Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
PR


__ADS_3

"Kak Lifi mau istirahat" terdengar suara Naila dari arah belakang Lifi saat ia hendak membuka pintu kamarnya.


"emangnya ada apa dek" tanya Lifi sambil membalikkan badan


"cuman pengen ngobrol sama kak Lifi aja, itupun kalau kak Lifi gak capek. Sama sekalian minta bantuin ngerjain PR" Naila berbicara sambil nyengir kuda.


"ya udah ayo kakak bantuin ngerjain PR nya. Lagian kakak juga gak ada pekerjaan lain kok"


Nailapun akhirnya menggandeng tangan Lifi untuk diajak masuk ke kamarnya.


"dek inikan hari senin, kenapa gak masuk sekolah" Lifi bertanya karena dihari-hari aktif sekolah seperti ini Naila malah ada dirumah.


"Naila izin kak, karena mau nungguin kak Lifi datang" lagi-lagi Naila berkata sambil nyengir kuda.


Mendengar penuturan Naila, membuat Lifi spontan mengernyitkan keningnya.


"kan sepulang sekolah bisa ketemu dek"


"kelamaan kak, Naila pulangnya sore. Lagian selama semester ini baru sekali ini aja Naila izin kak"


"yasudah, mana PR yang mau dikerjakan"


Nailapun beranjak mengambil buku pelajarannya dan kini nampak Lifi mulai memberi penjelasan pada Naila.


Sungguh Naila dibuat kagum, karena ternyata kakak iparnya ini sangat pandai sekali.


Usai menyelesaikan PR nya, Naila dan Lifi mulai terlibat obrolan santai. Hingga tanpa terasa sudah hampir dua jam Lifi berada dikamar adiknya.


Nampak di kamar sebelah Byan terlihat uring-uringan. Karena sejak makan siang tadi istrinya belum juga kembali ke kamarnya. Padahal hari ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama sang istri. Maklum aura pengantin baru, maunya deket-deket terus.


Byan mengira mungkin istrinya ini sedang ngobrol bersama mamanya.


Karena dirasa terlalu lama akhirnya Byanpun hendak turun ke bawah menyusul istrinya.


Lifi yang sudah keluar dari kamar adik iparnya langsung bergegas menuju kamar suaminya. Namun bukannya langsung masuk, Lifi malah nampak berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada pintu tersebut. Ia ragu apakah harus masuk atau bagaimana.


Bertepatan dengan itu juga Byan sedang membuka pintu kamarnya berniat untuk menyusul istrinya. Alhasil Lifipun hendak jatuh karena posisi tubuhnya yang tidak mampu menyeimbangkan diri. Hingga terjadilah adegan seperti di film-film, dimana pemeran wanita yang hampir terjatuh, namun pemeran laki-laki dengan cepat menangkup tubuh si pemeran wanitanya, hingga terjadilah adegan saling berpandangan.


Sungguh berada diposisi sedekat ini dengan Byan membuat Lifi sangat gugup.


Beberapa detik kemudian Lifi segera bangkit, dan berusaha menetralkan keadaannya.


"Ma-maaf saya gak sengaja" ucap Lifi masih sedikit gugup.


"kamu dari mana saja hm, dari tadi saya nungguin kamu" bukannya menjawab pernyataan maaf Lifi, Byan malah menanyakan perihal dari mana istrinya itu.


"dari kamar Naila bantuin dia nyelesein PR nya" jawab Lifi jujur

__ADS_1


"ck....anak itu" Byan berdecak kesal saat mendengar jika istrinya itu tidak kembali ke kamarnya hanya karena menemani adiknya mengerjakan PR.


"oh iya, entar malem kita juga ada PR yang belum kita kerjakan" ucap Byan spontan.


"P-R " Lifi nampak mengingat-ingat tugas apa yang dia dapat dari kampus. Karena seingat Lifi hari selasa kemarin dosennya tidak hadir dan otomatis tidak ada tugas yang ditinggalkan untuk dikerjakan dari mata kuliah tersebut


"Kayaknya gak ada deh, kan minggu kemarin dosennya gak masuk" jawab Lifi mantap


"ada, coba deh diingat-ingat lagi" Byan mengatakan itu sambil tersenyum sendiri.


Pasalnya memang tidak tugas yang harus dikerjakan. Hanya saja Byan ingin mengerjai Lifi karena gadis itu sudah membuatnya menunggu hampir dua jam dikamarnya


Lifipun dengan polosnya masih berusaha mengingat-ingat soal tugas yang Byan maksud.


"beneran deh kayaknya gak ada" ucap Lifi setelah mencoba mengingat-ingat lagi.


" ada sayang, sini mas bilangin" ucap Byan sambil mendekat pada telinga Lifi dan membisikan sesuatu.


"PR nya adalah malam pertama kita yang tertunda"


Blush......wajah Lifi seketika langsung memerah setelah mendengar bisikan dari suaminya itu. perasaan malu, takut dan kesal sudah bercampur menjadi satu.


Sementara Byan sendiri, dengan tanpa berdosanya dia malah keluar kamar setelah mengatakan hal seperti itu pada istrinya.


Sungguh perkataan Byan tadi masih ternginyang-ngiyang ditelinga Lifi.


"Lif, kamu kenapa sayang? Dari tadi mama perhatiin kamu sering melamun" tanya bu Kinan yang memang sejak tadi sering melihat menantunya ini diam dengan tatapan kosong


"Eh...enggak kok mah, Lifi gak kenapa-napa" bohong Lifi pada mertuanya.


"kalau ada apa-apa kamu cerita sama mama" ucap bu Kinan tulus


"iya mah"


Setelah semuanya siap keluarga itupun mulai menyantap makan malam bersama.


Selepas makan malam selesai Lifi masih berusaha menyibukkan dirinya di dapur.


"sayang, kamu istirahat saja. Ini biar bik Dasrih yang ngerjakan" bu Kinan menghampiri Lifi yang sedang mencuci piring kotor di dapur.


"gak pa pa mah, bentar lagi selesai kok. Mamah istirahat saja dulu" jawab Lifi pada mertuanya.


"udah biar bik darsih saja, kamu istirahat sana. Pengantin baru gak boleh capek-capek. Entar gak semangat dong bikinin mama cucu" ucap bu Kinan dengan entengnya.


Sementar Lifi yang mendengar itu jangan ditanyakan lagi, perasaannya semakin ketar-ketir saja malam ini. Bahkan Lifi nampak bergidik ngeri membayangkan hal itu.


"mama sama anak kompak banget bahas kayak begituan" kesal Lifi dalam hatinya.

__ADS_1


Lifipun akhirnya beranjak menuju kamarnya setelah mertuanya itu benar-benar mengambil alih pekerjaannya.


Padahal niat hati Lifi ingin berlama-lama didapur dan berharap saat dia kembali ke kamar nanti Byan sudah dalam keadaan tertidur.


Namun semuanya nihil, karena sang mama mertua yang tidak membiarkannya melakukan pekerjaan apapun.


Dengan perasaan was-was bercampur takut, Lifi akhirnya masuk juga ke kamar itu. Andai saja adik iparnya belum tidur pasti dia akan menumpang tidur dikamarnya.


Sedang didalam kamar Byan sengaja berpura-pura tidur saat mendengar pintu kamarnya ada yang membuka. Ia yakin siapa lagi kalau bukan istrinya.


Saat masuk, Lifi tak menemukan keberadaan Byan.


"apa dia sudah tidur ya" Lifi berbicara sendiri.


Iapun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Hingga akhirnya ia menemukan Byan yang sepertinya tengah tertidur diatas ranjang.


"hem...." Lifi nampak bernafas lega saat melihat orang yang sudah membuatnya ketar-ketir nampak tertidur.


Diapun beralih ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu dia tidak langsung merebahkan diri, malainkan terlebih dulu memastikan kalau orang disampingnya itu benar-benar tertidur.


Lifi menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan wajah Byan.


"Sepertinya aman" ucap Lifi pada dirinya sendiri.


Dalam hati Byan tertawa puas, karena istrinya ini mengira kalau dirinya benar-benar sudah tertidur.


Setelah menurut Lifi semua dirasa aman, dia mulai merebahkan dirinya di samping suaminya.


Belum sempat memejamkan mata, Lifi sudah dibuat kaget, pasalnya tiba-tiba Byan merangkul tubuhnya dari belakang dengan begitu erat.


"ka-kamu belum tidur" ucap Lifi gugup.


"menurut kamu" Byan malah balik bertanya dengan senyum liciknya.


"gimana, udah siap buat ngerjain PR kita yang tertunda" Byan sengaja mengatakan hal itu tepat dibelakang telinga Lifi, hingga membuat tubuh Lifi meremang seketika.


"ma-maaf saya be-belum siap" ucap Lifi terbata karena menahan perasaan gugupnya.


Byan pun tertawa melihat ekspresi Lifi yang seperti itu.


Sungguh dalam hati Byan tak ingin melakukan hal itu jika Lifi masih dalam keadaan terpaksa. Sebagai laki-laki normal, tentu saja Byan menginginkannya, tapi untuk sementara ini dia harus bersabar sampai Lifi bisa betul-betul merasa nyaman saat bersamanya dan sepenuhnya menerima pernikahan ini.


"udah, tidur saja. Saya janji gak akan nagih PR nya malam ini" ucap Byan dengan posisinya yang masih memeluk Lifi dari belakang.


Lifi sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya. Karena dia merasa kurang nyaman berada diposisi ini.


"gak usah banyak gerak. Biarkan saja kayak gini sampai pagi. Lagian ini gak dosa kan" ucap Byan sambil perlahan memejamkan matanya. Karena sebenarnya dia sendiri sudah sangat mengantuk.

__ADS_1


Lifipun memilih diam. Meskipun masih ada perasaan was-was, tapi setidaknya malam ini untuk sementara dia masih diposisi aman.


__ADS_2