
Menjelang subuh entah kenapa perut Lifi tiba-tiba terasa sangat lapar sekali. Bahkan sejak tadi cacing-cacing didalam perutnya berdemo, menuntut untuk segera diberi asupan nutrisi.
Lifi sendiri merasa heran, karena sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Hingga diapun terpaksa pergi ke dapur tanpa membangunkan suaminya.
Disana dia mencari sesuatu yang mungkin bisa dia makan. Namun nihil tidak ada sisa makanan sama sekali dilemari es.
Dengan sangat terpaksa akhirnya dia membuat mie instan lengkap dengan sayur plus telur mata sapinya. Tak lupa juga dia juga membuat segelas teh hangat untuk diminumnya.
Setelah beberapa menit menyelesaikan proses memasaknya, dia langsung memakannya karena memang dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya dari tadi.
Saat tengah asik sendiri menikmati makanannya, tiba-tiba Byan datang dari arah belakang dan langsung menghampirinya.
Byan tau jika istrinya ini sedang berada didapur, karena saat dirinya terbangun dia mendapati istrinya ini tidak berada disampingnya.
Dia mencari ke kemar mandi namun nihil. Alhasil Byan berinisiatif mencari keluar kamar.
Hingga saat dia menuruni tangga, dia melihat lampu dapur menyala dan terdengar seperti ada suara dari sana.
Byanpun langsung menduga jika itu adalah istrinya. Dan saat dia mendekat, ternyata benar. Istrinya terlihat sedang menikmati semangkuk mie instan rebus lengkap dengan telur mata sapi dan tak lupa sayurannya juga.
"Mas kamu bikin kaget aku aja deh" Ucap Lifi sambil mengelus dadanya.
Dia sempat kaget karena tiba-tiba suaminya ini muncul dari belakangnya .
"Kamu kenapa gak bangunin mas hem" Byan mengatakan itu sambil membelai sayang kepala istrinya.
"Tadi gak tau kenapa tiba-tiba aku ngerasa lapar banget mas"
"Tapi kenapa makan mie instan, emang dikulkas gak ada makanan yang bisa diangetin"
"Gak ada mas, aku tadi udah nyobak nyari kok. Mas mau? Tapi ini tinggal sedikit" Lifipun menunjukkan mangkuk berisi sisa mie yang tinggal sedikit.
"Buat kamu aja" Lagi-lagi Byan membelai sayang kepala istrinya.
Setelah menghabiskan mienya, Lifi bersama Byan langsung kembali ke kamarnya. Bahkan Lifipun terlihat langsung tertidur pulas sesaat setelah merebahkan tubuhnya.
Byan yang melihat tingkah istrinyapun hanya bisa menatap heran sambil menggelengkan kepalanya. Karena tidak biasanya istrinya bersikap aneh seperti ini.
Pagi hari Lifi yang biasanya selalu rajin membantu menyiapkan sarapan, kini malah terlihat hanya guling-guling diatas ranjang. Sedang Byan, lagi-lagi hanya bisa menatap heran tingkah istrinya ini
Hingga tiba waktu sarapan, Lifi masih enggan beranjak dari aktifitasnya. Bu Kinanpun sampai harus memanggil mereka untuk sarapan.
__ADS_1
"Sayang....ayo sudah waktunya sarapan. Kalian turun dulu gih" terdengar suara bu Kinan dari luar pintu kamar.
"Iya mah, bentar lagi kita turun" Nampak Byan yang menyauti panggilan mamanya.
Byanpun kemudian mengajak Lifi untuk turun dan sarapan bersama yang lain seperti biasa.
sampai disana Lifi langsung mengisi piringnya lumayan banyak dari biasanya. Byanpun sampek dibuat heran. Pasalnya baru beberapa jam istrinya ini makan mie instan dengan porsi banyak, kini saat sarapanpun istrinya juga makan dalam porsi lumayan banyak juga.
Saat semuanya tengah menikmati sarapannya, tiba-tiba Lifi membuka suara.
"Mas, aku kepengen makan makanan yang dipiring kamu"
Mendengar itu, Byan jadi mengernyitkan dahinya. Bukankah jika istrinya ini ingin makan makanan seperti yang dia makan, semuanya sudah tersaji didepannya dan tinggal mengambilnya saja.
"Sayang....itu masih banyak makanan yang kayak punya mas. Apa perlu mas ambilin?"
Lifipun menjawab tawaran Byan dengan menggelengkan kepalanya. Entah mengapa dirinya saat in hanya mau makanan yang ada dipiring suaminya. Rasanya seperti nikmat sekali.
Begitulah kiranya yang ada didalam fikiran Lifi saat ini.
Tak ingin membuat istrinya ngambek, Byanpun memberikan piring yang berisi bekas makanannya pada sang istri.
Dan hal itu langsung disambut senyum sumringah oleh Lifi. Diapun kemudian makan dengan lahapnya, tanpa ada perasaan jijik sedikitpun.
"Ayo nak tambah lagi makannya" terdengar pak Rahman tiba-tiba membuka suara
"Em ini sudah cukup yah. Lifi udah kenyang"
Saat hendak minum tiba-tiba tatapan Lifi tertuju pada jus jeruk yang ada didepan adik iparnya. Entah kenapa dirinya begitu ingin sekali minum jus jeruk itu.
Diapun berbisik pada suaminya agar dia meminta jus itu pada Naila untuk diminum dirinya.
"Yang...itukan didepan kamu masih banyak jusnya. Mas ambilin ya" Byan mencoba bernego pada pada istrinya.
"Mas aku maunya yang punya Naila" Terlihat mata Lifi berkaca-kaca saat mengatakan itu.
Byanpun semakin dibuat aneh, karena tiba-tiba istrinya ini mau menangis hanya pekara jus jeruk.
Bu Kinan yang memang dari tadi memperhatikan tingkah menantunyapun langsung meminta Naila agar mau memberikan jus jeruknya pada kakak iparnya.
"Sayang....jus kamu kasihkan kak Lifi ya, kamu ambil lagi yang baru" bu Kinan mengatakan hal itu dengan sangat lembut pada putrinya
__ADS_1
"Tapi mah itu sisa Naila. Apa kak Lifi gak jijik?"
"Gak kok dek, malah punya kamu terlihat segar sekali" Lifipun dengan antusiasnya tiba-tiba ikut menjawab.
"Yasudah ini buat kakak" Naila menyodorkan jus jeruk yang sudah diminumnya pada sang kakak ipar.
Lifipun dengan sekali teguk langsung menghabiskan jus itu hingga tandas.
Dan masalah tingkah Lifi yang menurut Byan aneh ini tidak berhenti sampai dimeja sarapan.
Seperti saat ini, saat jam perkuliahan selesai seperti biasa dirinya dan teman-temannya akan pergi ke kantin.
Disana lagi-lagi Lifi bertingkah aneh. Karen Lifi tiba-tiba meminta menukar baksonya dengan milik Chaca.
Untung saja Chaca mau memberikannya tanpa memperdebatkannya terlebih dahulu.
Meskipun awalnya Chaca merasa sangat aneh pada kelakuan Lifi yang tidak seperti biasanya.
Selain itu tadi saat jam perkuliahan berlangsung Lifi izin keluar. Byan yang merasa pikirannya tidak tenang ikutan berpura-pura izin demi untuk mengikuti istrinya.
Byan mengira istrinya ingin kekamar mandi. Ternyata dugaannya salah, karena ternyata Lifi justru ke kantin dan membeli sepotong kue disana.
Disana dia memakannya dengan sedikit cepat, karena mungkin takut kena marah dosennya jika izin keluar kelas terlalu malam.
Byan sendiri memilih berdiri jauh dari Lifi tanpa berniat menghampirinya.
"kamu kenapa sih Yang, sehari ini aneh banget" terdengar Byan sepertinya berbicara sendiri sambil mengamati istrinya dari kejauhan
Sungguh sehari ini Byan betul-betul merasa heran dengan tingkah aneh istrinya. Karena semenjak dia mengenal Lifi dan menikah dengannya, tak sekalipun Lifi bersikap seperti ini.
Sedang dirumah bu Kinan bersama suaminya yang kebetulan saat ini sedang libur, terlihat sedang membicarakan menantunya.
"Pah, mama kok jadi kepikiran sama gelagat Lifi tadi ya" Bu Kinan terlihat membuka obrolan.
"Aneh kenapa Mah" Tanya pak Rahman tak faham
"Melihat tingkah Lifi, mama jadi keingat waktu hamil Byan"
"Jadi menurut mama menantu kita sedang hamil gitu?"
"Bisa jadi pah. Soalnya mereka menikah udah dapat 3 bulanan. Dan mereka juga sudah melakukan hubungan suami istri juga. Jadi tidak menutup kemungkinan kalu Lifi tengah hamil" Ucap bu Kinan lanjang lebar.
__ADS_1
Pak Rahmanpun mendengarkan penuturan istrinya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya dia juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya