
"Ni orang katanya bentar doang, kok udah sejam lebih gak nongol-nongol"
Nampak Lifi uring-uringan sendiri. Berada diruangan Byan sendirian, tentu membuat Lifi sedikit jenuh.
Iapun kemudian merebahkan diri di sofa panjang yang ada diruangan itu sembari memainkan ponselnya.
Beberapa saat kemudian Byan yang sudah kembali nampak mengamati seisi ruangannya untuk mencari sosok sang istri yang tadi ditinggalkannya sendiri diruang itu.
"sayang maaf ya, sudah buat kamu menunggu"
Ucap Byan yang nampak sudah mengambil posisi duduk disebelah Lifi sambil tangannya membelai sayang kepala sang istri.
Lifipun nampak kaget karena tiba-tiba ada yang menyentuh bagian kepalanya. Saking kagetnya sampai-sampai hp yang di pegangnya jatuh.
"katanya sebentar" Lifi terlihat begitu kesal.
"kenapa, udah kangen sama mas hm..." Byan sengaja mengatakan hal itu untuk menggoda istrinya.
"ck.....siapa juga yang kangen"
"ya kali aja istri kesayangan mas ini udah kangen gara-gara ditinggal sebentar" goda Byan lagi
"idih....PD banget bang" Lifi berbicara dengan sedikit memincingkan bibir.
"bukannya sok PD sayang, tapi mas bicara fakta. Buktinya ditinggal sebentar doang udah uring-uringan. Terus apa namanya kalau gak kangen" Byan berbicara sambil menatap lekat wajah Lifi, hingga membuat Lifi salah tingkah sendiri.
"bener kan yang mas omongin" tanya Byan sambil menyeringai
"gak ada ya aku kangen-kangen sama kamu" Lifi nampak berkilah.
Dan saat tengah asik berdebat tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu ruangannya.
Rupanya seorang waitress nampak membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"permisi, saya disuruh mengantar pesanan pak Byan" ucap waitress itu dengan begitu sopannya.
"iya, silahkan masuk" ucap Byan pada waiterss itu.
Kemudian sang waitress meletakkan makanan dan minumnnya dimeja. Baru setelah itu ia keluar meninggalkan ruangan bosnya.
"sayang ayo diminum dulu, kamu pasti haus kan"
Byan terlihat memberikan segelas jus melon pada istrinya.
Lifipun menerima gelas itu dan meminum sedikit isinya.
"balik yuk" tiba-tiba Lifi mengajak pulang
__ADS_1
Melihat wajah sang istri yang nampak kecapek'an, akhirnya Byanpun mengiyakan ajakan istrinya yang meminta untuk pulang.
...****************...
Malam hari setelah makan bersama kekuarganya, Byan dan Lifi memilih langsung beranjak ke kamarnya.
Mereka nampak sibuk mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok.
Lifi terlihat serius sekali hingga tidak sadar jika dari tadi Byan memandanginya terus menerus. Memperhatikan mulut Lifi yang nampak komat kamit membaca ulang jawaban yang sudah ditulisnya.
Byan yang melihatnyapun merasa gemas dengan tingkah istrinya ini.
Setelah menyelesaikan tugas kuliahnya, Lifipun merapikan buku-buku yang tadinya berserakan dengan dibantu Byan dan meletakkan kembali ketempatnya.
"tidur yuk" ajak Byan pada istrinya.
"mas duluan saja. aku masih belum selesai beresin buku-buku ini"
Nampak Lifi berpura-pura terlihat sibuk menata-nata buku. Padahal menurut Byan semuanya buku yang digunakan tadi sudah kembali ketempatnya.
Sebenarnya ini menang hanya alasannya Lifi saja agar bisa menghindar dari Byan.
Byan yang faham akan hal itu langsung beranjak untuk mendekati Lifi
"ayo kita istirahat, mas tau kamu hanya pura-pura terlihat sibuk untuk bisa menghindari mas kan? "
Byan berbicara dengan posisi memeluk Lifi dari belakang dan menelungsupkan kepalanya pada leher istrinya itu.
"gak mau, mas pengennya kayak gini dulu sebentar saja " Byan semakin mengeratkan pelukannya.
Tanpa bisa melakukan perlawanan, akhirnya Lifi hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya ini.
Setelah beberapa saat, Byan perlahan mulai mengedarkan pelukannya.
"Ayo istirahat. Apa perlu mas gendhong buat naik ke tempat tidur" Byan mengatakan hal itu dengan posisi yang sudah siap untuk menggendhong istrinya itu.
"gak usah, aku bisa sendiri"
Lifipun mendahului langkah Byan dan segera bergegas naik ke tempat tidur.
Ia menutupi hampir seluruh badannya dengan selimut tebal yang ada.
Sungguh Byan terkekeh sendiri melihat tingkah lucu istrinya ini.
Hal itu memicu Byan untuk semakin gencar menggoda istrinya.
Ia dengan tanpa berdosanya ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Lifi dan seperti yang sudah-sudah ia akan memeluk gadis itu dari belakang. Saat ini bagi Byan memeluk tubuh istrinya sudah mencadi candu tersendiri.
__ADS_1
"ni orang udah ngala-ngalain cicak aja. Bawaannya nempel mulu" lifi berbicara dalam batinnya.
Lifipun membiarkan suaminya melakukan hal itu. Bukan karena dia suka, hanya saja meskipun dia berusaha berontak untuk dilepaskan, suaminya ini bukan malah melepaskannya justru yang ada malah akan semakin mengeratkannya.
Byan sendiri karena merasa tidak ada penolakan dari istrinya, membuatnya semakin gencar melakukan aksinya.
Tangannya semakin bergerak kesana kemari dan kini mulai menelusup ke dalam pakaian, meraba permukaan perut Lifi yang masih datar hingga menimbulkan kesan geli bagi siempunya.
"Mas tolong jangan kayak gini"
Lifi berusaha memegang tangan Byan karena khawatir semakin tidak bisa dikondisikan.
"Maaf" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut suaminya.
Dan setelah mengatakan hal itu Byan langsung berbalik posisi memunggungi istrinya.
Melihat itu, ada perasaan bersalah dalam benak Lifi.
Ia sadar seharusnya dirinya tidak berhak melarang Byan untuk melakukan sesuatu yang bahkan lebih dari itu. Mengingat statusnya kini adalah istri sah Byan dimata hukum dan agama.
"Mas" Lifi berusaha memanggil suaminya sambil tangannya menepuk punggung suminya.
"sudah kamu tidur saja, mas juga sudah ngantuk" Byan berucap dengan posisi masih membelakanginya.
Sungguh hal ini membuat Lifi semakin diliputi rasa bersalah.
Sebagai laki-laki normal, Lifi sadar jika suaminya ini pasti menginginkan hal lebih darinya.
Namun entah mengapa hatinya saat ini masih berat untuk memberikan hak itu pada suaminya.
Malam ini untuk pertama kali setelah beberapa hari menikah, Byan tidur tanpa memeluk tubuh istrinya.
Sungguh hal ini cukup menyiksanyanya. Namun bagaimana lagi, ia khawatir jika terus berdekatan dengan istrinya dia akan semakin tidak bisa mengontrol dirinya.
"Mas" sayup-sayup tersengar Lifi masih terus memanggilnya.
Hingga karena merasa tak tega, Byanpun kembali membalikkan tubuhnya dan menghadap istrinya.
"kenapa belum tidur hm?"
"Mas maaf" kata itu kembali terucap dari mulut istrinya.
"udah gak pa pa, harusnya mas yang minta maaf karena tidak bisa mengontrol diri. Mas harusnya bisa memahami konsidi hati kamu saat ini"
Mendengar penuturan Byan, membuat Lifi lagi-lagi dihantui rasa bersalah.
Sungguh Lifi tidak menyangka, jika dibalik sifat tengil Byan ternyata didalamnya menyimpan kelembutan yang sama sekali belum dia sadari.
__ADS_1
Lifi tadi sempat berfikir jika suaminya ini pasti marah karena sikap penolakannya tadi.
Tapi ternyata ia salah. Suaminya ini malah sengaja menghindar demi bisa mengontrol dirinya agar tidak berbuat yang lebih terhadapnya.