Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Rela Berbagi


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Lifi terlihat kembali merintih kesakitan setelah beberapa menit lalu dirinya mulai nampak tenang.


"Mas....sakit banget" Terdengar suara Lifi merintih


Byanpun langsung bergegas memanggil dokter Lisa agar segera menangani istrinya. Diapun sampai lupa jika diruangan itu terdapat bel yang terhubung dengan ruangan dokter Lisa.


"Tan, tolong periksa lagi istri aku" tanpa mengetuk pintu dulu, Byan langsung nyelomong begitu saja masuk keruangan tante yang sekaligus merangkap sebagai dokter kandungan istrinya.


Tanpa bertanya apapun, dokter Lisa langsung bergegas menuju ruang dimana Lifi berada. Dengan sigap dokter langsung memeriksa kondisi Lifi.


"Pembukaannya sudah lengkap, sekarang kita bisa mulai persalinannya" ucapnya sambil memakai sarung tangan.


"Ayo sayang, kamu pasti kuat. Mas bakal dampingi kamu terus." Tak henti-hentinya Byan terus menyemangati istrinya.


"Ayo sayang, tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan dari mulut" Dokter Lisa terlihat memberi arahan pada Lifi.


Sementara diluar ruangan terlihat semua anggota keluarga mondar-mandir untuk menunggu kelahiran anggota keluarga baru mereka.


Bu Maira dan pak Ilhampun juga nampak ada disana. Karena setelah tadi mendapat kabar dari besannya Bu Maira dan pak Ilham langsung bergegas menuju rumah sakit.


Oek.....oek....oek....


Terdengar suara tangisan bayi yang begitu menggema dari ruangan bersalin.


"Kang, sepertinya cucu kita sudah keluar" Ucap pak Rahman pada besannya.


"Sepertinya begitu"


"Selamat sayang, bayinya sudah lahir dengan sempurna" Dokter Lisa mengatakan itu sambil menggendong bayi yang barusaja dilahirkan.


"Laki-laki apa perempuan Tan" Tanya Byan. Karena baik Byan maupun Lifi, saat melakukan USG keduanya sama-sama tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon bayinya. Menurut mereka biar bisa jadi kejutan.


"Bayinya laki-laki, kondisinya sehat, wajahnya juga terlihat sangat tampan" Ucap dokter Lisa sambil tersenyum.


"Mas...." terdengar suara Lifi lirih


"Selamat sayang, anak kita laki-laki. Bayinya juga tampan kayak papanya" Dalam kondisi seperti ini, Byan masih sempat-sempatnya bicara narsis didepan istrinya.


Mendengar itu membuat seketika senyum dibibir Lifi langsung mengembang. Rasa sakit yang dirasakan langsung hilang seketika begitu dirinya tadi mendengar suara tangisan bayinya. Bahkan saat ini dirinya begitu lega dan bahagia karena bisa melihat putranya yang baru saja ia lahirkan.


"Byan, ayo kamu adzani dulu bayinya" perintah dokter Lisa pada keponakannya. Sambil kemudian dia langsung mengambil bayi dari gendongan Lifi dan diserahkannya pada Byan.

__ADS_1


"Bisa" dokter Lisa memastikan Byan benar-benar bisa menggendong bayinya.


"Pasti bisalah, gendong mamanya aja bisa giliran gendong anaknya masak gak bisa" Dokter Lisapun malah menjawabnya sendiri.


Dengan sedikit gemetar Byan menggendong putranya untuk pertama kalinya. Kemudian Byanpun mulai mengadzani putranya.


Lifi yang mendengarkan lantunan suara adzan suaminya, tanpa terasa meneteskan air matanya.


Ia tidak menyangka, Byan lelaki yang dulu pernah sangat tidak disukainya ternyata menyimpan banyak sisi baik. Bahkan menurut Lifi, sejak menikah dia baru sadar jika Byan adalah sosok laki-laki yang begitu mencintanya, selalu menghujaninya dengan kebahagiaan, memperlakukannya hingga menjadikan dirinya wanita yang begitu beruntung.


"Sayang....kenapa kamu nangis. Apa masih terasa sakit sekali" Byan yang telah selesai mengadzani putranya langsung dikejutkan dengan pemandangan dimana istrinya terlihat sedang meneteskan air mata.


"Mas maafin aku" Ucap Lifi sendu


"Sayang.....emangnya kenapa mesti minta maaf hem" Byang yang sama sekali tidak mengerti kenapa tiba-tiba istrinya ini meminta maaf padanya.


"Maaf mas, karena dulu aku sempat benci banget sama mas. Tapi sejauh aku jalanin pernikahan ini, ternyata ayah gak salah milihin jodoh buat aku. Mas benar-benar laki-laki yang baik, tanggung jawab, mas juga selalu sabar ngadepin aku dan pastinya mas begitu menyanyangi aku. Terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik dan ayah yang baik."


Setelah mengatakan itu, Lifi kembali menitihkan air matanya. Byan yang melihatnyapun langsung menghapus dengan menggunakan jemari tangannya.


"Bukan kamu yang harusnya ngucapin terima kasih, tapi mas yang harusnya ngucapin itu. Terima kasih sudah mau membuka hati kamu buat suamimu ini. Bagi mas tidak ada hal yang lebih berarti selain bisa menjadikan kamu milik mas seutuhnya. Terima kasih juga, kamu sudah menyempurnakan hidup mas dengan memberikan mas bayi yang begitu lucu dan tampan. Mas janji akan selalu jagain kamu,. Membahagiakan kamu dan anak-anak kita nanti. Tetap dampingi mas terus dan jangan pernah sedikitpun kamu berfikir buat ninggalin mas" Ucap Byan begitu panjang lebar pada istrinya.


"Sayang...selamat ya, kamu sekarang sudah resmi jadi ibu" Terlihat bu Kinan memberi ucapan selamat sambil memeluk menantunya.


"Terima kasih mah" Jawab Lifi


"Selamat sayang, maaf ya bunda baru datang saat kamu sudah masuk ruang persalinan" Kali ini bu Maira bergantian memeluk putri kesayangannya.


"Gak pa pa bun, yang penting proses persalinannya lancar. Lifi dan dedek bayinya juga udah selamat"


Setelah memberi ucapan selamat pada Lifi, barulah semuanya beralih memberi ucapan selamat pada Byan.


"Ngomong-ngomong mana bayinya. Mama udah gak sabar pengen gendong dedek bayinya." Bu Kinan terlihat mencari keberadaan cucunya.


Tak kemudian susterpun memberikan bayi yang nampak sudah bersih itu pada sang nenek.


"Uluh-uluh....cucu nenek ganteng banget. "Bu Kinanpun langusng mencium cucunya dengan sangat lembut. Dan setelah itu bayi yang baru beberapa menit dilahirkan ini di gendong secara bergiliran oleh nenek dan kakeknya.


Mereka terlihat sangat bahagia sekali dengan kedatangan anggota baru ditengah-tengah keluarga mereka. Apalagi bu Kinan dan pak Rahman, kebahagiaan mereka bukan main mengingat ini adalah cucu pertama bagi mereka.


"Mah, dedek bayinya kok Mirip kan Byan sih" ucap Naila tiba-tiba dan ini membuat semua yang disana langsung mengernyitkan dahinya karena mendengar apa yang dikatakan Naila barusan.

__ADS_1


"Hei ikan Nila, wajarlah mirip kakak. Kan emang kakak bapaknya. Emangnya kamu pengennya dia mirip siapa" Ucap Byan kesal, diapun kemudian menyentil kening adiknya itu.


"Harusnya itu dedek kecilnya mirip Naila. Soalnya waktu kak Lifi hamil, kak Byan selalu usil sama adek." Nailapun nampak memberikan alasan dari perkataannya tadi.


"Apa hubungannya coba, lagian kakak gak rela dia mirip kamu. Yang ada entar anak kakak hidungnya ikutan pesek kayak kamu"


Dan apa yang diucapkan Byan ini langsung membuat Naila menjadi kesal. Nailapun terlihat mengadu pada mamanya.


"Mah....kak Byan kok bilang gitu sih, emang hidung Naila pesek ya mah." Naila terlihat merengek pada mamanya karena tidak terima dengan apa yang diucapkan kakaknya barusan.


"Kakak kamu cuman bercanda. Udah gak usah diladenin. Dan kamu Byan, udah jadi bapak masih aja suka godain adik kamu. Lagian kamu gak malu apa ada mertua kamu" Bu Kinan terlihat mengomel.


Byan yang lupa akan keberadaan kedua mertuanya, sontak saja langsung menggaruk-garuk tengkukkanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.


Dalam batin Byan merutuki kebo-do-hannya karena bisa-bisanya dia berdebat dengan adiknya didepan mertuanya.


"Gak pa pa kok bu Kinan. Lifi saja kalau dirumah kadang suka ribut sama Faris." Bu Maira mengatakan itu karena tidak ingin membuat menantunya malu.


Saat mereka sedang asik berdebat sambil menimang sidedek, tiba-tiba dedek bayinya itu menangis dengan sangat kencang. Sontak semuanya langsung kaget dibuatnya.


"Lif....ini pasti haus, coba kamu kasih asi" bu Mairapun langsung memberikan bayinya pada Lifi. Sementara pak Rahman dan pak Ilham langsung keluar terlebih dulu.


Dengan sangat hati-hati, Lifipun mulai belajar memberikan asi pada putranya. Terlihat bayi kecil itu menyusu dengan sangat kuatnya. Sampai-sampai Byan yang melihatnyapun langsung mendekat pada Lifi sambil membisikkan sesuatu.


"Sayang....mas kok kayak gak rela buat berbagi tempat faforit sama sidedek" Byan mengatakan itu sengaja karena ingin menggoda istrinya.


Mendengar apa yang diucapkan Byan barusaja, langsung membuat Lifi membulatkan matanya pada Byan. Karena bisa-bisa suaminya ini mengatakan hal seperti itu.


Sementara Byan yang melihat tatapan istrinya langsung tertawa


"Canda sayang, mas rela kok berbagi sama dedek. Kan kalau dedeknya lagi bobok bisa gantian mas yang *****" Byan lagi-lagi terlihat masih senang menggoda istrinya.


Hingga tanpa Byan sadari bu Kinan yang kebetulan sedang berdiri dibelakang Byan tentu saja mendengar apa yang dibisikkan Byan pada Lifi meskipun sedikit samar-samar.


Bu Kinanpun langsung menghadiahi Byan dengan menjewer telinganya.


"Kebiasaan banget kamu, istri baru lahiran udah kamu godaain"


"Aduh...duh...duh....mah lepas dong, sakit ini beneran" Byan terlihat mendramatisir keadaan hingga membuat bu Kinan semakin memperkuat lagi jeweran ditelingan Byan.


Bu Kinan sengaja melakukan itu mumpung besannya, bu Maira sedang ketoilet. Perlakuan bu Kinan terhadap Byan tentu saja mengundang gelak tawa Naila dan Lifi. Bahkan Naila terlihat mengacungkan jari jempolnya pada Byan.

__ADS_1


__ADS_2