Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Guling Bernyawa


__ADS_3

"Ini jadi gak sih bicaranya" kesal Lifi pada suaminya yang dari tadi nampak masih diam saja.


Melihat wajah Lifi yang nampak kesal, membuat Byan gemas sendiri. Bahkan Byan terus memandangi wajah Lifi sambil sesekali tersenyum tipis.


"jadi gini ya wajah kamu kalau lagi kesel" ucap Byan dalam batin.


Jika Selama ini Byan hanya bisa membayangkan gimana gemesnya wajah Lifi saat kesal kepadanya.Tapi saat ini dia bisa melihatnya langsung.


Sungguh menurut Byan Lifi terlihat begitu menggemaskan saat sedang kesal ataupun marah. Sangking gemesnya, sampai-sampai Byan ingin sekali mencubit kedua pipinya.


" ish....ini orang emang nyebelin ya, katanya mau ngomong, ini malah ngeliatin gue mulu" umpat Lifi dalam hatinya


" woy...." spontan saja Lifi menjentikkan jarinya tepat di sepan wajah Byan. Tentu saja Byan yang saat itu tengah menikmati pemandangan indah dengan menatap wajah Lifi jadi terkejut sendiri.


"apaan sih dek, bikin kaget aja" ucap Byan setelah tersadar dari aktivitas lamunannya


"gimana sih, katanya mau ngomong" lagi-lagi Lifi berbicara dengan nada ketusnya


"gak jadi deh, mending kita tidur aja yuk" ucap Byan sambil merebahkan tubuhnya.


Lifi tiba-tiba terperanjat saat melihat Byan merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"kok malah tidur disini sih, pindah gak" Lifi berbicara sambil mendorong tubuh Byan.


Jujur, untuk saat ini Lifi belum siap untuk tidur berdua dengan laki-laki. Meskipun laki-laki itu notabenenya adalah suaminya sendiri.


Lifi masih ingin menikmati masa muda seperti halnya teman-teman yang lainya.


"kamu lupa apa pura-pura lupa hem...?" byan berbicara sambil memposisikan dirinya untuk kembali duduk.


"Maksudnya" tanya Lifi yang nampak tidak mengerti apa maksud pertanyaan dari Byan.


"kita sudah menikah, jadi mulai sekarang kita harus saling berbagi. Seperti saling berbagi kebahagian, kesedihan, termasuk salah satunya lagi berbagi tempat tidur" Byan menjelaskan pada Lifi.

__ADS_1


"Bahkan kita juga bisa saling berbagi kehangatan" kali ini Byan mengatakannya dengan mendekat dan membisikkannya tepat ditelinga istrinya.


Hal ini membuat Lifi bergidik ngeri. Bisa-bisanya Byan mengatakan hal menurut Lifi mesum.


"Dasar mes......." baru saja Lifi hendak menjawab, namun dengan cepat Byan memotongnya


"udah gak usah ngomong terus, ayo tidur"


Byan menarik Lifi agar segera berbaring disampingnya.


Sungguh saat ini jantung Lifi berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia sangat takut kalau Byan sampai melakukan sesuatu padanya.


Ya, sebagai remaja yang sudah berumur dua puluh tahun tentunya Lifi faham apa yang kemungkinan terjadi pada suami istri jika berada di satu tempat hanya berdua saja.


Lifipun memilih tidur dengan posisi membelakangi Byan. Ia bahkan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut yang ada.


Melihat tingkah Lifi, membuat Byan menjadi tergelak sendiri. Byan bisa merasakan apa yang sedang di khawatirkan oleh istrinya ini.


Byanpun kemudian memiliki ide jahil untuk menggoda istrinya.


Dan benar saja, saat Lifi mendengar suara dengkuran dari arah belakangnya, ia langsung membuka selimutnya.


Sebenarnya saat tadi Lifi merasa sangat gerah berada didalam selimut tebal. Namun demi keamanan hal itu terpaksa ia lakukan.


Lifipun menghadap ke arah Byan, memastikan jika pria yang berada disampingnya, yang tak lain adalah suaminya itu benar-benar sudah tertidur lelap.


Lifipun kemudian menggerak-gerakkan tangannya tepat di atas wajah Byan.


Melihat itu Byan langsung menarik tangan Lifi hingga ia sekarang berada diatas dada Byan.


Lifi yang merasa kaget hampir saja berteriak. Karena ternyata pria disampingnya itu tidak tidur. Untung saja dengan cepat Byan membekap mulut Lifi dengan tangannya. Kalau tidak, bisa dipastikan seisi rumah akan bangun karena teriakan Lifi. Dan lagi mereka pasti akan mengira sedang terjadi apa-apa antara dia dengan istrinya itu.


"emmppp...." Nampak Lifi memberontak karena ia hampir kehabisan nafas.

__ADS_1


Kemudian Byan pun melepas bekapannya.


"kamu ngapain mau teriak hem" ucap Byan pada Lifi


Mendengar pertanyaan Byan membuat Lifi membulatkan kedua matanya. Karena bisa-bisanya dia menanyakan hal itu, padahal jelas-jelas itu adalah akibat dari ulahnya.


"kamu....." ucap Lifi yang nampak greget. Bahkan saking gregetnya sampai-sampai Lifi mengeratkan giginya.


"udah gak usah melotot kayak gitu. Lagian aku sengaja menutup mulut kamu, karena aku khawatir jika kamu berteriak semua yang dirumah akan terbangun dan yang ada mereka akan mengira kalau kita habis ngapa-ngapain" jelas Byan pada Lifi


"Kamu mau di anggap kayak gitu, kalau bener sih aku gak masalah mereka semua bangun. Tapi kalau enggak, ngapa-ngapainnya Nihil, malunya yang udah pasti" jelas Byan lagi.


Sungguh perkataan Byan kali ini membuat pipi Lifi terasa panas seketika.


Karena bisa-bisanya Byan dengan entengnya mengatakan hal itu.


"Dasar mesum" ucap Lifi penuh kekesalan.


Iapun kemudian beranjak untuk tidur. Namun sebelumnya itu, ia nampak menaruh guling ditengah dengan maksud sebagai pembatas antara dirinya dan Byan.


"awas aja kalau sampai kamu ngelewatin batas ini" ucap Lifi memberi peringatan pada Byan.


setelah mengatakan itu Lifi mulai memejamkan matanya. Ia merasa sudah sangat mengantuk, ditambah lagi saat melihat jam weker yang berada di atas nakas sudah menunjukkan kalau ini sudah masuk waktu tengah malam.


Byan sendiri saat ini masih belum bisa memejamkan matanya. Ia nampak masih setia memandangi wajah Lifi yang baru saja terlelap.


Sungguh ia masih belum bisa percaya sepenuhnya jika gadis yang begitu disukainya selama ini sudah sah menjadi istrinya.


Diapun kemudian mengambil guling yang dijadikan pembatas tadi. Kemudian ia dengan sengaja memeluk istrinya dari belakang. Menghirup aroma tubuh istrinya untuk pertama kalinya. Namun beberapa menit kemudian Byan melepaskan pelukannya. Ia takut jika Lifi bangun dengan kondisi dirinya yang masih memeluknya, bisa-bisa istrinya ini akan marah tujuh hari tujuh malam. Iapun memilih bersabar menunggu hati istrinya ini melunak dulu.


Hingga tanpa terasa matanya mulai mengantuk dan iapun kemudian ikut terlepap menyusul sang istri menuju alam mimpi.


Tanpa sadar saat tengah tidur Lifi membalikkan badannya. Iapun langsung beringsut memeluk Byan. Lifi yang sebelumnya sudah terbiasa tidur dengan memeluk guling, malam itu mengira jika orang yang ada di sampingnya adalah guling. Padahal sebenarnya yang dia peluk adalah guling bernyawa.

__ADS_1


Mereka berduapun akhirnya menikmati malam pertama mereka dengan tidur berpelukan, dalam kurung berpelukan dalam kondisi tidak sadar.


Entah apa yang akan terjadi saat mereka bangun nanti. Yang pastinya di sini Lifi yang akan nampak heboh, karena sebelumnya ia sudah menaruh pembatas hingga ia berfikir malam ini akan bisa tidur dengan selamat tanpa bersentuhan dengan Byan. Namun tanpa disadar malah dia sendiri yang membuat mereka bersentuhan.


__ADS_2