
Saat ini Lifi dan Byan sedang berada diperjalanan menuju hotel X. kebetulan letak hotel ini tidak terlalu jauh dari Cafe tempat mereke berada tadi.
Awalnya Lifi menolak keras untuk pergi bermalam disana. Namun karena Byan yang terus mendesak dengan dalih tak enak jika harus menolak hadiah dari mamanya, akhirnya Lifipun bersedia untuk menginap dihotel yang sudah dibooking oleh mama mertuanya.
Ya, rupanya hadiah yang diberikan bu Kinan untuk ulang tahun Lifi adalah paket menginap selama dua hari di sebuah hotel berbintang.
Bu Kinan sengaja memesannya karena selama Lifi menikah dengan putranya, dia sama sekali belum pernah merasakan bulan madu.
"Mas....kita balik aja yuk" Lifi terlihat mengajak suaminya pulang begitu mereka sampai di depan pintu utama masuk hotel tersebut.
"Entar kalau kita pulang gimana ngomongnya ke mama. Pasti nanti ujung-ujungnya mama kecewa" Byan kembali menggunakan mamanya sebagai alasan agar Lifi bersedia menerima hadiah tersebut.
"Gimana kalau kita tidur dicafe mas Byan aja malam ini" Lifi nampak masih mencari alasan agar dirinya tak jadi menginap dihotel.
"Terus gimana kalau nanti pihak hotel mengabari mama tentang kita yang gak jadi menggunakan kamar itu." Byan juga sepertinya tak mau kalah dari istrinya.
Dia terlihat mencari alasan agar istrinya ini mau menginap dihotel. Bagi Byan kejutan dari mamanya kali ini begitu spesial dan sangat menguntungkan bagi dirinya.
Bagaimana tidak, berkat kado yang diberikan mamanya pada Lifi secara tidak langsung juga berimbas pada dirinya. Malam ini bisa dipastikan dirinya akan menghabiskan malam yang panjang bersama orang yang paling spesial dihatinya hanya berdua saja.
Mereka berduapun kemudian masuk kedalam hotel dan langsung menemui pihak resepsionis.
Dan anehnya, ternyata pihak hotelpun sudah mengenali mereka. Buktinya tidak butuh waktu lama mereka berdua langsung diantar menuju kamar yang sebelumnya sudah dipesan oleh bu Kinan.
Sesampainya dikamar tersebut Lifi langsung dibuat takjub dengan kondisi kamar yang terlihat begitu luas. Ditambah lagi kamar itu sepertinya sengaja disulap menyerupai kamar yang memang disediakan untuk pasangan pengantin baru yang akan menghabiskan malam pertamanya.
"Mas, bener ini mama yang nyiapain semua ini" Lifi sepertinya masih belum percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Terus menurut kamu kalau bukan mama siapa? Mas gitu?" Byan sampai merasa gemas sendiri dengan istrinya ini.
"Bentar deh mas, ini kok ada paperbag diatas tempat tidurnya"
"Coba mas lihat dulu" Byanpun kemudian mengambil paper bag tersebut.
Ternyata pada paperbag itu ada secarik kertas kecil yang berisi sebuah memo.
"Sini mas biar aku aja yang baca" Lifi yang merasa sangat penasaran langsung mengambil alih kertas kecil berisi memo itu dari tangan suaminya.
"Baju dinas ini mama belikan khusus buat menantu kesayangan mama. Kalau sampai gak dipakai mama akan sangat bersedih" Begitulah kiranya tulisan yang ada dimemo tersebut.
Setelah membaca isi memo itu, Lifi langsung membuka isi yang ada didalam paperbag tersebut.
Dan alangkah terkejutnya saat dia melihat isi yang ada didalamnya. Bahkan Lifipun sampai harus menelan salivanya karena saking kagetnya dengan kejutan yang mama mertuanya berikan kali ini.
Byan yang melihatnyapun hanya bisa tersenyum sendiri.
Sungguh dirinya tidak pernah menyangka sama sekali jika mamanya bisa mempersiapkan sesuatu dengan sedetail ini.
__ADS_1
Setelah sekilas melihat isi paperbag itu, dengan cepat Lifi langsung memasukkan kembali kedalamnya. Ia tidak ingin suaminya ini tau isi sebenarnya dari paperbag tersebut.
Lifi tidak menyadari jika sebenarnya diam-diam suaminya sempat melihat sekilas saat dirinya membentangkan isi paperbag tersebut.
"Sayang, kok dimasukin lagi sih. Emang apa isinya, sini mas pengen lihat" Ucap Byan pura-pura memasang wajah sok tidak taunya. Padalah dalam hati dirinya tertawa karena dengan ini dia bisa mengerjai istrinya itu.
"Em i-itu mas, bu-bukan apa apa kok cu-cuman pakaian biasa" Lifi menjawab dengan sedikit gugup dengan wajah yang sudah terlihat memerah
Melihat ekspresi istrinya, membuat Byan semakin gencar ingin mengerjai istrinya.
"Masak sih, tapi kok kamu kayak gugup gitu. Sini mas juga pengen liat kayak apa bajunya. Pasti bagus ya" Byan mengulurkan tangannya agar Lifi memberikan paperbag itu pada dirinya.
"Jangan mas, mending mas bersih-bersih aja dulu. Habis itu kita istirahat. Sepertinya dedek bayi udah minta ditemenin bobok sama papanya deh" Lifi terlihat mencari alasan agar Byan tak jadi melihat isi paperbag itu.
Namun bukan Byan namanya jika langsung menyerah begitu saja. Iapun tanpa aba-aba langsung merebut paperbag itu dari tangan Lifi.
"Baju apa sih Yang, kok sampek disembunyiin kayak gini" Ucap Byan begitu berhasil merebutnya.
"Mas jangan dibu...."
Belum selesai Lifi berucap, Byan sudah terlebih dulu berhasil membuka isi paperbag itu dan melihatnya.
Disitu menampakkan sebuah lingerie berwarna merah maroon yang jika dipakai oleh Lifi pasti akan sangat terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Membayangkannya saja sudah membuat seorang Byan langsung panas dingin seketika.
Baju yang menurut Lifi sudah menyerupai saringan tahu. Dimana ukurannya sangat minim sekali dan jika dipakai pasti akan langsung memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Yang...kenapa nunduk kayak gitu" Byan mendekat kearah istrinya yang terlihat hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu malu sama mas hem.....Mas ini suami kamu, dan untuk apa kamu malu sama mas. Bukankah mas sudah melihat semua yang ada didiri kamu" Byapun terlihat mengangkat dagu istrinya agar bisa milihat wajahnya.
"Sama halnya dengan mama, mas pun berharap kamu mau memakainya. Khusus malam ini saja, mas harap kamu tidak menolak keinginan mas ini. Mas kepengen malam ini kita mengulang malam pertama kita" Wajah Byan terlihat seperti sedang memohon.
"Tapi mas...a-aku" Lifipun diam karena tak mampu lagi meneruskan kata-katanya.
"Mas tau pasti kamu tidak akan mau menurutinya. Ya sudah kamu istirahat dulu saja. Mas mau ke kamar mandi dulu" Ucap Byan dengan nada dan raut wajah yang terlihat begitu kecewa.
"Mas...." Lifi telihat memanggil Byan
"Udah mas gak pa pa. Kamu tidur dulu, kasian dedek bayi kita didalam. Pasti dia kecapek'an setelah aktifitas seharian ini" Setelah mengatakan itu Byan langsung pergi ke kamar mandi.
Sementara Lifi, dirinya masih nampak bimbang. Antara perasaan malu jika harus memakai pakaian itu didepan suaminya, namun disisi lain dirinya juga tidak ingin mengecewakan suaminya yang sudah memberikan dirinya banyak cinta dan kebahahgian selama ini.
Tak lama Byan terlihat keluar dari kamar mandi. Suaminya tak lagi menegurnya, dia langsung beranjak menuju tempat tidur.
Tak lupa Byan terlebih dulu terlihat menyingkirkan hiasan berupa sepasang boneka angsa yang ada ditengah-tengah ranjang.
__ADS_1
Melihat ekspresi suaminya yang tiba-tiba dingin, membuat dada Lifi terasa sesak.
Diapun langsung pergi menuju kekamar mandi dengan membawa paperbag ditangannya.
Didalam sana setelah membersihkan diri, Lifi terlihat berdiri didepan sebuah cermin.
Ya, saat ini Lifi sedang memakai pakaian yang diberikan mertuanya itu. Meski awalnya ragu karena takut tidak bisa menahan malu didepan suaminya, namun sekuat mungkin Lifi mencoba menepisnya. Tekadnya sekarang hanya satu, tidak ingin membuat suaminya kecewa.
"Bantu mama bujuk papa ya dek" Lifi terlihat berbicara pada janin yang sedang dikandungnya sebelum memastikan dirinya keluar dari kamar mandi.
Saat berada diluar, dirinya mendapati suaminya sedang berbaring dengan posisi membelakanginya. Sementara Lifi memilih mengambil posisi duduk ditepi ranjang tepat dibelakang suaminya.
"Mas...." Lifi mencoba memanggil suaminya
"Hem...." hanya itu jawaban dari Byan tanpa sedikitpun menoleh kearahnya.
"Mas...kamu marah sama aku" Tanya Lifi pada suaminya.
"Enggak, buat apa aku marah. Udah kamu sekarang mending tiduran saja" Byan terdengar memanggil dirinya tidak dengan sebutan mas lagi. Menurut Lifi ini menandakan bagaimanapun suaminya ini sedang dalam mode kecewa. Namun sekuat mungkin Lifi masih berusaha membujuknya.
"Mas kalau gak marah kenapa gak liat sini, masak aku cuman dikasih punggungnya doang" Lifi mulai terlihat menggoda suaminya.
"Yang, tidur aja aku ngantuk banget"
"Beneran nih ngantuk, yasudah kalau kamu ngantuk mending aku ganti lagi aja ini bajunya" Lifi sengaja mengatakan itu agar suaminya mau menoleh kearahnya.
Byan yang mendengar ucapan istrinya akan mengganti bajunya lagi jika dirinya mengantuk, tanpa berfikir panjang langsung membalikkan tubuhnya dan menghadap istrinya
Dan begitu dirinya tepat menghadap pada istrinya, dia dibuat menganga seketika. Bahkan air liurnya saja hampir menetes begitu melihat penampilan istrinya.
"Yang....ini beneran kamu kan" Ucap Byan masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Sementara Lifi memilih menundukkan wajahnya karena jujur dirinya saat ini merasa sangat malu.
"Sayang....cubit mas agar mas bisa percaya kalau dihadapan mas saat ini adalah kamu"
Lifi yang merasa kesalpun langsung spontan mencubit suaminya ini.
"Aw...aw...sakit Yang, kok dicubit beneran sih" Byan terlihat mengadu kesakitan
"Ck...katanya tadi minta dicubit" Lifi terlihat berdecak kesal
"Sayang.....mas sepertinya harus ngasih hukuman kamu karena udah berani nyubit mas dengan lumayan keras" Ucap Byan sambil menyeringai licik
"Hukum aja, aku gak takut. Malah aku udah siap sama hukuman yang bakal mas berikan sama aku" Lifi ini terdengar menantang suaminya.
"Jangan salahkan mas kalau malam ini kamu bakal mas buat begadang semalaman".
__ADS_1
Byanpun kemudian langsung menarik istrinya dan membawanya dibawah kungkungannya.