hanya menjadi pendengar setia. Karena ia hanya berbicara saat dirinya ditanya.
Dan yang paling banyak bertanya diantara mereka tentunya Naila adiknya.
Sejak Lifi datang tadi, Naila tak ada habisnya bercerita pada Lifi dan menanyakan bermacam-macam pertanyaan pada kakak iparnya ini. Mulai dari makanan kesukaan, hobby, dan masih banyak lagi. Dia juga menceritakan berbagai hal yang menyangkut kesehariannya.
Sungguh menurut Byan apa yang di bicarakan Naila adiknya, itu tidak penting sekali.
Hal ini tentu membuat si musuh bebuyutannya kesal sendiri.
" heh ikan Nila, udah sampai disini dulu sesi wawancaranya ya, kita capek mau istirahat" Byan sengaja memotong pembicaraan adiknya itu. Karena jika dibiarkan bisa-bisa dia akan mewawancarai istrinya sehari penuh.
"sayang, ayo kita istirahat dulu. Mas yakin kamu pasti capek" Byan sengaja kembali memanggil seperti itu lagi pada dirinya untuk menggoda adiknya.
"sekarang bisa manggil sayang-sayang, kemarin-kemarin aja ngambek mulu bawaannya" bukan Naila yang kesal, malah mamanya.
"La kan kemarin Byan gak tau kalau yang dijodohin sama Byan selama ini adalah Lifi. Andai Byan tau itu Lifi, dinikahin pas SMP aja Byan mau" ucap Byan membela diri
Bu kinan pun langsung memukul lengan putranya karena gemas dengan ucapan putranya yang tersengar absurd.
"Kak Byan kalau mau istirahat yasudah istirahat aja, kak Lifinya biar ngobrol dikamar adek saja" Naila berbicara sambil meraih tangan Lifi untuk diajak kekamarnya.
Bukan Byan namanya kalau akan mengalah begitu saja. Diapun menarik tangan Lifi yang satunya.
"Byan, kok malah kayak anak kecil sih Kasian itu tangan istri kamu ditarik kayak gitu" ucap bu Kinan saat melihat Byan yang tak mau kalah dari adiknya.
"Nai....biarkan kak Lifinya istirahat dulu. Kasian kan baru datang" Ucap bu Kinan mencoba menengahi.
"ayo sayang kita istirahat dulu"
Byan pun merangkul pinggang Lifi possesif.
Melihat itu pak Rahman dan bu Kinan sampai menggelengkan kepala. mereka tidak menyangka kalau putranya ini sebegitunya memperlakukan Lifi.
Mereka juga tidak bisa membayangkan, andai putri pak Ilham bukan Lifi. Sudah bisa dipastikan itu anak oleng, jika melihat bagaimana anaknya menyukai seorang Lifi.
Lifi sendiri sebenarnya ingin menghempaskan tangan suaminya, dia merasa malu karena bisa-bisanya Byan mencari kesempatan saat berada di depan kedua orang tuanya.
Saat sudah sampai di depan pintu kamar Byan, Lifi langsung mencoba melepaskan diri dari rangkulan suaminya.
Byanpun tak mempermasalahkan hal itu, ia langsung membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Lifi untuk masuk.
Lifi nampak sedikit kagum saat melihat kamar Byan. Kamar yang mungkin luasnya dua kali lipat lebih dari kamarnya dan terlihat begitu rapi dan bersih.
"ayo masuk, kok berdiri di situ saja" ucap Byan sambil menarik tangan Lifi dan membawanya untuk duduk di pinggiran ranjang.
"kamu istirahat saja. Biar nanti saya yang bantu masukin baju-baju kamu ke lemari" ucap Byan sambil beranjak ke depan lemari dan mulai menata baju-baju istrinya
__ADS_1
"biar saya saja" ucap Lifi mencoba mengambil alih pekerjaan Byan.
Namun Byan tak membiarkan itu. Merekapun akhirnya melakukan itu bersama-sama.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya mereka bergantian membersihkan diri.
"kamu istirahat saja sekarang. Nanti kita turun saat makan siang"
"hem" hanya itu jawaban yang diberikan oleh Lifi.
Lifipun langsung beranjak untuk merebahkan tubuhnya diikuti dengan Byan yang juga langsung tiduran disebelahnya dan tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Lifi dari belakang.
Tentu saja tindakan Byan ini membuat Lifi kaget dan sebisa mungkin melepaskan diri dari rangkulan Byan.
Namun bukannya dilepas, Byan malah semakin kuat merangkulanya.
"udah gak usah banyak gerak, biarkan saja seperti ini" ucap Byan sambil mendekatkan kepalanya tepat di bagian belakang leher Lifi hingga Lifi bisa merasakan hembusan nafas sumianya.
Lifipun memilih diam saja karena untuk berdebatpun percuma. Saat ini dia tengah berada dirumah suaminya rasanya tidak pantas jika dia harus berdebat.
saat sedang diposisi seperti ini, tiba-tiba tersengar pintu kamar Byan diketuk.
"ck....ganggu orang saja" ucap Byan kesal, namun dia tetap bangkit dan membuka pintunya.
Ternyata yang datang adalah bik Darsi yang disuruh mamanya untuk mengajak makan siang bersama.
Byan dan Lifipun turun dan ikut bergabung di meja makan.
Setelah selesai nampak Lifi ikut membantu membersihkan bekas piring kotor untuk dibawa ke dapur.
"sayang, udah kamu diam saja, biar ini bik Darsih sama mama yang mengerjakan" ucap bu Kinan seraya tangannya hendak mengambil piring dari tangan menantunya.
"gak pa pa mah, Lifi sudah terbiasa"
Lifipun membawa piring-piring itu kedapur dan mencucinya.
Bi Darsih yang melihat nyonya mudanya nampak mencuci piring, langsung menghampiri dan ingin mengambil alih pekerjaan itu.
"Non, biar bibi saja yang melakukannya"
"udah gak pa pa Lifi udah biasa kok. Mending bi Darsih beresin yang lainnya aja" tolak Lifi halus
"tapi non, nanti non Lifi kecapean" ucap bik Darsih agar Lifi mau menghentikan pekerjaannya
"gak bakalan bik, bibi santai saja. Saya sudah terbiasa dengan pekerjaan ini dirumah"
akhirnya bik Darsihpun menyerah dan memilih melakukan pekerjaan yang lain.
Dan setelah Lifi selesai dengan pekerjaannya Lifi lantas beranjak menuju kamarnya.
__ADS_1