
Saat ini mobil Byan sudah terparkir dihalaman rumah mertuanya.
Dia terlihat masih ragu untuk melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
Entah jawapan apa yang harus dia berikan pada mertuanya andai istrinya saat ini sedang tidak berada disini. Bisa-bisa dirinya akan dianggap tidak becus jadi suami, karena belum ada sebulan sudah membuat istrinya pergi tanpa sepengetahuannya.
Dengan hati yang diliputi rasa was-was dan sedikit takut, akhirnya Byan memberanikan diri mengetuk pintu rumah mertuanya.
Tak lama kemudian terlihat pintu nampak dibuka, dan yang membukanya adalah ibu mertuanya.
"Eh ada nak Byan, ayo-ayo masuk" Bu Maira mempersilahkan menantunya ini dengan begitu ramahnya.
Byanpun kemudian menyalami mertuanya dengan takdzim dan kemudian diapun masuk ke dalam sesuai intruksi mertuanya.
"Kata Lifi nak Byan kesininya masih besok karena sekarang masih sibuk sama urusan cafe." Bu Maira menjelaskan apa yang dikatakan putrinya tadi.
Mendengar itu Byan langsung merasa lega, setidaknya saat ini istrinya sedang berada disini, dirumah orang tuanya.
Dan lagi dengan ucapan bu Maira yang demikian, berarti istrinya ini tidak bercerita jika saat ini antara didirnya dan Lifi sedang terjadi kesalahfahaman.
"Iya bun, tapi semuanya sudah beres. Makanya saya langsung kemari" Jawab Byan jujur.
Karena memang menurut Byan masalahnya dengan Clarisa sudah Byan anggap selesai.
"Syukurlah kalau begitu"
"Apa saya boleh menemui Lifi" Byan terlihat meminta izin pada mertuanya sebelum menemui istrinya.
"Tentu nak, Lifi sedang dikamarnya. Nak Byan langsung masuk saja" Bu Kinan nempak mempersilahkannya.
Byanpun kemudian langsung bergegas menuju kamar istrinya.
Beruntung kamarnya tidak dikunci, jadi dengan mudah dia bisa langsung masuk ke dalamnya.
Saat sudah berada didalam kamar, Byan mendapati istrinya ini sedang tertidur pulas.
"Bisa-bisanya kamu tidur saat mas sendiri pusing nyari keberadaan kamu" Byan mengatakan itu sambil membelai sayang kepala istrinya.
Iapun kemudian langsung ikut berbaring disebelah istrinya.
Karena mungkin tubuh Byan yang terasa capek, akhirnya dengan mudah diapun ikut terlelap menyusul istrinya ke alam mimpi.
Hingga setelah hampir satu jam, Lifi nampak terlihat sedang mengerjapkan matanya saat terasa ada sesuatu yang menindihnya.
Lifipun kaget saat mendapati ternyata suaminya itu tiba-tiba ada disampingnya dan terlihat sedang mendekap tubuhnya dengan sangat posesif.
Dia berusaha melepaskan diri dengan cara menyingkirkan tangan suaminya. Namun belum sempat tangan itu terlepas dari tubuhnya, ternyata siempunya sudah terlihat mengerjapkan matanya.
"Kenapa di lepas, udah biarin kayak gini aja"
Byanpun kemudian semakin mempererat dekapannya.
Lifi sendiri masih terlihat berusaha untuk menyingkirkan tangan suaminya. Karena jujur saat dirinya masih sangat kesal pada suaminya itu.
__ADS_1
"Mas awas ah, gak usah pegang-pegang" ucap Lifi dengan nada ketusnya
"Memangnya kenapa, kan cuman meluk doang. Kemarin aja mas *****-***** kamu diam saja, malah kamunya sampai men-desah keenakan" Byan sengaja menggoda istrinya.
"Apaan sih gak jelas banget, awas ah....aku lagi marah ini sama kamu"
Mendengar istrinya mengatakan hal itu Byan langsung tertawa.
"Kenapa malah tertawa, kamu habis kesambet atau jangan-jangan kamu ketempelen jin penghuni kamar ini"
"Hus kalau ngomong, masak suami sendiri dibilang ketempelan jin" Byan nampak tak terima
"Salah siapa pakek acara ketawa gak jelas"
"Mas itu gemes sama kamu, habisnya kamu itu lucu banget sih, kalau lagi marah pasti pakek bilang sama yang lagi dimarahi" Byan mengatakan itu sembari mencubit gemas pipi istrinya
"Dibilangi gak usah pegang-pegang, mending sana jauh-jauh. Atau kalau perlu temui saja teman kesayangannya itu" Lifi mulai terlihat kesal pada suaminya. Bahkan ia sampai harus menekan kata teman kesayangan untuk mempertegas jika dirinya saat ini benar-benar merasa kesal.
"Cie....kayaknya ada yang lagi cemburu nih ceritanya" Byan terlihat menggoda istrinya
"Ck...siapa juga yang cemburu. Gak usah GR deh" Lifi nampak mengelak
"Beneran nih gak cemburu, tau gitu tadi mas mau-mau aja waktu Clarisa godain mas" Byan semakin gencar saja menggoda istrinya.
"Oh jadi ulat bulu itu namanya Clarisa" Lifi mengatakan itu sambil mecebikkan bibirnya.
Byan yang mendengarnyapun sontak mengernyitkan keningnya. Ia tidak faham maksud ulat bulu yang diucapkan istrinya. Iapun sampai ikut menyebutkan kata itu dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh telinga Lifi
"Ada-ada aja kamu ini, masak orang disamain kayak ulat bulu. Tapi bener juga sih, dia kegatelan banget soalnya"
"Iya dia emang kegatelan dan kamunya juga kesenengan kan ditempeli sama yang kayak begituan"
Niat Byan mendukung ucapan istrinya, malah dia sendiri yang kena semprot.
"Sumpah yang, mas itu tadi udah berusaha ngindar. Makanya mas bisa sampai sini sekarang. Kamunya aja yang keburu ngambek" Byan berusaha membela diri
"Ck ngindar apaan, bukannya tadi kamu mau-mau aja waktu dipegang sama dia" Lifi makin bertambah kesal saja jika mengingat kejadian waktu dicafe tadi.
"Yaudah mas minta maaf, tapi jangan ngambek lagi kayak tadi ya. Mas itu paling gak bisa liat kamu ngambek" Ucap Byan dengan wajah sendu
"Ck...Mas paling gak bisa liat kamu ngambek" Lifi nampak berdecak kemudian dia juga menirukan apa yang diucapkan Byan barusan.
"Kamu ngeledek mas ya" Byan yang merasa diledek istrinya langsung menggelitiki perut Lifi hingga siempunya meronta-ronta minta dilepaskan.
"Mas, cukup. Kebiasaan banget deh suka kayak gini" kesal Lifi pada Byan
"Itu hukuman karena udah berani ngeledekin suami"
"Awas aja, seminggu ini gak usah tidur satu ranjang" Lifi nampak tak mau kalah
"Mana ada yang kayak begituan, gak bisa pokoknya" Byan nampak tidak terima
"Bisalah, itu hukuman buat suami yang suka kecentilan sama cewek lain saat didepan istrinya"
__ADS_1
"Yang, masih aja gak percaya sama mas. Mas itu cintanya cuma sama kamu, dan mas gak bisa kalau jauh dari kamu. Apalagi setelah kita menghabiskan malam dan pagi yang panas, mas semakin ingin deket kamu terus" Byan mengatakan kata vulgar itu tepat ditelinga Lifi. Hingga raut wajah Lifipun nampak langsung memerah karena menahan malu.
"Dasar mesum" Lifi mengatakan itu sambil dirinya berusaha beranjak dari tempatnya.
Namun belum sempat beranjak, Byan sudah terlebih dulu menindih tubuhnya. "Mau kemana hem" tanya Byan pada istrinya
"Mas, lepasin gak"
Lifi berusaha mendorong tubuh Byan namun dia kalah tenaga.
"Kalau mas gak mau" Ucap Byan sambil menyeringai kemudian Byanpun langsung mendekatkan wajahnya pada Lifi hingga hembusan nafasnya tepat mengenai wajah Lifi.
"Mas tolong jangan kayak gini" Lifi sekarang nampak memohon
"Memangnya kenapa, mas sekarang pengen ngulang kayak yang tadi pagi" Lagi-lagi Byan berucap sambil menyeringai licik.
"Mas, Lifi mohon. Ini badan masih pegel semua rasanya" Lifipun mengatakan itu dengan wajah yang terlihat mengiba. Hingga membuat seorang Byan menjadi tidak tega.
"Oke mas lepasin, tapi ada satu syarat" Byan masih nampak tak mau kalah begitu saja.
"Syarat apa mas, entar yang ada kamu malah ngajuin syarat yang macam-macam"
"Kan mas udah bilang hanya satu syarat" Ucap Byan sambil kembali mendekatkan wajahnya, tapi tebih tepatnya wajahnya ia dekatkan pada leher Lifi. Sehingga membuat Lifi meremang seketika.
"Yasudah cepat katakan" Lifi sengaja mengatakan itu agar dia segera terbebas dari posisi seperti ini
"Hukuman kamu buat mas tadi harus diralat diganti dengan kamu wajib ngasih mas jatah sehari tiga kali"
"What tiga kali, gak salah mas. Udah berasa kayak minum obat saja. Gak mau, mana ada syarat yang kayak begituan" Lifi nampak terkejut sekaligus merasa sangat keberatan dengan syarat yang diajukan suaminya.
"Yasudah kalau gak mau, saat ini juga mas akan eksekusi kamu. Gak peduli nanti bunda manggil-manggil kita" ancam Byan pada istrinya. Namun sebenarnya dalam hati Byan ingin rasanya tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai istrinya.
Rasanya bagai makan buah simalakama. Karena dua hal yang diajukan Byan sama-sama tidak ada yang menguntungkan bagi dirinya. Lifipun akhirnya mencoba untuk bernegosiasi
"Oke aku setuju, tapi kalau bisa jangan tiga kali. Bisa mati muda akunya, gimana kalau sekali saja tapi satu minggu full deh"
"Dua kali sehari, atau kembali pada syarat pertama" Byan seperti biasa tidak bisa terbantahkan
"Ck...itu namanya pemaksaan" Lifi berdecak kesal
"Gimana, mumpung mas masih baik hati ini"
"Harusnya itu aku yang ngukum kamu mas, karena kamu udah bikin aku kecewa. Ini kenapa malah dibalik kamu yang ngasih hukuman aku sih. Jadi sebel deh kalau kayak gini ceritanya" Lifi terlihat nampak frustasi.
"Udah diiyain aja. Lagian hukuman dari mas kan gak berat, malah bisa bikin kamu melek merem" Goda Byan pada istrinya.
"Tau ah....terserah kamu aja. Capek aku mikirnya"
"Gak usah dipikir sayang, tinggal dinikmatim aja. Gampang kan" ucap Byan dengan entengnya.
"Berarti deal ya, selama seminggu dua kali sehari" Byan berucap penuh kemenangan. Sedang Lifi, jangan ditanya lagi. Dirinya saat ini nampak terus mengumpat kesal pada suaminya.
Hanya saja Lifi tidak berani bicara sedikit keras didepan suaminya. Lifi takut kalau-kalau sampai Byan mendengarnya, bisa-bisa syarat yang diberikan Byan padanya akan bertambah.
__ADS_1