
Saat ini Lifi sedang duduk dihalte dekat cafe. Sejak tadi dirinya menunggu ada bus lewat. Sebenarnya dia bermaksud memesan taksi online, namun itu tidak bisa dilakukannya mengingat saat ini ponselnya sedang lowbet.
Terlihat sesekali Lifi menyeka air matanya. Sungguh dirinya merasa sangat kecewa pada suaminya itu.
Awalnya Lifi berfikir Byan tidak mau di ajak ke rumah bundanya karena memang sedang ada masalah penting di cafe. Tapi nyatanya disana dia hanya ingin menemui teman wanitanya.
Ya, dia adalah Clarisa. Teman satu SMA dengan Byan. Dia memang sejak dulu sudah menaruh hati pada Byan. Hanya saja sedikitpun Byan tidak pernah meresponnya. Bagi Byan Clarisa hanyalah seorang teman, tidak lebih dari itu.
Kalaupun mereka dekat, itu hanya karena mamanya Clarisa adalah sahabat bu Kinan. Tapi kendati Clarisa sendiri sering berkunjung kerumahnya, sekalipun bu Kinan tidak pernah mengatakan pada Byan kalau dirinya menyukai Clarisa.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan halte tempat Lifi duduk saat ini.
Dari dalam mobil nampak keluar seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi, berkulit putih. Pemuda itu mengenakan kemeja Navi sehingga terlihat sangat kontras dengan warna kulitnya.
Diapun menghampiri Lifi kemudian langsung mengambil posisi duduk disebelahnya.
"Lagi ngapain disini" pemuda itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan pada Lifi.
Lifipun dibuat kaget karena tanpa dirinya sadar tau-tau sudah ada orang duduk disebelahnya.
"Kak Raka" Lifi terdengar memanggil nama pemuda itu.
"Kamu lagi ngapain disini" Lagi-lagi Raka mengulangi pertanyaannya.
Lifi masih nampak terdiam karena dirinya bingung harus menjawab apa.
"Suami kamu mana? Kenapa kamu sendirian disini?" Raka masih berusaha bertanya pada Lifi. Meskipun yang ditanya dari tadi hanya tertunduk diam.
Namun beberapa saat kemudian Lifipun menjawab pertanyaan Raka.
"Mas Byan lagi di Cafenya, aku sengaja pulang dulu karena dia sedang banyak pekerjaan" sengaja Lifi berbohong karena dia tidak ingin menceritakan masalah rumah tangganya pada siapapun.
__ADS_1
"Tapi kenapa wajah kamu terlihat seperti habis menangis" Raka masih nampak belum percaya dengan alasan Lifi
"It-itu tadi habis kena debu jalanan" Lifi terlihat gugup saat dirinya harus berbohong lagi.
Rakapun memilih pura-pura percaya pada apa yang dikatakan Lifi. Meski sebenarnya ia tau kalau Lifi saat ini sedang ada masalah, namun dia memilih mengiyakan saja alasan yang dituturkan Lifi padanya.
Raka sadar saat ini sudah ada yang lebih berhak atas diri Lifi. Meskipun dirinya sendiri masih menyimpan perasaan lebih pada wanita yang duduk disebelahnya saat ini.
Sementara di tempat lain, terlihat Clarisa yang terus saja menempel pada Byan.
Sungguh Byan tidak menyangka, jika hanya karena masalah kesalahan pengiriman bahan-bahan keperluan cafenya dengan restoran yang ternyata milik Clarisa, membuat Byan harus berusan lagi dengan perempuan yang menurutnya gila itu.
Bagaimana tidak, sejak SMA dia sudah terobsesi dengan dirinya. Bahkan dulu dia pernah memaksa orang tuanya agar memohon pada orang tua Byan untuk menjodohkannya dengan dirinya.
Meskipun saat itu Bu Kinan sempat merasa tidak enak hati untuk menolaknya, mengingat mamanya Clarisa adalah sahabat baiknya. Namun beruntung saat itu papanya Byan bersikeras menolaknya dengan alasan dia sudah terikat janji dengan sahabatnya. Sehingga Byanpun bisa selamat dari hal itu.
Kendati rencananya gagal, namun Clarisa semakin gencar untuk menaklukkan hatinya. Bahkan hampir setiap hari Clarisa selalu berkunjung kerumahnya.
Hal itu tentu membuat kedua orang tua Clarisa sendiri merasa sungkan pada Byan dan keluarganya atas sikap putrinya.
Dan karena itu merupakan wasiat, jadi mau tidak mau mereka harus menempati rumah kakeknya tersebut.
Tentu hal itu membuan Byan semakin merasa lega. Karena dengan pindahnya Clarisa hidupnya bisa lebih tenang.
Saat ini Byan nampak masih berusaha menjelaskan pada Clarisa kalau perempuan tadi yang bersamanya adalah istrinya. Dia juga berusaha menahan emosinya karena Byan menghormati Clarisa sebagai anak dari sahabat mamanya.
Namun bukannya percaya, Clarisa malah menertawainya. Dia mengatakan kalau Byan tidak pandai dalam beracting.
"Kalau kamu memang sudah menikah, kenapa tante Kinan gak ngasih tau mama aku. Secara tante Kinan sahabatnya mama aku. aku yakin itu hanya alasan kamu saja agar bisa menghindar dari aku." Terdengar Clarisa masih nampak belum percaya dengan apa yang sudah dijelaskan Byan padanya.
Bahkan dengan tanpa malunya Clarisa berusaha hendak men-ci-um Byan. Namun beruntung, karena Byan dengan cepat bisa menghindar dan langsung mendorong tubuh Clarisa hingga dia terjatuh kelantai.
__ADS_1
"Ingat Clarisa, tidak semua hal harus mama ceritakan sama tante Sarah. Lagian tidak penting buat aku kamu percaya atau enggak. Yang jelas saat ini Lifi adalah istriku yang sah baik secara agama maupun secara hukum. Dan satu lagi, aku cinta sama dia jauh sebelum aku menikah dengannya. Jadi sampai kapanpun kamu tidak akan bisa berbuat macam-macam padaku, atau aku bisa bertindak lebih dari ini" ucap Byan yang sepertinya mulai tersulut emosi.
Setelah mengatakan itu Byan langsung bergegas meninggalkan ruangannya tanpa berniat membantu Clarisa yang masih nampak berada dilantai menahan rasa sakit akibat perbuatannya tadi yang mendorong Clarisa hingga terjatuh ke lantai.
Saat ini fokus pikiran Byan hanya Lifi dan Lifi. Dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu pada istri yang sangat dicintinya.
Byanpun mulai memacu kendaraannya dan mulai mencari keberadaan istrinya. Hal itu Byan lakukan karena sejak tadi ponsel istrinya ini tidak bisa dihubungi.
Lifi sendiri saat ini sedang berada didalam bus. Tujuannya tidak lain adalah rumah orang tuanya.
Sebenarnya tadi Raka bersikeras untuk mengantarkannya, namun Lifi menolaknya dengan alasan khawatir menimbulkan fitnah. Mengingat statusnya saat ini bukan lagi wanita single, melainkan wanita yang sudah bersuami.
Rakapun lagi-lagi berusaha memaklumi atas penolakan Lifi. Sungguh Raka semakin dibuat kagum dengan sosok seorang Lifi. Dia mampu menjaga batasannya sekalipun Raka yakin kalau saat ini Lifi sedang ada masalah dan itu pasti dengan Byan. Hanya saja Raka tidak tau masalah apa yang sebenarnya terjadi diantara keduanya.
Saat ini Lifi sudah sampai dirumah orang tuanya. Namun dia terlihat ragu untuk masuk karena bingung harus memberi alasan apa saat orang tuanya tau kalau dia datang tanpa suaminya.
Dengan perasaan was-was, Lifipun mengucapkan salam kemudian mengetuk pintu rumahnya.
Tak lama kemudian keluarlah bu Maira yang langsung menyambut Lifi dengan memberikan pelukan hangatnya.
"Sayang, kenapa gak langsung masuk saja dan kenapa datang sendiri, mana suami kamu?" Benar saja dugaannya, belum apa-apa bundanya sudah menanyakan keberadaan suaminya.
"Itu bun, mas Byan lagi sibuk di cafenya. Mungkin besok dia bakalan nyusulin lifi ke sini" Lifi terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.
Untuk urusan rumah tangganya, biarlah besok dia akan mencari jalan keluar. Yang jelas saat ini dirinya butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri.
Akhirnya Lifipun masuk dan langsung bergegas menuju kamarnya untuk sejenak beristirahat dan kalau bisa ia ingin sedikit melupakan masalah yang sedang menderanya.
Byan sendiri kini sedang menelfon mamanya, berharap Lifi pulang dulu ke rumahnya.
Namun alih-alih mendapat kabar tentang istrinya, justru dia sendiri yang kena omel oleh mamanya gara-gara Byan membiarkan menantu kesayangannya pulang sendiri.
__ADS_1
Byanpun juga mencoba menelfon Airin sahabatnya. Namun sama, hasilnya juga nihil. Karena Lifipun saat ini tidak sedang bersama Airin.
Kini harapan satu-satunya adalah rumah mertuanya. Meskipun dengan perasaan campur aduk antara takut kena marah dan sungkan, dia tetap menjalankan mobilnya demi bisa bertemu istri kesayangannya.