Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh
Sama Persis


__ADS_3

"Dek, buka pintunya ini mbak nya yang mau merias kamu udah datang" Nadira nampak mengetuk kamar Lifi.


Dengan langkah lesu, Lifi berjalan ke arah pintu kemudian membukanya


"astaga dek, kamu kok belum mandi sih, kan acaranya 2 jam lagi" Nadira dibuat terkejut. Pasalnya calon pengantin wanita nya masih nampak acak-acakan.


Wajah yang terlihat lesu ditambah lagi rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Nadira bisa melihat itu karena saat ini Lifi sedang tidak mengenakan hijabnya.


"katanya akad nikah biasa, kenapa malah mendatangkan MUA segala sih" ucap Lifi penuh rasa kesal.


"Dek, menikah itu sekali seumur hidup. jadi sekalipun hanya akad nikah saja, tapi kamu harus tetap terlihat cantik. Biar nanti suami kamu kagum saat pertama kali melihat wajah istrinya" Nadira berbicara sambil menyelipkan rambut adiknya ke belakang telinganya


"Itu kan kalau menikahnya atas dasar cinta kak. Sedangkan Lifi sama dia, boro-boro mau cinta, ketemu aja belum pernah" ucap Lifi dengan nada sedikit kesal


" siapa tau lho dek, sekali ketemu bisa langsung bucin" ledek Nadira pada adiknya


"Bucin apaan, yang ada entar malah benci" ucap Lifi tak mau kalah.


"gak papa dek benci, asal benci tapi rindu. Kan lucu dek, kayak di novel-novel itu" Nadira tak hentinya menggoda adiknya.


Entah kenapa tiba-tiba Nadira merasa gemas sendiri saat melihat ekspresi adik iparnya itu jika sedang kesal.


"ehem.....apa bisa dimulai sekarang merias calon pengantinnya" tiba-tiba sang petugas MUA bersuara.


Ia sejak tadi sudah sedikit lelah karena terus berdiri sambil menyaksikan perdebatan yang terjadi diantara mereka berdua.


"eh iya, maaf mbak sampek lupa" ucap Nadira tak enak hati.


Karena saking asiknya berdebat dengan adik iparnya, Nadira sampai lupa akan keberadaan ditukang rias. Hingga Nadira membuatnya harus menunggu dan menyaksikan perdebatan mereka.


Lifi sendiripun sudah beranjak dari tempatnya. Ia segera kekamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum mendengar ceramah lebih panjang lagi dari kakak iparnya itu.


Sementara dikediaman pak Rahman, semua anggota keluarga yang hendak ikut menghadiri acara akad nikah putranya sudah nampak berkumpul. Tidak banyak, hanya keluarga terdekat saja. Hal itu dilakukan sesuai permintaan calon besannya.


beberapa barang seserahan pun juga sudah masuk mobil. Meskipun acaranya hanya akad nikah saja, namun bu Kinan betul-betul menyiapkannya dengan sebaik mungkin. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk calon menantunya.

__ADS_1


Kini yang ditunggu tinggal mempelai prianya saja. sudah hampir satu jam Byan belum turun juga, hal ini tentu membuat bu Kinan merasa tidak enak hati pada keluarganya yang sudah menunggu dari tadi.


Bu Kinanpun bergegas kembali naik ke atas untuk memanggil putranya. Iapun menaiki anak tangga sambil ngoceh-ngoceh sendiri. Tak habis pikir kenapa putranya tak kunjung turun. "papa sih pakek acara ngerjain Byan segala, yang ada tu anak malah bikin pusing aja" bu Kinan juga mengumpati suaminya.


Gara-gara ide sumianya yang sengaja ingin memberikan sedikit pelajaran pada putranya, membuat dirinya harus bolak-balik kekamar Byan. Bahkan ini sudah ketiga kalinya bu Kinan naik ke atas untuk memanggil Byan.


Andai Byan tau siapa gadis yang akan dinikahinya hari ini, pasti sejak subuh tadi dia sudah akan bersiap. jadi dirinya tak perlu bersusah payah naik turun tangga hanya untuk memanggil putranya. Begitu pikirnya.


Bu Kinan sampai dikamar Byan bersamaan dengan Byan yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Udah siap sayang" Ia berusaha tetap berbicara lembut meski hatinya sempat merasa kesal.


"Hem....." hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Byan. Dan merekapun mulai terlihat menuruni anak tangga.


Karena yang ditunggu sudah menampakkan batang hidungnya, maka semuanya sudah bersiap untuk berangkat.


"Byan, kamu satu mobil sama kita" ucap pak Rahman memberi intruksi.


Byanpun langsung masuk ke dalam mobil papanya. Ia memilih duduk dibangku belakang sendiri.


"Mah, berikan kertas ini pada Byan" pak Rahman berbicara sambil mengarahkan tangannya kebelakang untuk memberikan lembaran kertas kecil pada istrinya.


Bu Kinanpun menerimanya dan langsung memberikan kertas itu pada putranya.


"Sayang itu nama calon mempelai wanitanya. Awas jangan sampai salah sebut" ucap bu Kinan sambil menahan senyum


"Ck....Byan kira papa yang mau nikahin tu anak, sampek segitunya nyembunyiin identitasnya" kesal Byan pada ayahnya.


"Hust.....ngawur kamu. Gini-gini mama gak mau di madu" kali ini mamanya juga kesal. Bisa-bisanya putranya itu mengatakan kalau suamianya yang akan menikahi calon mempelai putranya.


"Ya habis baru sekarang di kasihinnya. Gimana entar kalau kelupaan namanya" ucap Byan membela diri


"Cie....yang takut lupa nama colon mempelainya, udah siap nikah ya kak" Naila yang dari tadi diam kini mulai membuka suara. Ia sengaja mengatakan hal begitu karena ingin menggoda kakaknya.


"Bisa diam gak" kesal Byan dengan menatap tajam ke arah adiknya. Namun hal itu tak membuat Naila takut. Ia malah semakin gencar menggoda kakaknya

__ADS_1


"Cih....sok marah, padahal dalam hatinya udah ngebet banget buat ketemu sama calon istri tercinta " goda Naila pada kakaknya


"sekali lagi lo ngomong gue pulangin lo ke empang"


dan ucapan Byan kali ini sukses membuat Naila yang malah menjadi kesal.


"emang Naila ikan apa mau di taruh di empang" Naila berbicara dengan mengerucutkan bibirnya


"mama sih pakek ngasih nama Naila segala, kan jadinya malah dipanggil ikan Nila" kali ini mamanya malah kena sasaran kekesalan putrinya.


"kok mama dibawa-bawa sih" ucap mamanya heran. Pasalnya ia yang tak tau apa-apa malah harus kena imbas dari pertengkaran anak-anaknya itu.


"Byan, stop godain adiknya. Mending kamu hafalin aja nama dikertas itu. awas jangan sampai salah sebut. kita sudah sampai sebentar lagi"


Papanya yang sudah merasa telinganya bising akibat perdebatan anak-anaknya, langsung membuka suara dengan memberi intruksi pada putranya.


"Ck...." Byan berdecak


Kini mobil sudah terparkir dihalaman sebuah rumah. Rumah yang nampak sederhana namun memiliki halaman yang cukup luas.


Byan tidak lantas langsung turun dari mobil. Pikirannya saat ini mulai berkecamuk. perlahan dibukanya kertas kecil yang sejak tadi digenggamnya hingga nampak tulisan tulisan yang ada di kertas itu. Dan seketika itu juga bola mata Byan membulat penuh manakala ia melihat nama yang tertulis disana.


"NAIRA ALIFI ISTIQOMAH binti AHMAD ILHAM AFANDI"


"Kenapa namanya sama persis dengan Lifi, apa mungkin...."


Byan tak mampu melanjutkan ucapannya. dan seketika Byanpun reflek menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Iapun kemudian bergegas turun dari mobil. Mendekati mamanya yang nampak masih setia menunggunya, sedang yang lain sudah masuk kedalam.


"Mah...." Ucap Byan lirih, namun tatapannya mengarah pada bundanya, ia mencoba mencari kebenaran dari mamanya.


Bu Kinan yang faham akan maksud putranya langsung dijawab dengan anggukan kepala.


Melihat jawaban ibunya membuat Byan seketika itu juga langsung memeluk mamanya. Sungguh ia tak menyangka jika gadis yang beberapa saat lagi akan menjadi istrinya adalah Lifi.

__ADS_1


Jodoh, sekaras apapun kita mengejarnya jika bukan pasti tidak akan pernah dipertemukan, namun sekeras apapun kita menghindarinya jika ia, pasti akan dipersatukan.


__ADS_2