
Tanpa terasa hari, bulan dan tahunpun berganti. Kini baik Byan maupun Lifi sama-sama sudah menyelesaikan pendidikan S1nya. Begitu juga dengan keempat temannya. Rayyan pun sekarang sudah berusia dua tahun lebih. Itu artinya bayi gemoy itu sudah semakin menggemaskan.
Byan dan Lifi saat ini masih tinggal bersama orang tua Byan. Sebenarnya Byan sudah membeli sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari rumah orang tuanya. Hanya saja Bu Kinan dan pak Rahman terus menerus meminta agar mereka tetap tinggal bersama mereka.
Byanpun setuju karena mengingat istrinya yang saat itu juga masih kuliah, begitu juga dengannya. Dia khawatir istrinya akan kerepotan jika mereka tinggal hanya bertiga dengan bayinya. Namun setelah luluspun orang tua Byan juga nampaknya masih berat buat berpisah dengan anak, menantu dan juga cucunya. Sehingga mau tidak mau keduanya sepakat untuk tinggal disana sampai Naila menikah nanti.
"Papa....." Terlihat Rayyan berlari saat melihat Byan baru pulang dari bekerja. Balita menggemaskan itu selalu terlihat antusias setiap kali menyambut kedatangan papanya.
"Rayyan sayang, awas jangan lari-lari. Nanti kamu jatuh" Terdengar suara bu Kinan berteriak dari arah dapur.
"Anak papa pinter banget" Byan mengangkat putranya dan membawanya kedalam gendongannya.
"Mama mana sayang" Tanya Byan karena dirinya tidak menemukan sosok istrinya begitu dirinya sampai didalam rumah.
"Mama ada dikamal, mama dali tadi pagi muntah-muntah telus pah" Dengan suara khas anak kecil yang belum bisa melafalkan kata dengan benar, Rayyan memberi tau pada papanya perihal kondisi mamanya.
"Mama sakit" Tanya Byan dengan wajah yang seketika terlihat panik.
"Mungkin" Jawab Rayyan dengan wajah yang terlihat ragu
"Kok Mungkin sih" Byan terlihat mengernyitkan keningnya.
Dirinya merasa bingung dengan ucapan putranya. Tadi Rayyan mengatakan jika istrinya muntah-muntah. Namun saat ditanya apakah mama sakit, Rayyan malah menjawabnya dengan kata mungkin.
"Soalnya kata Aunty Nila mama muntah itu bukan cakit, tapi kalena Layyan mau punya adek" Jelas Rayyan pada papanya.
Mendengar penuturan putranya membuat Byan terlihat berfikir sejenak. Apa mungkin istrinya sedang hamil.
Byanpun kemudian menghampiri mamanya dan menitipkan Rayyan padanya.
__ADS_1
"Sayang, sama nenek dulu ya. Papa mau liat kondisi mama dulu" Ucap Byan sambil menurunkan Rayyan dari gendongannya.
Diapun kemudian segera bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai atas tempat istrinya berada sekarang.
"Sayang....." Panggil Byan begitu dirinya baru saja membuka pintu kamarnya.
Disana dia melihat istrinya sedang berbaring dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.
"Sayang....kamu kenapa gak telfon mas kalau lagi sakit" Byan mengambil posisi duduk disebalah istrinya sambil membelai sayang puncak kepala istrinya.
"Aku gak pa pa mas. Kayaknya cuman masuk angin deh" Lifi terlihat memaksakan senyum agar suaminya ini tidak merasa khawatir dengan kondisinya.
"Rayyan bilang kamu muntah-muntah terus" Tanya Byan penuh selidik.
"Oh itu, aku tadi habis nyium bau bawang pas didapur. Terus perut aku jadi mual dan berakhir dengan muntah-muntah" Jawag Lifi dengan begitu santainya.
"Mas kenapa sih kok tiba-tiba meluk aku kayak gini. Emang ada apa, habis dapat undian" Heran Lifi pada suaminya.
"Sayang....kamu gak nyadar, kondisi kamu ini sama persis saat kamu lagi hamil Rayyan dulu" Jelas Byan kemudian pada istrinya.
"Maksud mas" Lifi bertanya dengan raut wajah yang tampak bingung karena dirinya masih belum faham akan maksud ucapan dari suaminya.
"Mas yakin kamu lagi hamil sayang" Jelas Byan sekali lagi yang langsung direspon oleh Lifi dengan menampakkan wajah penuh keterkejutannya.
"Kayaknya gak mungkin deh mas" Lifi terlihat tidak percaya dengan dugaan yang dilontarkan oleh suaminya.
"Gimana kalau nanti kamu coba tes dulu. Atau mau langsung ke klinik kandungan aja" Tawar Byan pada istrinya.
"Tes aja dulu lah mas. Kalau memang hasilnya positif baru kita kedokter kandungan"
__ADS_1
"Baiklah terserah kamu aja. Yang jelas mas akan sangat bahagia kalau sampai kamu benar-benar hamil. Itu artinya kamu akan semakin terikat sama mas. Karena hubungan kita akan semakin kuat dengan hadirnya calon buah hati kita yang kedua ini" Byan terlihat kembali pada mode posesifnya.
"Ck....udah jadi ayah pikirannya masih aja kayak awal-awal baru nikah. Dengar ya mas, sejak kamu ngikrarin ijab kabul didepan orang tua aku dan disaksikan oleh seluruh anggota keluarga yang hadir. Kemudian dipatenkan dalam bentuk buku nikah. Sejak itu aku udah terikat sama kamu mas" Lifi mengatakan itu dengan raut wajah yang terlihat sedikit kesal. Menurut Lifi ucapan suaminya tadi seolah menggambarkan jika dia belum sepenuhnya percaya pada dirinya dan itu berarti suaminya juga belum percaya pada cintanya.
"Maafin mas sayang.....mas kan cuman takut kehilangan kamu. Kamu tau kan gimana cintanya mas sama kamu" Byanpun terlihat kembali membawa istrinya kedalam pelukannya.
Dan pagi hari saat bangun tidur, Byan langsung meminta istrinya agar melakukan tes kehamilan. Tak tanggung-tanggung, Byan memberikan sepuluh alat tes kehamilan pada istrinya dan menurut Lifi ini benar-benar hal yang sangat konyol sekali.
"Mas...gak sekalian aja kamu beli semua tespek yang ada di apotik" Lifi terlihat kesal dengan tingkah laku suaminya ini.
"Boleh juga, entar mas beli buat stok nanti kalau mau program hamil lagi" Jawab Byan dengan entengnya. Dan ucapan Byan ini langsung mendapat sorotan tajam dari istrinya.
"Canda sayang.....ya sudah buruan tes. Mas udah gak sabar. Apa perlu mas ikut kedalam juga" Ucapnya kemudian
"Buru-buru amat, ngala-ngalahin yang lagi hamil aja" Omel Lifi pada suaminya.
"Yang hamil emang kamu sih, tapi kan yang udah bikin kamu hamil mas. Jadi wajar dong kalau mas buru-buru. Mas penasaran, seampuh apa kualitas bibit yang mas tanem" Byan sampai tertawa sendiri setelah mengatakan itu.
Namun hal itu tidak membuat Lifi ikut tertawa, dia justru semakin kesal dengan suaminya. Hal itu terlihat dari sorotan matanya yang saat ini nampak menatap jengah pada suaminya.
Agar tingkah suaminya ini tidak semakin menjadi-jadi, Lifipun kemudian memilih segera beranjak menuju kamar mandi.
Dia hanya mengambil tiga dari sepuluh tespek yang dibeli oleh suaminya. Didalam sana dia melakuan tes sesuai petunjuk yang ada.
Byan terlihat mondar mandir sendiri saat menunggu istrinya. Bagi Byan terasa lama sekali istrinya ini berada dikamar mandi.
Hingga beberapa menit kemudian barulah Lifi keluar dari kamar mandi dengan ekspresi yang sulit ditebak. Bagaimana tidak, Lifi keluar dengan ekspresi wajah yang terlihat datar seolah-olah menggambarkan tidak terjadi apa-apa.
Byan yang melihatnyapun dibuat bingung dan mengira pasti dugaannya ini salah. Dalam hati dia merasa ada sedikit rasa kecewa. Bukan pada istrinya, tapi lebih pada dirinya sendiri karena sudah begitu yakin kalau saat ini istrinya tengah mengandung calon buah hati keduanya.
__ADS_1