Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Bingung


__ADS_3

"Lif, buruan gue anter sampek tempat bus" Airin berbicara seraya menarik tangan Lifi.


Sudah menjadi kebiasaan Airin untuk mengantar Lifi sampai di tempat biasa sahabatnya ini menunggu bus.


Airin sendiri bingung harus beralasan apa untuk menolak ajakan sahabatnya ini.


Pasalnya memang setiap pulang Airinlah yang selalu mengantarnya sampai tempat bus.


Alasan Airin selalu mengantarnya karena tidak mau lihat sahabatnya kecapek'an jika harus jalan kaki.


"Rin, kamu langsung pulang aja. Gue masih mau mampir ke perpus dulu" bohong Lifi


"yasudah gue temenin"


"eh.... gak usah, entar takutnya gue lama. Kan kasihan kamunya" tolak Airin halus


"beneran nih gak mau gue temenin?"


"iya beneran" jawab Lifi mantap.


Akhirnya setelah melihat Airin sudah benar-benar pergi, Lifi segera menuju parkiran, karena disana Byan nampak dari tadi sudah menunggunya. Bahkan suaminya ini sudah berulang kali menelfon dan mengiriminya pesan.


Lifi datang dengan wajah cemberut dan menghampiri Byan yang sedang di berdiri di pintu mobilnya.


"sayangnya mas kenapa hm, kok wajahnya cemberut kayak gitu" ucap Byan seraya mengelus puncak kepala Lifi.


"awas ah, gak usah pegang-pegang" Lifi mencoba menepis tangan suaminya.


"La kok tiba-tiba marah, emang ada apa?"


Byan nampak bingung. Padahal sebelumnya tadi istrinya ini terlihat baik-baik saja. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang jadi marah-marah gak jelas.


"apa lagi PMS ni anak ya" Byan berucap dalam hati.


Byanpun memilih tidak bertanya lagi karena tidak ingin membuat Lifi semakin kesal padanya. Apalagi sekarang dirinya dalam fase berjuang merebut hati istrinya. Jadi sebisa mungkin ia harus selalu memahami mood istrinya ini.


"Sayang, kita langsung pulang atau mau mampir dulu kemana gitu" tawar Byan saat mereka sudah berada didalam mobil.


"kita langsung pulang saja".


Kali ini suara Lifi terdengar sedikit melunak.


Byanpun berinisiatif untuk menanyakan apa yang menjadi sebab istrinya itu tadi tiba-tiba cemberut dan marah-marah gak jelas.


"sayang, mas boleh nanya gak?" ucap Byan sehalus mungkin agar tak membuat istrinya kembali marah.

__ADS_1


"hem" hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Lifi.


"tadi kenapa tiba-tiba marah-marah hem" lagi-lagi Byan berbicara dengan nada lembut.


"aku bingung, aku mesti gimana" jawab Lifi yang sama sekali Byan tak mengerti apa maksud ucapannya itu.


"sayang....apa yang membuat kamu bingung" tanya Byan yang sebenarnya juga tak kalah bingungnya.


Pasalnya Byan sama sekali tak mengerti kenapa istrinya ini tiba-tiba mengatakan kalau dirinya bingung harus berbuat apa.


Lifipun mulai menceritakan alasannya. Tentang dia yang tadi menolak saat Airin hendak mengantarkannya ke tempat bus seperti biasa, kemudian dia juga harus beralasan hendak ke perpus. Sampai akhirnya ia berhasil membuat Airin pulang duluan.


Lifi bingung, sampai kapan ia harus menyembunyikan pernikahannya dan mencari-cari alasan setiap kali Airin hendak mengantarkannya ketempat bus.


Mungkin untuk sekarang Airin bisa menerima alasannya. Tapi kedepannya, apakah Airin masih akan percaya dengannya. Sedangkan hari-hari kedepannya dia akan selalu berangkat dan pulang kekampus bersam Byan yang tak lain adalah suaminya.


Sungguh saat ini Lifi merasa sudah menjadi sahabat yang buruk karena sudah menyembunyikan hal sebesar ini dari sahabatnya.


"kalau mas boleh ngasih saran, mending kamu jujur saja sama Airin tentang status kita. Kalau untuk ke yang lain, biarlah itu menjadi urusan nanti. Mas khawatir Airin akan kecewa sama kamu kalau sampai dia mendengar dari orang lain"


Byan berusaha memberi nasehat sekaligus masukan untuk istrinya ini.


Sebenarnya Lifi sudah berniat akan menceritakan masalah dia yang diam-diam sudah menikah itu hanya pada Airin.


Namun niat itu seketika dia urungkan mengingat ternyata yang menjadi suaminya adalah laki-laki yang dulu selalu membuatnya kesal hingga membuat Lifi sama sekali tidak menyukainya. Bahkan bisa dibilang Lifi sedikit membencinya.


Bagaimana tidak, dulu Airinlah yang selalu menyumpahinya agar berjodoh dengan Byan hanya karena dia gemas melihat Lifi yang terlihat begitu kesal setiap kali melihat Byan.


Padahal Lifi sendiri punya alasan mengapa dia sampai bisa sekesal itu pada Byan.


"huft....." terlihat Lifi menghembuskan nafas kasar sebelum dia mulai berbicara.


"Baiklah, besok aku jujur sama Airin kalau aku sudah menikah dan yang jadi suami aku itu kamu" ucap Lifi dengan ekspresi seperti orang yang nampak pasrah.


"cie......yang udah mau ngakuin suaminya" goda Byan pada Lifi


"ish...apaan sih, di akui salah gak diakui salah. Heran deh sebenarnya maunya kek gimana" kesal Lifi pada Byan.


"mas maunya disayang-sayang. Gimana, boleh gak?" goda Byan lagi.


"dasar omes" ucap Lifi sambil melengos dan memilih menghadap ke jendela mobilnya.


Byanpun kemudian menjalankan mobilnya dengan posisi Lifi yang nampak masih menghadap ke luar jendela.


Hingga tanpa terasa mobil yang dikendarai Byan sudah sampai dihalaman rumahnya.

__ADS_1


Lifipun kemudian beranjak untuk segera turun. Namun saat membuka pintu mobilnya, ternyata masih di kunci.


"udah nyampek, ayo bukain pintunya" ucap Lifi sambil tangannya memegang handle pintu mobil dan berusaha membukanya.


Namun sepertinya Byan memilih tak mengindahkan perkataan Lifi sama sekali. Malah ia terlihat sibuk memandang kearahnya. Lebih tepatnya menatapnya hingga tidak berkedip.


"mas, ayo buka pintunya. ngapain sih ngelitiatin kayak gitu. Awas aja sampek macem-macem" Ucap Lifi dengan sedikit mundur karena gugup saat melihat Byan tiba-tiba bergerak maju ke arahnya.


"mas gak mau macem-macem, cuman mau satu macem aja" Byan mengatakan itu sambil tubuhnya terus bergerak hingga punggung orang yang berada didepannya ini menabrak pintu mobil.


"mas ka-mu mau a-pa?" ucap Lifi gugup. Bahkan saking gugupnya sampai-sampai Lifi berbicara dengan sedikit terbata-bata.


Byanpun tersenyum dan setelah itu tangannya beralih membuka seatbelt yang masih terpasang ditubuh Lifi.


"mas cuman mau ngelepasin ini".


Sungguh saat ini Lifi merasa sangat malu. Bahkan wajahnya sudah memerah seperti buah tomat masak.


Tadinya Lifi mengira kalau Byan akan menciumnya lagi. Mengingat laki-laki yang ada didepannya tadi pagi sudah mengambil ciuman pertamanya dengan tiba-tiba. Jadi tidak ada salahnya kalau saat ini dirinya berantisipasi agar kejadian seperti tadi tidak terulang kembali.


"kalau begitu yang berfikiran mesum sekarang mas atau kamu hem?" tanya Byan sambil memundurkan lembali tubuhnya.


Sepertinya Byan bermaksud membalas ucapan Lifi yang tadi pagi mengatainya otak mesum.


Lifi hanya diam tanpa bisa menjawab. Karena yang dituduhkan Byan pada dirinya saat ini benar.


Iapun kali ini kembali berusaha membuka pintu mobilnya.


"mas cepetan bukain pintunya" kali ini Lifi berbicara dengan nada kesal. Pasalnya pintu mobilnya tak kunjung dibuka juga oleh Byan.


"gak mau" ucap Byan sok cuek


"mas, gak usah aneh-aneh deh" jawab Lifi


"suruh siapa dari tadi ngediemin mas selama perjalanan pulang" ucap Byan tak mau kalah.


"tapi itu tadi kan karena mas yang nye......"


Cup.....sekali lagi Byan mencium pipi Lifi tanpa aba-aba saat Lifi belum selesai berbicara.


"Itu hukuman buat kamu karena sudah ngediemin mas selama perjalanan pulang tadi"


Setelah mengatakan itu Byan turun dari dari mobil dan meninggalkan Lifi yang masih terlihat duduk mematung sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh Byan untuk kedua kalinya.


Hingga saat sadar ternyata suaminya ini sudah tidak ada didepannya lagi, melainkan sudah keluar terlebih dahulu meninggalkannya setelah apa yang dilakukannya barusan.

__ADS_1


"Komet...." ucap Lifi sedikit berteriak sambil secepat mungkin ia keluar dari mobil untuk mengejar suaminya.


__ADS_2